
My Bae (1)
Kim Taehyung, teman sesama magang menepuk puncak kepala saat melewatiku yang sibuk mengetik pekerjaan di komputer kantor.
"Nanti jangan kaget, ya!"
"Apa maksud—Kak Kim!"
Belum selesai aku bertanya apa maksud ucapannya dia sudah melenggang pergi keluar dengan map di tangannya, mengacuhkan panggilanku.
"Apa sih?"
Kugaruk kepala yang tidak gatal dan meneruskan pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya ini.
"Rose, makan yuk!"
Kulihat jam, ini sudah sore, sudah waktunya pulang, pantas Jennie mampir ke sini, tanpa menjawab aku bangkit dari kursi dan mengikuti langkah Jennie yang riang.
Jennie berjalan ke arah kantin sekolah dengan menari-nari memamerkan tubuhnya yang langsing sedang aku di belakangnya sibuk mengecek notifikasi ponsel.
"Eh, ada apa itu rame-rame? Rose, yuk lihat!"
Jennie menyeret lenganku berlari menuju kerumunan siswa-siswi di halaman utama, enggan aku berlari kecil mengikutinya.
"Wow! Ini gila!"
Jennie berteriak heboh, menyenggol-nyenggol lenganku yang masih sibuk dengan ponsel di tangan, membaca cerita horor kesukaan.
Ah, apa sih? Paling juga anak yang bertengkar masalah sepele.
"Chanyeol benar-benar nggak kapok bikin ulah!" serunya lagi, lebih heboh.
Ucapannya barusan membuatku langsung mengalihkan pandang dari ponsel menuju pemandangan di depanku yang benar-benar mengejutkan.
"Ada ap—kenapa dia digituin??"
Kututup mulut saking shock-nya, "Salah apa lagi sih dia kali ini?"
Aku berdecak kesal tetapi tak tega melihat Chanyeol yang anehnya tampak tenang dan santai saat memunguti tumpukan pakaiannya yang berserakan di halaman depan meski ditonton ratusan murid sekolah kami.
"Komite asrama mungkin sudah nggak tahan lagi dengan semua ulahnya. Ah, pemandangan ini bikin sakit hati. pergi aja yuk, mending makan, ya nggak?"
Jennie menyeretku meninggalkan kerumunan anak yang masih saling berbisik menggosipkan Chanyeol.
Berkali-kali kumenoleh ke belakang demi melihat wajah sendu tertutup poni yang menunduk memunguti baju yang berserakan itu, sebuncah rasa simpati memenuhi rongga dada.
Ah, jangan berurusan dengannya, Rose. Dia ketua geng Lucknut yang sukanya membuat kedamaian sekolah ini terusik.
Hindari dia, oke?
****
[Jadi Kakak yang memutuskan membuang pakaiannya ke halaman utama? Bukankah ada cara yang lebih baik selain dipermalukan begitu?]
Kutulis sebuah pesan untuk Kim Taehyung, aku sudah mendengar semuanya dari obrolan para petugas magang tadi sebelum pulang kerja.
Kim Taehyung selaku ketua Komite asrama memutuskan menghukum Chanyeol dengan membuang seluruh pakaiannya ke halaman utama karena Chanyeol yang menolak pindah ke kamar di lantai tiga.
Lantai tiga adalah kamar khusus untuk para anak istimewa, istimewa yang dimaksud di sini adalah para siswa yang memberikan kontribusi menguntungkan pihak sekolah seperti rajin ikut lomba dan prestasi lainnya.
Bukankah sesuatu yang jelek jika di campur dengan hal baik akan ikut berubah baik? Itulah yang diharapkan pihak yayasan dengan memindah Park Chanyeol ke sana.
Ah iya, sekolah kami mewajibkan seluruh siswanya tinggal di asrama, baik murid perempuan atau laki-laki.
Bicara tentang Chanyeol, siapa yang tidak kenal Park Chanyeol?
Dia adalah Ketua geng paling terkenal di seluruh penjuru sekolah, tampangnya memang kalem, cenderung imut ditambah rambut poni bergelombangnya itu.
Namun, jangan terkecoh tampang imutnya, seorang Chanyeol mampu mengerahkan puluhan anak untuk membolos, merokok bahkan kabur saat malam hari ketika seluruh gerbang asrama di tutup yang akibatnya membuat para petugas komite asrama berkeliling kota untuk menangkap mereka satu persatu.
Sangat menyusahkan.
Lepas dari semua keahliannya dalam bidang musik dan suaranya yang seksi sehingga mampu menarik histeria massal tiap kali dirinya dan delapan anggota gengnya itu berada di ruang musik, catatan hitam dalam bukunya sudah sangat memusingkan orang seperti kami.
Sayangnya, Chanyeol adalah putra teman dekat pemilik yayasan ini yang merupakan ayah Taehyung, jadilah hukuman apa pun yang diberikan pihak komite selalu mental padanya karena campur tangan orang tuanya itu.
Mungkin karena hal itulah akhirnya Taehyung mengambil langkah ekstrim ini, mengambil alih jabatan ketua komite dan menghukum Chanyeol seperti siang tadi.
Omong-omong, bangunan asrama kami terdiri dari tiga lantai, lantai paling bawah untuk anak kelas satu plus dapur, lantai paling mengenaskan dengan kamar mandi yang juga sama mengenaskannya karena sering kekurangan pasokan air.
Lantai dua untuk anak kelas dua dan tiga yang prestasinya biasa saja dengan fasilitas yang juga biasa, bahkan kudengar satu kamar dihuni belasan anak dengan ranjang tingkat.
Kamar mandinya berjajar seperti kamar mandi umum, tanpa shower dan kamar toiletnya pun berhadapan dengan kamar mandi, benar-benar tak ada privasi.
Lalu lantai tiga yang merupakan lantai paling luas dengan fasilitas lengkap dihuni oleh anak kelas dua dan tiga yang punya bakat istimewa dan prestasi luar biasa.
Lantai orang elite, begitu anak-anak menyebutnya. Satu kamar hanya dihuni oleh dua orang dengan kamar mandi khusus di kamar masing-masing, dengan desain modern plus shower air hangat.
Tak ada yang namanya antri berjam-jam di depan kamar mandi umum, atau mendengar suara kentut dari toilet sebelah. Sangat bermartabat.
__ADS_1
Chanyeol yang merupakan pemimpin anak lantai dua jelas terang-terangan menolak dipindah ke lantai tiga, bukankah Itu merupakan penghianatan baginya kepada seluruh anak buahnya?
Meski ada beberapa anggota gengnya yang anak anak lantai tiga seperti Suho yang Kaya raya dan Xiumin, tetap saja Chanyeol merasa punya tanggung jawab kepada seluruh anak buah di lantai dua.
Hah. Kenapa semakin rumit saja sih mengurusi seorang Park Chanyeol?
Sebuah balasan dari Taehyung masuk, teman magangku yang satu tahun lebih tua meski lulus di tahun yang sama karena otak kelewat geniusku.
[Maafkan aku, Rose. Aku tahu kamu menyukainya, dan aku sudah berjanji akan mencomblangkan kamu. Tapi peraturan tetaplah peraturan. Aku sudah bilang kan tadi, jangan kaget.]
Jawaban tegas Taehyung membuatku menghela napas, antara tidak terima dan terima. Ah, entahlah!
Aku memang menyukai Chanyeol sejak dirinya kelas satu. Diam-diam, tentu saja.
Umurku dan umurnya tidak terpaut jauh meski pada kenyataannya posisiku saat ini sebagai pengajar magang sedang dia siswa kelas dua.
Secara teknis umur Chanyeol satu tahun di bawahku sedang aku dan Taehyung satu kelas karena aku yang loncat kelas sehingga hanya menyelesaikan masa SMA selama dua tahun sehingga lulus bersama kakak kelas.
Sedangkan Park Chanyeol baru kelas dua SMA tahun ini, berbeda denganku yang setelah lulus mendapat tugas magang mengajar di sini sebelum melanjutkan pendidikan ke tempat lain jika ingin mendapatkan beasiswa penuh dari yayasan.
Padahal umur kami hanya terpaut satu tahun, tapi profesi ini membuat aku terlihat lebih tua darinya. Huft.
Rasa suka padanya ini tidak tumbuh dalam pandangan pertama karena aku tidak percaya ada cinta pada pandangan pertama, bagiku cinta datang karena terbiasa.
Saat itu, beberapa bulan lalu. Menjelang akhir tahun ketiga adalah masa yang paling berat dalam hidupku.
Orang yang kucintai meninggalkanku studi ke luar Negeri setelah sebelumnya berselingkuh dengan salah sahabat dekat di saat aku mati-matian memendam rindu padanya karena tidak bisa bertemu akibat padatnya jadwal belajar dan les.
Aku benar-benar hancur saat itu ditambah berbagai ujian tertulis yang setiap hari diadakan menyambut akhir tahun ajaran benar-benar menguras tenaga, apalagi aku harus mempertahankan posisi di peringkat kedua jika ingin terpilih menjadi salah satu lulusan terbaik yang dipercaya jadi guru magang di sini.
Harapan orang tuaku sangat tinggi akan hal itu, aku tak bisa membayangkan jika saat wisuda besok tak bisa mewujudkan harapannya ini hanya karena sedang patah hati.
Jadilah yang bisa kulakukan hanya melamun di atap asrama sehabis kegiatan sore sampai menjelang matahari terbenam, dan disitulah pertemuan pertamaku dengan cowok bernama Park Chanyeol.
Lantai paling atas asrama putri berada di sebelah timur lantai paling atas asrama putra, jarang ada yang ke sini meski di sini adalah tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam, tak heran tempatnya sering sepi.
Mungkin tidak ada hal mengasyikkan yang bisa dilakukan selain berdiri di depan tembok pembatas melihat pemandangan luar.
Kebanyakan penghuni asrama memanfaatkan waktu luang yang sedikit itu untuk jalan-jalan sore atau berkumpul dengan teman di sekitar lingkungan asrama.
Awalnya, aku sendirian menatap matahari terbenam yang membuatku berdiri menghadap lantai atas asrama putra, menikmati semburat jingganya.
Lalu entah sejak kapan Chanyeol di sana setiap sore, berdiri di lantai atas asrama putra, membelakangiku sambil menghadap matahari dengan earphone di telinganya.
Kupikir kita sedang menikmati matahari terbenam dengan kesedihan yang sama, jadi aku tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.
Terbiasa melihat punggung dan rambut warna burgundy-nya yang melambai tertiup angin sore seperti menjadi rutinitas yang lumayan menghiburku, meski aku tidak tahu namanya dan tidak tertarik mencari tahu tetapi aku merasa punya teman yang sama-sama patah hati.
Hari itu tepat sebulan hari patah hatiku, karena itu aku berniat mengakhirinya dengan menatap matahari terbenam untuk yang terakhir kali.
Semesta sepertinya mendukung kesedihanku dari langit kelabu penuh mendung warna abu-abu dan angin sore yang dingin sedingin hatiku.
Lalu sosok itu datang, dengan satu tangan di saku celana dan rambut gondrongnya yang tertutup Hoodie warna abu-abu, anehnya hari ini dia tidak berjalan ke arah biasanya, justru melangkah menuju arahku.
Aku sedikit kaget dan menebak-nebak apa maksud tujuannya, dari kening yang berkerut dan alis menyatu, aku yakin dia sedang tidak dalam mood yang baik, tanpa sadar aku mundur menjauh.
Kini jarak antara kami hanya dipisahkan beberapa meter dengan tembok setinggi dada.
"Dingin," ucapnya sambil melepas hoodie yang menutupi kepala, menampakkan rambut bergelombang warna burgundy yang terlihat indah dari dekat dan satu anting di telinga kirinya, kulitnya yang putih tampak semakin pucat.
Chanyeol meniup poni yang menutup matanya, ugh ... gaya orang tampan memang berbeda.
"Kubilang hari ini dingin," ulangnya saat melihatku tak bereaksi karena terlalu kaget dengan semua tindakannya di atas.
"Oh?"
Aku hanya mampu menjawab begitu, tepat ketika satu tetes air hujan mulai jatuh mengenai hidungku.
Chanyeol malah berdecak, "Matahari nggak akan terlihat! Turun kubilang! Kamu ingin sakit dengan tetap berdiri di sini? Bodoh!"
Wajahnya tampak sangat sebal sementara rintik hujan mulai deras berjatuhan di antara kami.
Kenapa anak ini begitu terganggu? Bukankah sudah biasa kita saling melihat matahari terbenam lalu kembali ke aktivitas masing-masing? Apakah aku mengganggunya? Apakah aku begitu tak pantas berdiri di sini?
"Kenapa diam saja, sih?! Berhenti memandangi matahari sendirian dengan muka sendu begitu! Ini sudah hampir sebulan! Apa sih masalahmu?"
Alis rampingnya saling bertautan dengan bibir mengerucut tak suka. Sementara aku hanya diam tak bereaksi, terlalu kaget dengan tingkahnya.
"Hey! Dengar."
Dia mencondongkan badan ke depan, gerimis yang turun sedikit menghalangi pandanganku.
"Jangan lakuin ini lagi, oke? Berhenti ke atap sore hari dan menangis Diam-diam begini."
"Ke—kenapa?"
Ugh, kenapa aku jadi gagu begini pada anak yang tak kukenal?
"Apakah kamu pantas bertanya?!"
__ADS_1
Chanyeol malah membuang muka, lalu memandangku kembali dengan mata menyipit, "Ah ya ... kamu dari golongan elite bukan?"
Bibirnya mencebik tak suka saat menyebut kata itu, aku mengangguk Samar.
"Aku paling muak melihat golongan elite di mana pun, jadi kamu saaangat menggangguku. So? Berhenti naik sini! Ini teritoriku!" tekannya dengan mata sedikit melotot.
Kutundukkan pandangan, merasa begitu terintimidasi dengan tingkahnya.
"Hei! Kubilang turun!" serunya lebih galak. Rambutnya mulai terlihat basah karena rintik yang semakin deras.
"Maaf jika mengganggu!"
Segera kuberlari ke arah tangga sambil menghindari rintikan hujan yang mulai menyakiti kulit lenganku yang terbuka dan melarikan diri dari cowok berambut burgundy yang menyeramkan itu.
Siapa dia? Bukankah masih anak kelas satu? Kenapa jangkung dan sok sekali?
****
Tak menyangka, itu adalah awal dari pertemuan-pertemuan kami selanjutnya.
Selesai ujian akhir, sekolah mengadakan festival sebagai perayaan selesainya ujian, karena aku kelas tiga maka tak menjadi panitia apa pun saat ini
Hari ini ada karnaval sekolah sebagai penutup serangkain event dan acara festival, aku berkeliling menikmati kesibukan di sekitarku.
"Tim dokumentasi mana semua ini? Karnaval udah mulai!"
Sena Kim ketua panitia karnaval yang memang mudah panik berteriak-teriak, wajahnya menyiratkan kepanikan seakan kiamat datang beberapa jam lagi.
"Rose! Cariin anak kelas satu yang pake seragam item putih ya, mereka tim dokumentasi, bilang suruh ngepost di tempatnya masing-masing!"
Jungkook si bendahara osis tiba-tiba memberikan perintah padaku dengan suara tegas, mentang-mentang kami seumuran dia selalu seenaknya, aku ini kakak kelasmu, Kookie!
"Rose, malah melamun nih anak!" decak Jungkook dengan tak sopannya.
Kutunjuk dada, heran. Sejak kapan aku jadi tim penyampai pesan? Aku bahkan tidak jadi panitia kali ini.
"Ah ya, juga telpon si Jennie suruh nyediain konsumsi dengan benar, ayo cepat! Cepat!" lanjutnya, mengabaikan raut tak terimaku.
Aisssh!!! Aku tahu dia cuma cari muka di depan Sena yang disukainya sejak lama, ingin rasanya kujitak kepala cowok berambut merah itu, tetapi karena sedang malas mendebat, kuturuti saja perintahnya.
Berkeliling aku pun mencari anak-anak kelas satu yang memakai baju atau kaus putih dengan celana hitam sebagai tanda bagian dari Tim dokumentasi lalu meminta mereka bersiap di posisi masing-masing.
Tujuh orang sudah kutemukan, harusnya ada 8 orang dari tim dokumentasi, berarti tinggal seorang lagi yang harus kutemukan.
Aha! Itu dia!
Aku berlari mendekat ke arah seorang cowok jangkung yang memakai kaus putih dengan celana skinny jeans hitam, dari bahunya yang mencangklong kamera aku yakin dia salah satu dari tim dokumentasi.
Aku tak melihat wajahnya dengan jelas karena silaunya matahari siang.
"Hey, timDok, bersiap. Karnaval udah mulai," ucapku terengah-engah pada cowok yang berdiri membelakangiku itu.
Syukurlah, sekarang tugasku tinggal satu, menelepon Jennnie.
Aish! Kenapa saat begini baterai ponselku lemah, sih! Baru mau tersambung ponsel pun sudah almarhum.
"Duh, capek banget kalo harus lari lagi ke tim konsumsi, bisa dimarahin Jungkook nih," erangku, mengusap peluh di dahi.
"Nih."
Tiba-tiba cowok yang mencangklong kamera itu mengulurkan sebuah power bank hitam padaku.
Aku menoleh ke arahnya untuk mengucapkan terima kasih, berubah kaget setengah mati saat melihat wajahnya.
"Cowok atap!" seruku spontan sambil menunjuk dirinya, cowok itu mengangkat satu alis, tak suka.
"Ck. Aku punya nama tahu!" jawabnya kesal.
Heran deh, Kenapa sih nih anak kesaaal saja di mana-mana?
"Ups, maaf. Makasih ya. Aku pinjem sebentar."
Kucolokkan power bank ke ponselku, sebelum selesai mengisi daya ponselku, cowok itu sudah melenggang pergi sambil mengutak atik kameranya.
"Hey! Dikembalikan ke siapa?!"
Seruanku membuat dia menoleh dengan alis tetap bertaut tak suka.
Tampan banget sih, sayang juteknya kebangetan.
"Ada stiker namaku di sana, kan? Budayakan membaca makanya!" Dengan raut kesal seperti biasa, dia pun berlari pergi.
Kenapa sih tuh anak?! Sensi amat! Bukan aku juga yang inisiatif pinjam padanya kan? Kok malah aku yang dimarahi Aneh!
Kubaca stiker di power bank yang kupegang, tertera nama Park Chanyeol di sana.
Nama itu terlihat unik dan langsung mengingatkan pada si rambut Burgundy. Ah, kali ini dia mewarnai rambutnya menjadi coklat gelap, semakin mempertegas kulitnya yang putih cenderung pucat itu.
Duh, kenapa jadi memperhatikan dirinya? Kerja! Kerja!
__ADS_1
****
Next.