
Hari ini hari minggu. hari dimana aku bisa bersantai dan pergi bersama kekasihku. Khadafi.
drrrttt....
tiba-tiba saja handphone ku bergetar. Khadafi. dia menelepon aku.
"Halo fi.. ada apa? tumben pagi-pagi begini kamu sudah bangun. telfon aku pula . kenapa?"
"maaf yang, aku harus pergi sama nenek ke Klaten. nenek mau jenguk ayah. tahu sendiri kan kalau kemauan nenek tak bisa diganggu gugat?"
"hmm.. yaudah fi. gapapa kok. malah aku bisa malas-malasan nih dirumah hehe. stay safe ya dijalan. hati-hati. love you"
"iya sayang maaf. I love you too"
Khadafi mengakhiri panggilan. Hari ini aku tidak ada agenda pergi dengannya. Dia sangat sayang neneknya. juga ayahnya. yang masuk bui karena ayahku.
Aku duduk di teras depan rumah sambil menyeruput kopi susu goodday yang sudah aku seduh. Ah. nikmatnya kopi ini. begitu manis ,tidak seperti cerita perjalanan hidupku. kadang pahit, kadang manis.
Gito datang membawa satu toples kue kering. kastengel. kesukaanku. bagaimana dia bisa tahu?
"Din? kamu sibuk nggak hari ini? ini ada kue dari ibuku. katanya ini sogokan, kalau kamu mau bantu ibu packing kue, kamu akan dikasih lagi. hehe. sibuk nggak cah ayu ?"
sebenarnya aku gabut dirumah. tidak kencan dengan Khadafi. apa aku iyakan ajakan budhe ya?
"saya nggak kemana-mana hari ini Git. sekarang atau nanti siang nih packing nya? saya kayaknya bisa bantu deh. ga enak udah dikasih se toples begini hahaha, nambah lagi kalau bisa. "
"sekarang Din. ayo ikut saya. ibu sudah menunggu di dapur. lewat sini ya"
Gito menggandengku menuju pintu dapur. ya sangat cepat karena rumah kami sungguh dekat.
"budhe Sri... lagi buat kue yah budhe..." kataku sok akrab.
__ADS_1
"eh.. cah ayu.. sini nak. ini udah ada 3 nampan masih fresh dari oven. nampan yang ijo udah dingin tuh. bisa mulai kamu packing. Yaris... kamu ajarin Dina yah.. ibu mau bikin adonan lagi"
ehh.. ternyata budhe Sri memanggil Gito dengan nama Yaris. sungguh 360 derajat dengan nama Gito. haha.
"eh Dina.. susun kastengel nya melingkar, jangan lurus-lurus begitu.. nanti jelek penampilan nya.. gini loh"
Tiba-tiba saja Gito merangkul pinggangku dan mengajari cara menyusun kue kastengel ini.
"eehh iya Git. maaf. maklum ajaran baru.. harus di training dulu sama expert nya nih hehe."
Budhe Sri datang lagi membawa nampan berisi kue kering yang masih panas.
"seru sekali nampaknya ya kalian ini .. Yaris kenapa kamu memperkenalkan namamu Gito? bukankah itu ndeso sekali? masak iya jaman sekarang ada nama pemuda Gito." kata budhe Sri sembari meletakkan nampan di meja
"ah iya budhe. memang Gito kenalan sama saya ya bilangnya namanya Gito . tapi gapapa budhe. lucu namanya. unik ." balasku sambil tersenyum pada budhe.
" ya sudah, tolong dilanjutkan ya packing nya... yang rapi yah.. nanti budhe kasih bonus " kata budhe sambil berkedip sebelah mata.
pukul 14.00 siang
Aku lelah hari ini. tapi bahagia. rasa-rasanya hari ini aku produktif. tidak hanya pergi main saja sama Khadafi.
"Dina, ini minumlah . maaf ya membuatmu lelah dan repot hari ini .. "
Gito menyodorkan minuman dingin kepadaku
"tak apa Git. aku senang hari ini ada kegiatan positif yang bikin aku gak gabut lagi. aku panggil diriku aku gapapa ya Git? kan kita sudah saling kenal dan lumayan akrab."
"walah.. biasa aja to Din.. kan memang tujuannya biar kita saling akrab. santai saja Din.."
Ku lihat ketulusan di mata Gito yang membuatku luluh kepadanya.
__ADS_1
"omong-omong, Khadafi tumben nggak menemuimu.. kemana dia? "
Gito nampak penasaran dimana Khadafi berada.
"Dafi ke Klaten diajak nenek menjenguk ayahnya.. mungkin neneknya rindu.."
"oh.. menjenguk pak Gunawan? lihatlah Din, betapa manutnya pacarmu itu terhadap neneknya.. apa kamu yakin? "
" Git, aku pacaran sama Dafi jauh sebelum ayahnya masuk bui. dan sampai sekarangpun, rasa itu masih sama. Eh iya Gito sudah punya pacar? kenalin ke aku dong.. siapa tahu bisa double-date kita nanti hehe "
Aku mengalihkan pembicaraan. aku tak mau terus kepikiran hubunganku dengan Khadafi.
"itu... aku belum ada Din, ku harap yang jadi pacarku ya kamu.. tapi mana bisa. aku tidak mau jadi selingkuhan mu Din.. dimana harga diri ku? Jadi, setidaknya aku bisa menunggumu kosong lagi, sambil berteman denganmu. Boleh kan?"
Gito menatapku dalam-dalam.
"Gito.. sebenarnya hubunganku dengan Khadafi sangatlah sulit. dia memiliki foto tel*nj*ng ku Git. entah apa yang aku pikirkan waktu aku mau saja berfoto seperti itu untuknya. Jadi, tentu saja aku sulit lepas darinya. Lagipula aku mencintainya.."
Gito mengernyitkan dahi. Ia mengelus-elus dagunya.
"begitu rupanya.. sebenernya itu sudah termasuk pengancaman Din, bisa saja di kasuskan kalau kamu mau. aku bisa membantumu. Ini bukan karena aku menyukaimu Din, ini hanya karena tugasku, melindungi orang-orang yang lemah hukum sepertimu. "
"Jadi ... kamu menganggap aku lemah? "
Aku, sebenarnya mau saja dibantu Gito. tapi kenapa harus Gito? bukan orang lain? bukankah aku sudah menjelekkan Gito pada Khadafi waktu itu? sama saja aku menjilat ludahku sendiri.
"Bu..bukan begitu Din.. ini hanya..."
Belum selesai Gito berkata-kata, aku berlari masuk rumah lalu menangis. Ya Tuhan... kenapa jadi sesulit ini? Aku ingin lepas dari Khadafi, tapi di satu sisi aku mencintainya. Tapi mencintai Khadafi juga membuatku sakit, karena neneknya-lah yang membuat orangtuaku meninggal. aku tahu itu. walaupun kasusnya sudah ditutup , karena polisi bilang bahwa tak ada bukti yang cukup untuk mengarahkan siapa dalang dibalik kecelakaan yang menewaskan orangtuaku.
Apa aku terima saja tawaran Gito?
__ADS_1
bersambung..