
point of view Dina
"hoooam..ngantuk banget.."
aku beranjak turun dari ranjang. Ya , ini adalah hari minggu. aku harus bergegas mandi karena pacarku akan menemuiku hari ini . aku dan Khadafi akan pergi ke kebun teh. yah... sekedar healing dan minum kopi bersama , sambil cerita-cerita gitu lah. Ku hidupkan showerku... "shoorrrr.... blebeg.. blebeg.." showernya mati "anjirrr.. kenapa malah habis airnya. perasaan tadi sudah tak idupin sanyonya.." Aku segera keluar kamar mandi walaupun hanya memakai sehelai handuk yang kulilitkan di badanku. Benar saja, mesin airnya telah dimatikan oleh orang lain. Aku sudah tau siapa itu. Gito. dia adalah tetangga nakalku yang selalu menggangguku. Ku benci dia. sungguh. Dia mengintip dari jendela kamarnya (rumah kami hanya berjarak 2 meter saja) dia melihatku kesal keluar kamar mandi dan menghidupkan mesin pompa air. Dia tertawa.
"hahaha.. ngapain kamu Din.. handukan kayak gitu bikin malu sendiri aja.. aku liat loh. badan kamu seksi sekali din.. pantas saja pacarmu betah. lah awak koyo gitar sepanyol" katanya dalam logat jawa medhok nya.
"apa sih Git.. nggak usah jail-jail lagi sama saya! Kamu kan yang matiin pompa nya? sialan kamu! awas kamu lain kali!"
Ku segera masuk ke kamar mandi lagi. ( tadi aku ke sumur belakang rumah. diluar sumurnya . pas menghadap kamar Gito) langsung aku cepat-cepat mandi dan lari ke kamar. ku ambil baju hem panjangku, dan celana jeans boyfriend-ku. ku pakai lalu aku berhias di depan kaca lemari. ku sapukan bedak marina ku . aku suka produk yang murah dan untung saja cocok dengan kulit sawo matang nan mulus ku ini. ku pakai liptint merah dengan tipis. pakai lotion, lalu aku pakai parfum. ku sisir rambut lembut panjangku,, dan yah.. cantik sekali. aku sangat cantik... Ku lari ke sumur mematikan pompa air. ku lirik ke arah kamar Gito. dia sudah pergi. langsung saja aku ke dapur dan menyantap roti tawar dengan selai nanas pagi ini. tetttttttttt....
Sepertinya motor Khadafi sudah didepan rumah. buru-buru aku menghampirinya.. lalu bonceng di jok belakang.. aku belum sempat minum. seret . tapi tak apa. aku lelah berurusan dengan Gito. makanya ingin cepat-cepat pergi.
"aku gak disuruh masuk dulu yang? aku kaaaa...." belum sempat dia melanjutkan omongannya ku sudah menabok bahunya "ayo berangkat... cepat" Langsung saja Khadafi nge-gas motornya cepat. Mungkin dia takut aku marah dan sebal.
Sepanjang jalan aku terus mengomel menceritakan isengnya Gito tadi. Khadafi hanya senyum.
"mungkin Gito suka sama kamu yang.. tapi kamu hati-hati yah.. dia punya pikiran nakal sepertinya.. aku ga mau kamu nanti di jahatin .. apalagi sampai ngapa-ngapain sama dia! "
Ya.. hanya Khadafi yang boleh ngapa-ngapain sama aku. karena aku adalah pacarnya. Dia overprotektif jika sudah menyinggung tentang Gito.
bresss......
Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Sial. rencana gagal untuk ke kebun teh. Aku dan Khadafi berteduh di teras rumah orang.
"duduk sini yang! " Khadafi mempersilahkan aku duduk di kursi teras rumah orang tempat kami berteduh.
__ADS_1
"Aissh aku lagi menikmati hujan fi.. keliatannya masih lama ya berentinya. haduh. gagal total"
aku menggerutu sambil duduk disamping Khadafi. Dia mengelus bahuku.
"cup-cup kasian sekali gadis ini.. "
Tiba-tiba dia memegang sudut bibirku..
akupun memejamkan mata. mungkin dia akan menciumku . Gelagatnya terlihat.
"apa sih yang merem-merem gitu..hahah.. ini ada selai nanas di bibirmu.." katanya sambil mengusap selai nanas di sudut bibirku.
Sialan! Bodohnya aku terlalu terbawa suasana! Lagian mana mungkin dia akan menciumku di teras rumah orang.
"wahahah maaf fi.. ku kira kamu akan... ah sudahlah.. hujannya tinggal gerimis tuh. bentar lagi reda.. jadi ke kebun teh kan?"
Aku memang memanggil Khadafi tidak dengan panggilan sayang seperti dirinya. aku kikuk dan malu saja memanggilnya begitu. Untung saja dia tidak protes. aku memanggilnya Dafi.
Benar saja, sampai lokasi memang gerimis kecil-kecil. dan kamipun hanya minum teh dan kopi di warkop kecil sambil makan pisang goreng. menikmati hujan.
Kami pulang dengan rasa kecewa.
Sampai rumahku pun,, hujan masih bergulir . Khadafi buru-buru berpamitan.
"Sayang aku pulang dulu, nenek dirumah sendirian. aku takut nenek kaget suara petir.. maaf ya.. lain kali aku mampir deh. janji.. dah!! " katanya sambil memutar dan nge-gas motor maticnya.
Huffffttt.... padahal aku sangat rindu pada Khadafi. sekedar rindu pelukan hangatnya pun ku tak sempat dapat.
__ADS_1
Ku lucuti pakaianku satu per satu. ku pakai hot pants dan kaos rayon batikku.
tok-tok-tok...
Seseorang mengetuk pintu rumahku. "Ya sebentar ."
ku buka pintu dan ku dapati Gito membawa sepiring pisang goreng hangat. terlihat dari asap yang masih mengepul.
"ini dari ibu Din. katanya buat kamu. wong tadi ibu goreng banyak sih. sudah pulang to kamu? " kata Gito
"bilang sama ibumu terimakasih banyak ya. Iya sudah pulang soalnya hujan. takutnya semakin deras Git. Ya sudah saya ke belakang dulu Git..kamu kalo mau pulang boleh. " kataku malas berdebat lagi dengan Gito. biar dia pulang segera, pikirku.
Aku masuk kamar dan saat aku ingin menutup pintu, ternyata Gito membuntutiku.
" Nga.. ngapain Git? sudah kamu pulang saja.." kataku. aku takut Gito membuntutiku. Sampai kamar pula...
"ngga papa Din. aku cuma khawatir kamu kedinginan.." si Gito memelukku dengan kencang. Sialan Gito! ngapain sih!
"Lepaskan saya Gito! atau nggak saya teriak nih!! "
Gito tersenyum meringis.
" Tidak semudah itu Din.... kamu sudah ada dalam genggamanku! " Gito melepaskan pakaian ku dan...
Astaga!! Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berteriak sekuat tenaga tapi aku hanya diam. Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Haruskah? Haruskah aku memberitahu budhe (ibu Gito) tentang tingkah anaknya kepadaku? aku lemas. Dipapahnya tubuhku menuju ranjang dan Gito menyelimuti badanku dengan selimut pink yang masih aku lipat di meja.
Gito lalu pergi. Aku menangis sejadi-jadinya.. aku menyesal mengapa tadi membiarkan Gito masuk. padahal aku sendiri tahu bahwa Gito orang yang jahil. Ku dapati diriku di cermin, seolah aku ini tak berharga lagi, setelah apa yang diperbuat Gito kepadaku.
__ADS_1
Gito.. tunggu pembalasan ku..
Bersambung..