MY RESENTMENT

MY RESENTMENT
MENUNGGUMU


__ADS_3



Hinata berlari menyusuri lorong rumah sakit. Dia memasuki akan memasuki ruang UGD, tapi di tahan para suster.



"Ny. Harus menunggu diluar" kata salah satu dari mereka.



Hinata menurut. Dia hanya bisa menatap Madara dari kaca pintu. Terlihat dokter dan suster memasang berbagai alat ditubuhnya untuk menyelamatkan nyawa suaminya itu.



Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang UGD.



"Bagaimana dok? " tanya Hinata.



"Begini Ny., suami anda kehabisan darah, selain itu 3 peluru yang hampir mengenai jantungnya. 1 mili saja, akan merubah takdirnya" kata Dokter.



Hinata makin panik mendengar penjelasan dokter. "Apa golongan darahnya? " tanya Hinata. "A-" jawab Dokter.



"Apa ada yang bersedia mendonorkan darah untuknya?" tanya Hinata. "Tidak ada stok yang memiliki golongan darah A-" jawab Dokter.



"Baiklah, saya akan menghubungi teman-teman saya, mungkin mereka ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Madara -kun"



"Iya, permisi Ny. " dokter pun berlalu. Hinata menghubungi Obito.



"Obito-kun"



"Iya, Hinata? "



"Madara-kun ditembak seseorang, tolong segera ke rumah sakit dan cari seseorang yang bergolongan darah A-"



"Apa!! Madara!! Baik, aku akan mencarinya"



♡♥♡♥♡♥♡



Hinata memasuki ruang inap Madara. Beberapa selang terhubung dengan anggota badan Madara membuat Hinata meringis sedih.



"Madara -kun" Hinata menemani Madara sampai sore. Kadang dia menginap di rumah sakit untuk menemani Madara.



Miura dijaga oleh Hiashi dan Hikari. Kadang- kadang mereka juga menemani Hinata menjaga Madara. Setelah pendonoran, keadaan Madara makin baik walau belum siuman.



♡♥♡♥♡♥♡



"Biar aku saja yang menjaga Madara, kau pasti perlu mengantar Miura ke TK nya" kata Obito. Hinata mengangguk.



"Jaga Madara -kun ya, jika ada sesuatu ku mohon hubungi aku" kata Hinata.



Obito mengangguk.

__ADS_1



♡♥♡♥♡♥♡



Hinata sedang mengantar Miura sekolah TK, dia duduk di bangku taman. Seseorang memperhatikan Hinata. Hinata menoleh.



"Hai Ny. Uchiha " sapa pria itu.



"Kau siapa? " tanya Hinata.



"Aku orang yang mengirim penembak itu "



Deg



"Kkau"



"Aku juga yang mengirim penembak yang waktu itu malah menembakmu, aku mafia kejam, dan aku tidak suka Madara menghalangi jalanku, jika kau ingin suamimu selamat, berikan aku uang 100 juta dolar"



Deg



"A.. Aku tidak punya uang sebanyak itu " kata Hinata.



"Aku yakin perusahaan Hyuuga memiliki banyak uang" kata pria itu kemudian berlalu.



Hinata terlihat sedih. "Aku mengirim pembunuh bayaran ke kamar no 212" kata pria itu.




"Mama, kita akan kemana? " tanya Miura.



"Kita akan menemui ayah, sayang " kata Hinata.



Hinata memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.



♡♥♡♥♡♥♡



Obito sedang duduk di kursi yang berada di samping ranjang Madara yang masih koma.



Obito keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Madara sendiri.



♡♥♡♥♡♥♡



Hinata berlari dilorong rumah sakit sambil menggendong Miura.



Dia berpapasan dengan Obito. "Obito -kun? Kenapa kau disini? Seharusnya kau menjaga Madara -kun" kata Hinata.



"Aku mau minum" kata Obito.

__ADS_1



"Tapi.. Seseorang sedang mengancamku.. Dan dia mengirim pembunuh untuk membunuh Madara -kun" kata Hinata panik kemudian berlari.



Obito terkejut dan berlari menyusul Hinata. Beberapa langkah lagi, Hinata sampai ke ruangan Madara.



Hinata membuka pintu ruangan itu. Hinata terengah -engah. Dia melihat  Madara masih terbaring seperti sewajarnya.



Namun. Hinata melihat  sesuatu yang berwarna merah menetes membasahi lantai putih polos ruangan itu. Hinata membulatkan matanya. Obito memasuki ruangan. Dia juga terkejut. Miura digendong Obito.



Hinata berputar melihat  dari mana darah itu berasal. Ternyata tangan kiri Madara.



"Tidak!!! Madara -kuunn!! "



"Akan ku panggil dokter " kata Obito kemudian bergegas.



Hinata menangis. Terdengar suara pintu diketuk. Hinata menoleh. Dia melihat  pria tadi berdiri diluar ruangan sambil tersenyum penuh kemenangan.



Hinata menautkan alisnya. Pria itu menunjuk arlojinya kemudian berlalu. Dokter memasuki ruangan.



"Panggil pendonor yang waktu itu!! " teriak dokter pada suster.



Hinata menangis meraung. Dia pun tak sadarkan diri.



♡♥♡♥♡♥♡



Perlahan mata Hinata terbuka. Dia melihat  Hiashi, Hikari, Miura dan Rin menatapnya dengan ekspresi penuh kekhawatiran.



"Hinata " Hikari memeluk putrinya itu. "Mama" Miura memeluk Hinata.



Hinata kembali menangis. "Jangan menangis terus, kasihan Miura melihat mu seperti ini " kata Hiashi.



Hinata mengangguk. "Bagaimana keadaan Madara -kun? " tanya Hinata.



"Dia baik-baik saja " jawab Hiashi. "Ayo ku antar" kata Rin. Hinata mengangguk.



Mereka memasuki ruangan dimana Madara terbaring koma. Ada Obito disana.



"Hinata maafkan aku" kata Obito. Hinata memeluk Madara tidak mengindahkan ucapan Obito.



Rin menarik tangan Obito agar membiarkan Hinata melepas kekhawatirannya pada Madara.



Hinata melepaskan pelukannya kemudian bersidekap dan meletakkan kepalanya diatas tangannya. Dia menangis sejadi - jadinya.



Tiba-tiba, sebuah tangan membelai lembut kepalanya. Hinata mendongkak. Mata onyx itu sepenuhnya terbuka dan kini tengah menatapnya.


__ADS_1


By


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2