
Pagi yang cerah berubah menjadi suram. Di salah satu ruang rapat suasana menjadi mencekam. Bagaimana tidak, bos besar sedang berubah menjadi harimau Sumatra.
Salah sedikit saja bisa - bisa kena gamprat. Wajah para peserta rapat sudah tegang. Rasanya bernafas saja takut bila hembusannya terdengar akan berakibat kemarahan.
Mereka saat ini butuh berendam di air es batu untuk mendinginkan seluruh tubuh yang terbakar.
Zane dengan sorot mata tajamnya. Membuat bulu kuduk meremang.
" Kenapa ini bisa terjadi ?."
Hening tak ada yang berani menjawab perkataan Zane.
" Saya sudah mengeluarkan dana besar untuk proyek ini, jangan main-main kalian."
Suara nya meninggi, menatap satu persatu wajah para peserta rapat. Sangat mengintimidasi mereka.
" Beraninya kalian korupsi di perusahaan saya !!." Teriakan Zane menggema ke seluruh ruangan.
" Apa kalian sudah bosan bekerja disini ?."
Bruk
Zane memukul meja dengan kuat, membuat terlonjak kaget seketika.
" Jawab!!!!."
Hanya satu orang yang tidak terkejut dengan kemarahan Zane yaitu, siapa lagi kalau bukan Leon. Dia sudah terbiasa dengan teriakan penuh amarah dari Zane. Bisa di bilang ia sudah kebal dengan amukan Zane.
" Lihat kerja kalian semuanya tidak becus."
Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi mereka, padahal ruangan ini di pasang AC, tetap saja mereka berkeringat dingin.
" Pak Riko anda penanggung jawab proyek ini betul ?."
Seketika namanya di sebut membuat pak Riko menjadi tegang, ia sudah gusar.
" I-iya, pak."
Ia sudah siap dengan konsekuensi atas kelalaian nya.
" Anda saya pecat."
Pak Riko menatap Zane sekilas, ia tidak percaya karirnya berakhir begitu saja.
" Ta- tapi , pak sa- saya-."
Bruk
Zane melempar berkas - berkas ke depan meja rapat . Membuat kertas itu berhamburan.
" Anda masih mengelak dengan bukti yang saya bawa ?."
Jika tatapan bisa membunuh orang seketika pasti saat ini Pak Riko sudah mati di tempat.
" Proyek pembangunan Villa gagal diakibatkan fondasi yang tidak kuat. "
Pak Riko membatu dia sudah tidak bisa mengelak dengan bukti di hadapannya.
" Karena bahan yang tidak berkualitas dan pengurangan bahan pembangunan."
Sudah kepalang basah, akhirnya dia ketahuan juga.
" Saya melihat bahwa beberapa bulan ini kartu ATM anda bertambah dengan nominal yang cukup fantastis."
Zane sudah menyelidiki masalah ini. Ternyata kecurigaan nya benar, felling nya sebagai pembisnis memang selalu tepat.
" Bisa anda jelaskan kenapa hal itu bisa terjadi ?"
Tentu saja semuanya benar tidak perlu mengelak.
" Rapat selesai."
Zane mengakhiri begitu saja, Leon dengan setia mengekori Zane menuju ruangan nya.
Bagaimana dengan nasib Pak Riko. Tentu saja dia hanya diam, karena membela diri juga percuma itu malah akan tambah mempersulitnya.
Bersyukur saja dia tidak sampai di bawa ke kantor polisi, Uang proyek yang ia gelapkan dananya tidak lah sedikit bisa sekitar 1,5 Miliar. Bukan jumlah sedikit.
Pantas saja Zane marah besar. Zane tidak mungkin melepaskan Pak Riko dengan mudah setelah mengambil uangnya.
" Leon blacklist nama Riko Raditama. Beserta keluarga nya, buat seluruh keluarganya menderita, bahkan untuk bernafas sekalipun."
" Akan saya lakukan."
Leon akan berbicara formal jika sedang bekerja karena ia harus profesional memisahkan urusan pekerjaan dan pribadi.
Zane menatap ibu kota Jakarta dari ruangan kerjanya yang berada di lantai atas gedung perusahaan nya.
Zane menghela nafas singkat. Kepalanya penat.
Saat mendengar proyek pembangunan Villa di pesisir pantainya runtuh. Kekesalannya langsung memuncak.
Tidak butuh waktu lama ia mencurigai salah satu pegawainya yang memang sudah ia curigai sebelumnya.
Zane memijit pelipisnya untuk menghilangkan pening di kepalanya.
Zane menyandarkan tubuhnya dan merilekskan kepalanya di kursi kerjanya.
__ADS_1
Matanya terpejam tengah memikirkan proyek pembangunan ulang villa yang akan menambah biaya lagi.
Tok tok
Leon membuka pintu begitu saja sebelum di persilahkan.
Zane kembali fokus pada berkas di mejanya megabaikan Leon.
" Jadwal pertemuan dengan salah satu pemilik saham jam 14.00 siang. "
" Di Resto Blue sky."
Zane masih asik membuka berkas. Tidak tahukah saat ini Leon tengah kesal karena di ambaikan.
" Jangan buat masalah kali ini."
Leon memperingatkan.
" Gue bukan pembuat onar." Timpal Zane.
" Tolong kendalikan emosi anda yang selalu Melebihi kapasitas. "
Leon mengingatkan. Zane memincingkan matanya kearah Leon.
Memangnya ia akan bersikap brutal di depan salah satu pemilik saham.
" Dan satu lagi, jangan lupa smile."
Leon menunjukan senyum lima jarinya pada Zane.
" Jangan ngatur hidup gue."
" Saya ingin nya seperti itu, tapi ini perintah langsung dari yang mulia ibunda ratu."
" Ka-"
" Saya permisi."
Blam
Pintu tertutup dengan kencang.
" Sialan* gue belum selesai ngomong."
Seperti nya ia harus membeli stok kesabaran karena setiap hari ada saja yang membuatnya darah tinggi.
Tepat siang hari Zane dan Leon pergi menuju tempat pertemuan. Leon menyetir dengan hati - hati.
Jalanan kota yang selalu ramai oleh kendaraan bermotor atau mobil. Belum lagi uap polusi yang terkadang mengganggu, sudah merupakan hal biasa di kota ini.
Brak
Zane yang tengah melamun seketika tubuhnya terlonjak ke depan. Dahinya terbentur jok depan.
Dasar Leon sialan*
Mobil mereka di tabrak oleh sebuah mobil merah.
Ada saja kesialan setiap harinya. Pikir Leon
" Lo bisa nyetir nggak sih ?." Zane murka.
" Mobil kita yang di tabrak pak bos."
Leon keluar dari mobil. Bagian depan mobilnya rusak parah.
Pengemudi sialan jalan lurus aja masih nabrak. Maki Leon, Zane bisa ngamuk lagi liat mobil kesayangannya penyok.
******
Begitu bel pulang sekolah berbunyi Lynn, Ariska dan Kai bergegas pergi ke area parkiran. Mereka sudah tidak sabar sedari jam pelajaran pertama, ingin segera pergi bersenang - senang di mal.
Kai yang menyetir mobil baru Lynn. Mobil berwarna merah melaju membelah jalanan kota yang tidak terlalu ramai.
Hari ini mereka di pulangkan lebih awal dari biasanya dikarenakan para guru akan mengadakan rapat megenai pensi sekolah.
Lynn duduk di sebelah Kai yang mengemudi sedangkan Ariska duduk di belakang.
Tentu dengan perdebatan panjang dan di bumbui sedikit cekcok antara Ariska dan Kai.
" Kita langsung ke Mal ?, Apa makan dulu ?." Tanya Kai
" Makan dulu aja gue laper."
" Makan Mulu pantes aja badan Lo mengembang. " Sindir Kai pada Ariska.
Tuk
Ariska menjitak kepala Kai .
" Sama, Lynn juga laper Kai." Lynn dengan wajah memelasnya membuat hati Kai luluh di buatnya.
" Oke kita ke resto dulu."
" Giliran Lynn yang minta, Lo manut ae."
Kai dasar bucin banget.
__ADS_1
" Ke Blue Sky aja. "
Lynn mengusulkan.
" Lo yang traktir ." Kompak Ariska dan Kai.
Menyadari itu Kai dengan sinis melirik Ariska.
" Boleh."
Ariska dan Kai bersorak senang, bisa makan di tempat mewah dan gratis pula siapa yang bisa nolak jiwa - jiwa gratisan yang mereka berdua miliki.
Lynn meraih ponselnya yang berdering.
" Sayang kamu dimana ?." Suara sang Daddy yang menelpon nya.
" Aku mau jalan - jalan ke mal sama temen."
" Kamu udah makan sayang ?."
Daddy Farel mulai khawatir lagi.
" Ini aku mau makan dulu."
" Kalau mau pergi bilang dong, kan Daddy nanti khawatir. Kamu pulang lebih awal juga harus kasih info ke Daddy."
Daddy Farel saat mendengar informasi bahwa sekolah putrinya pulang lebih awal membuat ia menunggu telpon dari putrinya.
" Baik Daddy ."
" Kabarin Daddy sejam sekali oke."
" Iya iya Daddy bawel."
Lynn cemberut. Ariska dan Kai sudah tahu pasti penyebabnya adalah Daddy Farel. Karena kejadian seperti ini sudah seringkali terjadi.
" Aku pengen nikah aja."
Sontak Kai dan Ariska kaget mendengar Lynn berbicara begitu.
Kai bahkan tidak fokus menyetir dan mobilnya oleng ke arah kiri.
Brak
Mobilnya menabrak mobil hitam.
" Aduh Lo bisa nyetir gk sihh." Ariska menampol kepala Kai.
" Aduh kepala Lynn sakit Kai."
Lynn mengusap jidatnya yang terbentur.
" Sial " Kai melihat kini ia menabrak sebuah mobil.
Kai terlihat tegang begitu juga dengan Ariska dan Lynn melihat sang pengemudi keluar dari mobilnya untuk melihat kerusakan yang terjadi.
Mereka bertiga bergegas keluar dari mobil.
" Maafkan saya pak." Ucap Kai.
Sang pengemudi menatap mereka bertiga seperti menilai. Jelas dari penampilan mereka masih memakai seragam sekolah itu bisa jadi nilai minus nya.
Zane ikut keluar dari mobil dengan kesal waktu berharganya terganggu. Dilihatnya tiga orang anak SMA.
' Lynn takut, ini gara - gara Kai. Kalau nanti Lynn gk boleh bawa mobil lagi sama Daddy gimana ?.'
" Leon, laporkan mereka ke polisi."
" Tolong maafkan saya pak, jangan lapor polisi, saya janji bakal ganti rugi kerusakan nya." Kai berusaha bernegosiasi.
" Om tolong maafin Kai, dia emang bego masa gk bisa nyetir mobil siihh padahal udah geude. Kita cara damai aja ya Om. Mobilnya nanti Lynn ganti deh pake uang Kai."
Leon mendengar Zane di panggil 'Om ' ia tersenyum menahan tawa. Apakah Zane terlihat tua?
Zane kesal dirinya di panggil dengan sebutan Om.
" Oke sekarang tulis nama kalian sama nomor telpon nya juga. " Leon menyerahkan handphone nya pada Kai
" Gk bisa " Zane dengan tegas berseru.
" Lapor polisi aja biar kapok nih anak."
" Zane, waktu kita gk banyak, sebentar lagi rapat mau mulai. Sudah ayo."
Leon melihat nomor yang sudah di tuliskan. Kemudian mengajak Zane pergi dari sana.
" Kalian hati - hati ya nyetir nya." Ucap Leon sebelum pergi.
Di dalam mobil Zane masih meruntuki sikap 3 anak SMA itu.
Sedangkan Kai kini lega karena mereka tidak jadi di laporkan ke polisi.
Setelah kepergian mobil itu Ariska langsung memukuli Kai dengan celotehan nya menyalahkan akan keteledoran Kai.
Lynn juga mengikuti Ariska memarahi Kai. Sungguh kali ini Kai sedang sial, dimarahin dan dipukuli kedua sahabatnya lalu siap - siap saja dia akan mengganti rugi kerusakan mobil yang ia tabrak dan juga mobil Lynn.
Apa yang akan Lynn katakan pada Daddy nya saat melihat mobilnya lecet.
__ADS_1