
Zahra dan Radit berdiri di tempatnya dengan pandangan yang terpaku pada bayangan di balik pepohonan. Meskipun awalnya ragu, pandangan Radit akhirnya terpaku pada apa yang sedang dilihat Zahra.
"Hantu? Tidak mungkin, Zahra. Itu hanya ilusi atau mungkin ada penjelasan rasional lainnya," kata Radit dengan nada ragu.
Namun, ketika bayangan tersebut semakin jelas, wujud Bunga yang terlihat semakin nyata. Mereka bisa merasakan kehadirannya, bahkan meskipun Bunga sudah meninggal dunia.
"Radit, aku yakin itu adalah Bunga. Aku merasakan energinya. Kita harus mencari tahu apa yang dia inginkan," ujar Zahra dengan penuh keyakinan.
Saat itulah, bayangan Bunga mulai bergerak mendekat. Wajahnya penuh dengan ekspresi kesedihan dan amarah. Zahra dan Radit merasakan getaran-getaran aneh di sekitar mereka saat ini.
"Ba-bagaimana mungkin ini terjadi?" ujar Radit sambil tergagap.
Bayangan Bunga muncul perlahan dari balik pepohonan, seakan-akan ia muncul dari dalam kabut gelap yang menyelimuti hutan. Wajahnya yang pucat dan hancur, seolah-olah memperlihatkan rasa sakit yang terlihat jelas, dengan mata yang memancarkan cahaya redup yang menghantui. Rambutnya yang kusut terurai dan bergelombang, menyerupai jaring laba-laba yang rapuh dan kusam.
Bunga mengambang di udara dengan gerakan yang tidak wajar, seolah-olah gravitasi tidak memiliki kendali atasnya. Tubuhnya terlihat tidak utuh, bagian-bagian tertentu terlihat kabur atau samar-samar terlihat seolah-olah bagian itu telah menghilang. Ada luka-luka dan bekas luka yang tampak di tubuhnya, dengan darah yang berbau amis menetes.
Memancarkan aura kegelapan dan penderitaan yang menakutkan!
Zahra mencoba berbicara dengan Bunga, "Bu-bunga, apa yang ingin k-amu sampaikan? A-pakah k-amu butuh bantuan?"
Bayangan Bunga tetap diam, tapi ekspresi wajahnya semakin jelas. Mereka merasakan kehadiran yang semakin kuat, seolah-olah Bunga berusaha menyampaikan pesan penting.
__ADS_1
Suaranya, ketika akhirnya ia membuka mulut, adalah serak dan berderak seperti angin yang berhembus melalui reruntuhan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti bisikan dari alam baka, sulit untuk dipahami tetapi mengandung beban emosi yang sangat dalam. Tatapan matanya menembus jiwa, seakan-akan ia bisa melihat ke dalam pikiran dan rasa takut setiap orang yang berani memandangnya.
"Tolooong a-ku ..."
Setiap kali Bunga bergerak, ada suara mendesis yang mengiringinya, seperti suara angin bertiup melalui lorong yang gelap dan terlupakan. Bayangannya melintas dengan cepat dan tiba-tiba, kadang-kadang berubah bentuk dan ukuran, menciptakan ilusi yang mencekam dan mencekik hati.
Penampilan Bunga saat ini adalah perpaduan antara kecantikan yang dulu ada, saat masih hidup dan kehancuran yang mengerikan, menciptakan penampakan yang tak terlupakan dan menakutkan.
Keadaan Bunga yang menyeramkan ini memberi kesan bahwa ia membawa beban dendam dan rasa sakit yang luar biasa, memancarkan aura ketidakpuasan dan keinginan untuk membalaskan kejahatan yang dialaminya.
Di tengah sorotan cahaya senja yang redup, Zahra dan Radit berdiri dengan penuh ketegangan di tengah lingkungan yang gelap dan rimbunnya hutan desa Mangga.
"T-idak, ini tidak mungkin?"
"Tolong ... ini, tolong!"
"Ini hanya ilusi atas ilmu hitam seseorang. Jangan percaya!"
Orang-orang yang berada di sekitar mereka, termasuk orang asing dan Pak Lurah, menoleh dan berteriak ketakutan, terbingkai dalam bayangan rasa takut akan hal yang tak dapat mereka pahami.
"Bu-bunga ..."
__ADS_1
Di samping itu, Rian, kekasih Bunga, merasa seolah-olah dia terjebak dalam mimpi buruk. Matanya membulat dan tidak percaya, hatinya berkecamuk antara ingin mendekati Bunga dan ketakutan atas kenyataan yang mengejutkan ini.
Pemuda itu memandang Bunga dengan pandangan campuran antara kerinduan dan ketidakpercayaan, merasakan perasaan bercampur aduk yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Suasana di sekitar mereka begitu tegang, terasa seperti dunia nyata dan dunia spiritual bertemu dalam satu momen yang menakutkan.
Gelombang kebingungan dan kepanikan terasa menyatu dengan aura misterius yang mengelilingi bayangan Bunga. Dalam keheningan yang kental, terdengar hembusan angin pelan dan gemericik daun di bawah langkah kaki yang cemas. Semua orang merasa terikat oleh kejadian yang tidak bisa dijelaskan, dengan mata yang beralih dari satu wajah ke wajah lainnya, mencari jawaban dalam sorotan mata yang penuh tanya.
"Lama sejak kita terakhir bertemu, Zahra. Aku merindukanmu. Ada begitu banyak yang ingin aku sampaikan."
Zahra, tercengang oleh suara yang akrab namun berbeda. Gadis itu menjawab dengan penuh emosi, yang tidak bisa diungkapkan.
"B-unga, aku ... a-ku juga merindukanmu. Ta-pi, a-pa yang terjadi padamu?"
Bunga melanjutkan kalimatnya lagi, suaranya terdengar aneh, seperti rasa sakit yang tertahan.
"A-ku disiksa dan dipermalukan dengan kejam. Tubuhku hancur, Zahra. Tapi rohku tidak akan tenang sampai keadilan datang. Aku datang untuk memohon bantuanmu. Aku butuh bantuanmu untuk menemukan kebenaran dan membalaskan dendam ini!"
Zahra, dengan mata berkaca-kaca, menjawab dengan sedih. Dia seperti ikut merasakan siksaan yang dirasakan oleh Bunga sebelum kematian datang.
"Ten-tu, Bunga. A-ku akan membantumu. Kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan memastikan keadilan ada untukmu."
__ADS_1