
Alim dan teman teman kini masih bingung dan hanya mengikuti anak kecil tadi hingga menuju kesebuah gubuk yang amat tua. Untuk anak kota seperti mereka, nampak gubuk itu seperti rumah orang orang pada jaman dahulu. Dengan hanya beratapkan daun rumbia atau daun bulung yang biasa dikatakan orang orang jawa dan bambu sebagai penyangganya.
Alim memasuki gubuk itu setelah dipersilahkan oleh anak kecil tadi, "Dek, uhm.. Bagaimana kau bisa berada disini? " Tanya Alim
Anak kecil itu tersenyum kemudian mencari sosok teman teman Alim yang tadi, "Kakak tadi sepertinya terluka, apakah mau diobati terlebih dahulu? Aku memiliki tanaman herbal untuk meminimalisirkan sakitnya " Saran anak kecil itu
Alim mengangguk kemudian membantu Martha untuk memapah Evana dan membaringkannya pada tempat tidur itu. Tidak berselang lama, anak kecil itu keluar dan membawakan mangkuk berisikan daun yang sudah ditumbuk.
Anak kecil itu menyerahkan mangkuk itu pada Martha dan memintanya untuk mengoleskan pada bagian dalam Evana. Martha mengangguk dan segera para lelaki itu keluar mengikuti anak kecil itu.
"Cil, kau kok bisa ada disini? Bagaimana caranya? " Tanya Galih pada anak kecil itu yang dikira melakukan hal yang kanak kanak
Tentu sajalah! Dia masih anak anak_-
"Dek, bisa kau beritau kami tempat ini? Ini sangat membingungkan untuk kami masalahnya " Pinta lebih lembut Alim mengikuti gerak gerik anak kecil itu
"Namaku Ilham! Kakak bisa memanggilku seperti itu. Siapa nama kakak kakak ini? " Seru semangat Ilham
"Namaku Alim, kau bisa memanggilku seperti itu " Ucap Alim, "Kalo dia Galih, dan kakak perempuan itu namanya Martha dan Evana " Sambung Alim memperkenalkan semua
Ilham mengangguk senang ia kemudian duduk melayang, "Senang bertemu dengan kalian.. Uhm.. Bagaimana aku akan memulainya? Oh! Intinya saja. Kalian sedang berada di alam lain, ini adalah hutan berkabut " Ujar Ilham melayang layang dengan tidak jelas
"He-hey, bisa kau turun? Itu membuatku merinding tau! " Merinding Galih menggenggam erat lengan Alim
"Alam lain? Bisa kau ceritakan itu, Ilham? " Pinta Alim, Ilham untuk menceritakan tentang masalah ini
"Uhm.. Baiklah~ " Seru Ilham
Ilham menceritakan, bahwa hutan ini adalah tempat dari dunia lain. Maksudnya, ini tempatnya para iblis, jin, hewan spiritual dan sebagainya. Bahkan anjing yang mereka lawan tadi, termasuk anjing iblis yang dikuasai oleh hawa jahat. Ilham ini termasuk ke dalam golongan jin, jin yang tidak dikuasai oleh hawa jahat. Oleh karena itu, Ilham bisa mengendalikan perilakunya.
Alim juga menceritakan pada Ilham jika teman teman yang lain melebur dan berpindah tempat dengan sekejap. Ilham berpikir, mungkin teman teman Alim dibawa di kerajaan iblis. Ilham sebenarnya curiga, jika ada salah satu makhluk entah itu iblis atau jin yang berada di alam manusia yang mengirim manusia lain kedunia ini. Pasalnya, dunia ini tidaklah semudah yang dipikirkan untuk membukanya.
"Ada makhluk astral yang berada di dunia kami?! " Terkejut Galih
Ilham mengangguk, "Kemungkinan.. Seperti itu "
"Apakah kau bisa membawa kami untuk kembali pulang? " Tanya Alim pada Ilham
__ADS_1
Ilham mengangguk antusias, "Tentu saja aku bisa! " Serunya
Alim tersenyum kemudian menguatkan tekad, "Baiklah, aku akan mencoba mencari teman teman yang lain ke kerajaan iblis " Ujar Alim tegas
Ilham terutama Galih yang mendengar hal itu pun menjadi amat marah, "Lim! Dengar ini! Kita memiliki kesempatan untuk kembali, dan apa yang kau pikirkan? Kau ingin mencari mereka sendiri? Dalam hutan ini?! Pikir dengan baik baik Lim! Tadi kita mungkin aja akan mati jika Ilham tidak datang! Lalu? Apa lagi yang didalam jauh sana?! " Kesal marah Galih meraih kerah Alim
Alim dengan sabar dan tenang menjelaskan, "Ingat awal tujuan kita Lih, dan ingat juga.. Allah akan selalu menjaga kita " Kata Alim meraih tangan Galih dari kerahnya
"Ya aku tau! Allah pasti akan menjaga kita, dan dia sudah menolong kita untuk segera kembali lewat Ilham, Lim.. " Sanggah Galih
"Dengar ini Lih, aku akan mencari mereka. Aku meminta kau agar tetap disini dan menjaga Evana juga Martha. Kau bisa kembali terlebih dahulu.. " Ucap Alim melenggang pergi memasuki gubuk
Galih hanya terdiam, ia mengepalkan tangannya hingga memutih.
"Kenapa kak Galih kesal? " Tanya Ilham dengan polosnya
Galih yang mendengar hal itupun menunduk lesu, "Alim adalah temanku sedari kecil. Kedua ibu kami berteman dekat hingga kami pun mulai berteman dari kecil. Alim kehilangan ibunya saat melahirkan adik kecilnya, dan aku juga kehilangan ibuku sebulan setelah meninggalnya ibu Alim. Oleh karena itu, dia seperti saudara bagiku.. Aku tidak ingin dia kenapa kenapa dan dia sangat keras kepala untuk mengahmbat itu semua. Dia tidak pernah mendengarkanku untuk kebaikannya sendiri.. " Curhat Galih pada Ilham
Ilham hanya terdiam kemudian tersenyum, "Jika kau berpikir seperti itu, mungkin kak Alim juga berpikiran yang sama untuk kebaikan kalian " Ucap Ilham yang membuat Galih tidak mengerti
"Itu terlihat darimana ia berpikir dan bertindak. Kuyakin, kak Alim sudah mengetahui konsekuensinya. Ia berpikir pada awal ia rencanakan, dan jangan khawatir kurasa kak Alim memiliki rencana yang lain " Jelas Ilham membuat Galih semakin tidak mengerti
Galih hanya menatap datar dan bingung pada Ilham yang terombang ambing di udara, "Bisa kau jelaskan lebih singat dan mudah dipahami? Kau anak kecil tapi pemikiranmu sungguh membuatku tidak mengerti sama sekali " Datarnya
"Intinya, kak Alim ingin semuanya selamat dan pulang bersama sama " Jelas ulang Ilham
"Bersama.. " Gumam Galih
Galih seraya memikirkan tentang hal itu, ia kemudian menyusul kedalam diikuti oleh Ilham.
"Apa?! Kau ingin pergi sendiri?! " Tanya mengeras Martha yang mendengar penuturan Alim
"Tidak! Dia akan pergi denganku! " Ujar langsung Galih saat masuk gubuk
"Hah?! " Terkejut keduanya
Ilham kemudian menjelaskan, "Kak Galih akan pergi menemani kak Alim untuk pergi ke kerajaan iblis " Jelas Ilham
__ADS_1
"Tunggu, lalu.. Bagaimana denganku? Dengan kami? " Tanya Martha yang panik
Alim nampak berpikir, benar juga.. Jika Galih ikut denganya, Martha dan Evana bagaimana?
Ilham kemudian menyahut, "Aku yang akan menjaga mereka!! " Serunya senang, "Lagipula, kak Martha dan kak Evana jika sudah sembuh bisa bermain denganku? ~ " Serunya antusias
Galih nampak berpikir dan menatap Alim, begitu juga Alim yang menatap Martha apakah setuju dengan rencana ini?
Martha mengangguk, "Baiklah.. Aku akan menunggu kalian disini dengan Ilham.. " Kata Martha tersenyum
Alim tersenyum nampak lega, ia dan Galih kemudian segera bersiap siap membekali keduanya diabntu oleh Ilham. Pengobatan, makanan, minuman, sandang, sudah Ilham siapkan. Dan saat setelahnya, Alim dan Galih pamit pergi.
"Hiks.. Cepatlah kembali dengan selamat oke? " Ucap Martha mengusap air matanya, "Bang Safar akan memarahiku jika dia tau adiknya kenapa kenapa.. Hiks.. " Lebaynya
Alim hanya tersenyum menanggapinya, "Hn.. Kaliam jaga diri baik baik " Ucap Alim
Ilham kemudian datang dan mencegah mereka berdua sebelum pergi, "Tunggu! "
Alim dan Galih berdiam diri menunggu Ilham yang kini berlari seperti anak kecil, Ilham menyuruh Alim untuk menunduk dan memberikannya kalung dengan liontin berwarna putih keemasan.
"Semoga liontin ini bisa membantu saat kalian sedang dalam kesusahan. Sebenarnya, kalung itu milik ibuku yang sudah lama sekali meninggal " Kata Ilham
Perkataan Ilham tanpa sadar sampai pada Galih, Galih hanya tersenyum iba dan menyuruh Alim untuk menerimanya sebelum Alim menolaknya.
"Baiklah.. Kami pergi dulu, Assalamualaikum.. " Ucap Galih melenggang pergi dahulu dan diikuti oleh Alim
"Kami pergi dulu, Assalamualaikum.. " Ucap Alim
"Waalaikumsalam.. " Jawab Martha dan Ilham secara bersamaan
"Kak!! Jangan lupa berdoa dan bersholawat!! Itu yang selalu ibu ajarkan padaku!! " Teriak Ilham yang diberi jempol diatas kepala oleh Galih
"Tumben Galih menjadi seperti sosok yang dewasa? Apa aku salah lihat ya? " Gumam heran Martha
"Mungkin dapat hidayah? " Ucap polos Ilham
"Kurasa kau benar.. "
__ADS_1