Mistery : Problem End Promise

Mistery : Problem End Promise
Eps : 3


__ADS_3

Alim dan teman teman yang lain pun nampak berpikir. Sedari tadi, mereka berusaha agar tidak menimbulkan kecemasan atau kegaduhan untuk teman trman yang lain. Bahkan, sedari tadi Alim menatap ke luar jendela pun tidak ada pencahayaan apapun kecuali lampu lampu kendaraan yang berlalu lalang. Sangat disayangkan jika mereka terjebak pada situasi yang mencekam dan tidak masuk akal.


Bagas meraih pundak Alim dan berusaha menenangkan dirinya, "Lim.. kejadian ini sangatlah tidak masuk akal. Maksudku, saat ada tikungan Evana menghilang secara tiba tiba Lim.. Bahkan sebelum kejadian itu lampu bus berkedip bukan? " Ucap Bagas


"Tumben kau sangat teliti Gas? Biasanya kau sangat lemot terhadap ini.. " Datar Galih mengejek


"Hey! Enggak ye! " Kesal Bagas


Alim menengahi keduanya, "Sudahlah. Gas, kau tadi bilang apa? Tikungan? " Tanya Alim merasa janggal


Bagas kembali mengingat, "Ya? Aku dapat melihatnya melebur saat tikungan "


Martha bertanya, "Bagaimana kau tau itu tikungan? "


"Aldo tertidur, saat ada tikungan kurasa saat tikungan belok kanan, tubuhnya selalu jatuh di pundakku. Hingga aku harus berulang kali membenarkan posisi tidurnya " Ungkap Bagas


"Tikungan? Tapi.. Apa itu mungkin? " Gumam curiga Martha


"Kurasa? Apa salahnya mencoba? " Ucap Alim kemudian mengambil handphone nya dan segera membuka aplikasi maps


Galih yang melihat lokasi yang sedang mereka lewati memanglah sangat panjang terdecak kagum bersemangat yang di pukul oleh Martha.


"Sekitar 5 menit lagi akan ada tikungan. Aku akan mencoba duduk disini dan mencari kebenarannya! " Ujar Alim duduk pada bangku belakang itu


"Hah?! Jangan bercanda Lim! Bagaimana jika terjadi sesuatu? " Cegah marah Galih


Alim menatap datar temannya itu, "Memang sudah terjadi sesuatu Lih. Oleh karena itu, aku ingin mencari kebenarannya.. " Jelas bulat Alim


Galih, Martha, dan Bagas hanya diam. Untuk sudah lama mereka kenal Alim yang sangat keras kepala. Jika belum menemukan akarnya, Alim akan terus menggalinya hingga ia menemukannya.


Martha mengusul, "Aku ikut! Sekali kali berpetualang oke bukan? " Serunya ikut duduk disebelah Alim


"Hah.. Kau sangat keras kepala Lim. Aku tidak tau lagi bagaimana caranya menghadapimu, meskipun aku berteman denganmu sedari kita masih jadi kecebong " Pasrah bercanda Galih ikut duduk di sebelah Alim


Alim hanya terkekeh pelan mendengar tuturan Galih, "Pftt! Terserah anda yang mulia~ " Goda Alim


Bagas hanya terdiam menatap khawatir mereka, "Hey.. Kalian yakin? Aku.. Aku sedikit takut masalahnya.. " Ucap lirih Galih


"Bagas, aku ingin kau yang mengambil alih masalah ini. Dengar, hanya kau yang mendengar rencana kami. Pertama, jika kami sudah melebur.. Pastikan tidak ada yang duduk di bangku belakang ini lagi mengerti? " Titah Alim memberitahukan rencananya pada Bagas


Bagas mengangguk pelan, "Bagaimana jika aku tidak bisa dan malah membuat kegaduhan? "


"Asal kau tenang dan mengikuti rencana Alim, kurasa akan baik baik saja saat sudah sampai di pedesaan atau kampung terdekat " Sanggah Martha


"Kedua, jangan beritahukan kepada siapapun. Ingat? kau hanya perlu tinggal diam dan mengatakan jika kau tidak tau menahu.. " Ucap serius Alim


"Pak Andre dan Miss Berti? " Tanya Bagas heran


"Siapapun! " Pertegas kembali Alim yang diangguki oleh Bagas, "Bagus, hanya itu saja kurasa " Ucap Alim


"Lim, sebentar lagi.. " Ucap Galih yang bergetar


Alim mengangguk pelan dan segera menggumamkan doa serta sholawat.


[Bllerrrr]

__ADS_1


Bagas yang melihat ketiga temannya itu melebur secara bersamaan. Sungguh, Bagas tidak kuat melihatnya dan hendak memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Akhirnya ia bisa tenang dan kembali duduk pada bangkunya.


"Semoga kalian baik baik saja.. " Batin Bagas


...****************...


Ditempat Alim, Martha, juga Galih.


Alim merasa dirinya seperti yang waktu itu, hanya terlempar dan tanpa pingsan sama sekali. Seakan akan penglihatan akhir mereka bus, sedetik kemudian berubah menjadi hutan hutan yang sanagt lebat dan mencekam.


Alim berpikir dengan keras mencoba mengingat, ini seperti penglihatannya yang waktu di depan perpustakaan itu. Hutan yang amat lebat, dengan kabut kabut yang amat tebal. Itu benar benar sama persis.


"Lim.. Kita, terlempar dihutan? " Tanya Galih pada Alim


Alim mengangguk, "Kurasa.. " Ujarnya


Martha kemudian mencoba signal dan merasa kesal karena sama sekali tidak ada, "Bagaimana bisa tidak ada?! Padahal kuota internetku sama dengan milik Nadia! " Geramnya hendak melempar ponselnya namun tidak jadi


"Sepertinya ada gangguan. Bukankah tadi saat lampu bus berkedip handphonemu, bukan vlog milik Nadia menjadi terputus? " Ingat Galih pada Martha


"Kira kira.. Bang Safar mau ga ya jemput aku disini? " Lebay Martha memasang mimik menjijikan menurut Galih


"Jijik astaga!! " Sahut Galih


Alim tidak menghiraukan perdebatan dan kejar kejaran tidak berfaedah Galih dan Martha. Ia terus menelusuri hutan ini. Dan yang lebih mengherankan lagi, hutan ini siang!! Berbeda dengan saat mereka waktu di bus, yang masihlah malam.


Alim mendengar suara langkah kaki yang amat cepat, dengan suara teriakan minta tolong yang bersamar.


"Suara ini, suara yang sama persis saat waktu itu! " Gumam Alim mencari sumber suara itu


Galih dan Martha yang mendengar gumaman Alim pun berhenti debat dan bertanya pada Alim apa ada yang salah.


"Seperti ada yang meminta pertolongan! " Ujar Alim kemudian sesaat setelah ia berhenti


"Pertolongan? " Gumam bingung Galih


Galih dan Martha kemudian saling tatap dan memfokuskan pendengarannya sembari menutup mata mereka.


[Suara serak deru langkah kaki]


Martha terkejut, "Kau benar! Seperti ada yang berlari dan meminta tolong!! "


"Tapi.. Dihutan seperti ini, akan sulit menemukan siapa yang meminta tolong itu " Sanggah Galih


"Tunggu! Suaranya semakin mendekat dan jelas! " Sahut Martha menghentikan Alim yang akan bergerak


Mereka menunggu suara itu yang terdengar kian mengeras dan jelas. Hingga suara dari arah samping mereka, munculah seseorang yang mereka kenal.


"Evana?! " Terkejut Martha yang melihat Evana begitu berantakan dengan darah dimana mana


"To-tolong aku!! A-anjing! Anjing itu mengejarku!! Hiks!! " Serak panik Evana


"Anjing? " Gumam terkejut Alim


Tidak lama kemudian, beberapa anjing mulai menggong-gong dan terlihat oleh mereka. Mereka semua panik dan Alim segera memerintahkan untuk segera berlari sebisa mungkin menghindari anjing anjing itu.

__ADS_1


"Lari!! " Titah Alim


Alim yang melihat kondisi Evana yang nampak berantakan dan lemah pun segera menggendongnya untuk lebih cepat berlari.


"Lim!! Ayo!! Martha! Evana! " Teriak Galih memanggil mereka


"Permisi Evana.. " Ujar Alim kemudian menggendong Evana saat sudah mendapatkan ijin untuk menggendongnya


Alim, Martha, dan Galih segera berlari amat kencang entah kemana. Hingga, mereka tercekat akan adanya jurang didepan mereka.


"Ba-bagaimana ini?! " Tanya panik Galih yang melihat tidak ada jalan lagi


Alim seketika panik, ia juga tidak tau harus bagaimana.


"Huwaa!! Aku belum nikah!! Aku tidak mau mati konyol seperti ini!! " Rengek Martha lebay kemudian mengangkat kedua tangannya untuk berdoa


"Hey Mar! Bantu mikir apa?! Apa yang sedang kau lakukan?! " Kesal Galih yang mulai sangat panik karena langkah anjing anjing itu mulai terdengar


"Berdoa! Semoga aku masih hidup dan akan menikah dengan bang Safar!! Mungkin saja, itu bisa dilakukan! " Ucap Martha


"Lih! ambil kayu atau apapun itu untuk dijadikan senjata! Kita akan melawan anjing anjing itu! " Titah Alim menurunkan Evana yang pingsan karena kelelahan dan sakit, "Mar! Kau jaga Evana! " Sambungnya menatap Martha


Galih segera mencari kayu terdekat, ia menemukan dahan yang tergeletak dibawah dan segera memotongnya menggunakan jurus silatnya.


[Pletak!]


"Waw~ emezing!! " Seru terperangah Martha memberikan jempol pada Galih


Galih dengan bangganya menepuk dadanya, "Anak silat gitu lho!! "


Alim tersenyum dan segera memberikan arahan pada Galih, "Lih, aku tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan. Sebisa mungkin kau seret anjing anjing itu untuk jatuh- "


[GUK!! GUK!! GRRR!!]


"Oke! Masuk ke jurang bukan? " Semangat Galih mempersiapkan dirinya


Alim tersenyum kemudian juga bersiap siap.


"Bagaimana ia bisa sesemangat itu? " Datar gumam Martha dan mengalihkan pandangannya saat Evana melengguh terbangun


Anjing anjing itu mulai keluar dan akan siap menerkam mangsanya. Sungguh terlihat kelaparan. Terlihat ada 7 anjing liar yang akan di lawan oleh Alim dan Galih. Saat anjing anjing itu menyerang, Alim dan Galih berlari dan segera menangkis terkaman anjing anjing itu. Pukul dan saling serang, 4 anjing sudah terlempar ke jurang itu dan tinggal 3 lagi anjing yang masih menyerang. Kayu Alim tergigit dan dikoyak koyak oleh anjing itu begitu rakus. Saat Alim melihat kearah sekeliling untuk mencari kayi lagi, Alim melihat Galih yang melempar kayu itu kebelakang.


"Apa yang kau lakukan?! " Tanya Martha dan Alim secara bersamaan


Galih tersadar, "Eh?! Apa? Bukankah anjing itu akan mengejar barang saat dilemparkan? " Ujar Galih cengengesan


Alim tidak habis pikir, ia panik dan segera mencari akal kembali. Mereka tersudut, oleh jurang dan 3 anjing liar.


"Huwaa!! Apa yang harus kita lakukan?! " Panik Martha


[Wusshh!! Swing!!]


Angin berhembus sangat kencang, dan dalam sekejap api membakar tubuh anjing anjing itu hingga hangus terbakar.


"A-apa yang terjadi? " Tanya Galih bingung

__ADS_1


Dan tidak berselang lama dari itu, datang sosok anak kecil laki laki yang sangat bersih datang dan tersenyum kemudian bertanya pada Alim dan teman teman.


"Siapa kakak kakak ini? "


__ADS_2