MY RESENTMENT

MY RESENTMENT
MADARA & HINATA


__ADS_3

PERHATIAN!!!


19++


INGAT UMUR, YANG DI BAWAH UMUR SKIP AJA YA!


















Hinata terpundur saat Madara makin dekat. "Ma.. Madara-kun.. Kkau membuatku takut" kata Hinata pelan.



"Aku tidak akan menyakitimu" Madara menarik dagu Hinata kemudian menciumnya dengan lembut. Sesaat Hinata menikmati ciuman Madara.



Tanpa dia sadari, Madara menarik penutup tubuh Hinata. Kedua tangan besarnya meraba-raba tubuh indah Hinata yang hanya mengenakan BH dan CD.



Hinata menggelinjang. Kedua tangannya memeluk serta menarik-narik kemeja Madara.



"Hmmmpp" desah mereka disela ciuman panas itu.



Madara mendorong Hinata ke ranjang kingsize nya dan menindihnya.



Tangan Madara menangkup payudara Hinata yang kebesaran ditangannya.



"Ma.. Madara -kun" desah Hinata saat merasakan sesuatu yang menonjol diarea selangkangan Madara menabrak area kewanitaannya.



"Kau merasakannya Hinata? Dia ingin memasukimu dan mengeluarkan benihnya didalam dirimu " bisik Madara yang membuat pipi Hinata merona.



Madara menarik pengait BH Hinata hingga kedua payudara Hinata bebas. Madara ******* didada Hinata dengan rakusnya seperti bayi kehausan.



Hinata mendesah tak karuan. "Euuhhh Ma.. Madara -kun, sakit.. Ja.. Jangan keras-keras" kata Hinata pelan.



Madara membuat tanda kepemilikan di payudara Hinata.



Kemudian ciumannya turun ke perut rata Hinata dan ciumannya terhenti di area kewanitaan Hinata yang masih memakai CD.



"Ma.. Madara -kun.. Jangan disitu.. Malu"



"Nikmati saja" kata Madara sambik menarik CD Hinata dan kini Hinata tidak memakai sehelai benang pun dihadapan Madara.



Madara menciumi area kewanitaan Hinata. "Euuhh Ma.. Madara -kuunn" desah Hinata.



"Kau sudah basah sayang " kata Madara disela kegiatannya.



Madara memasukkan lidahnya kedalam ****** Hinata yang sudah basah.



Hinata menggelinjang kegelian. "Ma.. Madara -kun.. Aku.. Aku mau... Hhhh"



Cairan bening membasahi mulut Madara menandakan Hinata mendapatkan puncaknya yang pertama.



Madara membuka kemeja dan celananya kini dia juga telanjang dihadapan Hinata.



Hinata terkejut melihat  benda asing yang begitu besar di selangkan Madara menjulang tegak menandakan jantannya seorang pria.

__ADS_1



"Peganglah" Madara menuntun tangan Hinata agar memegang milik nya.



Hinata memegangnya dengan ekspresi ngeri. Tangannya tidak mampu menangkup benda itu karena besarnya sama dengan pergelangan tangan Hinata.



"Eeuuuhhh" desah Madara. "Sa.. Sakit Madara -kun? " tanya Hinata hawatir.



Madara terkekeh geli melihat  ekspresi polos Hinata. "Tidak dia menginginkanmu sekarang "



"A.. Aku.. Ma.. Ma"



"Ayolah berbaring" Madara memotong ucapan Hinata. Hinata menurut karena takut melihat  ekspresi Madara yang sepertinya menahan hasratnya mati-matian.



Madara membuka lebar paha Hinata kemudian mengambil posisi diantara kedua paha Hinata.



"Apa.. Ma.. Ma.. Madara -kun pernah melakukannya dengan wanita lain? "



"Tidak, aku tidak pernah melakukannya" jawab Madara jujur.



"Tidak karena hanya ibumu yang selalu menghantui pikiranku" batin Madara.



"Apa akan masuk? " tanya Hinata dengan polosnya. "Tentu saja" jawab Madara.



"Apa tidak akan sakit? " tanya Hinata. "Hanya sebentar" jawab Madara.



Madara mengarahkan penisnya ke ****** Hinata. "Hhh" desah Madara.



Hinata menggigit bagian bawah bibirnya menahan sakit dibagian inti.



Madara sedikit mendorong lagi. "Hhh Madara -kun.. Sakiit" ringis Hinata dengan berlinangan air mata.



"Jangan menangis, tatap aku" kata Madara. Hinata menatap Madara. Madara mencium bibir Hinata untuk menenangkannya.




Madara masih berusaha mendorong. "Madara -kuunn!!!" teriak Hinata merasakan sakit yang luar biasa karena Madara masih belum juga berhasil memasukinya.



"Tenanglah" bujuk Madara. Madara tidak punya pilihan lain dia menghentakkan pinggulnya dengan cukup keras.



Srek



"Aaaarrggghh!!!" teriak Hinata mencakar punggung Madara sampai lecet.



Madara membungkam bibir Hinata dengan ciumannya. Kini ***** Madara tertelan didalam ****** Hinata yang berdenyut dan meremas penisnya dengan kuat membuat Madara merasa kenikmatan.



Hinata merasa perutnya penuh dan vaginanya berkedut. Air mata mengalir membasahi pipinya.



Madara melepaskan ciumannya dan menatap Hinata. Setelah yakin Hinata tenang, Madara menggerakkan pinggulnya pelan-pelan.



Hinata meringis. Namun lama-lama dia merasakan sensasi nikmat.



Mereka mendesah bersamaan. Hinata mendongkak  kebawah. Terlihat ***** besar Madara keluar masuk menyodok vaginanya. Ada bercak darah disana. Hinata yakin itu darah keperawanannya.



"Aahhh.. Hinata.. Kkau sempit sekali sayang.. Hh sial aku... Hhh" desah Madara sambil meracau tak jelas.



"Hhh Madara -kun" desah Hinata pelan.



***** Madara tidak sepenuhnya tertelan ****** Hinata. Mungkin karena ukurannya yang terlalu besar atau milik Hinata yang terlalu kecil dan sempit hingga tertelan tiga perempatnya.



"Hhh sebut namaku ssayanghhh" desah Madara.



"Ma.. Madara-kun... Hhhh" desah Hinata.


__ADS_1


Madara menciumi leher Hinata dan berkali-kali membuat tanda kepemilikan di tempat yang berbeda.



"Hhhh Hinata!! " Madara menancapkan penisnya sedalam-dalamnya dan mengeluarkan semua spermanya di rahim Hinata.



"Ma.. Madara -kun"



Madara terkulai diatas tubuh Hinata. "Aku mencintaimu,  sangat mencintaimu" desah Madara.



Hinata mengangguk sambil membelai dan meremas bagian belakang rbut Madara.



Madara pun tertidur diatas tubuh Hinata.



♡♥♡♥♡♥♡



Madara terbangun dari tidurnya. Dia terkejut mendapati dirinya tanpa busana menindih tubuh Hinata yang juga tidak memakai busana.



Senyuman seringai terpampang dibibir kissablenya mengingat kejadian semalam begitu.. Ehm.



Madara membelai puncak kepala Hinata kemudian dia mencium bibir Hinata. Tampaknya Hinata begitu kelelahan hingga tidak merasakan ciumannya. Madara menyelimuti tubuh Hinata.



Madara pun turun dari ranjang menuju kamar mandi. Terdengar gemericik air. Hinata terbangun karena mendengar suara gemericik air tersebut.



Hinata pun bangkit. Tiba-tiba dia merasa perih pada bagian intinya. "Hhhhh" rintih Hinata.



Hinata terkejut saat selimut tersingkap, dia tidak mengenakan sehelai benang pun. Dia ingat semalam Madara menyentuhnya dengan... Ehm.



Air mata Hinata mengalir. Dia memang mencintai Madara namun yang semalam sangat memalukan dan membuatnya takut.



Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Ternyata Madara sudah rapi dengan kemeja putih dan celana jeans birunya.



Madara melihat  Hinata. Dia menghampiri Hinata. "Kenapa sayang? " tanya Madara.



Hinata terhenyak kemudian menoleh. Dia menghapus air matanya. "Ma.. Madara -kun" panggil Hinata pelan.



Madara memeluk Hinata dengan erat. "Aku tidak akan meninggalkanmu sayang, kau tidak perlu cemas"



Hinata membalas pelukan Madara. "Ya sudah kalau begitu kau harus mandi" kata Madara.



Hinata mengangguk kemudian turun dari ranjang. Namun Hinata terduduk ke lantai sambil meringis kesakitan.



"Hinata " Madara membantu Hinata berdiri. Hinata tidak bisa berjalan sehingga Madara harus menggendongnya ala bridal ke kamar mandi.



Kemudian memasukkan Hinata ke bath up dan memutar kran air. Air pun mengalir.



"Baiklah, sepertinya aku harus memandikanmu" kata Madara sambil tersenyum jahil. Hinata mengerucutkan bibirnya.



"Jangan seperti itu atau aku akan menciummu" ancam Madara.



Hinata meringis karena merasa perih saat air menyentuh pusat intinya.



"Kenapa? " tanya Madara.



Hinata menggeleng.



"Apa aku terlalu kasar semalam? " batin Madara.



Hinata menghela napas berat kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.



♡♥♡♥♡♥♡



By


Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2