
Seorang Xinlaire tidak pernah ragu untuk menghabisi nyawa seseorang yang kini tergeletak tak berdaya di depannya itu.
"G-gue min-ta ma-ma-af Xi" ucap Vito terbata
Cowok berpakaian serba hitam itu menilik malas pada wajah ketakutan Vito. "Di bayar berapa lo sampe berani jadi penghianat?"
"G-gue kepaksa Xi" lirih Vito menyesal sudah merusak kepercayaan Bossnya itu "ad-adik g-gue sa-kit. G-gue butuh uang banyak"
"Cuih" Xinlaire meludah ke sembarang arah. "Apa lo pikir gue bakalan percaya gitu?. Ucapan santai dan terkesan datar itu cukup mengerikan terdengar oleh lawan bicaranya. Juan tau betul kalau Xinlaire tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan apa yang di inginkannya hanya bisa mendesah pasrah.
"Sumpah Xi. Sumpah"
Juan mengenal baik Xinlaire sejak lama. Dia tau betul cowok itu tidak ada luluh dengan alasan semacam itu. Baginya penghianat tetaplah penghianat. tapi yang di katakan Vito itu benar. Juan sudah menyelidikinya "dia benar Xin, udah gue selidiki. Lepasin aja. Kasihan"
"Terus lo pikir usaha anak-anak lain di kantor nggak kasihan? Kita nyusun kode itu hampir sebulan. Bangsat!
Juan menghela napas berat "gue tau banget gimana kesalnya lo sekarang. tapi Xi. Vito satu-satu keluarga yang adiknya punya. Kalo lo bunuh dia adikknya nanti sama siapa?"
Xinlaire berdiri menatap remeh juan "dengan status asli lo. Lo nggak pantas ngomong kek barusan. Lo urus de ni sampah jangan sampe muncul di depan gue lagi!" Xinlaire meninggalkan mereka di ruangan itu
"Jangan pernah muncul di hadapan Xin lagi. ato lo bakalan tinggal nama" ancam juan kemudian meninggalkan Vito sendirian.
Setelah meninggalkan tempat tadi. Juan mengantar Xinlaire pulang ke apartemennya. "Langsung ke apart ni?" tanya juan memecah keheningan
Masi dengn mata terpejam sambil bersandar di kursi penumpang. Xinlaire berdehem sabagai jawaban. Juan tau sahabatnya ini tengah dalam suasana hati yang buruk "gue tau lo lagi kesal banget sekarang. Emang tai banget tu vito" ucapnya "tapi gue tetap mau bilang hal ini sama lo. Besok bakalan ada anak magang baru"
"IT mana?" tanya Xin singkat
"UCB. tapi...." Ucap juan terjeda membuat Xinlaire dengan malas menatap juan "dari UCB. bukan anak IT.. dia ilmu Designer"
Tubuh juan oleng ke kiri karna kini tangan Xinlaire tengah menggenggam erat kerak kemejanya "Gue lagi nyetir Boss. Lo kalo mau mati besok-besok deh sendirian jangan ngajak gue"
Xinlaire melepas genggamannya kasar "lo pikir perusahaan gue bidang fashion njing?" Marah Xinlaire
__ADS_1
"Dia sakit boss. Stadium akhir. Biarin aja sementara bareng kita. Prihatian gue"
"Perusahaan gue bukan rumah sakit bangsat.. muak gue dengar alasan itu"
"Udah terlanjur gue ia-in boss. Besok masuk dia"
Kalau saja yang di sampingnya itu bukan sahabatnya mungkin saja cowok itu kini tinggal nama "pastikan dia nggak berulah"
"Tenang. Udah gue jelasin boss" ucap Juan "namanya Altahia, cantik lo boss anaknya. Lumayan kan ada bunga matahari di tengah kumpulan kaktus"
Nada ejekan terdengar keluar dari mulut seorang Xinlaire "ck... menyusahkan"
"Kan tai namanya kalo kemakan omongan sendiri" balas juan "hati-hati lo boss" lanjut juan terkekeh
( ̄∇ ̄) ( ̄∇ ̄) ( ̄∇ ̄)
Jam dinding baru menunjukan pukul 06:12. Mungkin terlalu kentara, di wajah Althaia yang sepertinya terlalu banyak tersenyum sejak pagi tiba. Di depan meja makan yang sudah tersedia segelas susu dan semangkuk sereal untuknya sarapan, Altahia dengan cepat menghabiskannya
"Pelan-pelan Tha" tegur Shoi Han opa Althaia
Semua keluarga sudah mengetahui Althaia akan mulai magang. Walau awalnya terjadi perdebatan tapi akhirnya semua memilih mengalah dan mengikuti keinginan Althaia
"Thatha beneran engga mau di perusahaan kita aja?" tanya Anne oma Althaia
Althaia menggeleng "nanti Thatha engga bakalan di kasih kerja" jawab Althaia sambil kembali mengabiskan susunya "udah abis. Thatha berangkat dulu"
"Abang yang antar" ucap cowok yang sedang menuruni tangga lengkap dengan stelan kantornya
"Harus dong! Kan karna abang Thatha enggak balik asrama"
"Mulai hari ini Thatha bakalan di antar jemput. Entah itu abang atau supir nanti" ucap abang Althaia itu "Thatha udah nggak boleh tinggal di asrama lagi" putusnya dengan nada tegas
"Abang" rengek Althaia
__ADS_1
"Ada apa ini zi?" timpal Shoi Han. Shoi Han tau betul bagaimana sikap anaknya menjaga Althaia selama ini
"Kemarin pas aku mau antar Thatha balik asrama. Dia menolak balik cepat pa. Waktu aku tanya alasannya dia jawab 'anak gadis nggak baik pulang malam-malam. Harus pagi'. Shoi Han, Anne bahkan para pembantu kaget mendengar itu namun di ikuti dengan sudut bibir terangkat. "Teman asramanya yang ngajarin katanya"
Althaia menatap bingung. Sebenarnya dimana letak kesalahan dari pesan temannya itu. Bukankah pulang pagi memang lebih bagus di banding pulang malam-malam. Karna malam rawan dengan pembegalan "tapi yang di bilang Dewi itu betul abang. Pulang malam-malam kan itu bahaya. Bisa aja ketemu begal. Jadi bagusnya pulang pagi biar aman"
Anne terkekeh "yang Thatha pahami emang engga salah. Tapi bukan itu arti dari kalimat itu Tha" ucapnya "itu seperti kamu main di luar sepanjang malam dan pulangnya nanti pagi"
Althaia mengerti penjelasan omanya itu "wah dewi ngerjain aku dong. Awas yah aku jewer nanti" ricaunya "Abang. Dewi cuman bercanda. Kita nggak perna ko kek gitu" ucapnya memelas
Shoi Han menatap anaknya sambil mengangguk "tapi pa...."
"Aduh abang. Thatha bisa terlambat. Ayo cepetan" Althaia menimpali "Thatha pergi dulu yah Oma. Opa. Bibi. Nggak usah di anterin" pamitnya segera meninggalkan mereka di ruang makan.
Sudah puluhan menit kendaraan yang di tumpangi Althaia itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. "Abang nanti di depan belok kanan, lurus aja terus nanti ketemu pohon jambu, kemarin Thatha lihat jambunya udah matang, kalo di minta bakalan di kasih nggak yah bang? Abang mau nggak?"
"Arah jalan Thatha. bukan jambu"
"Ohiya yah hehe" Althaia menggaruk pipinya yang tidak gatal "thatha ilang fokus. Maaf"
"Terus kemana nih?"
"Itu abang" Althaia menunjuk sebuah bangunan "di depan mini market itu"
Mobil itu berhenti tepat di depan mini market "kantornya dimana? tanya abang Althaia
"Yang itu" Sebuah bangunan biasa terlihat disana "lantai 5" Ucap Althaia "Abang, Aku bakalan balik Asrama, jadi abang engga usah jemput. Terus abang, inikan hari pertama aku magang, Hp bakalan aku non-aktifkan biar bisa kerja lebih profesioanl" ucap Althaia terkekeh
"Yaudah Thatha hati-hati, kalo ada apa-apa langsung telepon abang"
Althaia mengangguk "yaudah aku masuk. Makasih yah abang. Jangan lupa jajan" Althaia berlari kecil memasuki gedung itu.
Sambil menunggu lift Althaia mencari Handphone-nya di dalam tas yang tak kunjung dia temukan "mungkin di mobil abang" gumamnya. Dengan cepat Althaia berbalik dan tak sengaja menabrak seseorang dengan gelas berisi kopi di tangannya
__ADS_1
"BANGSAT!" teriaknya marah