Mr. Naughty

Mr. Naughty
#Orang Pertama?


__ADS_3

Mau seberapa keras dia memohon kepada Haikal agar menggantinya untuk pergi ke ruangan Sastra, kekuatannya tidak akan bisa melawan seorang Sastra. Dia justru merasa bersalah karena keegoisannya, Haikal sampai ditegur oleh Manager Ima.


Dengan berat hati perempuan berpakaian cleaning service itu mengetuk ruangan seorang Presiden Direktur. Banyak karyawan kelas atas yang menatap aneh kearah Chesa, tentu ini adalah momentum yang sangat langka. Biasanya CS yang bertugas untuk membersihkan ruangan Direktur akan melakukannya disaat Sastra tidak berada disana.


Samar-samar Chesa mendengar sebuah suara yang memerintahkannya untuk masuk. Perempuan itu benar-benar dibuat kagum dengan ruangan Direktur yang mirip seperti di dalam film. Sangat megah dan mewah, mulutnya sampai terbuka saking kagumnya.


"Apa reaksimu bisa biasa saja?" Tanya Sastra yang sedang menatapnya dari kursi kerja.


"Wajar saja, aku baru pertama kali melihatnya." Sungut Chesa tidak mau kalah.


Sastra hanya tersenyum simpul, ekspresi yang benar-benar sulit untuk dilihat oleh kalayak umum. Dulu pertama kali dia melihat Sastra, dia pikir laki-laki itu diciptakan tanpa ekspresi karena selalu datar --ternyata itu hanya praduganya saja.


"Kemarilah."


Laki-laki itu bangkit dari duduknya, melihat penampilannya sekarang membuat Chesa menyadari srata sosial antara mereka.


"Ada apa anda menyuruh saya kemari?"


Mereka sudah duduk di sofa yang sama, jujur saja Chesa merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Dia masih mengingat bagaimana Sastra menyerangnya tadi siang. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.


"Kenapa sekarang kamu memakai bahasa formal, bukannya baru tadi siang kamu membentak saya?" Goda Sastra.


"Tolong jangan ingatkan saya lagi. Itu salah anda yang sudah menyerang saya."


"Menyerang? Saya lihat kamu menikmati apa yang saya lakukan--"


"Tidak mungkin! Disana gelap, Presdir salah melihatnya." Bantah Chesa.


"Benarkah? Lalu apa perlu saya pastikan lagi disini, bagaimana ekspresimu ketika menikmati sentuhan saya?"


Eskpresi Chesa berubah panik saat Sastra kembali mendekatkan kepalanya. Perempuan itu sampai dibuat condong kebelakang karena tidak mampu melawan.


"PRESDIR!" Dia memekik ketika jatuh terbaring diatas sofa.


Sastra yang melihatnya justru tertawa karena tingkah unik perempuan disebelahnya. Laki-laki itu kembali menegakkan badannya, Chesa menggerutu karena berhasil dikerjai oleh laki-laki menyebalkan ini.


Laki-laki itu bangkit untuk berjalan kesebuah pintu yang ada diruangan tersebut.


Dulu rasanya sangat sulit untuk bisa bertemu dengan laki-laki ini, setiap kali ingin melihatnya selalu saja ada bodyguard yang menghalanginya. Mereka hampir tidak pernah bertegur sapa karena memang pekerjaan Chesa yang terbilang rendah, tapi sekarang Sastra berada didepannya. Mereka hanya berdua diruangan yang sempit ini.


Astaga! Buang jauh-jauh pikiran kotormu, Chesa.

__ADS_1


Chesa terus menatap Sastra dari belakang, dia memperhatikan punggung yang terlihat indah itu. Entah apa yang dia pikirkan, namun melihat sisi Pak Sastra dari segi manapun, laki-laki ini akan selalu terlihat cantik matanya. Mulai dari wajahnya, tatapannya, proporsi tubuhnya, semua tampak pas dipandang mata.


"Kemarilah." Kata Sastra memerintahnya.


Awalnya Chesa bingung pintu apa itu, tetapi saat melihatnya dia baru sadar jika ini ruang ganti pribadi milik Sastra. Sekaya itukah laki-laki ini, sampai memiliki ruangan pribadi seperti ini.


"Kenapa mengajakku kemari? Memangnya hadiah apa yang ingin anda berikan?" Pertanyaan Chesa barusan membuat laki-laki itu menoleh.


"Kamu sangat penasaran?"


Chesa menggeleng pelan. "Ti--tidak, aku hanya bertanya saja."


"Selain naif ternyata kamu juga sangat polos."


Tiba-tiba Sastra membuka jasnya, dia juga mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Chesa yang terpojok antara Sastra dengan tembok, hanya bisa panik serta mendelik tajam kearah Sastra.


"Menjauh dariku!!" Chesa mendorong tubuh jangkung Sastra yang mendekat kearahnya. Laki-laki itupun hanya tersenyum melihat gelagat salah tingkah dari perempuan tersebut.


"Aku minta menja-- SASTRAA!!" Chesa menjerit ketika Sastra tiba-tiba melepas kemajanya. "Apa yang kamu lakukan!!"


Laki-laki itu menatapa gemas pada Chesa yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Alih-alih segera memakai bajunya kembali, justru Sastra sengaja ingin menggoda perempuan itu kembali.


"Jaga mulutmu! Jangan ingatkan aku tentang hal itu lagi, bukannya anda sudah berjanji untuk melupakannya." Potong Chesa dengan cepat.


Sastra tersenyum menyeringai, dia menghampiri Chesa lalu menarik kedua tangan gadis itu ke atas. Tidak sampai disitu, ia juga mendorong badan Chesa ke arah tembok. Dengan posisi ini, Chesa bisa melihat pantulan dirinya yang sedang dihimpit oleh Sastra yang sedang bertelanjang dada dari cermin di sebelahnya.


Badan laki-laki ini memang sangat bagus, tidak terlalu kekar namun berotot. Apalagi kulitnya yang putih yang mendapat pantulan dari cahaya lampu, membuatnya terlihat semakin indah.


"Sekarang kamu jadi lebih banyak bicara dari terakhir kali kita bertemu." Bisik Sastra tepat ditelinganya.


"Karena kamu sudah mulai seenaknya!!" Jawab Chesa dengan tegas. "Kenapa kamu melakukan ini kepadaku, aku bukan wanita murahan seperti yang kamu pikirkan. Lepaskan aku sekarang!!"


"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai wanita murahan."


"Lalu kenapa kamu te---enghhh Sass--traa"


Lagi-lagi Sastra melakukan hal yang tidak semestinya. Chesa berusaha memberontak, namun tenaganya masih tetap kalah. Dia tidak bisa menolak ketika Sastra mulai menciumi area lehernya, bahkan kali ini dia melakukannya dengan lebih berani. Chesa bisa merasakan sebuah hisapan di beberapa titik lehernya.


"Ja--ngan lakukan i--tuh, kamu bi--sa membuath be--kas disa--nah." Ujar Chesa dengan susah payah.


Bukan Sastra namanya jika dia bisa diberhentikan. Justru laki-laki itu sangat menikmati pembuatan karya merah di area leher Chesa. Sesekali dia melirk kearah Chesa yang sedang memejamkan mata, tampak sekali perempuan itu sedang menahan desahannya.

__ADS_1


Jika dilihat mungkin Chesa tidak bisa dibandingkan dengan Tamara yang begitu cantik, tetapi perempuan ini memiliki satu hal yang berhasil membuat Sastra kecanduan. Wajahnya ketika menahan *******, hal itu cukup membuat Sastra tidak bisa berhenti memikirkannya.


Sebenarnya ketika pintu ruang tempat dia beristirahatnya tadi tertutup dengan keras, dia terbangun dan kaget melihat perempuan yang selama ini dia cari ada disana. Lalu ketika dia melihat keakraban Chesa dengan Haikal, dia pun memutuskan untuk bertanya perihal nama dan bagiannya. Karena itulah alasan Sastra menjadikannya asisten pribadi, sebab Sastra ingin lebih dekat dengan perempuan tersebut.


"Ini baru yang disebut Karya Sastra." Sastra memuji bercak merah yang berhasil dia ciptakan.


Chesa mendorong laki-laki itu untuk menjauh, diapun berlari kedepan cermin lalu melihat apa yang sudah Sastra lakukan kepadanya. Banyak sekali tanda kemerahan di lehernya, tidak hanya satu bahkan ada 5 kissmark.


"Anda benar-benar sudah gila! Bagaimana jika orang lain melihatnya nanti?!" Sungut Chesa yang sangat kesal.


Sastra berjalan menghampirinya, dia menyandarkan dagunya di bahu kanan Chesa tanpa ada ekspresi penyesalan sedikitpun, padahal gadis didepannya benar-benar sangat panik.


Keduanya saling berpandangan lewat pantulan cermin.


"Tutupi saja dengan rambutmu. Selesai." Usul laki-laki tersebut.


"Sial---emphh!"


Sebelum Chesa berhasil menyelesaikan umpatannya, Sastra sudah lebih dulu menarik dagunya untuk melahap bibirnya yang lembab tersebut. Lagi dan lagi Chesa harus melihat dirinya yang sedang dipangut oleh Sastra lewat pantulan cermin.


Chesa mulai memejamkan matanya, dia memang tidak melawan, namun dia juga tidak mambalas ciuman tersebut. Seorang Sastra yang dulu hanya bisa dia lihat dari kejauhan, sekarang dengan sangat sadar tengah menciumnya. Rasanya seperti mimpi, namun ini adalah kenyataan.


Cukup lama Sastra mengulum bibir Chesa yang ranum tersebut, bahkan dia sempat tersenyum disela ciuman itu ketika menyadari jika Chesa menikmati ciumannya. Berbeda dengan ciuman mereka yang pertama, kali ini Sastra melakukannya dengan lebih lembut.


Dia baru mau melepaskannya ketika merasa Chesa mulai kehabisan napas. Setelah berhasil mengisi paru-parunya dengan udara, Chesa tidak segan-segan untuk memukuli dada Sastra.


"Bagaimana, apa ciumanku jauh lebih nikmat dari yang pernah mantanmu berikan?" Goda laki-laki itu dengan sengaja.


"Jangan asal bicara! Aku tidak pernah berciuman."  Bentak Chesa kesal.


Perempuan itu mengelap bibirnya dengan kasar. Namun justru dia bingung mendapati Sastra yang terdiam dengan ekspresi terkejutnya.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Chesa dengan ketakutan.


Chesa kembali pasrah ketika Sastra memutar tubuhnya untuk menghadap kearah cermin. Laki-laki itu menarik ikat rambutnya kemudian menata rambutnya dengan rapi sehingga bekas ciumannya tidak terlihat lagi.


Keduanya hanya terdiam sembari menatap diri mereka dari pantulan cermin. Bukankah sekarang mereka terlihat seperti sepasang kekasih? Atau hanya Chesa saja yang merasakan hal tersebut, miris sekali.


"Jadi aku orang pertama yang melakukannya padamu?" Bisik Sastra dengan suara rendahnya.


Mendadak tubuh Chesa jadi merinding, perempuan itu masih tidak bersuara. Dia hanya menatap wajah Sastra dari pantulan cermin. Suara laki-laki tersebut seolah sudah menghipnotisnya, membuatnya memilih untuk menikmati apapun yang laki-laki itu berikan.

__ADS_1


__ADS_2