
"Dina!!!" Pekikan suara miss Asna membuat telingaku sakit.
"ada apa miss? miss Asna memanggil saya? " kataku pura-pura tak mendengarnya.
"kamu ini! kamu kan sudah saya bilang jangan deket-deket lagi sama Rohit! kenapa kamu masih bekerja disini?! harusnya kamu sadar! keluarlah dan cari kerja di tempat lain! "
deg.. jantungku seketika berhenti sejenak.
"A...apa miss? memangnya apa salah saya? semua pelanggan tidak ada yang protes kinerja saya.."
"kamu ini!!! "
tangan miss Asna hampir mengenai pipiku. Dia nyaris menamparku.
"apa-apaan kamu Na! Dina itu karyawan baik disini! kamu itu siapa? berani-beraninya mau memecat Dina!"
Bos Rohit memegang kuat tangan miss Asna yang hampir menamparku.
"Aku ini calon tunangan kamu Rohit?! bulan depan kita akan tunangan kan?! aku sudah bilang pada keluarga besarku! "
"Apa? siapa pula yang mau bertunangan dengan wanita tamak sepertimu?! kamu ini pede sekali. "
miss Asna pergi dengan menghentakkan kakinya. persis seperti anak kecil yang kecewa tidak dibelikan permen.
"maaf Bos. apakah saya harus resign dari toko ini? saya tidak mau merusak hubungan bos dengan pacar bos. "
Bos Rohit menundukkan pandangan, lalu mengarahkan mata tajam nan coklatnya itu persis ke wajahku.
"dengarkan saya Dina. Asna itu bukan pacarku. apalagi nanti akan tunangan maupun menikah. sejujurnya saya sangat menyukaimu Din. terserah kau mau percaya atau tidak, saya tak akan pernah menikah dengannya. Jadi kamu tak usah khawatir. Asna hanya mengejar-ngejar saya saja. Halo Din? "
seketika bos Rohit membuyarkan lamunanku. mana mungkin bos Rohit menyukaiku yang dekil ini? menurutku tak pantas saja seorang bos menyukai karyawannya. pasti akan timbul kecemburuan diantara karyawan yang lain.
"ma..maaf bos.. tapi saya sudah punya pa..." Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, bos Rohit mencium bibirku. 3 detik mungkin
Seketika aku mendorong tubuh bos Rohit .
"maaf Din..saya tidak bermaksud begini. saya hanya gemas saja sama kamu. putuskanlah pacarmu! ayo kencan dengan saya!"
Bos Rohit lalu pergi meninggalkanku dengan ancaman yang membuatku bingung. Ya Tuhan... bos Rohit yang rupawan dan menyebalkan baru saja menciumku.
pukul 16.00 sore
__ADS_1
Waktunya pulang kerja telah tiba. hari ini aku dijemput Khadafi. Maka, Mila pun pulang dahulu.
"duluan ya Din.. semoga harimu menyenangkan!"
Mila mendahuluiku dan tersenyum sumringah.
"siaapppp Mil! thanks ya tumpangannya tadi pagi! "
jari tangan Mila membentuk oke sambil senyum lalu nge-gas motornya untuk pulang.
"sayang! " Khadafi sudah tiba dan memanggilku gemas.
"yuk! "
Baru saja aku membonceng Khadafi, mobil bos Rohit mendahului dan mengklakson.
tetetttt.....
Dibuka kaca mobilnya lalu tersenyum padaku, dan pergi.
Sungguh menyebalkan sekali manusia itu. sudah membuat jantungku berdebar dan mau copot.
" itu bossmu yang? kenapa begitu sih? centil banget sama kamu?!" celetuk Khadafi mengagetkanku.
Sebelum pulang, kami mampir dahulu ke tempat makan, tepatnya cafe.
"mau makan apa yang? aku mau chicken chili spread sama lemon tea. kamu apa?" Khadafi menawarkan mau pesan apa, sambil menyodorkan buku menu.
"emmm..aku mau spaghetti bolognese sama americano saja fi. yang dingin.. mbak? " aku mengangkat tangan memanggil waitress yang akan mencatatkan pesanan kami.
"chicken chili spread satu, spaghetti bolognese satu, lemon tea satu, sama americano dingin satu ya mbak. makasih. " kataku menambahkan.
Sambil menunggu pesanan datang, Khadafi asyik bermain gawainya. Ia sedang main game. fokus. hampir tak melirik ke arahku.
"fi.. gimana ayahmu? sehat kan? katanya kemarin kamu menjenguk beliau. " aku berusaha bertanya dengan lembut agar tak melukai perasaannya.
"sehat sih.. ya cuma begitu. ayah selalu ingin aku segera menikah Din. tapi apa ayah tak kecewa bila tahu bahwa pacarku itu kamu? aku masih menimbang-nimbangnya. "
Seketika hatiku sakit...ingin ku meremas jika bisa. untuk menahan rasanya. ingin menangis.. pun tak kuasa aku mengeluarkan air mata.
"maaf ya fi.. seharusnya kita tak memaksakan hubungan ini. bagaimana hubunganmu dengan keluargamu nanti? itu yang penting.."
__ADS_1
Aku berusaha tetap tegar dan teguh tak tergoyahkan saat berusaha mengucapkan kata-kata itu.
"sayang.. itu kita pikir nanti yah? kita jalani saja dulu. nanti pasti ada jalannya kok. kamu ga usah khawatir.. janji deh"
Khadafi memegang tanganku sambil tersenyum. saat itu pun makanan sudah tiba.
"Yuk makan. dah dateng nih.. makasih ya mbak.. "
Khadafi sumringah melihat makanannya tiba.
Memang Khadafi selalu membuatku luluh. sebab itulah aku sangat mencintainya. meskipun keluarganya membenciku.
Sepulang dari cafe, aku tak mempersilahkan Khadafi masuk. aku sedang malas dengannya hari ini. Entah kenapa, sakit memikirkan kata-katanya tadi.
"Maaf ya fi.. mampirnya lain kali saja. aku mau istirahat.. capek.. "
"Oke sayang. aku ngerti. dah..."
Khadafi pulang dengan kecepatan motor santai.
Aku segera mandi dan rebahan di kamar. Pikiranku melayang. apa yang terjadi hari ini? benar-benar aku bingung, pusing, penat. Di satu sisi Pak Rohit adalah bosku, yang baik tapi aku benci dengan pacarnya. Di satu sisi lain aku punya Khadafi, dan tentu saja Gito. my lovely neighbour.
Apakah aku terlalu serakah mencintai ketiga lelaki itu? Apakah aku harus memilih? Ataukah aku harus berjuang atas apa yang telah terjadi terhadap orangtuaku? Benar-benar bingung aku menimbang dan memikirkan hal ini.
Apa aku telfon Gito saja ya?
tut....
aku menelpon Gito
"halo Gito.. lagi sibuk nggak?"
"Oh haloo Dina. ah kebetulan sedikit sibuk nih. tapi untukmu, aku akan meluangkan waktu. ada apa nih? tumben malem-malem telpon"
"Wah . ya sudah Git besok saja kalau sibuk. maaf kalo mengganggu ya..."
"Ehh. jangan matikan dulu dong. ini aku hampir selesai. dah. ini dah selesai. mau cerita apa? atau konsultasi hukum? hehe aku siap memberikan solusi jika ada .."
Gito selalu bisa menghiburku dikala gundah.
"Emmm... begini. apa bisa besok kita urus tentang dokumen kecelakaan ayah ibuku Git? Aku mau tau kebenarannya...atau paling tidak aku tahu dalang sebenarnya siapa.."
__ADS_1
bersambung..