My Devil Boyfriend

My Devil Boyfriend
Tiga - Sebuah Taman


__ADS_3

Satoru berlari mencari Hana di sekitar komplek, ia juga tak kunjung menemukan keberadaan Hana. Ia sangat khawatir, angin malam yang berhembus membuat Hiro semakin kedinginan. Jaket yang ia kenakan tak mampu menghangatkan tubuhnya, terutama luka yang didadanya. Hiro berteriak memanggil Hana berkali-kali, tak ada sahutan, atau tanda keberadaan Hana.


Hiro menghentikan larinya, ia terus memanggil nama Hana dengan mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Ia membuka matanya lebar, ia teringat dengan satu tempat yang jarang diketahui oleh banyak orang.


Taman bunga, taman ini jarang di ketahui oleh banyak orang. Bahkan, orang-orang yang sudah lama tinggal di kompleks ini tidak mengetahui taman itu. Hanya orang-orang yang beruntung dapat menemukan taman itu.


Hiro berlari memasuki gang kecil, Hiro berdoa agar Hana terdapat disana. Hiro menghentikan larinya, dan mengendarkan pandangannya melihat seisi taman itu.


Ddrrtt… ddrrttt.


Hiro merogoh sakunya mengambil ponsel itu, terpampang nama sang kakak yang menelepon, ia menghela napas, dan langsung mengangkat telepon itu.


“Halo, apaan?”


“Udah ketemu, Hana?” terdengar suaranya yang sangat khawatir.


“Belum.”


Hiro langsung mematikan sambungan telepon itu, ia memasukkan kembali ponselnya. Tiba-tiba saja ia terdengar suara isakkan, Hiro langsung mencari sumber suara itu. Langkahnya terhenti ketika melihat gauds yang sedang duduk dengan memeluk lututnya.


“Ngerepotin banget sih, lu!” ketusnya yang berjalan menghampiri Hana. Hana tersentak kaget, tangannya kembali bergetar ketika melihat Hiro yang berjalan kearahnya. Air matanya kembali turun dengan cepat. Sedangkan, Hiro bingung melihat Hana yang terlihat takut dengannya.


“Dia kenapa?” tanya Hiro dalam hati.


“Ma-maaf,” ucapnya dengan lirih.


Hiro duduk disamping Hana dengan diam, ia tidak berkata sedikitpun. Tatapannya keatas menatap langit malam. Hana pun juga bingung dengan Hiro yang tiba-tiba terdiam, ia merasa bersalah pada Hiro, mengingat luka yang terdapat di dada Hiro.


“Hi-Hiro, ma-ma—“


“Nggak usah minta maaf, gue yang salah.”


“Eng-enggak kok, harusnya gue nggak marah sama lo.”


“Dah lah, diem! Berisik!” ketusnya yang masih terfokus pada langit.


Hana pun terdiam, ia menghela napasnya untuk menahan emosinya. Ia harus bisa melupakan masalah ini, juga masalah di masalalunya. Hana beranjak berdiri, ia mengulurkan tangannya pada Hiro. Sedangkan, Hiro yang menatap bingung Hana.


“Ayo, pulang. Maaf gue udah ngerepotin.”


“Ck! Baru sadar?” tanyanya yang berdiri sendiri, dan berjalan terlebih dahulu, Hana kembali menarik tangannya. Ia harus bisa terbiasa dengan sikap dinginnya Hiro, juga omongan Hiro yang ketus.


Selama berjalan kembali ke rumah pun mereka saling diam, Hana yang sedari tadi berjalan dengan menggosokkan lengannya dengan kedua tangannya untuk sekadar menghangatkan tubuhnya. Hiro yang melihat itu hanya tersenyum menyeringai.  Ia menghentikan langkahnya, Hana pun juga menghentikan langkahnya, dan mo=enoleh padanya.


“Gue nggak mau minjemin jaket ke lo,” ucapnya dengan ketus.


Sedangkan, Hana hanya menatapnya dengan datar. “Siapa yang minjem?” tanya Hana yang kembali berjalan, ia kesal dengan Hiro yang dingin padanya. Sejujurnya, Hana memang memberi kode pada Hiro. Namun, ia kesal dan mengurungkan niatnya setelah Hiro mengucapkan hal itu.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Hana, ia membuka jaketnya dan berjalan menyusul Hana dengan memberikan jaketnya pada atas kepala.  Hiro langsung mempercepat meninggalkan Hana yang masih terdiam mematung.


Hiro berdecak kesal, dan berteriak pada Hana agar segera menyusulnya, Hana mengangguk dan mempercepat langkahnya.


---


Satoru yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di ruang tamu, matanya terus menatap pada ponselnya. Wajahnya sangat khawatir dengan keduanya, angin yang kencang menandakan akan turun hujan, ia semakin khawatir pada luka Hiro.


Mendengar suara pintu yang terbuka membuat Satoru langsung berlari menghampiri mereka, ia bernapas lega, dan langsung menyuruh mereka untuk segera masuk. Hiro terlihat sedikit pucat. Namun, ia berusaha menyembunyikan itu pada Satoru. Ia tak ingin Satoru yang khawatir berlebihan.


“Hana, kamu ke meja makan dulu ya. Nanti aku menyusul,” ucap Satoru. Hana hanya mengangguk.


“Lo nggak papa kan? Mau ganti perban?” tanya Satoru.


“Engh, baru juga gantu. Udahlah, makan yok!” Hiro langsung berjalan ke dapur, dan duduk di samping Hana. Satoru menghela napasnya melihat kepergiannya, ia tahu kalau Hiro berusaha menyembunyikan rasa sakitnya itu


 “Om Arata belum pulang?” tanya Hana pada Satoru.


“Tadi berangkat lagi, ada rapat dadakan. Mungkin, pulang malem,” jelasnya dengan memberikan sepiring nasi.


“Oh, pantas saja. Sibuk banget ya, om Arata.”


“Sebelumnya, maaf aku udah bikin repot di hari pertama ku disini,” ucao hana yang merasa tak enak pada Satoru, juga Hiro.


Satoru tertawa kecil. “Santai aja, Btw, mulai besok kamu sekolah bareng Hiro. Karena papa ga bisa nganterin kamu


di hari pertama kamu sekolah,” jelas Satoru membuat Hiro tersentak kaget dan terlihat wajahmya yang bisa di bilang menakutkan.


“Gue nggak bisa! Nolak? Uang jajan berkurang!” ancam Satoru membuat Hiro menghela napas pasrah dan memilih untuk melanjutkan makannya, selesai makan Hiro langsung beranjak dan berjalan menuju kamarnya.


“Maaf, ya. Hiro emang gitu.”


Hana tersenyum, dan mengangguk. “Aku tau, tapi dia baik kok!” ucap Hana jujur. Satoru hanya tersenyum sambil mengambil mangkok kotor.


Hana pun ikut berdiri. “Aku bantu,” ucapnya mengambil piring dan membawa di wastafel.


Sedangkan Hiro, cowok itu melepaskan kaos yang ia kenakan, dan menyalakan AC kamar. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, sesekali meringis ketika  merasakan nyeri pada lukanya. Lukanya sedikit parah karena kejatuhan besi berat, untung saja ia selamat, dan tidak mengenai kepalanya. Perlahan ia memejamkan matanya, dan terlelap dengan mimpinya.


---


Gadis ini berjalan ke arah jendela dan membuka tirai kamar, dan jendela kamarnya membiarkan cahaya matahari masuk kedalam kamarnya. Ia tersenyum sambil menghirup udara dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Gadis itu adalah Hana, ia sangat menyukai aroma pagi hari.


“WOI! BURUAN!” teriak lelaki itu membuat Hana ini terlonjak kaget, Hana itu langsung menundukkan kepalanya kebawah melihat lelaki itu yang duduk di kap mobil dengan menatap tajam Hana.


“Iyaaa!” Gadis ini langsung bergegas mengambil tasnya, dan melangkah cepat keluar kamar. Ia sedikit berlari menuruni anak tangga. Hana tersenyum canggung karena Hiro menatapnya dengandatar.


“Tutup pagar!” perintah lelaki itu seraya masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Hana mengangguk, ia membalikkan badannya, dan berjalan malas menutup pintu pagar. Selesai menutup pagar ia berjalan ke mobil.


“Hanaaa!” teriak seseorang dari dalam. Hana yang mendengar itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badan, terlihat Satoru berlari kecil menghampiri Hana. Ia langsung menyodorkan kotak bekal.


“Buat, Hiro?” tanya Hana dengan menaikkan alisnya.


“Hiro sudah, Ini buat kamu, belum sarapan kan?” tanya Satoru yang langsung memberikan kotak itu ditangan Hana.


“Woi, cepetan!” teriak Hiro dari jendela mobil.


“Iya bentar, dong!” teriak Hana melihat Hiro.


“Makasih kak!” ucap Hana tersenyum. Satoru hanya tersenyum mengangguk. Hana langsung berjalan dan masuk kedalam mobil. Hiro berdecak kesal, dan langsung melajukan mobilnya dengan sedikit kencang.


Hana terus tersenyum melihat bekal yang diberikan oleh Satoru, jantungnya juga terasa berdegup kencang. Hana tersenyum lebar ketika membayangkan wajah Satoru yang sangat tampan.


“Gila?” tanya Hiro yang membuat Hana langsung menatap Hiro tajam.


“Apa?!” sentak Hiro yang membuat Hana langsung menggeleng cepat.


Tak membutuhkan waktu lama mobil Hiro terparkir di halaman sekolah, Hana melihat sekeliling dari jendela mobil. Sekolahnya lebih besar dari sekolah sebelumnya, juga banyak murid yang melihat kearah mobil ini. Terutama para siswi yang bersorak senang kearah mobil ini. Hana melirik Hiro yang sedang memainkan ponselnya sejenak, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, dengan menghela napas.


“Ayo ikutin gue!” Hiro langsung keluar dari mobil. Hana mengangguk dan memasukkan bekalnya kedalam tas dan langsung turun mobil. Terdengar suara teriakan siswi ketika Hiro keluar dari mobil.


“Hiro ganteengggg.”


“Pagi saayangg.”


“Hiro tambah ganteng anjer!”


“Kalo Hiro jadi pacar gue gimana


yak?!”


Begitulah yang mereka ucapkan. Seperti biasanya, Hiro hanya acuh dan berjalan masuk kedalam. Hana berjalan mengikutinya dari belakangdengan menundukkan kepalanya.


“Siapa nih? Imut bener dah,” tanya seseorang mendekati Hana. Spontan membuat Hana mendekat ke punggung Hiro dengan menutupi wajahnya dengan tangan. Hiro hanya menghela napas, ia hanya berjalan dan mengabaikannya.


Langkahnya terhenti ketika berada di ruangan besar, ia langsung membuka pintu tanpa mengetuk pintu. Membuat semua orang yang berada di dalam ruangan kerkejut, dan menatap ke arah mereka.


“Modus!” ketus Hiro langsung berjalan meninggalkan Hana.  Hana membelalakkan matanya, ia terlihat takut dengan semua orang yang berada di ruangan itu. Ia mengangkat kepalanya, melihat papan kayu yang menggelantung di dekat pintu. ‘RUANG GURU’


“Sial!” umpat Hana dalam hati.


Hiro tidak mengucapkan apapun, ia kini sudah pergi meninggalkannya sendirian di ruangan ini. banyak tatapan yang mengarah pada Hana. Ia mulai berpikiran yang tidak-tidak dengan tatapan tajam mata itu.


“Hana Ishikawa?” tanya seseorang membuat Hana tersadar, ia menggelengkan kepala untuk membuang pikiran anehnya itu. Hana menatap wanita paruh baya dengan datar yang ia buat-buat.

__ADS_1


 “Hana Ishikawa?” tanyanya lagi.


“E--eh i-iya Bu. Ss—saya. “


__ADS_2