
Pemilihan ketua OSIS baru pun dimulai, berbeda dengan tahun sebelum-sebelumnya, pemilihan OSIS tahun ini benar-benar meriah.
Awalnya para siswa kaget saat diumumkan tiga kandidat ketua OSIS yang baru di mana ada nama Chanyeol dalam salah satu kandidatnya.
Semua penghuni sekolah tahu siapa Park Chanyeol, cowok paling edan dengan banyak pendukung tak kalah edan disertai penggemar wanita yang berada di mana-mana.
Bagaimana mungkin seorang Park Chanyeol akhirnya masuk dalam kandidat ketua OSIS yang baru? Apakah ini bentuk perlawanan baru dari anak lantai dua?
Spekulasi pun bermunculan, tetapi justru terlihat menyenangkan dan menghibur, membuat sekolah yang asalnya seperti berisi kumpulan para robot ini sedikit menggeliat oleh semangat.
Apalagi saat masa mereka mempromosikan diri, para siswi penggemar Chanyeol dan gengnya dimanjakan dengan video-video Chanyeol dan calon wakil osis yang sedang mempromosikan diri.
Tak lupa foto close up mereka yang bertebaran memenuhi sekolah dan video permainan musik Chanyeol dan geng yang tak dipungkiri sangatlah bagus.
Siapa lagi dalang dari semua promosi besar-besaran ini kalau bukan anak konglomerat kaya yang termasuk anggota gengnya, Suho.
Para guru yang awalnya menentang Chanyeol sebagai kandidat mulai sedikit menerima setelah mendapat limpahan hadiah dari Suho dan kharisma para anggota gengnya.
Ah ya, sudah kubilang kemarin bukan, komposisi geng Chanyeol itu bukan hanya berisi anak-anak buangan lantai dua, atau anak-anak berengsek yang hobi membuat ulah, beberapa dari mereka menghuni lantai tiga dan memberikan kontribusi tak sedikit kepada sekolah.
Seperti Xiumin sang ketua klub sepak bola yang terkenal sampai luar sekolah, Suho si kaya raya yang tak segan mengucurkan dana dengan nominal tak masuk akal dan Dyo penyumbang piala terbanyak di kantor kepala sekolah.
Ah, ada satu lagi. Kartu Ace mereka, nanti kusebutkan.
Omong-omong, baru kali ini kulihat sekelompok orang yang begitu solid membantu temannya.
Beberapa saat setelah diumumkannya Chanyeol sebagai salah kandidat calon ketua OSIS, seluruh teman dan anggota gengnya bahu membahu mempromosikan dirinya ke seluruh penghuni sekolah, tanpa lelah atau putus asa.
Visi misi mereka juga sangat sederhana, tetapi sangat memikat ketika yang mempromosikannya adalah para idola sekolah, Chanyeol tak pernah berorasi di depan umum, sebagai penggantinya Baekhyun, Kai, Chen dan seluruh gengnya yang terus berorasi mempromosikan Chanyeol dengan cara-cara unik dan menggelitik.
Aku tak tahu apa yang diucapkan Chanyeol kepada mereka, padahal sudah jelas jika Chanyeol terpilih jadi ketua OSIS, secara otomatis dia akan meninggalkan mereka dan bergabung dengan tim elite di lantai tiga.
Namun, bukannya menghalangi, teman-teman Chanyeol justru mendukungnya habis- habisan, sangat kompak dan terlihat gembira.
Apakah ini yang dinamakan solidaritas sesama teman? Entahlah, aku tak pernah mendapatkan solidaritas seindah itu. Yah, dulu aku cuma pernah punya satu sahabat sekamar, dan dia menikung pacarku.
Ah ya, kalian tahu apa yang unik dalam komposisi ketua wakil OSIS kali ini? Chanyeol memilih Sehun sebagai wakil OSISnya.
Dialah yang kumaksud dengan kartu ACE geng Chanyeol tadi.
Siapa yang tidak tahu Sehun?
Sehun masuk tim elite sejak kelas satu karena kejeniusannya yang melebihi komputer secanggih apa pun, otaknya benar-benar encer dan siapa pun yang melihatnya akan merasa iri.
Tak terhitung puluhan piala yang sudah dia hadiahkan untuk sekolah kami.
Sehun, selain wajah tampannya yang tak masuk akal dengan kulit putih bersinar, juga sangat dan sangat pintar, meskipun dia pendiam tetapi sangat tegas dan tidak pernah main-main dengan ucapan maupun tindakannya.
Melihat Sehun, kita seperti berubah menjadi makhluk bodoh. Tak ada yang sulit bagi Sehun, seakan dia diciptakan dengan kemampuan seratus otak orang genius.
Semua guru dan karyawan tak ada yang tidak suka dengannya karena sikapnya yang manis dan sopan layaknya seorang bangsawan. Satu kalipun tak pernah ada catatan hitam tertulis di buku kriminalnya. Bersih tak bercela.
Makanya tak heran sih jika Chanyeol mendapuk Sehun jadi wakilnya.
Sehun meski termasuk tim elite, tetapi dia adalah otak sekaligus kaki tangan Chanyeol. Bisa dibilang, Chanyeol bagian mengurusi pekerjaan kasar sedang Sehun adalah otak di belakang semua kerusuhan dan pemberontakan Chanyeol.
Sehun adalah wakil Chanyeol sejak lama.
Sayangnya, aku tak pernah suka anak itu, bagiku dia seseorang yang berkepribadian ganda. Menakutkan.
Di tengah semua cahaya yang menyinarinya sampai membuat silau, kuyakin dia menyimpan sesuatu yang sangat kelam. Senyum manisnya itu selalu mencurigakan.
Nah, bisa dibayangkan bukan, benar- benar pasangan yang mengerikan jika Chanyeol dan Sehun menguasai sekolah. Entah apa yang dipikirkan Kepala sekolah dengan menyuruh Chanyeol menjadi kandidat Ketua OSIS.
Apakah beliau tidak menghawatirkan adanya kudeta dari mereka? Tak sadarkah beliau bahwa geng Chanyeol hampir menguasai seisi sekolah?
Apakah beliau tidak khawatir jika Chanyeol dan Sehun menjadi ketua dan wakil OSIS, tim elite akan dihapus?
Lalu, bagaimana dengan Kak Taehyung selaku ketua komite sekolah? Apakah OSIS dan komite sekolah akan bermusuhan?
Apakah sang Kepala sekolah melakukan ini sebagai bentuk perlawanan pada Kak Taehyung yang bukannya melanjutkan kuliah di luar negeri malah membuang waktu sebagai pengajar magang di sini?
Jika Chanyeol menjadi ketua OSIS, keduanya dipastikan akan berhadapan dalam posisi imbang, siapakah ang akan kalah dan menyerah?
Ah, kembali ke masalah pemilihan, dari tim lawan, ada Jungkook dan Sena Kim, keduanya adalah juara umum di kelas masing-masing, pilihan Kak Taehyung.
Kalian tentu bisa membayangkan tipe seperti apa yang menjadi andalan Kak Taehyung. Tak jauh beda dengan dirinya, seorang siswa rajin dan dari golongan elite, mereka anggun serta sangat antipati dengan anak lantai dua.
****
Hari pemilihan tiba, semua siswa dari semua lantai dan para guru SMA bersiap menuju aula sekolah untuk mendengarkan orasi dari masing-masing calon ketua OSIS sebelum pemilihan suara diadakan.
"Kak."
Seseorang memanggilku saat sendirian di kantor mengambilkan sebuah map yang di minta Bu Song Ki.
"Ya?"
Kusembunyikan raut kaget saat melihat Sehun berdiri di depan pintu.
Seumur hidup baru kali ini aku bicara dengannya! Kami pun bertatapan canggung.
"Chahyeol ingin bicara."
Cowok bermata agak sipit itu mundur selangkah, tampak sosok berambut cokelat bergelombang dengan poni yang tersisir rapi berdiri tak jauh di depan kami.
"Ada apa?"
Kulangkahkan kaki mendekat, sementara Sehun pamit pergi pada Chanyeol dengan menepuk pundaknya sekali.
Chanyeol menggaruk belakang telinga, canggung. Entah kenapa dadaku berdebar keras melihatnya memakai setelan jas dan berdandan rapi seperti ini.
Kuakui dia sangat tampan. Kini aku tak heran kenapa para siswi selalu histeris saat dia dan gengnya lewat.
"Kalo nanti aku terpilih menjadi ketua OSIS–" Chanyeol meraih kedua tanganku, *** jemariku perlahan.
Tangannya sangat dingin dan berkeringat, apakah dia gugup? Tapi kenapa?
__ADS_1
"Aku ...."
Dia membuang muka saat melihat wajahku yang penasaran, lalu menundukkan pandangan, tangannya yang berada di genggamanku semakin dingin.
"Apa kamu gugup karena akan pemilihan?" tanyaku dengan dada berdebar, nada simpati menyembunyikan debarannya, untunglah.
Ah, bagaimana tidak berdebar saat orang yang diam-diam kamu suka menggenggam jemarimu erat seperti ini?
Chanyeol mengacak rambut belakangnya, menarik napas lalu menghembuskan perlahan, sementara tangannya masih menggenggam jemariku.
Apa-apaan ini? Tolong jangan buat aku baper, Park Chanyeol!
"Tunggu aku di belakang kantor kepala sekolah, ada yang ingin kuucapkan pada Kakak nanti."
Setelah mengucapkan itu, secara tak terduga Chanyeol merengkuh pundakku dan memeluknya sekilas sebelum berlari menyusul Sehun yang sudah menunggunya di ujung lorong.
Kejadian itu begitu cepat, hanya beberapa detik, tetapi mampu membuat jantungku sempat berhenti berdetak.
Terlepas dari dirinya yang menolak memanggilku bu guru, tindakannya tadi benar-benar ambigu.
Apa maksudnya? Apa yang akan dia katakan padaku jika dia lolos jadi ketua Osis? Oh, jangan buat aku berharap begini!
Apakah ... dia akan ... menembakku?
Sial!
Kututup muka dengan map yang kubawa, dari mana kesimpulan aneh itu?!
Singkirkan rasa narsis itu, Rose! Tapi, dari caranya memelukku ... perhatiannya akhir-akhir ini–
Argh, aku bisa gila karena rasa tak nyaman ini.
Tanpa kuketahui, seseorang mengepalkan jemarinya geram melihat pelukan Chanyeol padaku.
*****
Pemilihan suara menjadi saat yang paling mendebarkan bagiku, seakan menunggu bunyi bom yang menghitung mundur untuk meledak, setiap satu suara untuk Chanyeol hatiku terlonjak gembira.
Kumohon, kumohon, beri satu kesempatan lagi, Tuhan ... untuk melihat dia lebih lama, kumohon ....
Satu jam pembacaan suara bagai seratus tahun bagiku, dan saat di putuskan bahwa Chanyeol menang dua puluh persen dari para pesaingnya, kuhembuskan napas lega.
Badanku pun merosot ke kursi, kehabisan tenaga. Sorak sorai membahana. Semua gengnya terlihat bahagia sang Ketua tidak jadi dikeluarkan dari sekolah.
Akhirnya, akhirnya, aku masih bisa melihatnya lagi di tengah kekacauan hidupku. Terimakasih, Tuhan.
Sorak sorai pendukung Chanyeol masih saja memenuhi ruangan, para siswi penggemar Chanyeol dan Sehun berteriak histeris sambil berpelukan, merayakan kemenangan.
Sehun dengan penuh wibawa mengucapkan pidato panjang yang sangat berkesan bagi kami para guru maupun murid, beberapa murid perempuan bahkan berakting pingsan saat Sehun menutup pidatonya dengan melempar cium jauh yang sangat imut.
Benar- benar pilihan tepat memilih Sehun menjadi pendamping Chanyeol yang dingin dan kaku, Sehun pandai bicara dan merebut cinta semua orang dalam sekejap mata.
Aku melihat tak akan ada masalah berarti jika Sehun yang pegang kendali, semua pasti teratasi dengan baik.
Sepanjang pidato kemenangan yang disampaikan Sehun, mata Chanyeol tak pernah berpindah dari memandangku, membuatku salah tingkah dan berpikiran macam-macam melihat wajahnya yang berbinar-binar penuh pesona.
Begitu waktunya para guru berbaris dan bergantian memberikan selamat pada Chanyeol dan Sehun, Chanyeol berbisik di telingaku saat kugenggam jemarinya untuk mengucapkan selamat.
"Tunggu aku di sana, Kak. Kumohon ... tunggu sampai aku datang."
Aku seperti tersetrum karena kaget, refleks mengangguk kaku dan terburu melangkahkan kaki menjauh.
Seulas senyum manis terukir di bibirnya.
*****
Kulihat jam tangan dengan gelisah, ini sudah sangat terlambat! Dia bilang akan kesini paling lambat lima belas menit lagi tadi, tapi aku sudah menunggunya selama tiga jam!
Apakah urusan OSIS sangat memakan waktu?
Kupandang langit yang mulai temaram, senja mengubah warna langit menjadi jingga, membuatku teringat kenangan lama yang hampir terhapus dari ingatan.
Ingatan tentang seseorang bernama Onew, yang meninggalkanku demi menjalin cinta dengan sahabatku sekamarku, Yoona.
Hah. Bodoh. Kenapa kenangan itu muncul di lagi? Mereka adalah masa lalu yang tak perlu diingat.
Kumainkan game kesukaan untuk membunuh waktu. Hari mulai gelap, aku pun berpikir untuk meninggalkan tempat yang terasa menyeramkan di waktu malam ini.
Mungkin Chanyeol sangat sibuk sehingga tidak sempat kemari.
Kubersihkan belakang rok yang kotor dan bersiap pergi.
Saat itulah kudengar langkah kaki mendekat, ah bukan satu langkah, melainkan dua.
Siapa?
Chanyeol?
Kulit putih pucatnya bersinar dalam kegelapan tersorot cahaya lampu taman, kulambaikan tangan ke arahnya dengan hati lega dan bahagia.
Namun, lambaianku melemah saat kulihat dia tidak datang sendirian, melainkan bersama seseorang perempuan yang menggamit lengannya dengan manja.
Apa-apaan ini?
Chanyeol hanya menunduk meski terus berjalan mendekat, sedangkan sosok cewek itu semakin terlihat jelas begitu terpapar lampu taman.
Netraku membeliak. Jennie?
Jennie adik kelas yang dekat denganku akhir-akhir ini, aku sering bercerita padanya tentang kekagumanku pada sosok Chanyeol, selama ini dia selalu mendukungku untuk menyukai Chanyeol supaya bisa melupakan Onew.
Lalu apa arti pemandangan di depanku ini?
Kenapa Jennie–
Ya Tuhan. Firasatku sangat buruk.
"Kak, aku–" Chanyeol tak sanggup meneruskan kata-katanya, suaranya seperti hilang di tenggorokan.
__ADS_1
Jennie maju satu langkah dengan tangan yang masih menggamit lengan Chanyeol.
"Rose, aku tahu kamu menyukai Chanyeol, tapi dia milikku sekarang. Ah ya, kami baru saja jadian satu jam lalu, setelah tujuh kali pernyataan cinta akhirnya dia menerimaku ... jadi tolong, jauhi dia."
Jennie menatapku intens dan tanpa belas kasihan, tak memedulikan mataku yang mulai penuh kaca-kaca yang bisa retak dan jatuh kapan saja.
Kuusahakan seulas senyum manis, menatap mereka berdua dengan pandangan nanar.
"Jennie, kamu bilang ... kalau aku harus move on dari Onew dengan menyukai–" Aku tak sanggup meneruskannya lagi.
See, lagi-lagi teman curhatku menikungku. Damn.
Kualihkan pandang pada cowok berambut cokelat di depanku yang menunduk sejak tadi, "Jadi, Yeol–"
Tak sanggup kulanjutkan perkataanku.
Sial. Air mata. Jangan keluar dulu. Kumohon. Jangan buat aku menjadi pecundang di depan mereka.
Kugigit bibir bawah yang mulai bergetar menahan tangis, "Chanyeol, jadi ini ... yang ingin kamu tunjukkan padaku?"
Suaraku hampir terdengar seperti bisikan.
Chanyeol mendongak, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat.
"Iya Kak," jawabnya akhirnya. Tanpa mampu melihat wajahku.
"Jadi kamu memanggilku ke sini, menyuruhku menunggu selama tiga jam di sini ... hanya untuk bilang kalau–" Kutelan ludah dengan susah payah. Bulir pertama sukses jatuh ke pipi.
Sial. Siaaaallll! kenapa aku harus menangis sekarang?
Kupencet hidungku untuk menahan laju air mata yang semakin deras, mendongakkan kepala ke atas.
"Chanyeol milikku Rose. Kami sudah jadian, jadi kuharap kamu berhenti menyukainya, bukankah aneh seorang guru menyukai muridnya? Usia kalian memang hanya selisih satu tahun, tapi sekarang posisimu adalah guru bagi–"
"Jennie, hentikan."
Suara dingin Chanyeol spontan membungkam mulut Jennie.
"Kuharap Kakak selalu bahagia," ucap Chanyeol, maju satu langkah dan mengulurkan tangan hendak menyentuh pipiku untuk mengusap air mata di sana.
Kutepis tangannya, pelan.
Sudah. Cukup. Sudah jangan lanjutkan lagi. Teganya dia masih menyuruhku bahagia setelah mematahkan hatiku dan mempermalukanku seperti ini???
Lalu apa ini? Penghianatan seorang sahabat yang kupercaya dan kubantu banyak hal? Lagi? Lagi?
"Aku pamit."
Tanpa menunggu persetujuan mereka, aku berlari pergi dengan air mata berderai.
"K–kak!"
Chanyeol hendak mengejar, tetapi Jennie menahan lengannya.
"Sudah, Yeol. Lupakan dia, ada aku sekarang, kan?"
Gerah, Chanyeol melepas pegangan cewek itu dengan kasar, lalu mendorongnya mundur menjauh.
"Tolong jangan lewati batasmu, kita cuma bersandiwara!" ketusnya dengan alis bertaut, Jennie menunduk dan minta maaf.
Seseorang tersenyum dibalik kegelapan, puas.
*****
Terlintas kembali dalam ingatan saat Onew dan Yoona memanggilku di belakang asrama malam itu, mengakui bahwa dia tidak bisa mencintaiku lagi karena sudah ada Yoona di hatinya.
Saat itu aku merasa duniaku sudah hancur, berjanji tak akan mau lagi mengalami hal yang serupa.
Sialnya kejadian yang sama malah terulang lagi dan lagi. Apakah aku sebegitu tidak pantasnya untuk merasakan sebuah cinta?
Aku terduduk lunglai di kursi panjang koridor depan kantor. Rasanya benar-benar seperti dihempaskan, setelah membayangkan bayangan indah lalu disuguhi hal menyakitkan seperti tadi.
Chanyeol suka Jennie? Sejak kapan? Jadi selama ini aku yang kegeeran sendiri? Jadi seseorang yang menahan dirinya di sini itu Jennie?
Namun, akhir-akhir ini kami begitu dekat, urusan pencalonan ketua OSIS yang membuatnya harus bolak balik ke kantor membuat hubungan kami menghangat.
Bahkan lumayan manis.
Chanyeol jadi sering menemaniku lembur di kantor, menghiburku yang penat dengan pekerjaan dengan bernyanyi bersama petikan gitarnya di kantor.
Chanyeol selalu beralasan sedang berlatih musik karena di asrama terlalu bising dan kantor kami sangat tenang, dan aku terhibur dengan petikan gitar diiringi suara indahnya itu.
Dia juga selalu membantuku bersih-bersih setelah mengadakan guru rapat, menemaniku berkeliling membeli keperluan sekolah, saat istirahat selalu menawarkan bantuan sebagai supir pribadi untuk membeli camilan para guru.
Senyumnya sangat lebar tiap kali bersamaku, wajah sendunya berubah ceria dan bahagia.
Dia bahkan pernah rela menungguiku di depan kantor saat suatu hari aku dan para TU lembur untuk urusan sekolah hanya untuk memberi sekotak vitamin.
Apakah itu tak ada arti apa-apa bagi Chanyeol? Apakah aku yang terlalu terbawa perasaan?
Ya. Semuanya terjawab hari ini.
Selama ini akulah yang kepedean. Aku yang terlalu narsis membayangkan Chanyeol juga menyukaiku seperti aku yang mulai menyukainya. Astaga, bodohnya aku!
Kututup muka dengan kedua tangan, rasa malu dan frustrasi menguasai diri. Bodoh. Bodoh. Apa guna otak encer jika hal begini saja aku tak becus?
Tiba-tiba seseorang menyodorkan sekotak tisu ke depanku. Kudongakkan muka yang kacau dengan air mata yang masih basah.
"Dari Chanyeol." Sehun berujar singkat, penuh empati.
Kutepis kotak tisu itu dan berlari pergi. Aku tak mau mengingat apa pun tentang Chanyeol lagi. Semua ini sudah cukup. Cukup.
Aku tak akan kuat jika patah hati lagi!
******
Episode kali ini agak panjang dan lumayan menyebalkan, ugh.
__ADS_1