My Devil Boyfriend

My Devil Boyfriend
Episode 2 - Bercanda yang Kelewatan


__ADS_3

Bruk.


Tubuh Hana menabrak dada bidang milik seseorang, Hana memegangi keningnya, dan merintih kesakitan. Namun, Hana kembali tersenyum ketika melihat Satoru yang tengah menoleh menatapnya. Ia menyengir pada Satoru dengan mengelus keningnya.


“EKHEM!”


Dehaman kencang itu membuat Hana mengangkat kepala, ia membelalakan matanya dengan mundur satu langkah. Gadis itu menelan salivanya ketika melihat orang itu dengan tatapan tajam.


“Ke-kenapa? Ada yang salah?” tanya Hana yang terlihat sedikit ketakutan.


“Nggak!” ketusnya seraya berjalan melewatinya.


“Nggak jelas,” gumam Hana pelan.


“Maaf ya, dia memang agak dingin giru. Tapi, sebenarnya dia baik kok,” jelas Satoru yang membuat Hana terkejut.


“Sakit?” tanya Satoru dengan menunduk menatap Hana, tangannya memegang kening Hana. Sedangkan, gadis yang dihadapannya itu hanya terdiam, perlahan kepalanya menunduk, ia menggigit bibir bawahnya.


“Kenapa jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya? Apa aku punya penyakit jantung?” pikir Hana.


“Kamu harus minta maaf pada, Hiro. Aku rasa kamu mengenai dadanya,” ucapnya dengan berjalan menuju dapur. Hana masih terdiam dengan menatap punggung Satoru, apa maksud dia? Kenapa harus minta maaf padanya?


Hana membelalakkan matanya, ia baru saja ingat kalau yang tadi ia tabrak Hiro, bukan tembok. Hana menepuk keningnya pelan, kenapa dia tidak menyadarinya? Ia hanya terfokus pada cowok yang kini di hadapannya, Satoru.


“A-aku bantu kak,” ucapnya dengan menyusul masuk ke dapur.


“Boleh, tolong potong sayur ini ya,” titahnya seraya memberikan sayuran, juga pisau. Dengan senang hati Hana menerima sayur itu. Ia meletakkan pisaunya, dan berjalan ke wastafel untuk membersihkan sayur itu terlebih dahulu.


“Hana, kamu besok kamu berangkat sekolah bareng Hiro aja ya. Aku besok ada rapat.”


“Ha-hah? O-oh, i-iya kak,” sahut Hana dengan menerima setengah hati.


“Hah? Bareng iblis itu? Kenapa?!” batin Hana tidak terima.


Tiba-tiba saja ia teringat pada ucapan Satoru yang menyuruhnya untuk meminta maaf, “Em, kak. Bo-boleh nanya?”


Satoru menghentikan pisaunya, ia menoleh menatap Hana dengan menaikkan alisnya. “Kenapa, Han?”

__ADS_1


“Maksud kakak, aku harus meminta maaf karena aku mengenai dada, itu apa?”


Satoru tertawa kecil, “Oh, itu. Dada Hiro ada luka yang belum kering, ia baru saja terjatuh,” jelasnya yang hanya menerima anggukan dari Hana.


“Ini udah semua?” tanya Satoru.


Hana hanya menjawab dengan satu anggukan. Satoru mengambilnya, dan mulai untuk memasak. “Hana, sebaiknya kamu istirahat sejenak. Nanti aku panggil kalau sudah matang.”


“Oke, kak. Aku ke kamar dulu ya,” pamit Hana seyara berjalan keluar meninggalkan dapur. Kakinya berjalan menaiki anak tangga dengan cepat. Hanya saja langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang terduduk dikursi kamarnya.


Hana berjalan mendekati kamar itu dengan mengintip dari balik tembok, ia melihat Hiro yang sedang mengobati lukanya itu. Ia merasa tidak enak dengannya, apa karena ia tak sengaja menabraknya membuat luka Hiro kembali terbuka lagi?


“Ngapain? Mau ngintip?” tanyanya dengan ketus. Hana tersentak kaget dan langsung keluar dari sembunyiannya, ia berdiri diambang pintu dengan kepala menunduk.


“Maaf, aku tadi mau ke kamar. Tapi—“


“Siapa yang nanya?” tanyanya dengan lebih ketus.


Hana sedikit membungkukkan badannya. “Maaf, karena aku lukamu semakin parah,” ucapnya dengan sediki menyesal.


Hana menggelengkan kepala, ia berjalan mendekati Hiro yang memundurkan tubuhnya. “Mau apa lo?


KELUAR!” sentaknya dengan kencang. Hana tetap berjalan, ia merebut perban yang di pegang oleh Hiro.


“Biar aku yang obtain lukamu!”


“HAH?! Lo mana ngerti?!” ketusnya.


Hana tidak menjawab pertanyaan itu, ia langsung mengobati luka itu, dan menutupinya itu dengan perban. Hiro hanya terdiam, ia merasa sangat lelah hari ini.


“Udah? Sekarang balik ke kamar, lo!”


Hana mendengus kesal. “Harusnya bilang makasih!” ucap Hana seraya berjalan keluar meninggalkan kamar Hiro dan berjalan memasuki kamarnya. Ntah ini kebetulan, atau disengaja, kamar Hiro dengan kamar milik Hana hanya terbatasi oleh satu tembok.


Hana merebahkan tubuhnya di kasur, ia melepaskan semua penat hari ini. kepalanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh lampu bintang. Hana terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Ia menghela nafas, dan menghembuskan nas itu tengan perlahan.


“Ngapain?” tanya Hiro yang membuat Hana terlonjak kaget, ia langsung teduduk dengan menatap Hiro yang sedang tertawa.

__ADS_1


“Bodoh!” ketusnya yang kembali dengan wajah datarnya.


“Hana, Hiroo! Makanannya sudah siap, ayo makan bersama!” teriak Satoru berteriak dari bawah. Hana menghela napas dengan berlari, sialnya saat berlari kecil, kakinya tersangkut oleh tas ransel yang masih tergeletak.


Hap!


Tubuh Hana tertangkapdi pelukan Hiro, Hana membelalakkan matanya. Ia langsung memundurkan tubuhnya.“Sengaja? Iyakan?! Biar bisa meluk aku, iya kan?!” kesal Hana pada Hiro.


“Hah?! Lo waraskan? Gue juga punya selera!” ketusnya dengan menatap tajam Hana.


“Hah? Apa maksudnya? Dia punya selera? Maksudnya aku jelek gitu?! Sialan!” umpat Hana dalam hati.


“Hm, mungkin….” Ia sengaja menggantungkan ucapannya, ia melangkah satu langkah. Hiro mendekatkan kepalanya kearah Hana. Sedangkan, Hana berusaha menghindar dari Hiro yang terus mendekatkan wajahnya padanya. Tatapannya sanga tajam, seperti ingin memangka seseorang.


“Hi-hiro, ke-kenapa? Mundur!”


Hana terus melangkah kebelakang. Namun kini langkahnya terhenti, tubuhnya sudah menatap tembok. Hiro tersenyum menyeringai, dengan tatapan yang semakin tajam. Kedua tangan Hiro menempel pada tembok, wajahnya terlihat puas melihat ekspresi gadis itu. Berbeda dengan Hana, Hana memejamkan matanya dengan wajah yang sangat ketakutan, bayangan-bayangan itu kembali teringat.


“Hana? Hiro?!” panggil Satoru dengan sedikit berteriak.


Hiro melangkah beberapa langkah ke belakang, ia tertawa dengan terbahak-bahak, cowok itu terlihat sangat puas ketika melihat ekspresi Hana yang sangat ketakutan. Hana membuka matanya perlahan, matanya sudah berkaca-kaca. Tubuhnya pun sedikit bergetar karena rasa ketakutan itu muncul kembali.


“Seru? Lo menikmati itu kan? Tenang aja, gue cuma bercanda kok!”


“Nggak lucu!” sentak Hana yang berjalan cepat meninggalkan kamarnya. Ia berlari keluar rumah denganair mata yang sudah tidak bisa lagi ia tahan, kenapa? Kenapa kembali teringat? Bukankahitu sudah bertahun-tahun?


Berbeda dengan Satoru dan Hiro yang masih terdiam menatap kepergian Hana, Satoru menghela napas. “Gue tau lo bercanda, tapi bercanda ada batasnya. Lo belum kenal dia dengan dekat, lo boleh benci dia. Tapi, jangan pernah lo ngebuat dia benci sama lo,” ucap Satoru sambil berlalu meninggalkan Hiro yang masih terdiam.


Benar ucapan Satoru, ia sudah keterlaluan, seharusnya Hiro tak melakukan ini, dan akan membuat Hana teringat dengan masalalunya. Kenapa ia tak memirkan sejauh ini? Hiro memejamkan matanya, ia harus meminta maaf. Tidak, sebelum itu ia  harus mencari Hana. Bukankah ini pertama kalinya Hana ada di daerah ini? Bagaimana kalau dia nyasar?


Hiro menggelengkan kepala, dengan cepat ia beranjak, dan berjalan cepat ke kamarnya untuk mengambil ponsel, juga jaket. Ia bergegas menuruni anak tangga dengan cepat.


“Sat, gue mau cari Hana!” pamit Hiro yang berlalu dengan cepat.


“Gue ikut!” sahutnya dengan sedikit berteriak.


“Nggak! Lo jaga rumah aja, kalo dia udah kembali, langsung telpon gue!” jawabnya dengan berteriak. Satoru menghela napas, ia tersenyum kecil melihat tingkah Hiro yang tak bisa ia tebak sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2