MY RESENTMENT

MY RESENTMENT
PETAKA


__ADS_3



Hari mulai malam, Hinata berbaring disamping suaminya yang sedang tertidur pulas. Hinata memejamkan matanya. Dia terkejut saat tangan kekar suaminya memeluk perut ratanya.



Seketika pipi Hinata merona. Dia membenarkan tangan suaminya, tapi Madara malah menarik tangan Hinata dan memeluknya.



"Jangan pergi... " bisik Madara yang mengigau. Hinata mengusap kepala Madara.



"Sebenarnya... Aku.. Aku menyukaimu Madara-kun.. Aku.. Aku mencintaimu" bisik Hinata.



♡♥♡♥♡♥♡



Hari mulai pagi, perlahan Madara membuka matanya. Dia terkejut saat mengetahui dirinya tengah memeluk Hinata. Madara dapat mencium aroma rambut Hinata yang wangi.



"Kenapa dia bisa memelukku? Jangan -jangan semalam aku.... Tidak.. Tidak " batin Madara.



Perlahan Madara membelai kepala Hinata. "Kenapa perasaanku berkecamuk seperti ini.. Kenapa aku merasa bersalah padanya.. "



"Aku bisa mendengar detk jantungmu.. Madara -kun" kata Hinata pelan.



Tiba-tiba Hinata terhenyak dan menjauh dari Madara. "Ma..maaf Madara -kun.. S..sungguh aku tidak me..melakukan apapun"



"Tidak masalah"



Pipi Hinata merona dia pun beranjak ke kamar mandi. Madara menghela napas lega.



"Rasanya aku lebih baik.. Aku akan pergi ke kantor" kata Madara.



Tiba-tiba smartphone Madara bergetar.



"Halo? "



"..."



"Apa? Rapat lagi? Bukankah kemarin istriku sudah mewakiliku untuk menghadiri rapat? "



"..."



"Apa? Aku juga harus mengajaknya? "



"..."



"Baiklah"



Hinata keluar dari kamar mandi. Dia sudah mengenakan pakaian rumah.



Madara menoleh.



"Hari ini kita akan ke kantor bersama dan rapat dengan klienku, kau harus ganti pakaian"



Setelah mengatakan itu, Madara berlalu ke kamar mandi.



"Ki.. Kita? " gumam Hinata pelan. Pipinya kembali merona. Dia merasa sensitif mendengar kata kita yang diucapkan Madara.



Hinata pun mengganti pakaiannya dengan dress berwarna biru tua yang berkilauan.



"Hinata, tolong ambilkan handuk" suara Madara memanggil dari kamar mandi. Sudah kebiasaan pria itu yang melupakan hal terpenting setelah mandi. Mungkin faktor usia?



Hinata segera mengambil handuk suaminya. Hinata membuka sedikit pintu kamar mandi kemudian memasukkan tangannya yang membawa handuk.



Madara tersenyum melihat  tingkah istrinya. Dia pun mengambik handuk itu dari tangam Hinata.

__ADS_1



♡♥♡♥♡♥♡



Hinata menunggu Madara diruang tengah. Madara menuruni tangga.



Hinata menoleh. Dia terpesona melihat  ketampanan Madara yang mengenakan jas berwarna biru gelap dengan kemeja berwarna sapphire.



Madara melihat  Hinata yang juga menatapnya. Madara baru sadar dia mengenakan pakaian yang berwarna serupa dengan dress yang dikenakan Hinata jadi terkesan couple.



"Ehm, aku tahu aku memang tampan, tidak ada waktu mengagumiku, ayo kita berangkat"



Madara menarik tangan Hinata. Pioi Hinata merona dia tertunduk untuk menyembunyikan pipinya yang merona.



Mereka pun memasuki mobil.



Selama diperjalanan, mereka sama-sama terdiam.



Madara mencari ide untuk menghentikan kesunyian diantara mereka. Dia tahu Hinata tidak mungkin memulau pembicaraan karena Hinata pendiam dan pemalu.



"Ehm.. Hinata.. Darimana kau punya dress itu? " Madara memulai pembicaraan.



"Emm.. Aku.. Aku menyukai dress ini.. Selain itu, bukankah ini warna klan Uchiha? "



"Iya, kau benar "



Kembali sunyi.



"Hinata "



"I.. Iya"




Hinata terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Madara.



"Ke.. Kenapa kau bertanya se..seperti itu? "



"Aku ingin tahu, jawab saja"



"Emmm... A.. Aku hanya.. Menghargaimu.. Se.. Sebagai suamiku"



Entah kenapa Madara merasa tidak puas dengan jawaban Hinata.



Tak terasa. Mereka sampai di kantor klien mereka. Madara dan Hinata pun turun dari mobil.



Hinata melihat  ada seseorang yang membidik kepala Madara.



Hinata segera berlari memeluk Madara. Madara terkejut dengan aksi istrinya itu .



Tiba-tiba..



DOR!!



DOR!!



Letupan senjata sialan itu lolos memecah kesunyian malam yang menaungi bumi.



Darah mengalir membasahi jas Madara. Hinata terkulai dipelukan Madara.



Tangan Madara gemetar dan berusaha mencerna apa yang terjadi.



"Hi.. Hinata ke..kenapa " gumam Madara pelan namun Hinata sanggup mendengarnya.

__ADS_1



"A.. Aku.. Aku.. Aku me..mencintaimu.. " pelan namun kata-kata itu terdengar jelas ditelinga Madara.



Tubuh Hinata melemas. Tangan kiri Madara memeluk pinggang Hinata.



Tanpa diduga dan direncanakan sebelumnya, air mata Madara menetes.



"Hinataaaa!!!! " Madara mengambil pistolnya dan menembak dengan membabi buta kearah tembakan maut tadi.



Terdengar suara gedubrak. Madara menautkan alisnya.



♡♥♡♥♡♥♡





Kini Madara sudah berada dirumah sakit sambil menggendong istrinya ala bridal. Air matanya tidak berhenti mengalir.



Jantungnya berdebar kencang, dia merasa ketakutan yang teramat dalam. Untuk saat ini dia tidak ingat dendamnya.



"Suster!!! Cepat tolong istriku!!! " teriaknya. Hinata pun segera dibawa ke ruang UGD.



Madara mondar mandir didepan ruangan itu.



"Kenapa aku cemas! Kenapa aku sedih! Kenapa aku takut! Kenapa aku tidak bisa menghentikan air mata ini! Kenapa! Kenapa!" batin Madara.



Beberapa saat kemudian, dokter keluar. Dengan cepat, Madara mencengkram kedua lengan sang dokter.



"Katakan! Bagaimana keadaan istriku! Apa dia baik-baik saja?! "



"Emm.. Emm.. Be.. Begini pak, istri anda harus dioperasi, karena peluru bersarang di kepala dan punggungnya"



Deg



Madara mendengus. "Lakukan apapun asalkan istriku selamat, jika tidak, aku akan membunuh seluruh penghuni rumah sakit ini" ancam Madara.



"I.. Iya akan kami usahakan"



♡♥♡♥♡♥♡



Madara tengah duduk diruang tunggu. Dia menghela napas berat. Saat ini diruang operasi terlihat sangat sibuk.



"Ternyata dia mencintaiku.. Bagaimana dengan dendamku... Arrgghh persetan dengan dendam! Selama ini dia peduli padaku dan perhatian padaku.. Aku harus melupakan dendamku.. Aku akan membuka hatiku.. Untukmu.. Untuk Hinata.. "



Smartphone-nya bergetar. Dia pun mengangkat panggilan dari kliennya itu.



"Halo! Ada apa lagi! Kau mau apa! "



"..."



"Aku tidak akan menghadiri rapat! Obito akan mewakiliku! "



"..."



"Istriku sedang dirumah sakit! Persertan dengan perusahaanku!! ".



Madara mengakhiri panggilannya.



♡♥♡♥♡♥♡



By


Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2