
Ugh...
Kevin mengeliat di balik selimutnya, pria itu tertidur semalam sehabis berbincang dengan Agalista, lama Kevin duduk di atas dalam posisi mengumpulkan nyawa, otot tubuh pria itu terlihat indah, hingga akhirnya Kevin memutus kan berdiri dari duduk nya dan bersiap meluncur ke markas.
Tes... tes..
Suara air shower terdengar jelas di pendengaran, apartemen yang sepi itu biasanya sudah di isi oleh suara dapur yang juga berisik, ternyata saat ini Agalista telah bangun pagi.
Beberapa puluh menit berlalu Kevin keluar dengan setelan yang membosankan di mata Aga, bagaimana tidak lihat lah kemeja dan setelan jas itu, seperti anak panti saja setiap hari memakai baju itu.
"Tumben kau bangun pagi,"sapa Kevin menatap wanita yang sedang makan sendiri itu tanpa mau menunggu Kevin.
Pria itu duduk di kursi meja makan dan lalu ikut bergabung makan seperti nya Aga masih memiliki hati nurani dengan membuat sarapan porsi dua orang tersebut, Kevin mengunyah makanan nya santai, karena sama-sama asli orang italia makanan yang di buat Aga sangat cocok di lidah Kevin.
"Aku belajar jadi istri yang baik dengan bangun pagi dan membuatkan suami sarapan kan,"jelas Agalista berjalan meletakan piring nya ke dapur.
Uhuk.. uhuk..
Kevin yang mendengar itu tersedak, bisa-bisa nya wanita itu setuju padahal semalam masih marah-marah, entah kenapa pria itu merasa sedikit tidak enak.
"Ekhem baguslah,"gumam Kevin memakan makanan nya cepat karena tidak ingin ketahuan kalau diri nya itu sedang salah tingkah.
Agalista yang memang sudah rapi menyambar tas nya lalu mendekat kepada Kevin yang sedang makan itu, wanita itu mengecup pipi Kevin lalu berkata.
"Sayang aku pergi dulu yah, yang banyak makan nya loh,"bisik Aga mengoda pria itu dengan senyum manis nya dan pergi.
Brak..
Suara pintu di apartemen terdengar tertutup jelas, wanita itu memang tidak pergi tapi tidak dengan suara indah nya yang terus berputar indah di telinga Kevin, pria itu ternyata sedari tadi sudah memerah karena malu.
"Apa-apaan dia, apa dia mempermainkan ku,"kesal Kevin menatap pintu.
__ADS_1
Deg.. deg..
Hati nya terus cenat cenut ketika kepergian Agalista tadi, hingga akhirnya pria itu memilih menyelesaikan makanan nya dan berdiri.
Ehe, seperti nya ada yang aneh, kenapa saat Kevin berdiri kursi nya ikut menempel, ayolah Kevin mulai tahu sekarang jalan pikir Agalista, perempat siku terbentuk di kening Kevin seolah-olah dia sangat marah lalu berteriak.
"AGALISTA!!"
Sungguh saat ini orang yang sedang di teriaki saat ini sedang duduk manis di taxi sambil mengusap leher nya yang terasa merinding.
"Aduh apa aku terlalu berlebihan ya, seperti nya dia setelah ini juga akan meneriaki ku lagi haha,"gumam Agalista yang takut tapi juga malah tertawa senang.
"PEREMPUAN BOD0H KEMBALI KAU!"teriak Kevin untuk kedua kalinya.
Setelah selesai dengan urusan kursi itu yang membuat celana pria itu robek dan Kevin sudah menganti celana nya, Aga seperti nya tidak nego-nego saat ini mengerjai Kevin dan yang kedua saat pria itu melihat sepatu nya sudah penuh lukisan indah dari Aga.
"Apa seperti itu seorang istri, lihat saja kau yah,"gumam Kevin mengengam tangan nya menahan kekesalan.
"Baiklah Kevin, jika kau ingin balas dendam aku yang lebih dulu mengerjai mu, agar kau tidak betah bersama ku hoho,"senyum kebanggan Agalista mengusap dagu layak nya orang yang sukses menerima hadiah besar.
Di sisi lain mobil milik Sadam berhenti di sekolah menegah atas dengan adik nya Rara yang terus mengerutu kesal.
"Sebaiknya jangan antar aku lagi kak, kau tahu pacar ku jadi takut kepada mu yang selalu mengekori dan melarang ku pergi,"kesal Rara yang sudah keluar mobil di ikuti Sadam.
"Seperti nya mereka tidak takut,"ujar Sadam melihat siswi perempuan yang malah tersenyum dan melambaikan tangan nya kepada Sadam.
"Dasar om-om genit sebaikya kau cari pacar di umur mu yang tua ini, aku ingin menikmati masa remaja ku, mama tidak melarang ku pacaran selagi batas wajar kok,"bela gadis berusia 14 tahun itu di hadapan kakak nya.
Sadam hanya memasang raut wajah datar nya lalu mengusap rambut hitam sang adik dan pergi tanpa sepatah kata pun meninggalkan Rara yang menatap nya tajam.
"Bocah sekarang memang terlalu cepat mengenal cinta, huh cinta tidak selamanya indah dek,"gumam Sadam melajukan mobil nya.
__ADS_1
Drt.. drt..
Telpon Sadam bergetar menampilkan pesan untuk semua anggota aeros bahwasanya mereka harus mengosongkan markas utama dan pindah ke markas yang sudah di desain khusus oleh Sam.
Saat mobil sport hitam Sadam membelah jalanan kota itu, di sebuah jalan yang ramai entah kenapa sebuah siluet yang membuat Sadam melambatkan laju mobil nya, siluet yang seperti nya dia kenal.
Bruk...
"Gisel setidaknya kalau kau tidak berguna membantu kami membuat tugas, kau harus membantu kami membelikan makanan dengan benar sayang,"ujar seorang pria yang mendorong tubuh Gisel kuat ke tanah.
Pria itu mengetuk kacamata Gisel yang sudah berembun karena menangis di perlakukan seperti itu, jika ada yang bilang pembulian hanya terjadi di sd, smp, atau sma kalian salah.
Tempat yang lebih parah adalah kampus, ketika harta dan tahta menjadi tolak ukur dalam pertemanan serta orang-orang yang tidak bisa membela diri di injak dengan mudah nya.
Konsep nya di injak atau terinjak begitulah adanya, bukan cuman kiasan tapi emang benar ini adanya terlebih hal itu terjadi kepada Gisel, gadis itu menahan tangisan nya saat pria itu melemparkan kotak susu dan merobek nya.
Sret..
Susu itu tumpah tepat mengenai rambut Gisel yang di kepang, gadis itu hanya menunduk tidak percaya, ramai memamg di gerbang masuk kampus itu tapi hukum tidak seindah apa yang di bayangkan, hukum hanya berlaku untuk orang-orang kaya, jika mereka menolong gadis yang di bully itu.
Dan mengadu kepada dosen, seperti nya mereka juga akan ikut di bully dan menjadi kambing hitam, sungguh miris kehidupan sekarang, bukan nya Sadam menjadikan itu totonan tapi pria itu lebih melakukan suatu hal tenang dan santai.
Brak..
Sadam turun dari mobil dan mengangkat tubuh Gisel yang masih menunduk dan basah akibat tumpahan susu itu, sontak semua yang ada di sana dan juga Gisel menatap Sadam.
"Hei siapa kau,"teriak salah satu pria yang seperti nya ketua geng itu.
"Sa sa sadam?"gugup Gisel melirik pria yang dia kenal sebagai bawahan sang pacar dari sahabat.
'Hah merepotkan buat apa aku membantu nya seperti ini, sok jadi pahlawan seperti di film kah, Sadam sadarlah pekerjaan mu sulit jangan membuat hidup mu sulit dengan ikut campur masalah orang lain,'
__ADS_1