Mr. Naughty

Mr. Naughty
#Tuduhan


__ADS_3

Sinar matahari mulai menembus masuk kedalam sebuah kamar yang tampak berantakan. Dibawah selimut putih, terdapat dua manusia yang masih terlelap dalam tidurnya. Salah satunya merupakan seorang laki-laki yang kini mulai terganggu dengan cahaya menyilaukan matanya.


"Kepalaku sakit sekali." Sastra memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar, itu pasti efek alkohol semalam.


"Siapa yang membawaku ke hotel, bukannya semalam aku berada di club--"


Sesaat dia terdiam karena kaget, sampai akhirnya matanya terbelalak lebar karena menyadari kondisi tubuhnya yang tidak memakai apapun. Tidak sampai disitu saja keterkejutannya, Sastra semakin panik ketika melihat punggung seorang perempuan yang juga tanpa mengenakan apapun.


"Ka--kamu siapa?" tanyanya gelagapan.


Terdengar suara lenguhan dari balik punggung tersebut, wanita itupun menoleh kebelakang. Keduanya sama-sama termenung karena kaget. Terlebih lagi Sastra yang mengetahui siapa perempuan yang sedang tidur seranjang dengannya.


"Kamu siapa?!!" Pekik Sastra terkejut.


Gadis yang tidak lain adalah Chesa itu hanya terdiam dengan tatapan yang sendu.


"Kamu bukannya OB semalam, kan?! Apa-apaan kau disini?!" Laki-laki itu langsung membentak Chesa begitu saja. "Kau sengaja ingin menjebakku bukan?! Caramu benar-benar licik, dasar pelacur!!"


Sastra terus memaki Chesa tanpa mengingat terlebih dulu apa yang dia perbuat semalam.Padahal faktanya ini semua terjadi karena dirinya sendiri.


BUGH!


Sastra terkejut bukan main setelah mendapat timpukan bantal dari gadis tersebut tepat di wajahnya. Chesa mendelik kearahnya, dia sendiri pun juga sangat marah sekarang.


"KAU GILA?! KAMU YANG MEMAKSAKU SEMALAM!!" Saking emosinya, mata gadis itu sampai memerah.


"Cih... aku?" tunjuk Sastra pada dirinya sendiri. "Mana mungkin aku mau memaksamu untuk melakukan ini, aku sudah punya kekasih. Ini hanya akal-akalan mu saja bukan?"


Sastra meraih kedua bahu gadis tersebut, dia menatapnya dengan tajam. "Katakan jika aku tidak melakukannya denganmu? Itu benar bukan, Jawab!!"


Mata gadis itu gemetar, rasanya seperti ada yang menikam dadanya berkali-kali. Laki-laki meremas bahunya dengan cukup keras yang membuatnya meringis karena sakit.


"Kenapa kamu diam saja?! Aku tidak melakukannya kan?!!" Ulang Sastra kembali.


"Kamu melakukannya." Lirih Chesa dengan menatapnya dingin.

__ADS_1


Sastra tertawa tidak percaya, dia semakin menantang Chesa karena merasa gadis itu memang sengaja menjebaknya. Pasti yang diinginkan Chesa hanyalah uangnya.


"Sekarang, berapa uang yang kamu inginkan? Katakan!!"


Mata Chesa melebar, begitu murahkah dia dimata seorang Sastra Noam. Dia sampai tidak percaya jika ternyata Sastra adalah laki-laki yang sangat berengsek.


"Kamu benar-benar sudah gila, Sastraa!!" Chesa memekik sembari mendorong tubuh laki-laki itu agar menjauh darinya.


Sembari menahan tangis, Chesa beranjak dari ranjang lalu memunguti pakaiannya satu persatu. Perempuan itu lari kedalam kamar mandi dengan membanting pintunya dengan keras.


Dilantai Sastra masih terdiam dengan kepala yang pusing. Laki-laki itu mencoba untuk mengingat kembali apa yang terjadi semalam, tapi sepertinya efek alkohol yang dia konsumsi semalam benar-benar tinggi. Perlahan ingatan tentang kejadian semalam mulai muncul lagi di kepalanya.


Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka kembali. Chesa sudah lengkap dengan pakaiannya menatap kearah Sastra yang hanya mengenakan celana boxer seatas lutut. Laki-laki itu duduk ditepi ranjang dengan posisi memunggunginya. Entah apa yang sedang laki-laki itu renungkan, namun yang jelas kata pertama yang terlontar dari mulutnya membuat Chesa termenung.


"Maafkan aku." Kata itu akhirnya keluar dari mulutnya. "Aku ingat jika semalam aku yang memaksa--"


"Aku mohon diam." Potong Chesa yang tidak ingin mengingat kejadian menyakitkan itu lagi.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku? Jika sampai kamu hamil, aku tidak bisa mengakui anak itu." tanya Sastra tanpa menoleh.


"Aku masih ingin bekerja, jadi aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini." Keputusan berat itupun harus diambil.


Tentu saja ini sangat berat bagi dirinya, namun apa daya? Nasi sudah terlanjur menjadi bubur, Chesa masih sangat membutuhkan pekerjaannya untuk menghidupi adik-adiknya yang ada di Indonesia.


"Anggap semua tidak pernah terjadi." Perempuan itu berjalan menuju pintu keluar, namun langkahnya kembali berhenti. "Jika aku hamil, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan merawatnya seorang diri."


Setelah mengatakan kalimat yang benar-benar menyakitkan tersebut, Chesa benar-benar keluar dari kamar itu. Dia berusaha meninggalkan ingatan menyakitkan tentang kecelakaan yang menimpanya semalam.


Sastra menoleh ketika pintu yang tertutup, kemudian pandangannya beralih kepada kasurnya. "Mana mungkin kamu bisa menganggapnya tidak pernah terjadi."


Tatapannya tertuju pada noda merah pada sprei berwarna putih tersebut.


***


Chesa membanting pintu kamar kostnya dengan keras. Gadis itu berlari kearah kamar mandi dan menyalakan shower. Air segera membasahi tubuhnya yang meringkuk dibawah. Tangis itu akhirnya pecah, ia memeluk tubuhnya sendiri yang sudah kotor.

__ADS_1


"BRENGSEKKKK!!" Pekiknya sangat marah.


Chesa masih mengingat betul bagaimana Sastra memaksa untuk merobek pakaiannya. Dia yang berusaha kabur tidak bisa melawan tenaga laki-kaki itu. Bibirnya yang semalam dihisap habis-habisan oleh Sastra pun masih terasa bengkak. Dengan frustasi dia mengusap kasar permukaan bibirnya.


Tangisnya semakin keras, namun suara derasnya shower berhasil meredam isakan tersebut. Belum selesai ia meratapi nasibnya yang begitu malang, sebuah ketukan dari pintu kamar membuatnya terperanjat.


Tok! Tok! Tok!


Buru-buru Chesa bangkit dari posisinya, sejenak dia menatap wajahnya dari pantulan kaca. Matanya langsung sembab hanya dalam beberapa menit, apalagi bibirnya yang sudah membiru.


"Chesa!! Ini aku Lusi, tolong buka pintunya--" Ucapannya terjeda saat pintu terbuka.


Lusi menutup mulutnya ketika melihat kondisi adik sepupunya yang begitu berantakan, gadis itu hanya menggunakan handuk dengan rambut yang basah serta wajah yang sembab.


"Chesa, kau ini kenapa?"


Gadis itu mendorong pelan tubuh Chesa dan membimbingnya untuk duduk di ranjang. Wajahnya sangat ketara jika dia sedang sakit, Lusi pun mengecek suhu tubuh Chesa yang memang sedang panas.


"Aku langsung datang kemari saat mendengar suara hantaman keras dari arah kamarmu. Aku pikir ada sesuatu yang tidak beres, terlebih lagi sejak kemarin aku tidak melihatmu di acara Pesta."


Memang benar Lusi lah yang sudah membawa Chesa untuk bekerja di Perusahaan Satra, mereka pun bekerja di posisi yang sama yaitu Cleaning Service.


"Aku ijin." Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Chesa yang pucat.


:Lusi mengangguk. "Badanmu memang panas."


"Aku takut."


Tiba-tiba Chesa meringkuk ke pelukan sepupunya tersebut, tubuh gadis itu sampai gemetar yang membuat Lusi semakin khawatir. Namun Lusi menahan diri untuk bertanya, dia hanya memeluk sembari mengusap lembut bahu adiknya tersebut.


"Chesa, aku disini. Tidak ada yang perlu kamu takutkan."


Bukannya merasa tenang, airmata Chesa semakin deras mengalir dari kedua matanya. Ada perasaan sedih sekaligus menyesal pada lubuk hatinya, terlebih lagi ketika dia mengingat betapa jahatnya seorang Sastra. Laki-laki yang selama ini dia kagumi, menganggapnya tak lebih dari sampah.


Lusi... maafkan aku.

__ADS_1


__ADS_2