My Sexy Mafia

My Sexy Mafia
BAB 68-DISIPLIN


__ADS_3

"Woi Aku bertanya siapa kau!"teriak pria itu kesal karena Sadam sudah mengambil mainan nya.


Pria itu tidak menyadari tatapan datar Sadam yang sangat malas meladeni bocah yang masih duduk di bangku kuliah itu, Sadam menurunkan Gisel pelan menatap gadis itu yang menunduk dan tidak berbicara sepatah kata pun.


"Wah siapa ini ganggu aja,"teriak pria itu sekali lagi.


Sadam melirik jam tangan nya pria itu berdecak kesal melihat dia akan terlambat ke markas baru nya apalagi Sadam tipe pria yang mengutamakan disiplin dalam bekerja dan berbagai hal.


Perlahan sebuah sapu tangan di keluarkan Sadam dia tidak mempedulikan pria yang di ketahui juga berkuliah di sana itu, Sadam menarik dagu Gisel sehingga memaksa gadis itu beradu pandang dan menatap nya.


"Lihat lah dirimu selain mudah di tindas di rumah sendiri, Anda juga mudah di tindas di luar,"gumam Sadam pelan mengelap pipi, mata, bibir serta rambut gadis itu yang terkena susu.


Gisel hanya diam seribu bahasa dia tidak bisa bicara yang di katakan Sadam memang adanya, buat apa dia melawan.


"Ck pria si@lan kalian megabaikan ku hah!"teriak pria itu kembali.


Lagi-lagi Sadam tidak mempedulikan nya lalu pria itu melepaskan jas hitam nya, lalu di pasangkan di badan Gisel.


"Baju Anda tidak terlalu kotor, tapi pakai saja ini,"


"Oiya Anda ingin pulang? Ini masih pagi, apa Anda ada kelas,"tanya Sadam terus melirik jam tangan nya ingin menyelesaikan itu semua.


"I i iya kak ada, aku hari ini ada jam kelas,"gugup Gisel merasa sangat di perhatikan oleh Sadam itu.


"Hmm baiklah, masuklah ke kelas atau Anda akan telat nona,"ujar Sadam santai.


Belum selesai pria itu kembali ingin berbicara kepada Gisel, pria yang dari tadi berdiri membelakangi Sadam bersama teman nya yang lain langsung merasa kesal, pria itu menarik tubuh Sadam agar menghadap ke arah nya.


"Jika aku bicara dengarkan pecundang,"teriak pria itu menarik kerah baju Sadam kuat.


Bugh...


Setelah menarik kerah baju Sadam pria itu yang mendapat Sadam sudah menghadap kepada nya bagaikan slowmotion pria itu memukul Sadam dengan kuat.

__ADS_1


Satu kancing kemeja putih Sadam yang tanpa jas itu terlepas memperlihatkan leher putih nya, Sadam mengusap sudut bibir nya masih memasang wajah datar, sedangkan Gisel terkejut dan hanya bisa menutup mulut.


"Haha rasakan itu,"jelas pria yang membuli Gisel tadi merasa di cuekan.


Teman pria itu terus mengkode untuk menatap pria yang dia pukul, Sadam saat ini tampak tampan dengan kancing satu yang lepas itu memperlihatkan kesan pria dewasa yang jelas.


"Bos lihat leher nya,"bisik teman pria yang membuli itu.


Sontak mata nya tertuju kepada leher Sadam, hah apa itu? Sebuah tato, bisa-bisa nya ada tato di leher hingga bagian bawah nya sedikit siapa pun orang pasti akan lebih memilih tato di lengan, pria itu mulai gentar dan sedikit takut melihat Sadam yang menatap nya datar dan berjalan ke arah nya.


Drap.. drap...


Langkah kaki Sadam berhenti tepat di samping pria yang kaki nya terlihat gentar setelah menatap penampilan Sadam, seperti nya ketua informan kita sangat ahli mengancam juga, Sadam memegang bahu pria itu dan mencengkram nya kuat tanpa ampun, lalu berbisik.


"Saya tahu Anda hanya haus perhatian dan ketenaran, jika Anda masih menganggu gadis Saya yang di sana, Anda tahu kan akibat nya,"bisik Sadam menepuk bahu pria itu pelan.


Gisel tidak mendengar itu karena Sadam berbisik, dan terlebih gadis itu masih terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Mengerti?"tajam Sadam dengan tatapan datar nya pergi dari sana.


"Kak Sadam makasih,"teriak Gisel melihat pria itu ingin naik ke mobil.


"Nona sebaiknya Anda segera masuk, apa Anda bukan orang yang disiplin, saya pergi,"jelas Sadam masuk ke mobil nya.


Mobil Sadam menghilang di keramaian jalanan kota sedangkan Gisel yang baru tersadar pergi dari sana tapi sebelum pergi dia menatap teman satu angkatan nya itu yang tadi membuli nya terdiam.


"Kak apa aku bisa pergi hari ini,"ucap Gisel takut.


"Pe pe pergi sana jauh-jauh!"teriak pria itu kaget mengusir Gisel.


Entahlah apa yang membuat pria itu sampai takut, Gisel hanya bingung tapi dia sangat berterima kasih kepada Sadam yang sudah membantu nya itu, sedangkan para pembuli itu sekarang bergumam.


"Kau yakin melihat tato itu,"

__ADS_1


"Dia sangat seram bukan bos,"


"Benar, aku kira itu hanya rumor kalau di kota ini memiliki sebuah kelompok mafia yang menjadi tombok perlindung kota ini sekaligus, aku kira itu hanya rumor, tapi di tato itu aku pernah melihat berita nya,"


Begitulah pria itu beramsumsi aeros sama sekali tidak pernah di kenal di kota tempat mereka sendiri berdiri, kenapa itu? Karena Sam menutup semua akses tentang anggota aeros atau pun kumpulan mereka, aeros menutupi diri mereka dengan nama akar dari william.


Tapi tidak sebelum Sam menjadi ketuanya, ayah Sam yaitu Morgan yang tidak tahu jika aeros sudah di targetkan dan di hancurkan sendiri, melepas semua akses aeros ke dunia, sebuah kelompok mafia dan sebuah tim informan yang bekerjasama dengan william.


Hal itu membuat ayah Sam kehilangan nyawa, dan semenjak kejadian beberapa puluh tahun silam, Sam yang menjabat menjadi ketua aeros menghapus semua riwayat aeros dari peradabatan, kecuali tentang diri nya seorang yang di juluki si iblis berdarah dingin tuan lizard.


Drap.. drap..


Langkah kaki Samuel mengema di ruangan markas baru mereka, pria itu tampak senang berada di markas ini, entah apa motif di balik pembuatan markas baru itu tidak ada yang tahu kecuali mereka semua.


"Pagi big bos!"serempak semua orang yang ada di markas itu.


Samuel tidak menjawab dan hanya memasang raut wajah kesal dan datar mengetuk jam tangan nya hingga dua orang yang baru datang itu berdiri di belakang nya.


"Apa kalian kesasar kesini, mungkinkah?"sindir Sam kepada Kevin dan Sadam yang baru datang.


"Tidak tuan!"tegas mereka serempak.


Sedangkan Arbian yang tidak membaca situasi yang padahal dia tahu Samuel sedang marah malah sempat nya tertawa.


"Haha biasanya aku yang terlambat, kenapa wakil dan kau sadam yang telat, hayoloh,"


"Big bos apa mereka semalam berdua menginap hah?"teriak Arbian histeris dan terkejut mendengar perkataan nya sendiri.


"Tutup mulut mu Arbian!"ujar Kevin dan Sadam tegas kepada Arbian yang malah mengompori.


"Lupakan sebaiknya kita selesaikan hari ini, Kevin apa kau sudah melengkapi nya,"gumam Sam.


"Sudah tuan,"balas Kevin.

__ADS_1


'Ini membosankan haruskah aku liburan, tapi jika aku pergi, bagaimana jika mereka mendatangi markas, hah aku ingin melihat Lenka memakai baju pantai,'


__ADS_2