
Hiashi dan Hikari bergegas memasuki ruang inap Hinata. Mereka melihat Hinata menyusui bayinya.
"Oh, syukurlah" kata Hikari. Hiashi menoleh pada Madara yang duduk di sofa yang disediakan rumah sakit.
"Hinata? " Hikari memeluk Hinata. "Madara-kun" panggil Hinata. Madara menghampirinya kemudian menggendong bayi kecil mereka yang prematur dan butuh penanganan khusus.
Madara berlalu ke ruang inkubator. "Namanya Uchiha Miura" kata Hinata.
Sunyi
"Kenapa? " tanya Hinata pelan.
"Apanya sayang? " tanya Hikari.
"Kenapa kalian menyakiti Madara -kun? " tanya Hinata yang membuat Hiashi dan Hikari terkejut dengan pertanyaan tersebut.
"Aku tahu, Madara -kun memang salah menikahiku untuk balas dendam, tapi akhirnya dia bisa membuktikan kalau dia mencintai ku " kata Hinata.
"Apa dia mengatakannya padamu? " tanya Hiashi. "Tidak, orang lain yang mengatakan itu, aku tahu ayah mencintai ibu, tapi ayah tidak perlu mengeroyok Madara-kun kan? " kata Hinata.
"Hinata!! Dia berusaha merebut ibumu dariku!! " bentak Hiashi membuat Hikari terkesiap. Hinata sama sekali tidak terkejut karena tahu, ayahnya akan mengatakan itu.
Seorang dokter lewat, "maaf Tn. Ini rumah sakit, jangan berbicara terlalu keras"
"Diam kau!! " bentak Hiashi. Dokter itu terkesiap kemudian berlalu.
"Terimakasih ayah telah mencintai ibuku, tapi kuharap ayah tidak melarang Madara-kun mencintaiku" kata Hinata.
"Kau dipihak siapa? " tanya Hiashi.
"Tidak ada blok yang ku dukung, ini untuk diriku sendiri" jawab Hinata.
"Kau mulai egois" kata Hiashi. "Kau pun sama, untuk kali ini dukung putri kita" kata Hikari. Hiashi menghela napas berat.
"Baiklah, Hinata, aku akan mendukungmu tapi jika Madara menyakitimu, aku akan bertindak" kata Hiashi.
"Aku sayang ayah" Hinata memeluk Hiashi. Hiashi membalas pelukan putrinya. Hikari memeluk mereka berdua.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Madara memperhatikan dari luar. "Hinata, kau benar-benar sangat baik, kau memaafkan masa lalu kami dengan mudahnya, aku malu kepada diriku sendiri karena aku menyimpan dendam selama 20 tahun.. Hinata.. Kau bukti kebaikan seorang gadis, makhluk yang aku benci sebelumnya "
♡♥♡♥♡♥♡
Hari terus berlalu, Ini tahun ketiga setelah lahirnya putra Uchiha Madara.
Miura sedang bermain dengan Hinata didepan mansion. Madara keluar dari mansion dia tersenyum melihat tingkah istri dan anaknya.
"Hinata " panggil Madara. Hinata menoleh. "Papa" Miura berlari memeluk ayahnya dengan erat.
"Mau kemana Madara-kun? " tanya Hinata saat melihat Madara sudah rapi dengan jasnya.
"Aku akan ke kantor sore ini juga" kata Madara. Mobil milik Hiashi memasuki pelataran mansion. Madara, Hinata dan Miura menoleh.
"Hai sayang" kata Hikari. "Nenek!! " Miura berlari memeluk Hikari.
"Madara-kun aku mau ikut " kata Hinata. "Tidak, sebentar lagi akan menjelang malam, kau di mansion saja, jaga Miura " kata Madara.
"Tapi aku merasa ada sesuatu yang buruk" kata Hinata. "Tenanglah, aku tidak kemana-mana hanya ke kantor" hibur Madara sambil mengusap rambut Hinata.
Hinata memeluk Madara. "Jangan terlalu lama" kata Hinata. "Iya sayang " jawab Madara kemudian memasuki mobilnya dan menjauh dari mansion Uchiha.
"Kalau begitu kejar dia" kata Hiashi. "Tapi, ayah? " Hinata menatap Hiashi. "Aku bisa melihat cintanya untukmu, aku menyadari itu. Pergilah kejar dia.. Jika dia bisa melindungimu, kau juga bisa melindunginya" kata Hiashi.
"Aku sayang ayah " kata Hinata sambil memeluk Hiashi. "Aku juga sangat menyayangimu" Hiashi memeluk putri semata wayangnya itu.
"Ini" Hiashi memberikan kunci mobilnya. "Baiklah ayah, aku akan pergi, tolong jaga Miura ayah" kata Hinata kemudian memasuki mobilnya dan menjauh dari pelataran mansion
♡♥♡♥♡♥♡
Madara sampai di tempat tujuan yang bukanlah kantornya, dia keluar dari mobil dan tidak menyadari ada yang membidiknya.
Dor
Dor
Dor
Madara tertekuk di jalanan. Hinata sampai. Dia turun dari mobil dan dia terkejut melihat itu.
__ADS_1
"Madara-kun!! " Hinata berlari memeluk Madara tak peduli darah Madara yang membasahi dress putihnya. Hinata mengarahkan pistolnya ke arah tembakan dan menembak dengan membabi buta.
Terdengar suara gedubrak. Sepertinya Hinata berhasil membidiknya.
"Tidak.. Tidak.. Jangan.. Kau tidak boleh mati.. " tangis Hinata. Madara merangkul Hinata dengan tangan kirinya.
"Ba.. Bagaimana kau bisa sampai kesini? " tanya Madara.
"A.. Aku mengikuti perasaanku, jangan katakan apa-apa, aku tidak bisa melihatmu seperti ini " tangis Hinata.
"Tidak apa-apa Hinata... "
"Hinata, terimakasih dan.. Maafkan aku.. Terimakasih karena kau telah menjadi istri yang sempurna untukku meski aku selalu menyakitimu dan membuatmu terluka.. Lalu.. Maafkan aku.. Aku tidak pernah menjadi suami yang baik untukmu dan selalu membayangimu dengan dendamku pada orang tua mu"
"Tidak! Tidak! Jangan katakan itu, aku memaafkanmu.. Ku mohon!! " teriak Hinata histeris.
"Aku ti.. tidak punya... banyak waktu Hinata, me.. mendekatlah.. Sayang " bisik Madara.
Hinata mendekat. Madara mencapai wajah Hinata dan mencium bibirnya dengan penuh perasaan. Perasaan yang selama ini tersembunyi dibalik dendamnya.
"I.. I.. Love.. You.. Forever.. " desah Madara. Berakhirnya kata itu, Madara terkulai.
Air mata Hinata makin deras membasahi pipinya. Ambulas datang. "Tolong Madara -kun ku" tangis Hinata kemudian berlalu.
Hinata bergegas menghampiri orang yang telah menembaki Madaranya.
"Siapa yang menyuruhmu? " tanya Hinata sambil menodongkan pistolnya.
"Bunuh saja aku" kata orang itu.
"Katakan! " teriak Hinata histeris.
Pria itu malah bunuh diri dengan menggigit lidahnya sendiri. Hinata menangis kemudian kembali ke mobil untuk menemui Madara di rumah sakit.
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1