
" bibi dimana Elson dan Sean" tanya Adam kebetulan sedang lewat.
" ke dua tuan muda sedang berada di taman tuan" jawab sang kepala pelayan dengan sopan.
" baik terimakasih" Adam langsung menuju ke taman yang berada di belakang mansion.
" Elson, Sean" panggil Adam.
" Dedy..." teriak Elson dan berlari ke arah Adam begitu pula dengan Sean ia mengekor di belakang.
tak lupa Elson dan Sean mencium tangan Adam.
"kapan sampai Dedy" tanya Sean.
"sudah lama"
" mmm.. sepertinya Elson merasa senang hari ini apakah Dedy melewatkan sesuatu"
" yah Elson sangat senang Dedy kak sersan tidak marah lagi sama Elson" Elson bercerita dengan polos.
"tentu saja kak sersan itu sayang sama Elson" jawab Adam dengan gemas mengacak acak rambutnya Elson ia bangga dengan perubahan sersan.
" yah" angguk Elson.
" Sean apa kalian sudah mandi" tanya Adam.
Sean menggelengkan kepalanya.
" ajak adikmu untuk mandi dulu ini sudah sore" kata Adam
" baik" Sean langsung membawa elson untuk mandi.
dimalam hari kini Mirah sedang memegang tasbih indah lalu mengucapkan nama nama sang maha agung, Karena dirinya sedang memikirkan perkataan sersan yang tadi pagi.
__ADS_1
jadi lah ia berzikir mengadu kepada sang Tuhannya agar hatinya dan pikirannya menjadi lebih tenang.
****
" Dedy..Dedy.. apakah kita bisa menelpon Tante Mirah Elson rindu" ucap Elson lalu duduk di pangkuan Adam
yah..ayah dan ketiga anaknya kini sedang menonton dan Termasuk salah satunya sersan yang tidak di sangka sangka ia ikut bergabung sudah 6 tahun lamanya bayangkan saja.
"ini sudah malam Elson bagaimana kalau kita mengganggunya" elak Adam dirinya malu untuk menghubungi Mirah duluan.
sersan yang mendengarnya memasang kupingnya lebar lebar dirinya juga sebenarnya ingin mengetahui keadaan Mirah hanya saja ia gengsi untuk mengatakannya kepada dedynya tapi ternyata Elson malah mewakili nya.
begitu pula dengan Sean seperti berwajah berharap.
"Dedy Elson mohon" Elson kembali lagi menggunakan triknya yaitu dengan wajah yang menggemaskan.
" tapi.."
" Dedy apa salahnya jika menuruti permintaan Elson hanya tinggal menelpon kan" sela Sean.
Adam mengambil ponselnya di dalam sakunya dan menekan nomor nya Mirah.
berdering
Adam menahan nafasnya dan berdoa semoga Mirah tidak mengangkat teleponnya.
" halo..." ucap Mirah dengan suara lembutnya
dan itu membuat jantung Adam berdetak kencang.
" halo aunty ini Elson" ucap elson dengan semangat yang membara.
" ohhh hai elson bagaimana kabar Elson, kak Sean dan kak sersan apakah kalian baik" tanya Mirah dari seberang telepon.
__ADS_1
" sangat baik aunty" " jawab Elson, Sean dan sersan serempak.
membuat Mirah jadi terkekeh.
apalagi sersan sangat malu karena ia juga ikut menjawab atas pertanyaan Mirah.
" jadi kalian lagi bersama sekarang" tanya mirah lagi.
" Iyah..." lagi lagi mereka menjawab dengan serempak.
dan alhasil Mirah jadi tertawa, Adam yang mendengar tawa Mirah seketika menjadi baper aduh Adam kayak ABG muda saja.
Sean menatap curiga kepada kakaknya kenapa sekarang ia tiba tiba baik seperti ini padahal dulu ia pernah mengatakan hal hal yang tidak baik kepada Mirah.
" Elson rindu aunty" ucap Elson dengan manja.
lalu Mirah mengalihkan telepon nya menjadi Vidio call dan tampaklah wajah mirah yang masih memakai bukena berwarna hitam dan Mirah terkejut ternyata Adam juga ada.
" aunty juga kangen sama kalian"
" yah aunty makanya Elson suruh Dedy menelpon aunty" membuat wajah Adam memerah untung saja anak anaknya tidak memperhatikannya tapi fokus ke handphone.
" Uluh...uluh.. kesayang aunty" gemas Mirah
" Tante Sean juga rindu loh apa aku termasuk kesayangan" ucap Sean dengan dengan cemberut sangat menggemaskan.
" yah sayang,Sean, sersan dan Elson adalah kesayangan Tante" ucap Mirah dengan tersenyum manis lagi lagi Adam meleleh melihat senyumannya Mirah.
Mirah sangat cantik..
Adam meletakkan ponselnya di meja jadi mereka semua terlihat karena sersan dan Adam duduk di kursi sedangkan Sean dan Elson di bawah.
tapi tidak dengan Adam yang sedikit mengerucut kan bibir nya karena dirinya tidak ada di sebutkan sangat menyebalkan.
__ADS_1
Mirah memutuskan telepon nya karena malam semakin larut dan ia pun menyuruh ketiga putra Damendra itu untuk tidur karena besok akan sekolah dan dengan patuhnya mereka menurti ucapan Mirah.
sungguh pengaruh Mirah tidak main main.