Monster Hunter School

Monster Hunter School
Ch. 2 ~ Berpindah Tubuh


__ADS_3

Pagi yang cerah, jalanan kota ramai akan orang-orang yang berlalu lalang. Entah itu menggunakan kendaraan bermotor, mobil begitupun juga dengan pejalan kaki.


Di satu tempat. Sebuah gang kecil yang jarang sekali di kunjungi oleh orang banyak. Tampak tubuh anak remaja berusia sekitaran 14 tahunan saat ini tergeletak bersimbah darah.


Jika ada yang lewat dan melihatnya, mungkin mereka akan mengira dirinya telah meninggal dunia.


Tak lama setelahnya, terjadi pergerakan pada jari tangannya. Pupil matanya pun juga terlihat bergerak-gerak ke kanan dan kiri di balik kelopak mata yang menutupinya.


Hingga kedua mata anak itu terbuka serentak. Mata melotot, pupil mata yang berwarna merah jingga sejenak tampak dari pupil mata anak itu. Namun hanya sesaat, sebelum berganti warna menjadi cokelat.


Dia bangkit, pertama kali yang dilakukan adalah menilik sekitar. Tempat itu terasa sangat asing dimatanya.


"Aku di mana? Mengapa tempat ini sangatlah aneh. Apakah ini dunia yang dimaksud oleh suara menggema itu?" ucapnya pelan. Lalu dia mengelap darah segar yang saat itu akan menutupi matanya menggunakan punggung tangan.


Melihat pakaian yang dikenakannya pun tampak aneh. Ini bukanlah pakaian yang dia kenakan terakhir kali.


Sringgg...


Kepalanya mendadak terasa sakit. Ingatan-ingatan aneh muncul begitu saja di kepalanya. Itu berlangsung sangat cepat.


Setelah itu, ingatan-ingatan tersebut berhenti muncul. Dia bernafas lega.


"Akh, sepertinya memang aku telah berada di dunia lain. Jiwaku menempati tubuh anak ini, yang memiliki nama Kevin... Haissh, dari namanya saja sudah sangat aneh." Chen Li yang telah memasuki tubuh Kevin itu berkat sembari tangannya terangkat menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit.


Lalu dia kembali bergumam setelah memikirkan sesuatu.


"Dunia yang aku tempati saat ini sangatlah berbeda jauh dengan dunia ku sebelumnya. Tampaknya di sini aku di paksa untuk membiasakan diri dengannya. Dan juga, mengenai masalah yang di alami oleh pemilik tubuh ini begitu rumit. Tapi akan aku coba untuk menyelesaikannya."


Setelah itu, Kevin lantas bangkit dari duduknya. Berjalan pulang, dengan mengandalkan ingatan yang ada di kepalanya.


Sepanjang perjalanan, beberapa kali dia dibuat tersentak kagum oleh apa yang dia lihat. Orang-orang yang begitu ramai, dengan alat-alat canggih yang mereka gunakan untuk berjalan dan berlari. Sampai rumah-rumah mewah dan tinggi terlihat di sepanjang jalan.


"Dunia yang begitu indah. Tapi mengapa aku tidak merasakan adanya aliran energi Qi pada tubuh setiap orang yang ada di sini? Bahkan energi alam pun sangat tipis. Mereka tidak lebih hanyalah sekumpulan orang-orang biasa," ucap Kevin. Pandangannya dia turunkan melihat kedua tangannya. "Kecuali tubuh anak ini yang berbeda!" gumamnya sedikit merasa heran.


Dia kembali melanjutkan perjalanannya. Namun sepanjang perjalanan, banyak sekali orang yang bergerak menjauh saat melihat Kevin. Semula merasa heran, sebelum akhirnya Kevin salah menangkap perkataan dari ibu-ibu yang saat itu tengah menggendong seorang bayi.


"Anak Monster... Pergi sana kau! Jangan mendekat. Aku tidak mau bayi ku ikutan terkena kutukan gara-gara kamu! Pergi sana..." Dia berkata setengah berteriak. Sembari itu, mengambil batu dan melempar ke arah Kevin. Beberapa orang juga langsung datang kala mendengar teriakan ibu-ibu itu.


"Tolong aku, Tolong jauhkan dia dari bayiku!!" Ibu itu berkata dengan penuh dramatis.

__ADS_1


Beberapa orang pria lantas maju dan bersikap kasar terhadap Kevin.


"Pergi kau, Anak Monster." Pria itu langsung melayangkan tinju telak ke arah perut Kevin.


Kevin meringis. "Sialan... Apa masalahmu, Pak Tua. Aku hanya akan lewat, dan juga jangan berani sekali lagi kau mengatakan aku Anak Monster...." Kevin sangat kesal mendapat perlakuan seperti itu.


Kevin lantas melapisi tangannya dengan api. Lalu meninju balas pria itu.


Sontak saja, beberapa orang yang berniat maju dan akan menghajar Kevin tadi segera mengurungkan niat mereka. Segera menjauh, berusaha menciptakan jarak dengan Kevin.


"Siapa yang kali sebut monster itu... Katakan?" ucap Kevin menantang, kobaran api di tangannya semakin dia perbesar. Tapi tidak ada jawaban. Semuanya bungkam, terdiam membisu.


Kevin menyeringai. "Bagus, mulai sekarang aku bukan lagi seperti dahulu. Siapa yang menindas ku, akan aku tindas balas. Hingga berkali-kali lipat sakitnya!" setelah mengatakan itu, Kevin lantas pergi begitu saja.


Sementara orang-orang yang ada di sana terdiam ketakutan. Ini tidak seperti biasanya. Dimana Anak itu akan menangis lemah saat di pukuli oleh warga. Namun kali ini dia tampak membalas. Tentu saja tidak ada yang berani mendekat, oleh sebab api aneh yang tiba-tiba dikeluarkannya.


"Pemilik tubuh ini sangatlah lemah. Setiap hari dia menerima perlakuan yang seperti tadi dengan tanpa membalas. Bahkan ada yang lebih meyakinkan dari itu!" gumam Kevin dengan masih berjalan.


Memang karena perlakuan yang dialami oleh orang-orang di sekitar Kevin, sehingga pemilik tubuh itu memilih bunuh diri, oleh sebab tak tahan lagi menjalani kehidupannya. Memiliki tubuh dengan kekuatan khusus, membuatnya di jauhi banyak orang. Apalagi pemilik tubuh tersebut tidak bisa mengontrol kekuatannya sendiri, sehingga banyak menimbulkan masalah di sana-sini. Tak heran dia disebut sebagai anak Monster.


Terus berjalan, hingga Kevin sampai di depan rumah sedikit tua tapi berlantai tiga. Rumah itu terletak di ujung kota, juga berjauhan dengan rumah-rumah lain.


"Harusnya sih, ini adalah tempat tinggal–ku!" gumam Kevin. Mengorek lagi ingatannya, tapi memang benar bahwa rumah besar itu adalah rumahnya.


"Tuan, ada apa dengan mu? Mengapa kau dalam kondisi terluka seperti ini!" Seorang pria datang menghampiri Kevin.


Menoleh ke arah pria itu sejenak, Kevin lantas menjawab. "Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir!" ucapnya dengan nada santai. Menurut ingatannya, orang yang mendatanginya itu harusnya adalah penjaga atau security di rumahnya.


"Mari aku bantu ke atas!"


"Tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri!" Setelah mengatakan itu, Kevin lantas berjalan meninggalkan security itu.


Sementara itu, Security hanya menatap kepergian Kevin dengan alis sebelah terangkat. Dia seperti melihat orang lain hari ini. Tapi dia tidak memikirkan itu lebih jauh dan memilih kembali melanjutkan tugasnya.


"Kevin, kau kenapa? Mengapa banyak darah di tubuh mu!" ucap seorang wanita paruh baya saat melihat Kevin memasuki rumah dengan intonasi khawatir. Kevin menoleh dan mengenali wanita itu sebagai ibunya.


Meskipun melihat kondisi anaknya yang tampak berdarah-darah, tapi anehnya wanita yang memiliki nama Dayana itu tidak segera menghampiri Kevin.


Bukannya apa-apa, melainkan karena Dayana yang memang memiliki trauma dimasa lalu. Dimana saat itu Kevin lepas kendali atas kekuatannya. Dan itu hampir saja membunuh Dayana. Makanya dia tampak menjaga jarak sekarang, meskipun sesekali dia akan memberanikan diri untuk mendekat. Bagaimana pun Kevin tetaplah anaknya yang membutuhkan dukungan penuh dari dirinya dan suaminya.

__ADS_1


"Cih, bahkan ibunya sendiri takut dan menjauh!" batin kevin dalam hati.


"Aku baik-baik saja, Ibu. Tadi hanya ada masalah sedikit di jalan. Tapi ini tidak sakit kok!" Kevin mencoba menjawab wanita itu.


Dayana tak percaya bahwa putranya itu baik-baik saja. "Nak, ceritakan yang sebenarnya terjadi. Jangan mencoba untuk menyembunyikan sesuatu!"


Melihat begitu sayangnya Dayana pada Kevin, entah mengapa membuat jiwa Chen Li iri. Semasa berada di dunia kultivator, dirinya belum pernah merasakan yang namanya kasih sayang orang tua. Pasalnya ibu dan


ayahnya telah meninggal semenjak dia berusia delapan tahun.


"Tadi tidak sengaja aku kesandung sesuatu di gang sempit. Terjatuh, dan berdarah seperti ini!" Kevin mengarang cerita. Padahal aslinya dia memang menginginkan kematiannya, hingga bunuh diri dengan terjun dari atas bangunan tinggi berlantai empat.


Sebenarnya tulangnya banyak yang patah, tapi karena jiwa Chen Li yang telah menempati tubuhnya, entah mengapa kekuatan yang memang sudah ada di tubuh Kevin, merespons kehadiran jiwa Chen Li itu. Hingga memberikan kesembuhan secara otomatis pada tubuh Kevin.


"Lain kali kau harus berhati-hati, Nak. Mari sini biar ibu bantu mengobati lukamu!"


"Ibu tenang saja. Aku tidak memiliki luka sedikitpun di tubuhku. Ini sudah sembuh tadi, saat di jalan."


"Kau tak memiliki luka?" tanya Dayana dengan kebingungan.


Kevin hanya terdiam. Dia berani menjawab demikian, sebab di dunia Kultivator luka sekecil apapun bisa sembuh dalam waktu singkat. Tapi dia terlambat menyadari kalau dunia kultivator dengan dunia ini sangatlah jauh berbeda.


"Cih, anak itu memang aneh. Mungkin benar kata orang-orang bahwa kita telah memelihara seorang monster di rumah kita.". Hans yang merupakan ayah Kevin itu dengan teganya mengatakan demikian.


"Sayang, mengapa kau mengatakan demikian? Dia adalah anak mu." Dayana membela Kevin.


"Jelas ini sebuah kutukan. Kekuatan yang tiba-tiba saja keluar dari tubuhnya. Mengapa kau masih tidak menyadari akan hal ini. Apakah kau tidak menyadari bahwa telah banyak orang yang membicarakan tentang keluarga kita!" Hans berbicara dengan nada tinggi.


"Tapi biar bagaimana pun Kevin tetaplah putra kita. Biarlah orang lain berkata apa. Aku yakin, ini bukanlah kutukan. Melainkan sebuah berkah!" Dayana tetap membela Kevin.


Memang selama ini banyak orang yang telah menjauhi Kevin. Bahkan sekolah tempat Kevin bersekolah pun tidak lagi menerimanya sebab karena kekuatan aneh yang ada di tubuhnya, merugikan banyak pihak di sekolah tersebut.


Untuk Hans sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan akan kondisi Kevin selama ini. Tapi entah mengapa hari ini dia seperti tidak tahan, dan menyuarakan demikian.


"Sudahlah, Ayah ... Ibu. Kalian tidak perlu bertengkar hanya karena kondisi Kevin. To, aku saja tidak jadi masalah. Bahkan sangat terbantu dengan kekuatan ini!"


Mendengar ucapan Kevin, Hans dan Dayana langsung mengernyit. Pasalnya mereka


tahu bahwa Kevin begitu tidak ingin memiliki kekuatan aneh itu. Tapi mengapa sekarang dia justru malah senang dengan itu?

__ADS_1


Kevin lantas memperlihatkan api di tangannya. Bola api yang tampak dikendalikan sedemikian mungkin oleh Kevin. Bahkan dia memain-mainkan bola api itu.


Dayana segera menjauh. Begitu pun juga dengan Hans. Kedua orang itu tampak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kevin. Kevin yang biasanya sangat tertekan karena memiliki kekuatan aneh itu, tapi mengapa saat ini dia malah berbanding terbalik dengan menyukainya? Bahkan Kevin telah mampu mengendalikan kekuatan tersebut.


__ADS_2