
Terlepas dari semua keanehan sikap Kak Taehyung malam itu, ujian berjalan lancar dan aku mendapat nilai yang memuaskan.
Lalu, setelah malam di mana Chanyeol merebut mieku itu, aku tak pernah bertemu dirinya lagi. Dunia kami benar-benar berbeda.
Orang bilang, masa emas kita adalah ketika berada dalam masa SMA, tetapi hal seperti itu tak berlaku denganku, aku sibuk belajar, mempertahankan nilai untuk mendapatkan beasiswa penuh sekolah.
Aku pernah pacaran satu kali, dan kandas dengan mudahnya karena tidak adanya waktu berkencan, hal itu membuatku trauma, sejujurnya.
Meskipun usiaku masih muda, aku merasa sudah sangat tua dan lelah. Tekanan hidup menghimpitku dengan sangat kejam.
Kapan aku bisa bersenang-senang seperti remaja lainnya? Setelah lulus kuliah? Ah, di masa itu aku pasti disibukkan dengan mengejar karier kerja yang cemerlang agar membanggakan orang tua.
Ataukah aku sudah mati kelelahan? Entahlah.
Setelah lulus, aku menjalani tugas sebagai guru magang untuk memperoleh beasiswa ke universitas sedangkan Chanyeol pun naik ke kelas dua.
Kupikir mungkin tak akan pernah melihatnya ataupun berinteraksi dengannya lagi, sampai pada siang ini. Chanyeol yang terus membuat ulah dengan komite sekolah akhirnya terkena getahnya.
Semua guru duduk terdiam di ruang rapat, suasana benar-benar tegang dan mencekam. Tak ada satu pun yang berani berbicara, menyentuh minuman di depan meja pun segan.
"Keluarkan saja dia!" desis Kak Taehyung selaku ketua komite sekolah dengan emosi meluap-luap di wajahnya.
Sontak semua mata memandang ke arahnya, tetapi tak ada satu pun yang menjawab, begitu pun Kepala Sekolah kami.
"Sudah keterlaluan sekali ulahnya, bukan? Beraninya memukuli Pak Donghae sampai babak belur begitu?! Kalau dia melakukan itu untuk memamerkan ototnya aku juga bisa!" seru Kak Taehyung lagi dengan muka memerah, badannya sudah berdiri hendak melangkah pergi.
"Berhenti, Kim Taehyung."
Suara dingin Kepala Sekolah membuat Taehyung menghentikan langkah dengan punggung yang terlihat tegang, enggan menolak menoleh ke arah ayahnya itu.
"Aku yang akan mengurusnya sendiri." Pak Kim bangkit, memandang kami semua, "Rapat selesai, kembali ke pekerjaan masing-masing. Pak Kyuhyun, panggil Park Chanyeol ke ruangan saya."
Kepala sekolah berdiri dan melangkah ke kantornya, menandakan rapat selesai, kami pun ikut berdiri dan para guru mulai meninggalkan tempat rapat.
"Ayah, tapi tindakan Chanyeol–" Kak Taehyung yang tak terima hendak mengeluarkan protes.
"Kubilang diam, Taehyung. Kembali ke pekerjaanmu sebagai ketua komite, tertibkan anak-anak."
Tanpa menunggu jawaban Kak Taehyung, Kepala sekolah masuk ke dalam ruangannya.
Melihat jemari Kak Taehyung yang mengepal kuat menahan emosi, kusibukkan diri membersihkan bekas rapat, tak berani ikut campur.
"Suatu hari aku akan menghajar anak itu, pasti!"
Desisannya membuatku sedikit ketakutan, tanpa memedulikanku yang masih sibuk membersihkan sisa rapat, Kak Taehyung melangkah ke luar.
*****
Wajah Chanyeol tak jauh beda dengan Pak Donghae -Security sekolah- yang babak belur.
Ujung bibir Chanyeol robek menampakkan jejak darah kering yang masih tertinggal disitu, pipi bagian kiri pun tak luput dari luka gores yang lumayan parah sedang satu matanya lebam sehingga membuat mata lebarnya agak menyipit, sementara seragam putihnya penuh debu dengan dasi acak-acakan.
Tak lupa rambut ikal berwarna cokelat matangnya yang awut-awutan, membuat Chanyeol terlihat jelas sedang dalam keadaaan yang sangat kacau.
Menundukkan muka, gontai Chanyeol melewatiku keluar dari ruangan Kepala sekolah sambil menyampirkan jas sekolahnya di pundak.
"Hei."
Sial. Kenapa aku malah memanggilnya? Kalau dia juga menghajarku seperti yang dia lakukan pada Pak Donghae bagaimana?
Chanyeol menghentikan langkah, tetapi tak menoleh. Bergerak menaruh jasnya di siku tangan.
Kugigit bibir bawah, ragu apakah meneruskan menyapanya atau tidak. Tanpa sadar badan gemetaran teringat rumor tentang dirinya yang katanya tidak segan melukai orang yang mengusiknya meski dia itu perempuan.
"Ada apa?" Suaranya yang berat terdengar serak. Lelah.
Kulangkahkan kaki mendekat, otak terus- terusan berteriak untuk menghentikan hal gila ini tetapi hati malah membuat langkah kaki berjalan, menjadikan jarak antara aku dan dirinya semakin menyempit.
"Sakit?" lirihku yang kini sudah berdiri di samping tubuh jangkungnya. Kulirik lengannya yang sedikit lebam.
Pertanyaan bodoh. Tentu saja sakit! Belum lagi dengan hukuman yang menantinya!
Tak terduga, Chanyeol mengangguk meski pelan. Masih tak mau melihatku dengan menundukkan wajahnya semakin dalam.
"Kubawa ke UKS?" tawarku, iba.
Mulutku! Kenapa kamu menawarkan hal gila ini?! Hidupmu mau susah berurusan dengan cowok bermasalah seperti dia, ha?
__ADS_1
Siapa pun yang mempunyai hati nurani tak akan tega melihat keadaannya itu, tetapi mereka masih cukup sadar untuk tidak ikut campur.
Namun, kenapa aku seperti ini? Seakan hatiku lebih menguasai hari ini, membuat otak geniusku macet. Tak mau bekerja normal.
"Nggak. Nanti hanya akan jadi tontonan, dan bahan tertawaan," tolaknya. Jengah.
Hening menyelimuti kami. Chanyeol mengarahkan pandang ke luar kantor yang sepi, mendongakkan kepala dan menghela napas berat.
"Kuobati, ya? Luka seperti ini akan membekas ... dan infeksi. Sayang kalau sampai seperti itu."
Bodoh. Bodoh. Kenapa aku melakukan hal bodoh ini???? ROSE BODOH! Cepat hentikan semua ini!
Entahlah. Apakah ini simpati atau sekedar belas kasihan?
Chanyeol memiringkan kepala dan menatapku untuk pertama kalinya.
"Atau kupanggilkan teman-temanmu?" tawarku gagu karena keder saat kami bertatapan mata. Sorot matanya begitu dingin dan menakutkan.
Chanyeol menggeleng. Sendu.
"Lalu gimana? Kuobati?"
Aku sudah hampir kehilangan akal untuk situasi aneh ini dan ingin buru-buru pamit menjauh. Chanyeol tipe cowok yang diliputi aura gelap. Menyeramkan.
Gilanya, mendengar tawaranku itu Chanyeol malah mengangguk. Mengangguk! Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang?!
"Di mana?" bisiknya. Pelan dan ragu.
"A-apanya?" tanyaku dengan muka bego.
"Obati lukanya."
Kugelengkan kepala mengusir semua pertimbangan bodoh tak masuk akal atas akibat tindakan nekat ini, yang penting sekarang obati lukanya dulu, kan?
Tapi, bagaimana karierku nanti? Bagaimana kalau hal yang kulakukan ini akan mempengaruhi kehidupan nyamanku?
"Bawa aku ke tempat sepi," bisiknya lagi dengan helaan napas panjang.
"Tempat yang nggak ada seorang pun tahu, baik geng-ku atau yang lain, aku nggak ingin terlihat lemah di depan mereka," tambahnya lirih, menunduk lagi. Perasaan atau egonya seperti lebih terluka dari luka fisiknya.
Tanpa banyak bicara, kuraih tangannya dan menyeretnya pelan ke taman belakang kantor Kepala Sekolah. Di sini tempat paling sepi yang kutahu karena jarang ada siswa yang mampir ke sini.
Chanyeol menurut dengan duduk diam di bangku beton bawah pohon, sedang aku berlari dengan kecepatan ultra menuju UKS sekolah mengambil plester dan obat-obatan lainnya.
Apa yang kamu lakukan sekarang, Rose?! Taehyung jelas melarangmu dekat-dekat cowok bermasalah ini, kenapa kamu malah menolongnya saat kamu baru putus dengan Taehyung? Kamu ingin menyulut emosi mantanmu?
Aku menggeleng, ini tak tertahankan lagi! Sudah cukup aku melihat muka sendunya selama setengah tahun mengajar di sini, aku sungguh tak tahan dia terus dipermalukan komite sekolah.
Semenjak lulus aku memang pernah menjalin cinta beberapa saat dengan Kak Taehyung tetapi hubungan kami kandas hanya dalam waktu beberapa minggu saja.
Aku belum bisa mencintainya meski Kak Taehyung ngotot kalau cinta bisa diusahakan seiring berjalannya waktu, karena aku tidak mau semakin menyakitinya, aku memilih berpisah dengannya.
Saat itu Kak Taehyung yang tahu bahwa aku mulai memperhatikan Chanyeol dirinya memberiku satu syarat, yaitu boleh jadian dengan siapa pun asal tidak dengan satu orang yang merupakan musuh terbesarnya: Park Chanyeol.
Kupikir akan bisa menyembunyikan perasaan atau bahkan melupakan Chanyeol sampai habis masa magang dan pergi jauh dari sini, jadi kusetujui syarat itu tanpa berpikir panjang.
Lalu sekarang, apa yang kulakukan ini?! Ya Tuhan, aku akan terkena masalah besar! Pasti!
****
Chanyeol masih menunggu di belakang kantor kepala sekolah dengan wajah menunduk dalam. Rambut cokelat ikal bergelombangnya terlihat lebih berantakan dari sebelum kutinggalkan
dirinya beberapa saat lalu.
Apakah angin sore bertiup kencang di sini atau dia mengacak rambutnya karena frustrasi?
Pelan, kudekati Chanyeol dan sedikit menunduk di depan badan jangkungnya, merapikan rambut dan membersihkan pakaiannya dengan hati-hati.
"Kuobati sekarang?" tawarku. Dia mengangkat wajah, mengangguk pelan.
Kini kami duduk berhadapan, pelan kuusap dan kubersihkan darah kering di mulut dan pipinya lalu mengoleskan alkohol dan salep di luka itu, selama proses itu Chanyeol tak banyak bicara, hanya sesekali mengernyit menahan sakit.
Aku pun merasa tak ada yang perlu dibicarakan, jadi fokus mengobati lukanya.
"Kenapa kamu lakukan ini?" bisikku saat selesai mengobatinya. Menyimpan kembali obat-obatan dalam kotak.
"Aku–" Chanyeol seakan menimbang apakah mengatakan alasannya padaku atau tidak.
__ADS_1
"Diam dulu."
Kupasang plester di pipi dan ujung bibirnya yang robek dengan hati-hati, selesai. Kutatap wajah tampan itu, menunggu dia bicara.
"Kalau berat nggak usah diceritakan." Kuulas sebuah senyuman. Wah, sepertinya aku cocok menjadi guru BK, nih!
Chanyeol tersenyum kaku, menatapku beberapa detik tanpa bicara.
"Apakah aku harus terluka dulu seperti ini sampai bisa berbincang denganmu, Kak?"
Pertanyaan pelannya membuatku sedikit terkejut. Kuulas senyum canggung.
"M-maksudnya apa, Chan–"
"Panggil aku Yeol saja," potongnya.
Aku berdehem menutupi rasa gugup. Kenapa seakan dirinya begitu mengenalku padahal kami bahkan jarang bertemu alias tidak pernah?
Oke. Aku harus mengalihkan pembicaraan supaya tidak semakin canggung.
"J-jadi, kenapa kamu sampai memukuli guru, Y-Yeol?"
Oke. Panggilan ini sangat canggung.
Chanyeol tak menjawab, malah memainkan gelang di tangannya yang bermacam-macam itu. Aku baru tahu kalau cowok bisa semodis ini dengan gelang di tangan.
"Pak Donghae menghukum Chen dengan sangat kejam atas perbuatan yang nggak dia lakukan, dia menuduh Chen mencuri padahal nggak ada bukti, jelas aku nggak terima," cetusnya pelan.
Kuhela napas, memandang wajah tampan yang kini ujung bibirnya berplester itu.
Dia seperti murid bermasalah lainnya, seorang bad boy yang tampak begitu setia kawan, ketua geng yang memberontak tata tertib sekolah tetapi sangat memperhatikan para sahabatnya.
"Bukankah itu hanya akan menambah point hitam di catatanmu? Bukan temanmu, Yeol?" keluhku, menyesali tindakan gegabahnya.
Aku tak akan pernah membahayakan prestasi atau masa depanku hanya untuk seorang teman, bagiku hal seperti itu sangat konyol. Teman adalah rival terberat kita, kenapa kita perlu berkorban untuk mereka?
Itulah pemikiran cewek tak punya teman sepertiku. Berbeda dengan Chanyeol.
"Aku nggak peduli kalo catatan hitamku penuh, pointku berkurang sampai aku dikeluarkan dari sekolah asal temanku nggak mendapat perlakuan nggak adil hanya karena kita dari lantai dua."
Ucapannya itu membuatku tak berkutik saat dia memandangku seperti berkata, 'anak elite mana tahu arti solidaritas dan persahabatan?'
"Ah, aku sudah cukup menahan diri, kok. Kubiarkan dirinya memukuliku tadi, aku hanya memukulnya dua kali, dia saja yang terlalu lemah," sanggahnya membela diri.
Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas panjang, tak membalas sanggahannya.
"Hukumannya apa?" lirihku bertanya, kembali mengalihkan pembicaraan. Bukannya menjawab, Chanyeol malah mendongak, menatap langit yang mulai berubah oranye karena senja.
"Pak Kepsek memberi satu pilihan, jika terpilih menjadi ketua OSIS di pemilihan besok, dia nggak akan mengeluarkanku."
Berat diucapkannya kalimat itu.
Netraku melebar saking tak percayanya dengan hukuman Kepala sekolah kami itu, Chanyeol mati-matian menolak masuk anggota elite dan sekarang bahkan dia harus menebus kesalahannya dengan berusaha menjadi anggota elite?! Itu hal yang dipastikan tak mungkin dilakukan seorang Chanyeol.
"Lalu–" Kugigit bibir bawah, ragu, "Kamu pasti memilih keluar dari sekolah ini, 'kan?"
Entah kenapa ada yang terasa sakit di dalam sini saat mengatakan hal itu. Aku belum siap berpisah dengannya.
Chanyeol menghela napas, memandangku sedetik sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sebenarnya, selain delapan sahabatku, ada seseorang yang menahanku untuk harus tetap di sini seenggaknya sampai kenaikan kelas tiga."
"Seorang ... cewek?" Suaraku menghilang di akhir kata. Pedih.
"Iya."
Setelah mengucapkan kata itu, dia bangkit dan berjalan meninggalkanku karena terdengar beberapa temannya berteriak-teriak memanggil namanya, seperti telah berkeliling mencari dirinya.
Kupandangi punggung lebarnya yang semakin menjauh dengan memegang dada yang mendadak terasa sakit.
Jadi, sudah ada seseorang di hatinya?
Ah. Sakitnya.
Dunia kami memang benar-benar berbeda.
(Bersambung)
__ADS_1
*****
Thanks for reading :)