
Setelah kejadian dikamar hotel itu, Sastra tidak pernah lagi melihat Chesa di perusahaan. Bahkan ketika dia mencarinya di wilayah belakang, dia tetap tidak menemukannya. Sastra ingin memberi wanita itu sejumlah uang, namun namanya saja dia tidak tahu. Kini ia sedang melamun diruangannya, menatap wajah tampannya dari pantulan cermin yang dikelilingi oleh lampu berwarna terang.
"Apa wanita itu sudah keluar dari sini, kenapa sulit sekali untuk menemukannya."
Satu hal yang Satra khawatirkan, dia takut jika perempuan itu sampai hamil lalu menyebarkan kabar tentang dirinya. Dia tidak mau karirnya hancur hanya karena seorang perempuan rendahan seperti Chesa.
"Sayang!"
Seorang wanita masuk dan langsung memeluk Sastra dari belakang, bahkan dia tidak canggung mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanan laki-laki tersebut. Sastra sudah tidak terkejut, hubungannya dengan Tamara memang sudah berakhir, namun perempuan itu seperti tidak punya malu terus mengejarnya.
"Aku dengar dari Ayah hari ini ada meeting denganmu, jadi aku ikut kemari." Kata Tamara dengan manja.
Sastra tersenyum simpul, dia bahkan tidak menganggap Tamara ada disana. Tetapi dia harus tetap bersikap baik untuk kelancaran bisnisnya bersama Ayah perempuan tersebut.
"Maaf Nona Mara, Tuan Sastra harus pergi sekarang."
Seorang pria baruh baya yang Tamara tau sebagai asisten pribadi sekaligus bodyguard utama Sastra itu masuk kedalam ruangan yang sama. Tamara melepas pelukannya kepada Sastra, perempuan itu menatap sinis kearah Pak Dean yang berpakaian sangat rapi.
"Aku adalah kekasih Sastra, beraninya kamu menyuruhku?!"
"Saya tau Nona, tapi Tuan Sastra tidak keberatan dengan itu." Balas Pak Dean.
Tamara melirik Sastra yang hanya tersenyum simpul. Ini memang kesalahannya karena sudah berani selingkuh dari pewaris Noam, tetapi dia sudah menyesalinya dan berharap Sastra mau kembali bersamanya.
"Ayahku adalah seorang menteri, kamu tidak lupa itukan Pak Dean yang terhormat." Tamara sengaja memberikan penekanan, namun itu adalah hal yang percuma bagi Pak Dean.
"Saya masih sangat mengingatnya Nona. Tolong sampaikan salam hormat saya ke beliau."
Tangannya mengepal karena murka, tetapi Tamara hanya bisa menahannya sebab Sastra sudah lebih dulu bangkit dari kursinya.
"Maaf Tamara, tapi hari ini aku harus segera pergi untuk meeting." Sastra membelai sekilas pipi perempuan tersebut. "Aku akan memberi kabar jika ada waktu luang."
Perempuan itu mengangguk paham, dia pun sedikit menutup matanya. Tamara mengira jika Sastra akan menciumnya, nyatanya laki-laki itu justru berjalan keluar melewatinya begitu saja. Pak Dean yang berada dibelakangnya menutup pintu ruangan tersebut.
__ADS_1
"AARGGHHHHH!!" Tamara berteriak karena kesal. "Kenapa kamu melakukan ini padaku, Sastraa!!"
Tentu saja Tamara merasa sangat kesal, biasanya Sastra tidak akan keberatan jika dia menciumnya. Bahkan biasanya laki-laki itu yang akan bersikap manja padanya.
"Lihat saja Sastra, aku akan membuatmu kembali tunduk kepadaku. Ingat itu!!"
***
Sastra beserta dengan Pak Dean baru saja keluar dari lift. Laki-laki itu berjalan sembari membenarkan posisi jasnya. Para karyawan yang kebetulan sedang berada disana, nampak terkejut melihat sosok Sastra muncul dihadapan mereka. Bagi karyawan kelas bawah, melihat Sastra adalah suatu hal yang langka. Karena itulah kehebohan tidak bisa terelakan, seolah mereka sedang melihat seorang bintang.
"PAK SASTRAA!"
"ASTAGA PAK PRESDIRR!!"
"YA AMPUN AKHIRNYA BISA LIHAT DIREKTUR. INI BUKAN MIMPI BUKAN?!"
"KENAPA ANDA TAMPAN SEKALI!!"
Sastra hanya memandang dingin para karyawannya tersebut, itu memang sudah menjadi sikapnya yang terkenal. Dia jarang merespon orang lain apalagi wanita. Bagi siapapun para wanita yang mendapatkan perhatiannya, bisa dikatakan mereka sangat beruntung.
Perhatian Sastra beralih pada teriakan seorang wanita yang sedang memarahi perempuan didepannya. Namun Sastra tidak bisa melihat siapa yang dia marahi akibat memakai topi serta membelakanginya.
"Lusi tolong jangan berisik." Chesa berusaha menyuruh adiknya itu untuk diam.
"Bagaimana aku bisa diam, kamu baru saja menabrakku ketika aku ingin melihat Presdir." Lusi mendelik marah.
Chesa benar-benar panik, akibat teriakan adiknya itu semua orang kini melihat kearahnya. Dia hanya bisa berharap jika Sastra tidak akan mengenalinya.
"Lihat akibat ulahmu, sekarang Pak Sastra sudah pergi. Kamu menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Chesa!" ujar Lusi.
Mendengar hal tersebut, Chesa memberanikan diri untuk menoleh kebelakang. Dan ternyata itu benar, laki-laki itu sudah masuk kedalam mobilnya sembari mendapat pengawalan yang ketat.
Chesa menatap nanar atas kepergian Sastra, selama berminggu-minggu dia berusaha menghindar setiap kali ada momen melihat laki-laki tersebut. Chesa menghindar bukan karena dia membenci Sastra, namun justru sebuah rasa yang aneh timbul ketika dia mengingat kembali kejadian pada malam itu.
__ADS_1
Sudah cukup sakit rasanya tidak dianggap, dia tidak mau merasakan rasanya dicampakan.
"Apa dia mengingatku, sepertinya tidak. Mungkin karena aku adalah wanita kesekian yang pernah dia tiduri." Lirihnya merasa sedih.
Tepukan pelan dibahu kanannya membuat Chesa menoleh. Seorang laki-laki manis tersenyum kearahnya, dia adalah seniornya dia agensi.
"Pak Haikal."
"Kamu sedang apa melamun disini? Presdir sudah pergi." Kata Haikal yang merupakan Manager Pemasaran disitu, tetapi Haikal adalah teman SMA nya dulu.
"A-apa? Aku tidak sedang melihatnya." Bantah Chesa yang malu.
Namun Haikal justru tertawa melihat reaksi yang Chesa berikan, menurutnya perempuan ini sangat lucu jika sedang panik. Sayang dia sudah bertunangan, mungkin jika belum dia pasti akan mendekati Chesa. Haikal tidak menyangka saja jika gadis unik yang dulu dia lihat saat SMA justru bekerja menjadi OB.
"Wajar saja kalau kamu melihatnya, dia itu memang laki-laki yang hebat."
Chesa terdiam mendengar ucapan Haikal. Laki-laki ini barusan sedang memuji Sastra, padahal dimatanya Sastra hanyalah seorang laki-laki jahat yang suka mempermainkan hati wanita.
"Seharusnya dia sekarang sudah menjadi Direktur utama Noam Company, tapi apa yang dia lakukan? Dia melepaskan semua itu demi membangun Perusahaannya sendiri."
Benar juga, Chesa juga pernah mendengarnya. Sastra bukan hanya artis sembarangan, dia juga disegani dikalangan pengusaha karena status keluarganya.
"Apa kamu sangat mengenal Pak Sastra?" tanya Chesa penasaran.
"Sedikit. Tunanganku yang lebih paham soal dia."
"Nona Bella?" tebak Chesa.
Haikal mengangguk dengan senyuman samar. "Mereka dulu pernah menjalin hubungan asmara."
Mata Chesa terbelalak lebar, dia hampir tidak percaya jika sekelas Bella yang merupakan Miss Kecantikan itu bisa dengan mudah Sastra dapatkan. Memang bukan hal yang baru lagi jika Sastra terkenal sebagai Casanova, dia seringkali berganti pasangan. Seingatnya, mungkin baru Tamara ini saja yang bertahan lama dengannya.
"Laki-laki itu memang buaya!!" Seru Chesa gemas.
__ADS_1
Haikal tertawa. "Hati-hati. Nanti ada yang dengar, kamu bisa dimakan ramai-ramair. Bisa jadi kamu adalah mangsa selanjutnya."
Mungkin...