
My Bae
Part (2)
"Park Chanyeol?"
Bukannya menjawab segerombol anak kelas satu yang berkumpul di depan asrama putra itu malah mengulang pertanyaanku sambil memandang penuh selidik dari atas ke bawah.
"Buahahahaha!" Kompak mereka tertawa, membuatku semakin canggung.
"Kak."
Seorang cowok paling tampan di antara mereka yang bernama Suga berdiri di hadapanku, "Kakak nggak salah? Cewek kayak kakak nyari Park Chanyeol? Apakah cowok tampan dari golongan elite sudah punah sehingga mencari dirinya?"
"Memang apa salahnya aku mencari dia?" Alisku mengerut tanda tak mengerti.
"Ada teman kakak yang rahangnya hancur kena hajarannya? Atau mendadak babak belur masuk rumah sakit? Atau ... ah, golongan kalian memang memuakkan, lihat seragamnya saja sudah mual perutku." Suga memegangi perutnya dengan ekspresi orang mau muntah.
Aku mengepalkan tangan menahan emosi, cukup sudah permusuhan karena perbedaan kasta ini! Aku sudah muak!
Kenapa juga sih pihak sekolah mesti membedakan seragam anak lantai tiga dengan lantai lainnya, supaya terlihat elite? Untuk melecut semangat siswa lain? Pada kenyataanya anak lantai tiga sering jadi korban bully seperti ini.
"Sebaiknya Kakak pergi sebelum dia datang, bahkan dengan cewek pun dia nggak segan menyakiti kalo moodnya sedang buruk." Saran seorang cowok yang sejak tadi asyik memainkan ponselnya, Jin.
"Aku cuma mau ngembaliin ini kok." Kusodorkan power bank hitam pada Suga.
Semua tampak kaget saat mengetahui power bank Chanyeol ada di tanganku, serempak mereka melayangkan pandangan penasaran padaku.
"Chanyeol bergaul dengan golongan elite?" Suga menatap seluruh temannya.
"Mustahil!" tolak mereka serempak.
"Dia paling benci orang-orang belagu itu kan?" Jin menyahut.
"Tapi power bank-nya dibawa si cewek!" Daniel berspekulasi.
"Apa coba kalo bukan pacar?" Mark memanasi.
"Chanyeol nggak mungkin punya pacar tanpa kasih tau kita!" Suga tetap bersikukuh.
"Tapi power bank nya–" Lucas melayangkan pandangan menyelidik.
"Jangan-jangan mereka berkencan!" Mark semakin membuat situasi memanas.
"Dia lumayan cantik bukan?" Jin sependapat, mengangguk kalem.
"Tetap saja Chanyeol nggak bakalan suka dengan cewek golongan elite!" Suga menolak percaya.
Lucas tetap bergaya bak detektif, "Power bank-nya dipegang dia, itu artinya–"
"Argh! Ini gila!" potong Suga. Frustrasi.
Mereka masih saling berdebat dan melayangkan pendapat tanpa ada yang mau mengalah, seratus persen mengabaikanku yang masih berdiri di depan mereka.
"Katakan makasih ya," potongku tanpa memberi jawaban pada tatapan penasaran mereka setelah sekian menit mengacuhkanku seakan aku ini patung! Arghhhh!
"Kak! Tolong jawab satu pertanyaan saja!" seru Mark saat aku menghentakkan kaki kesal meninggalkan mereka.
"Kakak bukan pacar dia, kan?"
Seluruh anak menanti jawaban dariku dengan tak sabar.
Pacaran dengan cowok yang selalu bermuka sebal dan mau marah? Bisa mati muda aku!
Kugelengkan kepala secara spontan, penuh ekspresi ngeri tak sanggup membayangkan hal itu terjadi.
Spontan mereka mengucapkan puji syukur, bahkan Daniel sampai bersujud di tanah saking senangnya ketua mereka tak berpacaran dengan anggota Elite. Sialan.
Berurusan dengan anak lantai dua memang selalu menyebalkan!
****
Hmm ... mie goreng memang paling lezat! apalagi dimakan saat cuaca dingin begini.
Aku bersenandung lirih sambil mengaduk mie dengan bumbunya di dapur umum, sendirian.
Jam sepuluh malam adalah jam paling sibuk di dapur asrama, sesi belajar bersama baru berakhir sepuluh menit lalu dan hampir 90 persen penghuni asrama tumplek blek di dapur dan kafetaria untuk mengisi perut mereka yang kosong dan memanjakan lidah dengan makanan favorit, Mie.
__ADS_1
Karena dilarang memasak, asrama dengan kejamnya hanya menyediakan satu dapur untuk ratusan penghuninya.
Bayangkan, satu ruangan dapur dengan hanya berisi lima kompor gas diserbu ratusan anak yang mengantri untuk membuat mie atau masakan lain, sangat memakan waktu dan kesabaran.
Kalian tahulah, masakan kafetaria kadang tidak sesuai selera dan lebih menyenangkan bergerombol memasak sambil bergosip bersama.
Jam seperti ini adalah jam di mana tak ada perbedaan antara golongan elite maupun tidak, mungkin alasan asrama membangun dapur kering ini memang untuk membuat kami akrab, meski tidak begitu berhasil.
Bagi yang tidak sabar, harus rela melangkahkan kaki ke dapur utama yang terletak di tengah tengah asrama putra dan putri, melewati gudang dan jajaran pohon bambu yang terlihat menyeramkan saat malam hari.
Dapur utama biasanya digunakan para koki untuk menyediakan makanan bagi kami, tiap malam bagian depannya dibuka untuk anak-anak yang ingin membuat sesuatu.
Memang sih di sana peralatan lebih lengkap dan tempatnya lebih luas tetapi jarang sekali ada anak yang mau repot-repot pergi keluar asrama menuju dapur utama yang terletak lumayan jauh dari gedung hanya untuk semangkuk mie, mereka lebih memilih mengantri sambil bercengkrama dengan penghuni lain di depan dapur.
Belum membayangkan melewati jajaran rumpun bambu sendirian, atau begitu sampai dapur utama ternyata dapurnya sudah dikuasai geng Chanyeol. Menghindari mereka adalah pilihan terbaik.
Seandainya aku tidak selapar ini, mungkin juga tidak akan berada di sini sekarang. Aku juga harus menghemat waktu untuk belajar, menunggu antrian berjam-jam jelas hanya akan memakan waktu.
Untunglah malam ini murid asrama lelaki tak ada yang menggunakan dapur utama, pun geng Chanyeol tak tampak di mana pun. Syukurlah.
"Whoaa!"
Saking terkejutnya aku sampai mundur beberapa langkah, mencengkeram piring mie agar tidak terjatuh.
Cowok bernama Chanyeol yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu dapur umum itu justru melangkah mendekat dengan tenang dan mengambil piring mie-ku dengan santainya.
"Thanks, ya." Diacungkannya piring itu sampai setinggi wajahku.
Dalam sekejap mie di tangannya beralih ke tangan Baekhyun dan Kai yang saling berebut makan seperti singa kelaparan.
Dengan kejam Chanyeol memukul kepala kedua temannya itu, merebut kembali mie dari mereka.
"Apa-apaan—"
Aku tak sanggup menyelesaikan kalimatku karena dibungkam pelototannya yang mampu membekukan tulang.
"Anggap aja ini ucapan terima kasih karena udah kupinjemin power bank? Jangan bilang kamu nggak ada niat kasih aku apa-apa?"
Dengan santainya dia mulai menggulung mie dengan garpu lalu memasukkannya ke mulut dan mengunyahnya penuh drama.
Cara mengunyahnya benar-benar menerbitkan air liur, tanpa sadar aku menelan ludah.
Mereka bertiga kembali ribut sendiri saling berebut garpu untuk memakan mie hasil jarahan.
"Hei!"
Chanyeol menoleh, menyerahkan piring mie ke Kai yang tertawa dengan Baekhyun sambil makan mie.
"Itu mieku!"
Akhirnya aku bisa protes juga setelah sekian detik terpesona dengan aksi konyol mereka.
Chanyeol mengangkat satu alis, berjalan mendekat, "Mau perut kembung saat ujian karena malem-malem makan mie? Nih, kutukar dengan ini."
Diambilnya tanganku lalu ditaruhnya sebungkus Kitkat yang dia ambil dari saku hoodie.
Tanpa mengucap apa pun lagi dia berjalan pergi sambil bercanda dengan dua temannya itu.
Baekhyun masih berbaik hati dengan menoleh dan mengucapkan terima kasih padaku, sedangkan dua cowok lainnya tak tertarik sama sekali.
Argh! Apa-apaan ini! Mana kenyang hanya dengan sebungkus Kitkat??
"Hei! Tunggu!"
"Chanyeol! Kubilang tunggu!"
Chanyeol bahkan tidak berhenti untuk menoleh meski aku membuntutinya hampir ke arah depan asrama lelaki.
Kuacak rambut dengan kesal, dan berbelok ke gedung asramaku dengan mengelus perut yang keroncongan.
Jatah uang jajanku sudah menipis, aku tak mampu membeli sebungkus mie goreng lagi. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menangis.
"Rose?"
Seseorang memanggil dari depan bangunan asrama putra, lemas aku menoleh.
"Kak Taehyung?"
__ADS_1
"Ah, beneran kamu Rose rupanya, dari mana?" Dia berjalan mendekat, membuat jarak antara kami hanya tinggal sejengkal saja.
"Dapur utama, Kak." Kutunjuk dapur di belakangku.
"Oh. Lalu? Mana makanannya?"
Aku hanya menghela nafas dengan lesu, "tadi diambil ...."
Tak kuteruskan ucapanku. Entah kenapa aku tak ingin anak bernama Farrel itu terkena masalah jika aku bilang hal itu pada Kak Taehyung.
"Nggak ada. Kakak mau ke mana? Ke rumah utama?" Aku berbasa-basi supaya tidak canggung berhadapan dengan idol sekolah itu.
"Iya, udah malem. Eh, Rose. Ikut aku bentar,.yuk!"
Kak Taehyung meraih pergelangan tanganku dan menyeretnya menuju arah rumahnya yang terletak tak jauh dari dapur umum.
"Tunggu di sini sebentar, ya? Sebentar aja kok."
Kak Taehyung yang imut itu mengedipkan satu mata dan berlari masuk, meninggalkanku yang berdiri sendirian di depan pintu belakang rumahnya yang besarnya melebihi asrama kami.
Ah ya, lucunya meski kami sekelas, teman-teman kelasku menyuruh memanggil diri mereka dengan embel-embel kakak karena umurku yang lebih muda, menyedihkan bukan? Memanggil teman sekelas dengan hormat begitu seakan aku bukan bagian dari mereka padahal aku juara kedua setelah Kak Taehyung.
Lima menit kemudian Kak Taehyung muncul dengan menenteng sekeresek penuh entah berisi apa.
"Nih, buat teman begadang. Besok mulai Marathon ujiannya, kan? Semangat!" Dia mengangkat kedua tangan seraya tersenyum lebar.
"Apa nih, Kak?"
Penasaran kubuka kresek pemberiannya, seketika mataku terbelalak. Wow! Snack dan buah! Kesukaanku!
Melihat ekspresiku, Kak Taehyung tersenyum dan menepuk pundakku, "Kau tahu kan? Anak-anak kelas satu dan dua yang menyukaiku mengirim semua ini saat tahu aku akan ujian akhir, sebenarnya itu membuat kamar terasa sesak saja!"
Ah ya, dia kan anak pemilik yayasan ini. Barang-barang seperti ini pasti sangat banyak di rumahnya.
"Tapi, Kak. Snack ini kan dari fans-nya Kakak?" Enggan, kuterima pemberiannya itu.
"Ah, itu nggak penting, aku juga kan nggak pernah meminta mereka memberi ini."
Dia mengibaskan tangan, cuek. Haha, orang populer memang beda, ya?
"Nah, karena aku tahu kamu suka buah dan snack seperti ini, jadi ini buatmu saja. Lagian aku paling benci makan saack saat belajar, membuatku tidak bisa fokus, gimana? Mau menerimanya?"
Pelan, aku mengangguk. Kapan lagi mendapat makanan gratis sebanyak ini, ya kan?
"Beneran ini buat aku? Semua?" Aku memastikan.
Kak Taehyung tersenyum dan mengangguk penuh pesona. Dasar ya orang tampan, mengangguk aja bisa semesona itu.
"Ah ya."
Dia mengeluarkan sebotol multivitamin dari saku, "Sama jangan lupa minum ini. Jangan sampai drop, oke? Nggak seru kalo aku nggak ada saingan kayak kamu."
Mataku mengerjap berkali-kali, memastikan ini bukan mimpi.
"Kak? Beneran Kakak ngasih aku semua ini?"
Aku tercengang sampai melongo. Ada apa dengan situasi aneh ini?
"Ish! Apaan sih, cuma segini doang loh.
Sudah gih, balik sana!"
Kak Taehyung membalik badanku dan mendorongnya melangkah ke depan. Aku yang masih belum bisa mencerna semuanya hanya bisa menurut dengan muka bego.
Apa sebenarnya yang barusan terjadi? Apakah ini nyata? Kak Taehyung? Aku?
"Mana ucapan makasihnya?" Bisikan Kak Taehyung di telinga membuat tersadar dari lamunan, tersipu malu.
"Ah! Makasih kak," ucapku. malu dan tak tahu harus bagaimana.
Kak Taehyung tertawa kecil dan melambaikan tangan.
"Sama-sama. Habiskan, ya! Buruan balik, bel malam sudah berbunyi tuh!"
Aku mengangguk, balas melambai dan berlari ke arah asrama.
Ini nyata? Kak Taehyung? Idola satu sekolah? Memberiku makanan dan botol vitamin? Ada apa ini? Sejak kapan kami sedekat ini? Seingatku kami bahkan tak pernah mengobrol?
__ADS_1
******
Next.