
Setelah pernyataan mencengangkan kalau Chanyeol pacaran dengan Jennie tempo hari, aku memang sempat shock. Namun, sama sekali tidak mengira ternyata sakit hati kedua itu lebih ringan daripada sakit hati pertama.
Apakah tubuhku mempunyai semacam imun atas patah hati? Entahlah.
Anehnya, meski bilang sudah pacaran dengan Jennie, Chanyeol malah semakin sering ke kantor kami, bersama Sehun pastinya.
Ada saja yang mereka kerjakan di sana, dari mulai pekerjaan OSIS atau pekerjaan remeh seperti menumpuk map dan membuatkan para guru kopi atau mie instan saat istirahat sekolah.
Apakah sekarang tugas ketua OSIS dan wakil OSIS juga merangkap sebagai Office Boy? Hanya mereka berdua yang tahu.
Tidak berhenti sampai situ, Chanyeol bahkan menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan padaku di depan semua orang. Jelas hal itu membuatku bingung, dan jujur, dan kembali sedikit berharap.
Ah, apa aku ke-ge er-an lagi?
Sadarlah, Rose ... sadar. Ingat saja apa kata-kata Jennie yang terus menjelekkanmu di asrama. Ingat saja itu. Sehingga kamu tetap bisa memijak bumi.
Jangan mengharapkan seseorang yang sudah memiliki pasangan. Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.
*****
Hari ini aku berangkat ke kantor lebih awal karena suatu urusan yang kemarin tidak selesai, mungkin akan berada di sana sendirian sampai setengah jam ke depan.
Sayangnya begitu sampai di sana hanya bisa terpaku di tempatku berdiri dengan pandangan kosong, sementara Sehun yang duduk di kursi sebelah kursi kerjaku melambaikan tangan sambil tersenyum manis.
"Met pagi, Kak Rose."
Bibir rasanya kelu tak mampu menjawab sapaannya, bukan karena kaget Sehun yang menyapa dengan manis, melainkan dengan seseorang ber-hoodie abu-abu yang menelungkupkan wajah di meja kerjaku dan duduk di sana.
Chanyeol.
Pelan, aku menelan ludah ketika kami saling bertatapan.
Kenapa mereka sepagi ini sudah di kantor? Ini bahkan masih pukul enam!
"Ah. Itu, Kak–" Sehun menggaruk belakang telinganya, "Kantor OSIS sedang ada renovasi jadi untuk sementara kami harus bekerja di sini."
Chanyeol yang mengetahui kedatanganku, bangkit dan pindah duduk di kursi sebelah sehingga mau tak mau aku harus duduk di tengah-tengah mereka kalau ingin mulai bekerja.
"Maaf ya, Kak." Sehun memasang tampang malaikat andalannya yang hanya bisa kujawab dengan tersenyum canggung, lalu mulai duduk di tempatku.
"Ah. Nggak apa-apa. Nggak masalah, Hun."
Aku mulai menyalakan komputer di depanku dengan sedikit gemetar. Entahlah, dekat -dekat Chanyeol membuatku bertingkah aneh.
chanyeol yang kini membiarkan rambutnya berwarna hitam memiringkan kepala menghadapku, menatap dalam diam.
Hal itu membuat sangat risih, ditambah parfumnya yang maskulin sedikit mengganggu indra penciumanku.
"Emmm ... Sehun," panggilku, gelisah.
"Ya, Kak?"
"Ketua OSIS-mu kerjanya apa?" Aku bertanya pelan tanpa berani menoleh ke mana pun selain layar komputer di depan.
"Banyak, Kak."
"Lalu ... mmm, apakah boleh tiduran santai di sini?" Ragu kulontarkan pertanyaan itu, yang disambut Sehun dengan tertawa kecil.
"Dia lagi kerja kok, Kak." Sehun menjawab dengan santai.
Aku menoleh tak percaya pada ucapan Sehun, Sehun tertawa sampai matanya menyipit, "Iya dia lagi kerja. Kerja lihatin Kakak," jawabnya kalem.
Uhukk.
Air mana air.
Chanyeol tetap tak bereaksi meski kami membicarakan dia di depannya. Wajahnya masih fokus menatapku. Benar -benar canggung!
"Eh, kemana, Kak?" cegah Ryuka saat aku berjalan ke luar kantor sambil menenteng laptop.
"Aku nggak bisa kerja di sana. Maaf."
Sebelum ada yang menjawab, terburu aku berlari keluar untuk kabur dari mereka.
__ADS_1
Hatiku tak akan baik-baik saja jika terus dekat-dekat anak dingin itu.
*****
Perutku sangat lapar selesai membantu Bu Yoona merekap nilai siswa, saat kembali ke asrama, dapur asrama putri penuh. Ugh.
Terpaksa harus ke dapur utama hanya untuk membuat mie. Melelahkan. Padahal aku sudah lembur seharian, dan sekarang harus berjalan lagi.
Argh,Punggung rasanya mau patah. Kapan semua pekerjaan ini selesai? Aku ingin liburan seperti manusia normal. Angka-angka dan pekerjaan itu membuatku sangat stress.
Menungu air mendidih, kubuka bumbu mie dan menuangkannya di mangkuk sambil membayangkan liburan ke gunung atau pantai yang tak pernah kurasakan seumur hidupku.
Bagaimana ya rasanya melepaskan semua beban di pundak dan bersenang-senang tanpa memikirkan bagaimana tanggapan orang-orang sekitar? Tanpa memikirkan bagaimana membuat orang tuaku bahagia? Apakah rasanya menyenangkan?
Ah masa bodo. Karena sangat stress, untuk malam ini aku akan makan dua bungkus mie sebagai penyalur rasa stressku. Persetan dengan perut mulas!
Tiba-tiba seseorang masuk tanpa suara, menaruh barang di meja. Aku belum sempat melihat siapa yang datang saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan sangat keras.
"Hey!"
Teriakannya membuatku seketika menoleh, dan sedetik kemudian langsung menyesal saat kulihat seseorang yang baru masuk itu ternyata Chanyeol.
Wajahnya terlihat sedang tidak dalam mood yang baik, dan itu menakutkan.
"Woooyyyy! Buka pintunya! SEHUN, INI NGGAK LUCU, ***!" Dengan suara beratnya Chanyeol menggedor-gedor pintu layaknya anak kecil, membuatku merasa tidak enak dia terkunci denganku di sini.
Sementara di luar terdengar tawa ngakak Sehun dan teman-temannya sambil mengucapkan kata entah apa.
"Argh! Sial!"
Umpatannya membuatku sedikit kaget, dan ya, semakin tidak enak.
Setelah beberapa menit tak ada hasil dari dobrakannya, dia hanya mematung di belakang pintu, tak mau menoleh padaku sama sekali.
"Maaf," ucapku.
Entah kenapa aku meminta maaf padanya, Aneh.
Kikuk aku menuang mie yang sudah matang ke mangkok, mengaduknya perlahan tanpa berani mengeluarkan sepatah kata karena takut cowok di depanku itu meledak marah.
"Sial! mienya masih di Sehun lagi! *** memang tuh albino!" Chanyeol menuang kresek yang dibawanya sampai seluruh isinya berhamburan di meja.
Masih terlihat kesal, dia mematikan kompor, menghempaskan pantat di kursi depanku dan mengambil ponsel di saku kemejanya.
Dia menelepon seseorang, tapi dari gerakannya, sepertinya tak ada yang mau mengangkat teleponnya.
Aku tak berani makan mieku, rasa tak enak ini membuatku tiba-tiba tidak lapar.
Chanyeol kembali memasukkan isi kresek yang tadi berhamburan di meja. Mengambil sosis dan mulai mengunyahnya perlahan.
"Kenapa nggak di makan?" Dengan menopang dagu Chanyeol melirik ke mie di mangkukku yang masih utuh.
Ragu, aku mulai menyendok mieku, mengunyahnya perlahan.
"Mau?"
Kuangkat sendok dan menawarinya saat kupergoki Chanyeol yang menatapku tanpa kedip.
"Boleh."
Santai, dia mengambil sendok di tangannku dan mulai menyendok mie di mangkuk, meniupnya pelan-pelan dan mulai makan.
Jujur, aku sedikit kaget dengan responsnya, bukan kikuk atau apa anak ini malah dengan santainya memakan mieku dengan lahap.
Apakah dia sedang sangat kelaparan?
"Kamu nggak makan?"
Rupanya dia masih ingat kalau itu mieku, untunglah. Aku pun mengambil sendok baru dan mulai ikut makan bersama.
"Soal Jennie–" Tiba-tiba Chanyeol membuka pembicaraan.
"Oh, maaf seharusnya aku nggak makan satu mangkuk dengan pacar orang begini." Kutaruh sendokku di samping mangkok.
__ADS_1
Bibir Chanyeol memberengut, yang sialnya malah membuat dia terlihat makin imut.
"Kami sudah putus tau," ujarnya. Ikut menaruh sendok.
"P–putus?"
Chanyeol mengangguk dengan wajah datar, mengambil sendok dan mulai memakan mie lagi.
"Sebenarnya, aku jadian sama dia karena terpaksa, saat akan menemui Kakak di taman belakang kantor kepala sekolah siang itu, seseorang menghadangku."
Chanyeol menelan kunyahannya, lalu menatap intens mataku.
"Seseorang itu bilang, aku nggak boleh mengganggu jalan Kakak memperoleh full beasiswa untuk kuliah Kakak nanti."
Chanyeol menghela napas, lalu menunduk untuk makan mie lagi, seperti menghindari kontak mata denganku.
"Karena jika kepala sekolah tahu Kakak menjalin cinta dengan salah satu murid, maka Kakak akan otomatis dicabut dari guru magang yang itu artinya beasiswa Kakak pun nggak bisa cair."
Chanyeol menaruh sendoknya, terlihat sedih.
"Aku nggak mau itu terjadi, sama saja aku ngusir Kakak dari sisiku. Aku nggak tahu apakah aku akan kuat tetap sekolah di sini tanpa kehadiran Kakak."
Sial. Kenapa kata-katanya menerbitkan harapan seperti itu? Dasar Chanyeol.
"Siapa?"
Aku bertanya dengan perasaan campur aduk mendengar pengakuan cowok di depanku ini.
"Apanya?" Chanyeol malah sibuk menunduk menyesap kuah mie di sendoknya, seperti tak mau membahas hal itu lagi.
"Siapa yang bilang seperti itu padamu? Baik sekali dia mengatakan itu?"
Memang seperti itu sih peraturannya, tapi entah kenapa aku tersinggung orang itu mengatakan hal kejam itu pada Chanyeol?
Chanyeol membuang muka, tampak kekesalan di wajahnya yang berusaha dia tutupi.
"Siapa lagi kalo bukan ...." Chanyeol menatap tengah mataku, sedikit tertawa sinis.
"Mantan Kakak."
Aku tersedak kuah mie yang baru kusesap dengan sendok.
Ugh, panas sekali tenggorokan.
"Kak Taehyung?"
Mendengar nama itu Chanyeol tak menyembunyikan rasa muaknya, bibirnya tersenyum sinis.
"Yup. Musuh nomer satu."
Kami terdiam beberapa lama. Mie di depan kami menjadi tak menyelerakan lagi.
"Tapi ngomong-bgomong–" Chanyeol seperti menimbang ucapan yang akan dia lontarkan.
"Seandainya ... seandainya aku nembak Kakak sekarang, apa Kakak akan terima? Ah, kita bisa menyembunyikan ini sampai Kakak selesai magang, cuma satu tahun kan? Gimana?"
Chanyeol mencondongkan badannya ke depan, mendekatkan wajah ke wajahku yang memerah mendengar ucapannya.
Aku diam tak mampu berkata-kata dengan serangannya yang tiba-tiba, kutundukkan muka untuk menghindari tatapannya.
"Kak? Ah, karena Kakak diam berarti aku anggap jawabannya iya."
Chanyeol menyandarkan punggung di kursi dengan santai dan menyedekapkan tangan dengan senyum terkembang.
"Eh? Eh! Nggak gitu!"
Chanyeol yang mulai makan mie lagi menaruh sendoknya kembali, menopang dagunya dan tersenyum bak malaikat.
"Kakak yakin nggak nerima pernyataan cintaku? Yakin bisa menolak pesonaku?"
******
Next.
__ADS_1