
Pria itu yang mendengar permintaan Gisel melirik jam tangan yang melingkar di tangan nya, seperti nya dia sedikit mengaruk belakang kepala nya menatap Gisel.
"Maaf tapi saya harus pulang untuk makan malam,"jelas Sadam berlalu pergi dari sana.
Gisel yang mendengar jawaban itu seketika langsung menunduk pasrah mendengar jawaban teman pacar Lenka itu.
"Tidak, aku harus memaksa nya sekali ini aku harus bisa tegas,"gumam Gisel.
Gadis itu berjalan mendekati Sadam yang menjauhi nya, Gisel menahan jas pria itu membuat Sadam berhenti melangkah dan menaikan satu alis nya.
"Aku akan membelikan mu makan malam!"teriak Gisel dengan keras tanpa malu.
Semua orang memadangi mereka, Gisel yang menyadari itu muka nya sudah berubah menjadi merah merona karena malu akan tingkah nya sendiri, Sadam kembali berkata.
"Bukan masalah makan malam tapi mama saya tidak suka melewati porsi makanan kami,"ucap Sadam kembali menolak secara halus.
Drt.. drt..
"Halo ma,"sapa Sadam santai.
"Apa kau tidak pulang hari ini? Mama akan berikan makanan nya ke sana,"jelas mama Sadam yang menelpon putra nya itu.
Sadam tidak menjawab dia melirik Gisel yang masih menunduk, pria itu menghela nafas lalu memberikan ponsel nya kepada Gisel.
"Ini,"ucap Sadam mengoyangkan ponsel nya.
"Ma ma maksudnya kak?"bingung wanita itu.
"Coba katakan kepada mama saya, maukah dia menghabiskan makan malam porsi saya,"ucap Sadam yang malah tersenyum kecil ingin megerjai gadis itu.
Dengan ragu Gisel mengambil ponsel yang masih menyala itu, gadis itu sedikit ragu dengan apa yang akan dia lakukan lalu dengan tangan yang gemetar dia menjawab.
"Ha ha halo,"gugup wanita itu.
"Sadam? Siapa ya?"tanya mama Sadam beruntun atas perkataan nya.
"Aku Gisel, apa anda ingat?"tanya Gisel yang memang pernah melihat mama Sadam.
__ADS_1
"Yang dulu pernah numpang menginap tapi kabur tante,"gumam Gisel dengan canggung agar wanita itu lebih mudah mengingat diri nya.
Wanita itu tampak terdiam mendengar suara seorang gadis yang ada di ponsel putra nya, dia tampak berpikir dan baru ingat siapa nama gadis yang pernah tidur di rumah nya, dan gadis itu cuma satu.
"Ah gadis kacamata itu kau, mama mengingat nya, apa kau sedang bersama Sadam?"tanya wanita itu dengan heboh.
"Iya tante, apa boleh kak Sadam pulang telat makan malam nya, aku ingin mengajak kak Sadam sebentar ke acara di kampus ku,"izin Gisel dengan berani.
"Baiklah boleh, tapi jika sudah selesai kau harus ikut Sadam balik, kita makan bersama tidak ada penolakan oke, bye,"ucap mama Sadam dengan semangat mematikan ponsel nya.
Tut.. tut...
Ponsel di matikan, Gisel menatap ponsel mahal Sadam yang sudah tidak ada panggilan lagi dan memberikan ponsel itu, Sadam tampak terdiam dengan perasaan bingung.
'Tumben mama megizinkan aku melewatkan makan malam? Arbian saja meminta izin untuk pergi ke club mengajak ku tidak boleh,' batin Sadam tampak berpikir keras.
"Hmm anda hebat,"gumam Sadam mengangguk dan memberikan apresiasi kepada Gisel.
Gadis itu hanya bisa bingung dengan kata hebat yang di tujukan Sadam.
"Baiklah nona saya akan menemani anda,"ucap Sadam.
Satu persatu orang Gisel sapa begitu pun Sadam yang ikut menyapa dengan memberikan anggukan, saat ini acara dansa di putar bagi pasangan yang ingin berdansa di izinkan ikut, sedangkan Sadam dan Gisel hanya diam menatap di tengah-tengah mereka ada beberapa pasangan yang sedang asik berdansa.
"Andai aku juga bisa berdansa pasti seru, mommy tidak pernah megizinkan ku ikut kelas dansa,"gumam Gisel meminum orange juice nya.
Gumamam itu membuat Sadam yang dari tadi diam menunduk ke bawah menatap Gisel yang lebih pendek dari diri nya, Gisel yang terus menatap ke depan itu tanpa sadar bahwa Sadam mengulurkan tangan nya.
"Mau berdansa?"ajak Sadam.
"A aku? Kau mengajak ku?"tanya Gisel melirik orang di belakang nya.
Sadam tampak menghela nafas nya tentu dia mengajak Gisel yakali dia yang datang bersama Gisel mengajak orang lain berdansa itu tidak sangat masuk akal bukan.
"Tentu, apa anda berpikir dengan lambat?"jelas Sadam sekaligus mengejek gadis itu.
"Bukan ish, tapi aku tidak bisa,"gumam Gisel memainkan ujung gaun nya merasa malu megatakan itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kau bisa menginjak kaki ku,"jelas Sadam menarik tangan gadis itu ke tengah rombongan para pasangan yang berdansa.
Malam yang indah di temani lampu bewarna warni serta bintang dan alunan musik klasik yang sangat santai di telinga mengiringi langkah setiap pasangan, Gisel yang tangan nya di tarik kaget.
"Pegang bahu saya nona,"gumam Sadam menaikan tangan kecil Gisel untuk memegang bahu nya dan mengengam satu tangan nya.
Gadis itu seketika pipi nya merona atas perlakuan manis Sadam, Gisel yang tampak kaku berusaha menyeimbangi langkah Sadam hingga akhirnya pria itu berbisik.
"Injak kaki saya, atau anda akan terjatuh,"bisik Sadam.
"Tapi nanti kaki mu bisa sakit kak,"balas gadis itu gugup.
"Cepatlah,"ujar Sadam tidak mau menerima penolakan.
Gisel menurut dan seperti yang dikatakan Sadam pria itu bergerak dengan perlahan, semua orang yang melihat mereka seketika berbisik lucu melihat pasangan itu.
"Sudah seperti dongeng cinderella saja,"
"Tapi sayang bukan haha,"
"Pria itu sangat manis terhadap pacar nya,"
Bisikan dan ungkapan itu terdengar oleh beberapa orang yang menonton, tanpa mereka sadari, saat musik telah berhenti dan Gisel tersenyum kepada Sadam, langkah gadis itu yang tidak sengaja menginjak gaun nya membuat diri nya bersengolan dengan bahu orang lain dan Sadam langsung menahan pinggang Gisel agar tidak terjatuh.
Tapi seperti nya tarikan Sadam tidak memiliki tumpu yang kuat membuat pria itu juga jatuh tersungkur tapi sebelum mereka terjatuh dengan cepat Sadam merangkul kepala Gisel agar tidak langsung terbentur ke tanah, bagaikan slowmotiom adegan itu dan akhirnya.
Bruk..
"Stt sakit,"gumam Gisel.
Mereka berdua terjatuh dengan Sadam yang mengukung tubuh kecil Gisel, pria itu untung sudah memberikan tangan besar nya agar tidak langsung membuat kepala Gisel terbentur, perhatian kecil yang sangat membuat orang iri.
"Anda tidak apa-apa?"tanya Sadam menatap Gisel yang di bawah nya meringis kesakitan nya.
Gadis itu tampak mengangguk dia memutar wajah nya yang tadi kesamping sekarang menatap lurus, tanpa dia sadari wajah mereka sangat dekat satu sama lain, bagaikan di sihir pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan Sadam tidak terdengar di telinga Gisel.
Deg.. deg..
__ADS_1
Wanita itu fokus dengan suara detak jantung nya yang terdengar keras dan pipi nya yang bersemu merah.
'Akhirnya aku menemukan cinta ku, kenapa hati ku sangat keras berdetak, tolong pelan lah sedikit aku tidak mau dia mendengar nya, astaga apa pipi ku sekarang sudah memerah karena malu? Tolong jangan sampai dia menyadari nya, lihat bibir nya, aku baru sadar dia sangat tampan,'