
Beberapa hari ini terasa begitu melelahkan untuk seorang Sastra. Kesibukannya semakin bertambah saat dia memutuskan untuk ikut membantu Noam Company. Demi mengembalikan tenaganya, dia akan beristirahat disebuah ruangan khusus yang hanya dia saja yang tau.
Siang itu Chesa mendapat tugas membersihkan ruangan yang akan digunakan untuk meeting. Tiba-tiba dia dikagetkan oleh Manager Ima yang datang dengan telepon di telinganya.
"Baiklah, saya akan memimpin meeting untuk siang ini." Ujar Manager Ima yang baru saja mengakhiri panggilan.
"Chesa, kamu bisa keluar sekarang. Tolong bersihkan ruangan disebelah, disana juga tampak kotor saat saya lihat."
"Baik Bu." Jawab Chesa dengan sopan.
Chesa segera mengambil alat-alat kebersihannya, dia berjalan keluar dan langsung berpapasan dengan banyak pria berjas rapi yang mungkin akan mengikuti meeting. Perempuan itu melihat kearah kanan dan kekiri, ada dua ruangan disana. Saat melihat ruangan disisi kiri, ternyata sudah ada OB lain yang membersihkannya.
Perempuan itupun memutuskan untuk membersihkan ruangan yang ada disisi kanan, saat meraih gagang pintunya, ternyata tidak terkunci.
Ceklek!
Chesa melihat ruangan itu sangat remang bahkan bisa dibilang gelap. Dia berusaha menemukan saklar untuk menyalakan lampu, namun justru dia dikagetkan denganĀ suara pintu yang otomatis terutup dengan keras.
"Astaga! Bikin kaget saja." Perempuan itu mengelus dadanya yang jantungan.
Dia melangkah dengan sangat hati-hati, takut-takut jika kakinya menabrak sesuatu. Dan benar saja, perempuan itu menghantam sofa yang ada diruangan tersebut hingga membuatnya jatuh terduduk dilantai.
"Aduhhh. Kenapa sial sekali aku hari in--"
"Dasar perempuan, kenapa kamu berisik sekali hah?!"
"Hah?!"
Chesa mendongak cepat, matanya melebar saat melihat seorang pria sedang tiduran diatas sofa.
"Pak Sas--traa?" Buru-buru dia memakai maskernya kembali.
Namun Sastra lebih dulu menarik tubuh ringannya hingga berdiri. Perempuan itu menjerit karena Sastra tiba-tiba mengangkatnya sehingga kini berakhir dipangkuannya. Chesa terkejut bukan main, dia berusaha memberontak namun pelukan Sastra dipinggangnya sangatlah erat.
"Lama tidak melihatmu."Bisikannya membuat Chesa merinding.
Chesa membulatkan matanya lebar-lebar, dia berusaha menepuk pipinya berharap jika ini hanya sebuah mimpi. Tidak mungkin ini Sastra, Direkturnya.
__ADS_1
"Tolong lepaskan saya." Pinta Chesa dengan sangat memelas.
Bukannya segera melepaskannya, justru Sastra mendekatkan kembali bibirnya kepada telinga perempuan tersebut. "Apa kamu tidak ingin merayuku lagi?"
"Apa?! Aku tidak pernah merayu anda, Presdir." Bantah Chesa tidak terima. "Lagipula ini pertama kali kita berte--"
"Pertama kali melakukannya maksudmu?" potong Sastra yang semakin membuat Chesa panik.
"Presdir tolong lepaskan saya. Ini tidak benar, anda sudah salah orang."
Chesa terus memohon, namun Sastra tidak mau menurutinya. Hampir lima menit lamanya mereka hanya berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya Chesa menyerah dan memutuskan diam.
Sastra sedikit melonggarkan pelukannya, keduanya saling bertatapan. Namun yang jadi perhatian Chesa adalah senyuman nakal diwajah Sastra. Perempuan itu kembali panik saat Sastra menarik paksa masker diwajahnya.
"Apa yang anda inginkan?"
"Beritahu siapa namamu."
Jelas saja Chesa enggan untuk memberitahunya, namun tatapan dingin Sastra benar-benar membuatnya ketakutan. Dia hanya berharap setelah memberitahu namanya, Sastra akan melepaskannya.
"Chesaaa, namaku Chesa. Sudah aku jawab, apa lagi yang anda inginkan?"
Chesa mengernyit bingung, apa dia baru saja salah dengar. Belum selesai dia berpikir, hal yang dilakukan Sastra benar-benar membuatnya terkejut.
"Enghh-- Pak Sass-traa, in--ni tidak ben--nar, hen--tikan" Chesa berusaha menahan desahannya ketika Sastra tiba-tiba menciumi rahang lehernya.
"Jika kamu berani melawan atau memberontak, aku tidak segan-segan memecatmu langsung."
Mata Chesa melebar mendengarnya. "Kamu baru saja mengancamku?"
"Tidak hanya itu saja, akan kupastikan rekaman saat kita melakukannya di hotel malam itu bisa tersebar luas dan hanya menampilkan wajahmu saja. Itu yang akan terjadi jika kamu berani membantahku."
Chesa menatapnya dengan mata yang gemetar, tetapi ekspresi Sastra sama sekali tidak berubah --tetap dingin.
"Jika kamu menganggapku sedang bercanda, kamu boleh mencobanya." Bisik Sastra kemudian kembali menciumi area rahang Chesa.
Setelah puas menggoda Chesa yang sedari tadi menahan desahannya, laki-laki itu akhirnya melepaskannya. Sebelum keluar dari ruangan tersebut, dia sempat tersenyum nakal kearah Chesa yang mendesis kearahnya.
__ADS_1
***
Haikal baru saja mendapat telepon dari Pak Dean, dia pun bergegas mencari keberadaan Chesa yang sekarang sedang melamun di taman belakang perusahaan. Disini tempat para karyawan kelas bawah untuk beristirahat, dan Haikal pun sudah hafal jika perempuan itu akan ada disana.
Terlihat Chesa sedang melamun di bawah pohon yang ada disana. Haikal bisa melihat wajah murung perempuan itu, entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Chesa, kamu sedang apa menyendiri disini?" Haikal menghampiri perempuan yang menoleh kearahnya itu.
"Pak Haikal--"
"Haikal saja, kita hanya sedang berdua disini."
Chesa mengangguk paham, dia kembali duduk setelah Haikal duduk disebelahnya. Perempuan itu kembali melamun lagi, sebenarnya dia sedang kepikiran dengan ancaman yang tadi Sastra katakan. Diluar apakah Sastra akan benar-benar melakukannya, ini tetap menganggu pikirannya.
"Haikal." Laki-laki itu hanya berdeham sembari mengamatinya. "Menurutmu, Pak Sastra itu orang yang seperti apa?"
Terlihat ekspresi Haikal yang bingung. "Seperti apa yang bagaimana maksudmu?"
"Selama ini orang sepertiku jarang bisa melihatnya, jadi yang kami tangkap hanya dingin. Apa Pak Sastra orangnya memang seperti itu? Apa dia termasuk orang jahat?"
Haikal tersenyum mendengar pertanyaan temannya tersebut, laki-laki itupun mengacak pelan rambut Chesa karena gemas.
"Jika kamu melihatnya seperti itu, maka jawabannya salah besar."
Chesa melirik kearah Haikal dengan pandangan serius, dia ingin mengenal Sastra jauh lebih dalam. Dia hanya takut jika Sastra sengaja ingin mempermainkan harga dirinya saja.
"Kamu tau sendiri jika tunanganku adalah mantan kekasihnya, tetapi dia mempercayaiku menjadi salah tau manager disini. Itu bukti jika dia tidak sepenuhnya jahat."
Haikal melirik Chesa yang kembali melamun. "Memangnya ada apa kamu bertanya seperti itu?"
Perempuan itu hanya menggeleng dengan tersenyum simpul, sepertinya dia enggan untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepada Haikal. Dia tidak ingin masalah ini menjadi lebih jauh, perempuan itu memutuskan untuk memendamnya sendirian.
"Oiya, ada apa kamu datang kemari? Tidak biasanya." Tanya Chesa yang mengalihkan topik.
"Ah benar!! Aku datang kesini karena mencarimu, ada kabar baik untukmu."
Chesa mengernyit. "Kabar baik untukku? Apa ?"
__ADS_1
"Tadi Manager Ima menghubungiku, katanya Presdir ingin memberimu hadiah karena kemarin saat acara pesta kamu sudah membantu presdir kembali ke hotel dengan selamat. Dan katanya sore nanti kamu disuruh datang ke ruangannya."
Rasanya detik itu jantung Chesa ingin melompat dari tempatnya. Mungkin menurut Haikal itu adalah kabar yang baik, namun bagi Chesa jelas itu malapetaka yang sangat mengerikan.