
Setelah kejadian di hutan desa, Zahra bersama dengan Radit kemudian dibantu Rian akhirnya bisa menguak misteri Kematian Bunga yang meneror penduduk desa.
Zahra dan Radit berdiskusi tentang jejak-jejak aneh yang mereka temukan, mencoba menghubungkan titik-titik penting. Rian, teman mereka, bergabung dan bersama-sama mereka memecahkan petunjuk-petunjuk yang akhirnya mengarah pada kenyataan mengejutkan bahwa Kematian Bunga sebenarnya merupakan hasil dari rencana Pak Lurah sendiri.
Saat perbincangan tersebut berlangsung, wajah mereka penuh dengan ekspresi keterkejutan dan kebingungan. Mereka mulai menyusun potongan-potongan informasi yang ditemukan menjadi gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi di desa.
Zahra sambil menunjuk pada bekas jejak di tanah, memberikan penjelasan tentang apa yang diketahuinya.
"Lihat, Radit. Jejak ini terlalu aneh untuk binatang liar. Apa yang bisa menyebabkan ini?" tanyanya dengan serius.
Radit datang mengamati jejak yang ditunjuk Zahra, seperti layaknya seorang penyidik.
"Memang terlihat aneh. Sepertinya ada yang tidak beres di hutan ini, apalagi dengan segala ritual yang dilakukan oleh Pak Lurah dan orang-orangnya."
Rian datang bergabung dengan mereka, sesuai dengan janjinya kemarin.
"Ada apa, kalian berdua mendapat petunjuk?" tanyanya memperhatikan.
"Rian, kamu lihat jejak ini? Aku merasa ada sesuatu yang tidak biasa," ungkap gadis tersebut.
Rian ikut mengamati, setelahnya mengangguk.
"Kita harus mencari tahu lebih lanjut. Siapa tahu ini bisa membantu kita mengungkap misteri Kematian Bunga."
Mereka kembali berjalan mengitari tempat-tempat yang diduga bisa menemukan petunjuk-petunjuk lainnya.
Zahra tertegun saat melihat sesuatu yang mencurigakan. Dia menyipitkan matanya, saat menemukan potongan kertas di antara semak-semak.
"Hei, lihat ini! Potongan kertas dengan tulisan aneh," teriaknya pada Radit dan Rian.
Radit mendekat dan mengambil kertas tersebut.
"Kita harus mencoba menyusunnya agar bisa membaca pesan yang ditulis ini."
Yang lain mengangguk setuju, karena hanya itu yang harus mereka lakukan untuk mengetahui pesan ada di kertas tersebut.
Setelah mereka menyusun kertas ___
"Ternyata ini petunjuk, menunjukkan lokasi tertentu. Apakah ini terkait dengan Kematian Bunga?" tanya Radit, yang terbiasa dengan pekerjaan seperti ini.
__ADS_1
"Aku tidak percaya ini. Bagaimana mungkin Pak Lurah terlibat dalam semua ini?" tanya Radit dengan wajah tegang.
Mereka bertiga, tidak pernah menyangka setelah mengungkap fakta bahwa Pak Lurah terlibat dalam kasus ini. Kematian Bunga yang mengerikan!
"Aku merasa dikhianati. Kita harus berbicara dengan Bu Lek Warsih untuk mendapatkan klarifikasi," ucap Zahra dengan wajah kecewa.
"Kita harus berhati-hati dengan langkah kita. Jika kebenaran terbongkar, bisa jadi desa ini akan terpecah belah." Radit mengingatkan.
Rian sendiri tidak bisa berkomentar apa-apa, karena tidak pernah menyangka jika ayahnya sendiri yang menjadi dalangnya atau otak dari semua yang terjadi pada Bunga, kekasihnya!
"A-ku ... ini tidak mungkin."
"Rian, tenang."
Rian dan Zahra berbicara dengan emosi campur aduk tentang bagaimana mereka merasa dikhianati oleh Pak Lurah yang ternyata terlibat dalam seluruh kejadian ini.
Radit mengangguk setuju, sambil mengutarakan kekagumannya terhadap ketekunan dan keberanian teman-temannya dalam menghadapi kenyataan yang pahit. Mereka memahami bahwa cerita ini masih memiliki banyak lapisan yang belum terkuak, dan tindakan mereka selanjutnya akan memengaruhi seluruh desa.
Dalam perbincangan ini, mereka bersatu untuk mencari solusi yang tepat untuk menghadapi Pak Lurah dan akibat dari tindakan yang telah dia lakukan.
Diskusi mereka mempertimbangkan konsekuensi dan dampak sosial yang mungkin terjadi. Semua tiga teman ini menyadari bahwa mereka harus menjaga persatuan desa sambil memastikan kebenaran terungkap.
"Kita harus memikirkan bagaimana mengungkapkan kebenaran kepada penduduk desa. Tapi tanpa memicu konflik," kata Zahra memberikan pengertian.
Rian mengangguk setuju.
"Ya. Kita harus mencari cara yang bijak untuk menjaga persatuan desa sambil mengungkap kebenaran," sahut Rian pasrah.
"Ini bukan hal yang mudah, tapi kami percaya bahwa kita bisa menyelesaikan ini dengan cara yang tepat. Kita harus bersatu dalam menghadapi semua ini."
Zahra seketika berdiri, bergerak untuk maju menghadapi penduduk desa. Mengungkapkan kebenaran yang selama ini ditutupi.
"Kami memiliki kebenaran yang harus kami ungkapkan kepada kalian semua. Kematian Bunga bukanlah kecelakaan atau pemerkosaan semata. Semua yang terjadi memiliki keterkaitan dengan Pak Lurah," ungkap Zahra dengan wajah sedih.
Tentunya apa yang disampaikan oleh Zahra, membuat Penduduk Desa terkejut dan akhirnya gempar.
"Apa maksudnya semua ini?" tanya mereka semua ingin penjelasan lebih.
"Kami telah mengungkap fakta bahwa Pak Lurah terlibat dalam rencana untuk menutupi aibnya sendiri. Dan Bunga sebenarnya adalah anak kandung Pak Lurah, ia saudara seayah dengan saya."
__ADS_1
Rian, menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya, dan ini memang pahit.
"Kami tahu ini sulit dipercaya, tapi kami ingin mencari keadilan dan kebenaran bersama-sama." Radit menambahi.
"Kami berbicara kepada kalian dengan harapan bahwa kita bisa menjaga persatuan desa kita. Kita harus menghadapi kebenaran bersama, tanpa menyalahkan satu sama lain."
Ternyata, mereka bertiga mendapatkan kebenaran ini dari Bu Lek Warsih sendiri, tapi wanita paruh baya itu tidak pernah menyangka jika Pak Lurah, yang merupakan ayah kandung dari Bunga tega melakukan semua ini.
Penduduk Desa, setelah beberapa saat keheningan terjadi. Mereka tentu sangat terkejut dengan berita ini sebab selama ini menyangka, bahwa Pak Lurah adalah orang yang sangat baik dan suci.
"Kami mungkin membutuhkan waktu untuk memahami semua ini. Tapi satu hal yang pasti, kami harus menemukan jalan untuk melanjutkan bersama sebagai satu desa."
Beberapa minggu kemudian.
Zahra bersama Radit dan Rian kembali berdiskusi bersama.
"Apa yang terjadi sejak kita mengungkapkan kebenaran?" tanya Zahra, meminta mereka berdua yang biasa memantau.
"Desa mulai pulih. Walaupun ada kebingungan awal, penduduk desa akhirnya menyadari pentingnya tetap bersatu."
"Pak Lurah mengakui perbuatannya dan mengundurkan diri dari jabatannya. Warsih, ibu Bunga, membantu mendamaikan situasi."
Selama ini, teror yang datang adalah sebuah rekayasa dari orang-orang asing yang dipekerjakan oleh Pak Lurah sendiri. Begitu juga dengan Pak Sam dan Pak Ali, yang menjadi bagian dari skenario tersebut.
Selama ini Pak Lurah menciptakan suasana desanya seperti desa yang terbelakang dan misterius. Ini semua untuk kepentingan pribadinya sendiri.
Rian, anaknya awalnya terkejut. Tapi setelah semuanya terkuak, pemuda itu mengucapkan terima kasih kepada Zahra dan Radit.
"Aku minta maaf pada semua pihak, yang telah terlibat dan menjadi korban skenario ayah.Aku tidak pernah menyangka, jika hubunganku dengan Bunga yang tidak dapat restu karena alasan tersebut."
Demi menutupi aib, yang sebenernya bukan hanya dengan Warsih, Pak Lurah menciptakan skenario yang menjadi cerita mistis.
"Ok, Zahra. Sudah waktunya aku kembali!"
Radit pamit pada sahabatnya, Zahra. Gadis itu telah dengan berani mengungkap misteri kematian Bunga, untuk mendapatkan keadilan.
Dari kejauhan, sosok Bunga tersenyum dengan melambaikan tangannya, seakan-akan mengucapkan terima kasih pada Zahra.
***
__ADS_1
Kisah mereka sampai di sini. Sampai jumpa di waktu dan cerita lainnya.