My Devil Boyfriend

My Devil Boyfriend
Satu - Awal dari kita


__ADS_3

“A-Anoo. Permisi,” ucapnya dengan sedikit berteriak. Namun, tak ada jawaban sedikitpun. Gadis ini mengintip dari sela-sela pagar, rumah besar yang terlihat sangat sepi. Hanya terdapat satu mobil yang terparkir di halaman luas itu, gadis ini menghela napas panjang, dan berteriak lebih kencang.


“Permisiiii!” teriak gadis itu sambil mengetuk pagar dengan koin yang ia bawa. Dalam hitungan detik, terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat. cowok itu mengintip terlebih dahulu untuk memastikan, ia menaikkan alisnya, dan menatap tajam gadis itu.


“Berisik!” ketusnya.


“M-maaf. Aku—“


Cowok itu membuka pintu pagarnya dan menatap gadis itu dengan tangan yang ia silangkan di dadanya, “Apa? Mau minta sumbangan? Lain kali ya mba!” ketus cowok itu membalikkan badannya, dan kembali menutup pintu pagarnya. Gadis itu kembali kesal dan memaki-maki cowok itu dalam hati.


“Aku kesini mau ketemu sama Om Arata Nakagawa! Bukan minta sumbangan!” kesalnya sambil menghentakkan kaki.


“Papa? Dia nggak ada!” sahutnya dengan berteriak.


“Aku tetap bakalan nungguin disini!!” teriak gadis itu dengan kencang. Ia mengangkat kepalanya, dan melihat langit yang semakin mendung. Bola matanya bergerak melihat sekeliling, ia mencari tempat untuk berteduh jika hujan turun.


----


“Siapa?” tanya lelaki yang baru saja keluar dari kamarnya.


“Orang gila!” jawabnya asal, ia langsung berjalan ke dapur.


“Hah? Ngaco! Mana ada orang gila pake seragam sekolah? Suruh dia masuk ke dalam!”


“Ck! Orang gilanya pengen pinter kali, lagian dilarang membawa orang yang tidak dikenal!” ketusnya sambil membawa secangkir minuman. Ia hanya menghela napas sambil mengangguk pasrah dengan sikap adiknya itu. Sementara, gadis ini duduk di kursi dekat pagarnya.


“Nyeselin banget si, awas aja ntar!”

__ADS_1


Bresss.


Hujan deras yang tiba-tiba turun membuat gadis itu kebingungan. Ia tetap duduk dengan pasrah, tak ada tempat untuk berteduh sedikitpun. Ia terlihat pasrah, dan menyenderkan badannya di tembok sambil memejamkan mata.


Beberapa menit kemudian, gadis itu tak merasakan tetesan air hujan lagi. Ia membuka matanya perlahan, dan terkejut. Hujan masih turun dengan sedikit deras. Ia membalikkan badannya, dan mengangkat kepalanya. Seorang cowok memegang payung dengan senyuman tipisnya, gadis itu sedikit kaget dan spontan ia berdiri dengan mundur satu langkah.


Tangan cowok itu menarik tangan gadis ke pelukkannya, membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Ia berdoa agar cowok ini tidak mendengar detak jantungnya, kenapa dia baik? Tidak seperti cowok yang pertama menemuinya.


“Maaf, boleh minta tolong pegang payungnya?” tanyanya dengan menyodorkan payung. Gadis ini hanya mengangguk, dan mengambil alih payungnya. Lelaki ini berjongkok mengambil koper besar milik gadis ini.


“Ayo masuk, tolong pegang payungnya ya,” ucapnya yang terdengar lembut. Ia hanya mengangguk tanpa bersuara sedikitpu, dan berjalan mengikuti langkahnya. Terdengar suara laki-laki berdecak kesal, gadis itu hanya meliriknya. Ia juga menunjukkan ekspresi kesalnya


“Apa liat-liat?!” ketusnya sambil melototkan matanya.


“Kok dibawa masuk? Kalo Papa marah gimana?!” protesnya


“Aku akan bertanggung jawab, kasian dia kehujanan. Tolong ambilkan handuk,” titahnya. Ia langsung berjalan mengambil handuk, dan melempar handuk itu tepat mengenai ujung kepala gadis itu. Gadis itu hanya berdecak sebal, tangannya langsung mengambil handuk itu.


“Ah, iya! Aku lupa memperkenalkan diri. Aku Satoru Nakagawa, dan dia adikku Yukihiro Nakagawa.”


“Hana Ishikawa!” seru gadis itu sambil tersenyum manis pada Satoru.


“Ck, genit banget jadi cewek!” umpat Hiro sambil melipat kedua tangannya. Hana hanya menghela nafasnya, dan menahan emosinya.


“Toru, apa Hana sudah datang?” tanya lelaki paruh baya yang baru saja masuk.


“Om Araataa!” panggil Hana dengan senyuman yang lebar.

__ADS_1


“Ah, Hana! Udah datang ternyata. Om kira kamu belum datang karena hujan,” ucapnya melangkahkan kakinya mendekati Hana.


“Aku dari sekolah langsung kesini.” Arata hanya mengangguk paham.


“Disini papa mau ngasih tau, kalau Hana akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Karena orang tua Hana ke luar negeri untuk bisnis,” jelas Arata pada anak-anaknya. Terlihat wajah Hiro yang terkejut mendengar penjelasan papanya.


“Hah?! Papa serius?” tanya Hiro yang masih tak percaya. Arata hanya mengangguk mantap.


“Hiro antarkan dia ke kamarnya yang ada di atas!” perintah Arata pada Hiro. Ia hanya mengangguk malas dan langsung berjalan.


“Eh, tunggu dong! Bawain! Berat ini,” rengek Hana.


“Bawa sendiri! Ga usah manja!” ketus Hiro. Hana langsung mengangkat tasnya dan mendumel dalam hati, mungkin saja jika tak ada Arata ia sudah mengatai cowok yang ada dihadapannya ini.


Sampai di tengah tangga, tangan Hana tiba-tiba terasa sakit dan ia menjatuhkan tasnya. Ia memijit pelan tangannya itu.


“Bantuin dong, plissss,” mohon Hana pada Hiro, Hiro berdecak sebal dan langsung mengambil tas Hana. Ia kembali berjalan dengan mempercepat langkahnya.


“Thanks. Em, Yukihiro?”


“Panggil Hiro!”


“Nih kunci lu!” Hiro melempar kunci kamar, dan langsung pergi. Hana berhasil menangkap kuncinya, dengan cepat Hana membuka pintu kamar. Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur.


“Kenapa sifat kakak adik beda ya. Bedanya jauh banget lagi, kakaknya kalem. Udah gitu baik lagi, kaya malaikat!” gumamnya tersenyum dan memejamkan mata sambil membayangkan wajah Satoru. Tiba-tiba saja ia membayangkan wajah dingin Hiro.


“Daripada adiknya. Galak! Keturunan iblis kayanya yak?” Wajah Hana berubah menjadi sebal. Hana beranjak dari kasur, mengambil handuk, dan langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badan.

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama, Hana keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan kaos dan celana jeans pendek, Hana duduk di tepi kasur, dan mengambil sisirnya. hanya menyisir sedikit dan langsung menggulung rambutnya, matanya melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore.  Hana beranjak dan berjalan keluar kamar dengan menuruni anak tangga. Hanya ada Satoru yang sedang menonton tv. Hana menatap Satoru, meskipun hanya dari samping, ia terlihat sangat tampan.


Bruk


__ADS_2