Mr. Naughty

Mr. Naughty
Prolog


__ADS_3

Musim di kota Jakarta sudah memasuki musim panas. Beberapa orang masih tampak sibuk walau jam sudah hampir masuk tengah malam. Salah satunya adalah Chesa Farasya, seorang gadis muda asal Bandung itu sedang mencari sebuah club terdekat. Hampir satu jam sudah dia berputar-putar mengelilingi Kota Gemerlap itu.


Dengan sedikit terburu-buru, gadis berpakaian casual itu berlari masuk kedalam club yang dia yakini lelaki itu ada disana. Bau yang kuat langsung menyerang hidungnya, sungguh dia tidak terbiasa dengan aroma seperti ini. Sembari membekap mulut serta hidungnya, Chesa mengamati keseluruh penjuru tempat remang-remang tersebut, sampai akhirnya dia menemukan sosok  laki-laki dengan jas berwarna hitam yang tidak asing lagi baginya.


"PRESDIRR!!" serunya setelah berada di sampingnya.


Laki-laki itu menoleh kearahnya, dari ekspresinya saja sudah sangat ketara jika dia mabuk berat. Kepala Chesa benar-benar merasa pusing dengan bau alkohol yang asing ini.


Sejenak, Chesa memperhatikan wajah Sastra yang sedang menahan rasa kuat dari alkohol yang barusan dia teguk. Laki-laki in terlalu cuek dengan karirnya padahal sedang berada dipuncak kesuksesan.


Sastra Noam, siapa yang tidak mengenal nama tersebut. Seorang Direktur muda dengan segudang bakat multitalentanya, diusia yang baru menginjak 23 tahun dia sudah berhasil membawa nama perusahaannya menembus go internasional.


Tidak hanya itu saja, Marga Noam yang dimiliki oleh Sastra bukanlah Marga sembarangan. Diketahui salah satu fakta mengenai Sastra jika laki-laki tersebut merupakan pewaris tunggal Noam Company yang memiliki puluhan hotel bintang 5. Selain pengusaha muda yang memiliki Perusahaan sendiri, sebenarnya Sastra adalah seorang putra konglomerat.


"Ayo kita kembali ke hotel, semua orang sedang mengkhawatirkan Presdir."  Chesa meraih tangan Sastra agar laki-laki itu berdiri.


"Hey! Kau tau betapa hancurnya hatiku sekarang? Susah payah aku menuju puncak kejayaan, dia justru berselingkuh--" mulutnya segera di bekap oleh Chesa.


"Presdir jangan berisik, nanti kalau ada paparazi yang mengenali Presdir bagaimana?" Chesa melepas topinya lalu memakaikannya kepada Sastra.


Dengan terhuyung-huyung dia memapah Sastra menuju sebuah taksi yang tadi sudah dia pesan. Keduanya berhasil masuk kedalam taksi tanpa ada orang-orang yang mengenalinya. Wajar saja, ini sudah larut malam.


"Presdir kemana saja? Semua orang jadi menyalahkanku karena anda menghilang!!"


Chesa tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengomelinya. Untung saja keadaan Sastra sedang mabuk, jika laki-laki dalam keadaan sadar, mana mungkin dia berani bersuara, bahkan hanya menatapnya saja Chesa tidak berani.


Sebenarnya jantung Chesa sudah berdegup dengan kencang. Sudah lama dia mengagumi seorang Sastra, yang terkenal dengan kejeniusannya tersebut. Selain jenius, Sastra juga memiliki wajah yang rupawan.


"Presdir, anda masih bisa bertahan bukan?" Chesa bertanya sembari membenarkan posisi duduk laki-laki itu.

__ADS_1


"Jangan berisik." Gerutu Sastra.


"Sekarang kita akan kembali ke hot--"


"Apa kamu bisa diam?!"


Chesa terkejut ketika Sastra tiba-tiba membekap mulutnya. Wajah keduanya begitu dekat sampai-sampai dahi mereka bersentuhan, dia tidak pernah melihat wajah Sastra sedekat ini. Jujur saja dia mengakui ketampanan yang dimiliki seorang Sastra Noam, pantas saja dia direbutkan oleh penjabat bahkan menteri untuk menjadi menantunya.


"Kalau kamu masih berbicara, aku tidak ragu untuk membukam mulutmu sekarang juga." Perlahan tangannya menjauh lalu digantikan dengan jemarinya yang mengusap lembut permukaan bibir Chesa yang lembab.


Sebenarnya Chesa mau patuh untuk diam, namun dia menjadi sangat panik saat menyadari kepala Sastra mulai mendekat kepadanya.


"PAK SASS--emphh!!" Gadis itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan laki-laki itu kepadanya.


Tangan kekarnya mengunci kedua lengan Chesa kesamping tubuhnya, sedangkan tangan kanannya semakin menekan tengkuk Chesa untuk memperdalam ciuman mereka. Tentu saja Chesa tidak menginginkan hal tersebut, dia bersusah payah untuk melepaskan ciuman paksa yang diberikan oleh Sastra, hanya saja kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Sastra yang jauh lebih besar.


Matanya mendadak terpejam ketika Sastra mulai menghisap bibir bawahnya dengan sangat kuat. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengikuti apa yang Sastra inginkan, semakin dia melawan semakin kuat pula hisapan yang Sastra lakukan kepadanya. Hampir dua menit Sastra terus menuntut balasan dari Chesa, namun gadis itu enggan melakukannya dan hanya memilih diam tanpa perlawanan.


Perlahan Sastra melepaskan tautannya, napas kedua terdengar saling bersahutan dengan terengah-engah. Beberapa kali Chesa harus mengerjapkan matanya untuk mempercayai apa yang barusan menimpanya.


"Pak Sass--tra, apa yang-- anda lakukan?" tanyanya dengan susah payah.


Sastra hanya diam dengan kepala sedikit terdunduk, laki-laki itu sudah kembali pada posisinya yang normal. Chesa kembali bertanya namun tidak kunjung mendapat jawaban. Dia pun memberanikan diri untuk menoleh kesebelahnya, saat itu juga dia melihat setetes airmata meluncur di pipinya.


"Pak Sastraa."


Laki-laki itu hanya berdeham yang membuatnya justru menjadi khawatir. "Kamu kenapa? Kenapa menangis?"


Sastra menoleh, yang dia dapatkan adalah tatapan penuh kekhawatiran dari Chesa yang melihatnya. Walau Sastra sedang mabuk, dia tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran. Namun melihat Chesa yang sekarang, dia seperti sedang melihat Tamara kekasihnya.

__ADS_1


***


Setelah menempuh waktu hampir 20 menit lamanya, akhirnya mereka sampai di hotel. Jam tangan Chesa sudah menunjukan pukul setengah 1 malam.Ternyata pesta sudah berakhir sejak setengah jam yang lalu, Manager Ima menyuruhnya untuk mengantar Sastra langsung ke kamar VIP saja.


Masih dengan posisi memapahnya, diam-diam Chesa melirik Sastra yang lebih tinggi darinya. Laki-laki itu tampak memejamkan matanya, dia terlihat sangat kelelahan. Chesa membuka pintu kamar hotel milik Sastra kemudian masuk kedalamnya, perlahan dia menjatuhkan tubuh Sastra yang cukup berat tersebut.


"Pegalnya..." keluh Chesa sembari memukul bahunya pelan.


Gadis itu memperhatikan tubuh jangkung Sastra yang tergeletak diranjang. Dia tidak mungkin meninggalkannya dalam keadaan berantakan seperti itu, bisa-bisa Manager Ima marah besar kepadanya.


"Anda ini sebenarnya kenapa Presdir, bukannya menikmati kesuksesan saat ini, justru anda merusaknya dengan mabuk-mabukan yang tidak perlu."


Chesa mulai melepas jas hitam yang Sastra kenakan, dengan telaten dia juga melepas sepatu serta mengangkat kembali tubuh berat Sastra sehingga bisa tidur dengan nyaman di kasurnya. Sebelum pergi, dia memperhatikan wajah Sastra yang tampak bersedih.


"Kasihan." lirihnya sebelum berbalik badan untuk pergi.


Grepp!!


Mata Chesa melebar karena dikagetkan dengan kedua tangan Sastra yang sudah melingkar erat dipinggangnya. Sejak kapan laki-laki ini bangun, Chesa pikir Sastra sudah tertidur.


"Tamara..." lirih laki-laki itu sembari menyandarkan kepalanya di punggungnya. "Kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Aku salah apa!!"


Gadis itu terdiam mendengar Sastra meracau tentang kekasihnya. Chesa menyadari betapa dia sangat mencintai seorang Tamara, seingat Chesa dia baru sekali bertemu dengan wanita tersebut.


"Pak Sastraa, apa yang anda lakukan?!!"


Yang saat itu Chesa rasakan adalah punggungnya membentur kasur dengan keras, lalu tubuhnya terasa begitu berat seperti ada yang menimpanya. Ketika dia membuka mata, yang dia lihat diatasnya adalah Sastra yang sudah menindihnya dengan kedua tangannya terkunci diatas kepala.


Laki laki itu tersenyum menyeringai. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi."

__ADS_1


__ADS_2