Mr. Lion Dan Miss Snail

Mr. Lion Dan Miss Snail
BAB 4


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Langit cerah kini telah berganti gelap. Di depan gedung berlantai empat khas kos-kosan tertulis disana 'Asrama Putri Cahya Buana'. Seseorang sedang berpikir keras untuk melangkahkan kakinya kedepan atau langsung saja berbalik kebelakang.


"Sial.. ini bukan urusan gue" gerutunya sambil memegang kotak P3K "dia pasti bisa ganti perbannya sendiri"


Sayangnya apa yang diyakini tidak benar terjadi. Sudah lebih dari dua jam gadis itu duduk di depan cermin sambil mencoba melepaskan perban yang menempel di dahi sebelah kirinya itu.


Bahkan jarinya belum menyentu perban dia sudah meringis kesakitan duluan. Althaia mengembuskan napas berat "menyerah...." Ricaunya


Sunyi yang mendengung masih tampak biasa ketika tiba-tiba saja suara alarm tanda kebakaran berbunyi.  Dengan cepat Althaia berdiri, ketika kakinya hendak melangkah ke arah pintu, dalam sekejap ruangan yang di tempatinya itu berubah gelap. Seluruh listrik padam.


Althaia tercekat. Kegelapan yang tiba-tiba itu membuatnya kalang kabut. Althaia meraba ke samping mencari apa saja untuk di jadikan penyangga.


"SEMUANYA KELUAR" teriak seseorang dari luar


Althaia mencoba berteriak, sayangnya suaranya seolah tertahan. Suara ribut-ribut di luar perlahan menghilang. Kepanikan menjalar di seluruh permukaan kulit Althaia. Kakinya lemas hingga membuatnya jatuh terduduk. Kegelapan selalu membuatnya sesak, kenangan buruk di masa lalu membuatnya sangat membenci gelap. Dadanya sakit. Althaia tidak bisa bernapas. Air mata mulai membasahi pipinya "Mommy" isaknya.


Pintu kamarnya terbuka, bersamaan dengan sorot lampu dari sebuah ponsel yang mengarah ke dalam ruangan seakan memberi jalan napas baginya. sorot itu berhenti tepat di tempat Althaia duduk. Silau lampu itu membuat Althaia menyipitkan matanya ingin melihat siapa sosok di baliknya.


"Althaia?"


Ia mengenali suara itu. suara dingin yang tadi membentaknya. Althaia mencoba berdiri menghampirinya, kakinya yang sejak tadi gemetar membuat pijakannya tidak terlalu kuat hingga tubuhnya oleng. Dengan cepat sosok itu meleset maju dan meraihnya. Hingga Althaia jatuh di pelukan hangat bukan lantai yang keras dan dingin.


"Pak Boss." Lirihnya


Sedikit kesadaran yang didapatkan Althaia saat ini. Ia hanya berharap segera keluar dari ruangan yang pengap dan gelap itu. Saat dekapan itu berubah menjadi sebuah gendongan, dalam gelap mata Althaia membulat sempurna. Jantungnya berdetak cepat seakan memompa darahnya agar kembali mengalir dengan baik ke seluruh tubuhnya.


"Bernapas.." tuntun suara itu. Althaia mengikuti. Perlahan, napasnya mulai teratur namun cengkeramannya pada lengan Xinlaire makin mengerat. Lampu kembali menyala bersamaan dengan Pintu keluar asrama mulai terlihat, Althaia menghembuskan napas berat ketika keduanya sampai di luar asrama.


"Lo mau balas dendam?"


Pertanyaan itu membuat Althaia mendongkak ke atas. Dalam jarak yang begitu dekat, ia berada dalam  gendongan Xinlaire. Berhadapan langsung dengan iris Biru menatap tajam tepat ke arahnya. Althaia mengedipkan matanya berkali-kali untuk mengembalikan fokusnya, ia tersadar bahwa tangannya masih cengkeramannya kuat lengan lelaki itu, dengan cepat Althaia melepakan cengkeramannya.


Xinlaire menurunkan pelan Althaia dari gendongannya "Pak Boss. Panggil Althaia "tadi di dalam mati lampu. Terus gelap banget. Serem"


Xinlaire memutar bola matanya malas. "Gue juga tau bego"


"Tadi kan aku mau ganti ini" Althaia menyentuh perban di kepalanya "terus ada alarm kebakaran. Aku cepat-cepat lari mau kelur, tiba-tiba mati lampu, aku engga bisa liat apa-apa. Aku sampe jatuh karna kaki aku gemeteran. Aku engga suka gelap Pak Boss. Rasanya sesak engga bisa napas"


"Bodo." Ucap Xinlaire mulai berjalan "ikut gue"


"Aku?" tanya Althaia bingung

__ADS_1


Xinlaire berbalik "emang dari tadi gue bicaranya sama siapa. Sialan" geramnya


Althaia terhekeh "iya juga yah. He he" Althaia mengekori Xinlaire dari belakang


"Masuk"titah Xinlaire saat keduanya sampai di depan mobilnya. Xinlaire mulai menjalankan mobilnya "rumah lo dimana?"


"Di jln. Pe. Eh Pak Boss mau ngantar aku pulang?" tanyanya panik


"He'em" Xinlaire berdehem mengiyakan


"Aduh Pak Boss. engga usa" tolak Althaia. Gawat kalo sampe orang rumah bertanya tentang luka di kepalanya. Bisa saja dia langsung dilarang magang "aku turun di depan aja"


Xinlaire menghentikan mobilnya "turun" ucapnya dingin


Althaia tersenyum "Makasih Pak Boss udah nolongin tadi" ucapnya kemudian menutup pintu mobil Xinlaire


Mobil itu melaju meninggalkan Althaia sendirian di jalan yang lumayan sunyi. Althaia berjalan tanpa tujuan. Matanya berbinar saat melihat sebuah taman, langkah kecilnya terhenti tepat di dapan bangku taman, dilihatnya sekitar begitu sunyi. Ia menghembuskan napasnya berat "ini daerah mana yah. Kok sunyi banget".


Di seberang jalan terlihat segerombolan laki-laki berjalan mendekati taman. Tepatnya mendekati Althaia


"Ohoy ada gadis cantik nih. Suit suit" goda salah satu dari mereka itu dengan wajah mesumnya


"Ko diam aja cantik" tanya seorang lagi sambil mencolek pipi Althaia yang langsung di tepis kasar Althaia "barang bagus ni Boss"


"Wah bisa kasar juga cantik" ucap pria yang pertama "bawa dia anto" titahnya kemudian


Althaia memberontak "Lepas.. Lepas.. aku aduin abang yah" ucapnya sambil mencoba melepaskan diri dari mereka


Orang yang di panggil Boss itu tertawa "Ikut abang-abang ini dulu yah manis. Abang engga main kasar kok" ucapnya dengan nada mesum


"Lepas.. ato kalian bakal menyesal" ucap Althaia dingin


Seakan tidak terpengaruh mereka terus membawa Althaia yang terlihat tidak lagi memberontak seperti tadi "Gue bilang lepasin tangan kalian sialan" teriak Althaia nyaring.


Amarah Boss mereka itu terpancing "lo bisa diam ngga gadis sialan" ucapnya sambil menjambak rambut Althaia


Dengan napas yang menggebu dan sorot mata tajam Althaia mendendang pria itu, dengan sekali hentakan tangan kedua pria yang tadi memegangnya ikut terlepas "Berani juga lo ******" geram pria itu


Laki-laki bernama anto itu terpancing emosi "gadis sialan" ucapnya "Habisi aja dia"


Mereka mulai medekati Althaia satu persatu. Bahkan sebelum laki-laki bernama anto itu menyentuhnya. Althaia terlebih dahulu menendangnya dan mematahkan lehernya sehingga membuat anto tewas di tempat. Sontak para laki-laki itu tersentak. Mereka terkesiap. terkejut dengan apa yang mereka lihat itu

__ADS_1


Althaia tertawa. Tawa yang cukup mengerihkan dengan cepat satu persatu dari gerombolan laki-laki itu dia habisi. Seakan tidak puas hanya mematahkan leher mereka Althaia mengambil batu dan memukul kepala mereka sampai kepala itu mengeluarkan gumpalan daging yang sudah bercampur darah.


Terliahat Smirk mengerihkan di wajah Althaia manik mata merah itu seakan berbinar menatap orang-orang yang sudah mati berlumuran darah itu


"Althaia?" Panggil seseorang


Althaia menoleh. Tatapan mata tajamnya seketika berubah menjadi tatapan takut sambil menatap sosok laki-laki yang di kenalinya itu. Batu di genggaman tangannya juga terjatuh.


"Pak Boss..." lirihnya


Xinlaire mendekat "apa yang udah lo buat?" tanyanya sambil melihat pemandangan mengerikan itu


"M-mereka ma-mau b-ba-wa aku" ucapnya terbata-bata "j-ja-jadi...."


Xinlaire menariknya dalam pelukan "Lo tenang. Biar gua yang urus semuanya" Xinlaire menghubungi seseorang lewat ponselnya "Hapus semua CCTV di daerah Jln.Mawar terutama di taman dan suru beberapa orang kesini" titiahnya


Tidak lama kemudian sebuah mobil Van hitam berhenti, beberapa laki-laki berpakaian hitam keluar dan menghampiri mereka


"Bereskan semuanya tanpa meninggalkan jejak" titah Xinlaire


"Siap King" jawab mereka kompak


Xinlaire menatap Althaia yang masih setia berada dalam pelukannya itu. Mata gadis itu terpejam dengan deruh napas yang teratur. "Bisa-bisanya lo tidur setelah ngebuat kekacauan ini" ucap Xinlaire yang kini menggendong Althaia menuju mobilnya.


...\=(^.^)\= \=(^.^)\= \=(^.^)\=...


.......


.......


.......


.......


...Althaia 😱...


...Jangan lupa Like...


...Coment...


...Follow akun aku juga 🥹...

__ADS_1


__ADS_2