
Ternyata dibagian bawah kantong kertas pembungkus buah nya sudah ditempel dengan Alat pelacak yang sangat kecil sekecil lalat, Segera Selda membuka Ponselnya untuk melacak maps alat pelacak yang sudah dibawa pria berjas hitam itu, Selda berlari menuju motornya yang dia parkir di pinggir jalan gang tak lupa dia mengganti pakaiannya dengan jaket hitam dan Sepatu hitam serta Helm hitam agar dia tak dicurigai, Selda melajukan Motornya sambil melihat kearah ponsel yang dia taruh di penyanngga agar memudahkannya yang sudah diseting di maps dimana alat itu berada "Aku akan menemukan mu" Selda melajukan motornya
15 menit menyusuri dinginnya angin malam, Arahan Maps berhenti di sebuah club dipinggir kota segera Selda menghentikan motornya dan mencari tempat aman untuk memakirkan motornya, "Sebuah club, apakah pria itu sedang ingin sebuah bir beralkohol" Selda tersenyum miring dan masuk kedalam club dia memakai masker hitam, didalam ruang club disinari oleh lampu kerlap-kerlip ditambah banyak pengunjung yang sangat mabuk, "Wuiih sarang pendosa" gumam Selda sambil berjalan mencari keberadaan pria berjas hitam, setelah melewati kerumunan para pengunjung Selda akhirnya menemukan keberadaan Si Pria berjas Hitam, dia sedang berada di Pinggir pintu keluar dan sedang berbicara dengan seorang wanita berpenampilan seksy, Selda bersembunyi sambil mendengar percakapan mereka "sayang kapan kau akan menjadi milikku seutuhnya" ucap wanita itu sambil mengelus kumis pria itu, "Tenang Sayangku saat aku menceraikan istriku yang sakit sakitan itu, aku akan segera menjadi milikmu" Balasnya lalu mereka melakukan cumbuan. selda Merasa jijik kepada mereka "Dasar pria bejat, istri sakit bukannya dirawat malah berulah" gumamnya namun tiba tiba seseorang dari belakang menyentuh pundak Selda, "Maaf nona siapa ya?" Tanya pelayan pria, "Astaga bikin aku kaget, Saya ada perlu dengan pria itu" Selda menunjuk pada pria berjas hitam yang berlalu pergi bersama Kekasihnya, "Ouh Tuan Jerdo, kalo mau bertemu buat perjanjian dulu", "jadi namanya Jerdo" batin Selda "tapi saya harus bertemu sekarang", "Ya, saya akan usahakan kalo begitu silahkan ditunggu saya akan bicara pada tuan Jerdo" ucap pria itu sambil berlalu mengikuti kepergian Pria Berjas hitam. Setelah menunggu akhirnya Selda diperbolehkan bertemu dengan Jerdo, "Uh akhirnya gak tahan aku lama dekat sama orang orang nakal" gumamnya sambil berjalan menuju ruangan Jerdo, "Selamat malam tuan Jerdo" Selda mengucap salam, "Ya apa keperluan mu" tanya Jerdo, "Saya ingin menawarkan Hal yang spesial tuan" Ucap Selda sedikit menggoda, "Hah spesial apa itu?" Jerdo mulai Terpancing "Ya tuan, kau tahu ayah saya adalah pengelola penyelundupan obat dan berlian" Ucap Selda serius tanpa Berkedip, "Hah benarkah siapa nama ayahmu" mata Jerdo berbinar, "Ehm..itu privasi, nanti setelah kita bekerjasama saya akan mempertemukan kalian", "Wah hebat saya sangat setuju", "Nah begitu yang saya mau tuan", "tapi apakah ada biaya tambahan", "Tenang tuan Jerdo, ayah saya tidak butuh sepersen pun dari anda jika kita sudah bekerjasama", "Wah baguslah, baiklah apakah ada syaratnya", "Ouh Iya Ada tuan, saya punya nomor ayah saya hubungi dia dulu" Selda memberi nomor dan ternyata nomor ponsel yang dia beri adalah rekan intelijen yang sudah menunggu kabar dari Selda, "baiklah tuan saya akan pulang dulu" setelah memberikan nomor Selda pamit dan pergi. Setelah obrolan di telepon Segera Anggota intelijen menghubungi polisi dan tak butuh waktu lama Pria berjas hitam telah diringkus dan dipenjara karena penjualan obat terlarang.