My Devil Boyfriend

My Devil Boyfriend
Empat - Double Prince


__ADS_3

“Woi! Lu tumben kagak telat?” tanyanya dengan berjalan mendekat dan langsung duduk di sebelah Hiro. Hiro hanya meliriknya sekejap dan kembali membaca komik kesukaannya. Ia juga menghisap rokok, menghembuskan perlahan, dan meletakkan kembali puntung rokok di asbak.


“Suka-suka gue dong mau berangkat jam berapa!” jawabnya dengan dingin. Ia tak ingin menjawab pertanyaan basa-basi itu. Namun, sahabatnya itu terus menatapnya dengan ekspresi menjijikan pada Hiro.


“Ngegas terus, anjer!”


“Gue denger ada murid baru, siapa?” tanyanya lagi dengan menaikkan alisnya


“Gue bukan kepala sekolah! Jadi ga-ta-u!.” Kesalnya dengan mengeja diakhir kata.


“Cantik ga ya? Gue gebet aja kali ya.”


“Serah lu!”


“Ayo, buruan balik ke kelas! Udah mau bel!”


Ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Hiro di rooftop, Hiro beranjak dari duduk, ia mematikan rokoknya terlebih dahulu, dan langsung berjalan gontai keluar rooftop.


Kringggg


Bel masuk telah berbunyi, semua murid berlarian masuk kedalam dalam kelas masing-masing. Hanya Hiro yang berjalan santai dan tak mempedulikan jika sampai terlambat masuk kelas.


Sesampainya di kelas ia mengintip terlebih dahulu dari jendela, apakah sudah ada guru, atau belum. Hiro menghela napasnya lega, tak ada guru di dalam kelas. Iangsung masuk, dan berjalan menuju bangkunya, ia langsung duduk di bangkunya dengan menelingkupkan badannya di meja.


Tak lama, guru itu masuk ke dalam kelas dengan membawa tumpukan buku, juga gadis yang berjalan dibelakangnya dengan kepala menunduk.


“Coy, coy, coy.... dia murid barunya? Buset dah imut banget, coy!” serunya sambil menyenggol lengan Hiro. Sedangkan, Hiro hanya terdiam, ia hanya menatapnya gadis itu dengan malas danberdecak pelan.


“Anak-anak, perkenalkan dia murid baru disini. Hana silahkan perkenalkan diri kamu,” titah guru itu.


 “H—Halo, perkenalkan saya Hana Ishikawa. Panggil aja Hana, senang bertemu dengan kalian.”


“Baik Hana, kamu duduk di depan Hiro.”


Hana awalnya terkejut, sekaligus takut pada Hiro. Kenapa sekarang duduknya saling berdekatan? Sekelas? Se rumah?! Hana hanya mengela pasrah, dan berjalan ke arah Hiro.. Bola matanya menatap Hiro dengan


sedikit tajam. Namun, tatapannya lebih tajam dengan menaikkan alisnya.


“Apa?!” Hana menggeleng dan langsung duduk. Hiro tersenyum menyeringai melihatnya.


“Baik, kita lanjutkan pelajaran kemarin. Buka buku paket halaman 157.”


Hana hanya mendengarkan penjelasan dari guru dan mencatat bagian penting yang di ucapkan oleh guru, ia merasa beruntung karena duduk di dekat jendela. Meskipun ia merasa tersiksa karena harus duduk di depan Hiro, Hana menempelkan dagunya di tangan yang ia silangkan dimeja.  Namun, matanya tetap melihat ke papan

__ADS_1


tulis.


Kaki Hiro mendorong kursi Hana. Hana hanya menghela napas dan tetap mengacuhkan. Namun, kali ini Hiro menendang kursi Hana, Hana yang mulai sebal langsung menengok ke arah Hiro perlahan.


“Apa?”


“Lu duduknya yang tegak dong!” titahnya. Hana hanya mengangkat alisnya.


“Suka-suka aku dong!” sontak mata Hiro melotot kearah Hana. Hana hanya menelan ludahnya dan mengangguk. Hiro pun langsung menelingkupkan badannya dibalik tubuh Hana sambil memejamkan mata.


---


Jam berputar begitu cepat, tanpa dirasa bel istirahat sudah berbunyi. Hana membereskan bukunya dan memasukkan kedalam tas, beberapa murid menghampiri Hana. Gadis itu melihat ke bangku Hiro yang sudah tidak ada orangnya.


“Hana, salam kenal yah.”


“I—iya salam kenal. E-em—“


“Ah, iya. Perkenalkan namaku Mugi, dia Mirei, dan dia Yuna,” jelas Mugi memperkenalkan satu persatu. Hana hanya mengangguk paham sambil tersenyum.


“Semoga kita bisa jadi teman dekat yah!” ucap Yuna tersenyum lebar.


“Iya.” Hana tersenyum senang.


“Ngomongin kamu? Pe-de bener!” ketus Mirei yang melepas rangkulannya.Yuna pun ikut melepas rangkulannya dan melangkah satu langkah menjauh dari cowok itu.


“Jangan gitu dong mantan,” godanya dengan mencoleh pipi Mirei.


“Mantan? Najis!”


“Hanaaa!” panggil lelaki itu dari pintu kelas. Semua yang ada disitu langsung menengok ke arah pintu, juga dengan Hana yang sedikit terkejut. Bukankah, Satoru akan ke kelasnya ketika pulang sekolah? Pikir Hana.


“Kak Satoru? Hana kamu kenal sama dia?” tanya Mirei melihat Hana.


“I—iya. Kenal, kenapa?”


“Gilaaa! Kamu bisa dekat sama duo prince?!” kagum Mugi dengan tersenyum lebar. Sedangkan, Hana hanya menaikkan alisnya ketika mendengar julukkan ‘Duo Prince’


“Double prince?”


“Iya, Hiro sama kak Satoru. Semua murid disini kenal dia. Bahkan, mungkin suka. Mereka cowo populer di sekolah ini, Hiro itu julukkannya Devil Prince, kalau kak Satoru ‘Angel Prince’,” jelas Yuna. Hana tertawa kecil mendengar julukan Hiro, Devil? Iblis? Memang pantas Hiro mendapatkan julukkan itu.


“Kenapa, Han?” tanya Mirei. Hana hanya menggelengkan kepalanya, memang pas julukkan kalian!” jujur Hana dengan diiringi tawa.

__ADS_1


“Gue juga cowok populer tau!” sewot cowok itu dengan menarik dasinya, dan bersikap sok keren.


“Haru, lo tuh sadar dong! Lo itu cowo playboy! Mungkin, lima puluh persen siswi disini itu mantan Lo!” ketus Mirei kesal. Haru hanya tersenyum menyeringai sambil menaikkan alisnya.


“Termasuk…. lu kan?” tanya Haru tersenyum lebar.


“Ke kantin bareng gue, yuk. Han,” ajak Haru.


“Lo tuh ya. Modus banget!” kesal Yuna pada Haru.


“Hanaa!” panggil Satoru lagi.


Hana langsung berlari pelan menghampiri Satoru yang tersenyum padanya, “Maaf kak, lama.”


Satoru tersenyum tipis, “Gapapa kok, udah dapat teman baru?” tanyanya. Hana menoleh pada temannya yang masih berdiri dengan menatapnya, ia kembali menatap Satoru dengan tersenyum canggung.


“I—iya.”


Jantungnya mulai berdegup tidak karuan, Hana berusaha menyembunyikan kegugupannya saat berhadapan dengan Satoru. “Ah, iya kak. Kenapa ke kelas ku? Bukannya kakak bilang pas pulang sekolah aja?” tanya Hana.


“Ah, iya. Ini kakak mau nitip ini buat Hiro, dia pasti kelupaan,” ucapnya menyerahkan tas kecil. Hana melihat isi tas itu, hanya berisikan kaos olahraga.


“Itu kaos olahraga dia, hari ini dia ada ekskul basket. Nanti kamu pulang sama aku,” ucapnya seraya berjalan meninggalkan kelas Hana.


Hana kembali ke bangkunya dan masukkan tas itu di laci mejanya, Yuna yang penasaran, terus manatap Hana yang sedang memasukkan tasnyake dalam laci. “Kenapa, sih? Ngelihatin, Yuna kaya gitu,” tanya Mirei.


“Cuma penasaran, itu yang dari kak Satoru itu apa.”


Hana hanya terkekeh melihat Yuna yang menyengir sambil menggaruk rambutnya. “Cuma kaos olahraga punya Hiro yang ketinggalan,” jelas Hana.


“Oh, yaudah yuk ke kantin.”


Hana mengangguk, mereka pun berjalan beriringan keluar kelas menuju kantin. Beberapa murid menatap ke arah Hana tersenyum manis, sedangkan Mugi yang terlihat sedikit risih hanya membalas tatapan mereka dengan tatapan tajam.


“Udah, Gi. Jangan peduliin, ntar lo kena omel mereka lagi,” pesan Mirei dengan membenarkan kepala Mugi untuk tetap lurus ke depan tanpa memperdulikan tatapan lelaki itu.


“Mugi, paling sensi sama cowok jelalatan, Han,” bisik Yuna pada Hana.


“Gue denger!” ucap Mugi menatap Yuna tajam, Hana tertawa kecil melihat mereka yang saling akrab. Tidak seperti di sekolah lamanya. Hana merasa beruntung ketika pindah ke sekolah ini. ia tak lagi merasakan siksaan itu kembali.


“Han, kenapa?” tanya Mirei menyadarkan lamunan Hana.


Hana hanya menggeleng, sambil tersenyum. “Nggak kok, gue seneng aja bisa pindah di sekolah ini,” jujur Hana dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2