My Devil Boyfriend

My Devil Boyfriend
Lima - Hiro Punya Pacar?


__ADS_3

Hana hanya menggeleng, sambil tersenyum. “Nggak kok, gue seneng aja bisa pindah di sekolah ini,” jujur Hana dengan tersenyum lebar.


“Oh, beda sekali?” tanya Haru yang mencoba berjalan di samping Hana, hanya saja dihalangi oleh Mirei, juga Yuna.


Sesampai di kantin mereka duduk di paling belakang, Haru yang hendak duduk ditahan oleh Mirei. “Apa si, Rei?” tanya Haru memanyunkan bibirnya.


“Udah, nggak usah manyun gitu. Tambah jelek!” cibir Yuna di ikuti tawa kecil. Seisi kantin yang mendengar ucapan Yuna seketika tertawa.


“Sialan, lo!” kesal Haru dengan suara pelan.


“Lo mau duduk disini?” tanya Mirei menatap Haru malas.


“Iy—“


“Belikan kita makan dulu, baru lo boleh duduk sini,” ucap Mirei dengan tersenyum manis, Mereka pun tersenyum lebar, dan mengacungkan ibu jarinya pada Mirei. Sedangkan, Haru seketika lesu, dan langsung beli tanpa menanyakan makanan yang mereka mau. Mereka tidak mempermasalahkan itu, karena makanan di kantin semuanya enak. Tidak hanya enak, tetapi juga mahal.


Mugi yang sedari tadi terdiam dengan menatap wajah Hana dari samping, ia seperti mengingat sesuatu dan tidak asing dengan Hana. Wajah yang lugu, dan sering canggung dengan orang yang belum ia kenal, Mugi benar-benar tidak merasa asing dengan Hana.


“Apa kamu itu dia, Han? Orang yang aku rindukan selama ini,” ucap Mugi dalam hati.


Selang beberapa menit, Haru datang dengan nampan yang berisikan makanan. Mereka pun mengambil satu persatu makanan di nampan, dengan mengucapkan terimakasih pada Haru. Haru hanya mengacungkan ibu jarinya dengan memasang wajah sok keren.


“Lo, nggak makan?” tanya Mugi.


“Makan, tuh sama devil,” sahutnya dengan menunjuk Hiro yang tengah berkumpul dengan teman-temannya. Hana langsung mengangkat kepalanya melihat Hiro. Namun, bola matanya bergerak melihat cewek yang duduk di samping Hiro.


“Hiro udah punya pacar?” tanya Hana yang terlontar begitu saja.


“Eh? Kenapa nanyain itu?” tanya Yuna beralih melihat Hana.


Hana terkejut dan langsung menutupi mulutnya dengan telapak tangannya, ia membungkamkan mulutnya karena merasa malu. “Aduh, kenapa aku kelepasan gini? Kenapa aku nanya tentang Hiro? Aku hanya menyukai kak Satoru! Tidak yang lain!” ucap Hana dalam hati.


Mirei tersenyum sambil menggoda Hana, ia juga mencolek-colek dagu Hana dengan senyuman yang tidak dapat diartikan. “Cie, Hana. Kamu suka sama iblis itu?” tanya Mirei yang masih menggoda. Hana langsung menggelangkan kepala cepat.

__ADS_1


“Nggak! Aku—“


“Nggak usah gitu, Han. Nanti malah kepikiran loh!” goda Yuna yang ikut mencolek lengan Hana. Mugi hanya tertawa kecil melihat wajah Hana yang tersipu malu.


“Dia emang suka ketus gitu sama orang, tapi dia sebenarnya baik,” jelas Mugi.


Hana hanya terdiam dan memakan makanannya, mereka pun juga mempercepat makannya mengingat istirahat yang hampir selesai.


----


“Baik, pelajaran saya akhiri. Ada yang mau bertanya? Kalau tidak ada, saya akan memberikan tugas kelompok. Masing-masing kelompok berisikan enam orang, materi ada di buku paket halaman 56,” jelasnya seraya merapikan buku.


Krriiiinnggggg…. Krrriiiiiiinnnggggg


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Setelah pak Hasan keluar dari kelas, semua murid berhamburan keluar kelas. Hanya tersisa beberapa orang yang masih merapikan bukunya, Hana masih terduduk dengan melihat murid lainnya dari luar jendela. Ia tersenyum tipis melihat wajah mereka yang terlihat bahagia.


“Hana!” panggil Mugi yang membuat Hana langsung membalikkan tubuhnya.


“Em, mau gabung di kelompok kita?”


Hana hanya mengangguk mau, ia senang ada yang


mengajaknya untuk satu kelompok. Mengingat dia murid baru yang belum mengenal satu sama lain. Haru dengan antusias mengangkat tangannya.


“Gue gabung ya? Sama Hiro! Iya kan, Hiro?” tanya Haru yang berjalan menghampiri Hiro. Sedangkan cowok itu terlihat sedang mencari sesuatu di dalam tasnya, ia mengeluarkan semua bukunya yang ada di dalam tas, wajahnya pun terlihat sangat kesal.


“Cari apa?” tanya Haru dengan berhati-hati. Hiro tidak menjawab, ia masih mencari dengan meraba-raba laci meja. Hana pun juga bingung melihat Hiro yang sedang mencari barangnya itu. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia mengambil tas kecil yang berada di lacinya itu.


“Cari ini?’ tanya Hana yang meletakkan tas itu dimeja, Hiro mengangkat kepalanya. Hiro menatap tajam wajah Hana, seperti ingin memangsanya.


“Kenapa nggak dari tadi?!” marah Hiro dengan membentak Hana.


Hana menundukkan kepalanya.  “Maaf, aku lupa. Itu dari kak Satoru.”

__ADS_1


“Gue nggak nanya!” ketusnya seraya berjalan keluar kelas. Hanya hanya enghela napasnya.


“Gila ya tuh cowok? Masih mending Satoru mau nganter ke kelas, ya ampun perhatian banget si kak Satoru,” puji Yuna dengan kagum.


“Nggak kaya adiknya, iblis!” cibir Yuna yang seketika raut wajahnya berubah menjadi kesal.


“Hanaa!” panggil Satoru yang berdiri di ambang pintu dengan melambaikan tangannya. Hana mengangguk sambil mengenakan tasnya ke punggung.


“Aku duluan, ya!” pamit Hana seraya berjalan menghampiri Satoru, cowok itu berjalan lebih dahulu, dan Hana mempercepat jalannya untuk menyamakan langkahnya. Satoru menoleh ke Hana dengan tersenyum.


“Gimana hari pertama mu?”


“Menyenangkan,” jawab Hana dengan tertawa kecil. Satoru mengangguk paham, mereka berjalan ke parkiran mobil. Satoru membukakan pintu untuk Hana. Sedangkan, Hana hanya mengangguk kecil dan langsung masuk ke dalam. Satoru menutup pintu mobil dengan pelan, ia berjalan ke belakang, dan langsung masuk ke dalam mobil.


Selama di mobil mereka saling diam, hanya radio mobil yang membuat suasana tidak hening. Sedangkan, Hana


menatap ke arah luar jendela untuk mengurangi rasa deg-degan. Tanpa di rasa mereka sudah sampai dirumah, Satoru memarkirkan mobilnya.


“Aku masuk dulu ya kak,” ucap Hana melepas seatbelt dan berjalan keluar mobil.


Hana berjalan masuk ke rumah, ia mempercepat langkahnya manaiki anak tangga, dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakkan tasnya di meja belajar, ia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur.


Hana membuka ponselnya, ia sedikit terkejut dengan notifikasinya yang ramai. Hana membuka aplikasi instagram, matanya terbuka lebar ketika melihat jumlah pengikutnya menjadi seribu orang. Semalam terakhir ia cek, jumlahnya masih dua ratus. Ia menggelengkan kepalanya pelan.


“Gila, gila,” gumam Hana yang menutup aplikasi itu.


“Baru sadar kalo lo gila?” ucapnya yang tiba-iba membuat Hana tersentak kaget.


Hana menoleh, ia menghembuskan napasnya perlahan ketika melihat Hiro yang berdiri di ambang pintu dengan membawa minuman kaleng di tangannya.


Hana berdecak pelan sambil menatap Hiro. “Ketuk pintu kalau mau masuk!”


“Hah?! Eh, curut. Ini pintu udah ke buka dari awal!” ketusnya seraya meninggalkan kamar Hana. Ia bernapas lega karena Hiro sudah tidak lagi di kamarnya. Hana beranjak dari kasur, tangannya meraih handuk dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket.

__ADS_1


__ADS_2