
Bola api di tangan Kevin seketika menghilang. Kevin memasang sunggingan kecil.
"Bagaimana, ini keren bukan?" tanya Kevin dengan masih mempertahankan sunggingan–nya.
"Nak, Bagaimana kau melakukannya? Bukankah selama ini kau selalu lepas kendali?" tanya Dayana memastikan.
"Itu mudah saja bagiku. Oh ya, ibu.. Bagaimana besok, aku ingin kembali bersekolah!"
Pertanyaan Kevin membuat Dayana dan Hans sekali lagi mengernyit. Entah mengapa kedua orang tua itu merasakan kalau anaknya ini begitu berbeda dari biasanya. Bahkan anak mereka yang semula memiliki sifat penakut serta lembek, tapi sekarang itu tampak hilang.
"Kau tak perlu bersekolah lagi. Tidak ada sekolah yang mau menerima mu. Mengingat kau yang begitu berbeda dari manusia pada umumnya!" ucap Hans datar tanpa menoleh.
"Hmm, jika aku tetap berada di rumah ini, aku tidak akan mengetahui bagaimana dan apa yang terjadi di dunia ini!" batin Kevin. Menurut ingatannya, bersekolah adalah cara yang pas untuk menambah pengetahuan. Makanya dia berinsiatif untuk menambah pengetahuan terkait dunia barunya itu melalui bersekolah.
"Benar, tidak ada lagi sekolah yang mau menerima kamu, Kevin. Setelah insiden kebakaran di beberapa ruang sekolah akibat ulah–mu. Tidak ada lagi sekolah yang mau menerima kamu!" Perkataan Dayana terhenti sejenak. Dia menatap Kevin sesaat, sebelum mengalihkan pandangan ke arah suaminya. "Kecuali Monster Hunter School!"
Kevin mengernyitkan alisnya mendengar itu. "Sepertinya menarik!"
***
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang. Berjalan melewati jalan hutan, Kevin yang berada di dalamnya merasa sedikit antusias mengendarai alat canggih itu.
Selama sejam perjalanan, mereka akhirnya sampai di tempat yang dituju. Mobil memasuki gerbang usang, dan menuju tempat parkiran.
Keluar, Kevin dan yang lainnya langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya. Berpakaian ribet layaknya seorang yang hendak pergi menari.
"Mari, Tuan...!" ajak wanita itu. "Sebelumnya perkenalkan aku, Dwic. Penanggung jawab sekolah Monster Hunter School ini!" ucap wanita itu. Kedua orang tua Kevin mengangguk. Lalu mereka beranjak dari sana mengikuti langkah kaki wanita itu.
Kevin sendiri berjalan mengekori orang tuanya dari belakang.
"Aura di sini begitu berbeda dengan yang ada di luar. Banyak orang-orang memiliki kekuatan khusus sama sepertiku di sini!" ucap Kevin dalam hati. Sebagai mantan seorang Kultivator, jiwa Chen Li mampu mengenali akan aura-aura yang berbeda dari masing-masing orang. Entah itu orang bisa ataupun bukan.
Selang beberapa saat, mereka sampai di sebuah ruangan. Hans, Dayana dan Kevin masuk ke dalam, mengikuti langkah kaki wanita tadi.
"Silahkan duduk, Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Dwic dengan ramah.
__ADS_1
"Apakah benar sekolah ini menerima anak-anak yang memiliki kelebihan khusus?" tanya Hans.
"Benar, Tuan. Sekolah kami ini memang sekolah yang dikhususkan untuk orang-orang seperti itu.... Apakah Tuan hendak mengirim anak Tuan bersekolah di sini?" tanya Dwic memastikan.
"Benar."
Hans dan Dayana pun lantas menceritakan kasus yang ada pada tubuh Kevin ini.
Setelah mendengar cerita orang tua Kevin, Dwic memasang sunggingan penuh makna. "Maka keputusan Tuan dan Nyonya tepat membawa anak kalian di sini!"
Setelah itu, orang tua Kevin setuju dengan menyekolahkan Kevin di Monster Hunter School.
Baik Hans dan Dayana telah pulang, sementara Kevin akan tinggal di sekolah ini. Dia mengikuti Dwic yang membawanya ke asrama.
Sampai di sana, Kevin mendapati seorang anak lelaki lain yang seumuran dengannya.
"Kau akan tinggal di sini bersama dengan Michael," ucap Dwic pada Kevin.
"Baik!" Kevin mengangguk.
"Ya, benar. Kau akan tinggal dengan Kevin mulai dari sekarang. Buat dia senyaman mungkin!" ucap Dwic.
Michael mengacungkan jari jempol. "Siap, Miss."
Dwic meninggalkan Kevin bersama dengan Michael.
"Mari sini biar aku bantu meletakkan barang-barang mu!" tawar Michael. Kevin tanpa bersuara, hanya memberi jawaban dengan anggukan kepala.
Ruangan yang mereka tempati itu cukup luas. Terdapat dua buah ranjang tempat tidur yang terletak di masing-masing sisi berseberangan.
Setelah selesai dengan membereskan barang-barang Kevin, Michael membawa Kevin keluar kamar, jalan-jalan berkeliling Sekolah. Sekedar untuk memperkenalkan Kevin terkait dengan suasana di sekolah itu.
Berkeliling, melewati bangunan demi bangunan aneh, Kevin dan Michael akhirnya sampai di taman Sekolah.
"Nah, apakah kau sudah melihat para penghuni sekolah ini? Mereka semua memiliki kelebihan khusus yang berbeda-beda," ujar Michael.
__ADS_1
Kevin mengangguk membenarkan. Memang sepanjang jalan dia melihat beragam orang yang menggunakan kekuatannya.
"Lalu, bagaimana dengan kamu? Kau memiliki kelebihan khusus apa?" tanya Kevin.
Sunggingan kecil terukir di bibir Michael. "Aku memiliki tubuh yang elastis. Anggota tubuhku bisa memanjang. Apakah kau mau melihatnya?" Kevin mengangguk.
Michael pun menunjukkan kemampuannya. Berharap Kevin berekspresi lebih saat melihat kemampuan itu, tapi justru Kevin hanya biasa saja.
"Mengapa kau tidak terkesiap saat aku tunjukkan kelebihan–ku... Kau bereaksi seolah-olah sudah terbiasa melihat pemandangan ini. Bahkan saat berjalan dan melewati orang-orang yang menggunakan kekuatannya pun kau tetap biasa saja. Bukankah ini merupakan pertama bagimu?" Michael mulai curiga.
"Bahkan di dunia kultivator banyak orang yang memiliki kelebihan seperti itu. Bukan hanya banyak melainkan semuanya orang memiliki kelebihan khusus!" gumam Kevin dalam hati menjawab Michael. Tapi tentu saja Michael tidak mendengarnya.
"Bukan apa-apa... Kau tahu, sebenarnya aku sangat tidak menyukai hidup seperti ini. Aku ingin menjadi seperti mereka yang hidup normal. Makanya saat melihat kemampuan khusus yang kamu keluarkan, aku merasa biasa saja!" ucap Kevin dengan menggunakan alasan yang memang pemilik tubuh ini harapkan sebelumnya. Sangat berbanding terbalik dengan yang di harapkan oleh jiwa Chen Li.
"Hmm..." Michael mengangguk. "Sebenarnya, bukanlah sebuah kutukan bagi kita yang memiliki kemampuan khusus ini. Melainkan karena kita ini merupakan orang-orang terpilih. Di masa mendatang, kita akan bertarung menyelamatkan dunia dari Monster yang bersembunyi di Dungeon!" Antusias Michael saat mengatakan itu.
Mendengar itu, kevin menautkan kedua alisnya. "Monster yang bersembunyi di Dungeon? Menyelamatkan dunia dari monster?"
"Benar, makanya sekolah ini diberi nama Monster Hunter School. Karena memang tujuan dari sekolah ini adalah mengumpulkan orang-orang yang memiliki kelebihan khusus, yang nantinya akan dijadikan pasukan untuk melawan para monster. Kita akan menjadi pemburu monster di masa depan," ucap Michael penuh semangat.
"Hmm, sepertinya menarik!" Kevin mulai tertarik. "Dengan begini, aku bisa menjadi terkenal saat berhasil memburu para monster itu. Mimpiku saat masih di dunia kultivator akan aku capai di sini!"
"Kalau boleh tau, kau memiliki kelebihan khusus apa?" tanya Michael.
Kevin langsung melakukan suatu tindakan untuk menjawab pertanyaan Michael.
Whush...
Kobaran api tercipta di tangan Kevin. "Aku bisa mengendalikan elemen api," jawab Kevin kemudian.
"Hmm, bagus... Hari sudah mulai malam. Mari kembali ke kamar asrama. Besok pelajaran pertama mu akan dimulai!" ucap Michael.
"Baiklah... Ayo!"
Keduanya pun beranjak menuju ke kamar asrama.
__ADS_1