
Leonardo berdiri dengan senyuman hangat, tangannya sesekali menyentuh baju-baju bayi di depan matanya.
"Ini belum saatnya untuk membeli perlengkapan bayi," ucap Bella dengan senyuman di wajahnya, tangannya yang putih senantiasa melingkar di tangan kekar milik Leonardo.
"Iya aku tahu, setelah bayi ini sudah besar. Aku akan membelikan perlengkapan bayi yang paling bagus untuk anak ku," jawab Leonardo tangan yang menarik pelan tubuh Bella dan membawanya keluar dari toko perlengkapan bayi.
"Tapi Leo, bagaimana nantinya?" tanya Bella yang langsung terdiam dengan wajah yang sendu dan bingung.
Leonardo melirik ke arah Bella, ia hanya bisa menghela nafas pelan dan memegang pinggang wanita itu. Lalu Leonardo kembali mengajak Bella untuk berjalan ke sebuah restoran yang berada di dalam mall.
"Sebaiknya kita makan dulu, aku tidak ingin bayi ku kelaparan." Ucap Leonardo dengan nada menghibur Bella.
Bella dengan senyuman hangat dan bahagia, langsung memesan makanan yang ia suka. "Bella, untuk hal ini. Kau tidak perlu memikirkan apapun, cukup aku yang akan mengurusnya karena aku tidak ingin jika kau malah menjadi stress dan akan berdampak pada kesehatan anak kita." Ucap Leonardo dengan tangan yang mengelus pipi Bella.
"Iya, aku tahu. Tapi-"
Sebelum menyelesaikan perkataannya, jari telunjuk Leonardo sudah menempel di bibir Bella. "Sut... Aku tidak ingin kau membahas hal itu lagi, karena cepat atau lambat. Kau akan menjadi istri ku dan anak yang kau kandung, akan menjadi anak ku secara sah." Jawab Leonardo.
"Tapi kenapa kau sangat percaya diri?" tanya Bella.
"Aku percaya diri seperti ini karena aku mencintaimu."
Wajah Bella seketika merah padam, kata-kata manis yang di ucapkan oleh Leonardo membuat wanita itu salah tingkah dan malu.
"Kau juga mencintaiku kan?" tanya Leonardo dengan mata yang menatap langsung ke arah Bella, sebuah senyuman jahil tersirat di wajah pria itu.
__ADS_1
"Iya." Jawab Bella pelan seraya menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Aku sangat senang mendengarnya, dan aku berjanji. Aku akan menikahi, setelah aku membereskan pria tua itu." Ucap Leonardo dengan bibir yang mencium punggung tangan Bella.
Hingga seorang pelayan datang membawakan makanan yang di pesan oleh Bella.
"Makan secara perlahan, jangan buru-buru. Aku tidak mau jika kau tersedak," ucap Leonardo.
Bella tersenyum tipis, ia langsung memakan makanan yang baru saja dia pesan. Tak beberapa lama handphone milik Bella bergetar, wanita itu langsung melihat layar ponselnya.
Matanya seketika langsung membulat sempurna saat melihat Doni tengah meminta video call dengannya.
"Bagaimana ini?" tanya Bella dengan bingung dan perasaan yang panik.
"Tenangkan dirimu, sayang. Jangan angkat panggilan dari pria tua itu, biarkan saja." Ucap Leonardo dengan nada tegas.
"Dia tidak akan marah, jadi sekarang kau simpan handphone ku dan nikmati makan siang ini. Aku tidak ingin membuat mu sakit, jadi makan yang banyak." Pinta Leonardo dengan nada lembut.
Tangan Bella mulai menyimpan handphonenya, getaran demi getaran terus terasa tapi wanita itu memilih untuk mengabaikan panggilan dari suaminya dan menikmati makan siang bersama dengan anak tirinya.
"Tapi Leonardo, apakah kita bisa menikah?" tanya Bella dengan mata penuh harap dan perasaan takut.
"Tentu saja bisa, semua orang pasti bisa menikah. Lagi pula kita tidak sedarah," jawab Leonardo dengan suara lembut tapi penuh penegasan.
Bella kembali tersenyum, matanya melihat pria di depannya. Pria yang tampan dengan rahang yang tegas, hidung mancung dan kulit yang putih serta otot-otot tangan yang menonjol.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang, Leonardo mengajak Bella untuk berbelanja beberapa pakaian dan kebutuhan wanita itu sehari-hari.
Tapi Bella memilih untuk menolak karena ia takut jika Doni akan curiga kepadanya, Leonardo kembali membujuk. Ia bahkan berencana untuk membeli sebuah apartemen khusus untuk dirinya dan juga Bella.
Dan di apartemen itu, Bella bisa menyimpan semua barang-barang yang ia beli bersama dengan Leonardo agar Doni tidak curiga sama sekali.
Setelah berbelanja, Leonardo mengajak Bella untuk pergi ke sebuah apartemen yang rencananya akan ia beli.
Leonardo ingin meminta pendapat Bella tentang apartemen yang akan ia beli nanti, karena apartemen ini juga akan menjadi apartemen milik Bella.
Belle menyusuri setiap ruangan yang ada, matanya menatap penuh rasa senang dan takjub melihat dekorasi apartemen yang rapi dan terkesan tidak berlebihan.
"Bagaimana, apa kau menyukainya?" tanya Leonardo dengan tangan yang melingkar di perut wanitanya.
"Iya, aku menyukainya."
"Baguslah, jika kau menyukainya. Aku akan membeli apartemen ini, dan tentunya ini akan menjadi tempat rahasia kita berdua." Bisik Leonardo.
Bella mulai menatap Leonardo, jika saja ia tidak menikah dengan Doni mungkin sekarang dirinya bisa bersama dengan Leonardo.
"Emm..." Bella tersenyum seakan mengejek nasib yang tengah ia alami.
"Ada apa?" tanya Leonardo heran.
"Takdir sedang mempermainkan kita berdua, aku adalah ibu tiri mu dan kau adalah anak tiri ku. Dengan hubungan kita yang-"
__ADS_1
Sebelum Bella menyelesaikan perkataannya, bibir Leonardo sudah menempel di bibir Bella. Pria itu mencium Bella dengan sangat lembut dan dalam, seakan ia tidak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Bella.