My Uwu Boyfriend

My Uwu Boyfriend
Calon pengurus OSIS


__ADS_3

“ Ya kamu juga sih ngomongnya ngawur banget. Mana bisa dia tertarik sama aku segala.”, kataku sedikit kesal.


“ Gatau juga sih. Hehe. Insting.”, katanya cengengesan.


“ Huu, dasar. Yaudah lanjut makan aja keburu bel masuk.”


“ Haha, iya deh.”


Kemudian kami lanjutkan makan dan cepat kembali ke kelas.


~sesampainya di kelas~


Hari ini kami sudah memulai pelajaran pertama, yaitu Bahasa Indonesia. Dua jam pelajaran sudah berlalu, dan hari ini pun Bu Indah, guru Bahasa Indonesia sudah memberikan PR pertama. Memang sepertinya tidak ada sekolah yang tanpa PR, hanya mitos.


“ Huh. Masih hari pertama aja udah dapat PR. Emang GG banget gurunya.”, kata Elisa dengan kesal.


“ Haha, gaboleh gitu Lis. Buat permulaan aja.”, kataku menghibur.


“ Eh Ra, ngerjain PR bareng yuk! Biar kita juga lebih akrab. Hehe gapapa kan? Kalo kamu mau sih.”


“ Gapapa sih, aku mau-mau aja. Mau belajar bareng dimana?”, kataku.


“ Dirumahmu aja gimana?”


“ Oke, pulang sekolah aja ya. Nanti aku share location.”


“ Sip deh.”


Tiba- tiba ada cewek yang datang menghampiri bangkuku. Ternyata itu Devi, ia duduk di bangku belakangku. Devi meminta untuk aku mengizinkannya ikut belajar bersama dirumahku, sekalian untuk menambah hubungan pertemanan diantara kita. Setelah itu, kami mengobrol sebentar seputar rumah masing-masing. Tanpa sadar kita sudah mulai akrab satu sama lain.


Di jam pelajaran terakhir ini sepertinya tidak ada pelajaran, teman-teman yang lain saling mengobrol untuk mengakrabkan diri. Tiba-tiba segerombolan siswa memasuki kelasku. Semua siswa tersebut memakai bet OSIS di lengan kirinya. Ternyata OSIS ingin mendata siapa yang akan mencalonkan diri jadi pengurus OSIS.


“ Permisi, selamat siang. Maaf mengganggu waktunya sebentar. Kami disini akan mendata siapa saja yang ingin mencalonkan diri menjadi pengurus OSIS. Apakah ada yang berminat?”, kata kak Putri, ketua umum OSIS.


Beberapa anak terlihat mencalonkan diri menjadi pengurus OSIS dan kak Putri mulai mencatat nama-namanya.


“ Apa kalian mau ikut OSIS juga?’’, tanya Elisa sedikit berbisik padaku dan Devi.


“Aku enggak deh. Gak minat.”, jawab Devi ikut berbisik.


Sebenarnya aku punya keinginan ikut organisasi dan aktif di sekolah. Menjadi pengurus OSIS. Hmm, sepertinya tidak buruk, batinku.


“ Gimana sama ku, Ra? Gamau ikut juga?”, tanya Elisa lagi.


“ Ehm, kayaknya aku pengen deh ikut OSIS. Gimana menurut kalian?”


“ ya gapapa sih, bagus juga.”, sahut Devi.

__ADS_1


“ Oh iya, itu kakak sebelah kanannya kak Putri siapa sih?”, tanyaku.


“ Itu namanya kak Rendra. Dulu dia yang ngisi kelasku waktu masa MOS.Emangnya kenapa, Ra? Hayo, suka ya kamu?” rayu Devi.


“ Hayo Dara, cieee.”, tambah Elisa.


“ Ih, apasih kalian. Keliatan kalem, jadinya adem gitu liatnya. Hehe” , kataku sambil senyum-senyum menahan malu.


“Ya itu namanya kamu terpesona sama dia. Kak Rendra emang baik orangnya, ramah, tapi kalo marah juga galak loh.”, kata Devi.


Tiba-tiba saja.


“ Apa sudah tidak ada yang mendaftar lagi? Baiklah, terimakasih atas waktunya. Selamat siang.”, ucap kak Putri penuh wibawa.


“Eh eh, Ra! Buruan!!!”, ucap Devi


“Tunggu, kak. Aku juga mau mendaftar jadi pengurus OSIS.”, kataku.


“Ya, siapa namamu?”


“Dara Fatasya.”


Angguk kak Putri sambil menulis namaku pada sebuah buku catatan.


“Ok, berarti yang mendaftar ada 4 orang dari kelas ini. Zeze, Bima, Jessi, dan Dara. Silahkan kalian nanti sepulang sekolah berkumpul di lapangan Basket. Jangan telat. Mengerti?” kata kak Putri tegas.


“Mengerti.”


Setelah itu, kelas kami tidak ada pelajara sampai puang sekolah. Semua siswa sibuk mengobrol dengan temannya, ada yang bermain ponsel, juga menonton film di laptop.


“Pffft. Kayaknya kelas beneran jam kosong nih.”, kata Elisa.


“Iya bener. Oh iya, Jessi si wakil itu ikutan daftar calon pengurus OSIS juga ternyata.”, ucap Devi


“Hmm, iya.”, kataku.


“Ngomong-ngomomg, kamu mau ambil bagian apa di kepengurusan OSIS nanti?”, tanya Devi.


Aku terdiam. Ah, kenapa aku belum memikirkan ini? Aku mau jadi apa ya enaknya. Lagian kan aku belum pernah ikut organisasi apa-apa dulu waktu di SMP. Udak kaya kura-kura aja diem diri di dalam tempurungnya, batinku.


“Apa ya, aku bingung nih. Soalnya aku juga belum pernah ikutan jadi OSIS. SMP dulu aja aku cuma ikut ekstrakurikuler Pramuka karena itu wajib. Makanya aku di SMA kali ini pengen lebih aktif dengan aku ikutan OSIS. Tapi aku gatau nanti mau jadi apa, hehe.” , kataku cengengesan.


“Yah Dara mah. Yaudah nanti waktu kerja kelompok dirumahmu sekalian kita bantuin kamu masalah ini deh. Ya kan, Lis?”, kata Devi


“Oke siap. Tenang aja Ra, kita pasti bantu kok”, jawab Elisa.


“Makasih semuanya.”, kataku sambil tersenyum ke mereka.

__ADS_1


Setelah itu, kami bertiga melanjutkan obrolan tentang apa saja. Kami terasa sudah kenal satu sama lain. Aku merasa aku sudah punya sosok sahabat disini. Tiba- tiba Jessi si wakil datang menghampiri kami bertiga.


“Oh, lo juga mau ikut jadi calon pengurus OSIS?”, katanya seperti meremehkan.


Aku menoleh,”Iya.”


“Mau ambil jabatan apa? Kalo aku sih minimal jadi wakil ketua aja deh.”, katanya dengan sombong.


Ini orang kenapa sih, batinku.


“Oh itu sih terserah kamu. Lagian apa pentingnya jabatan Dara nantinya buat kamu?”, cetus Elisa.


“Ih Elisa. Belum tau sih Jess, ini nanti masih aku pikirin.”,jawabku pada Jessi.


“Ok”, jawab Jessi yang kemudian meninggalkan kami bertiga.


“Eh sumpat tuh Jessi kenapa sih? Sirik banget sama kamu Ra?”, kata Elisa kesel.


“Iya Lis, kayaknya sensi banget deh sama Dara, liat aja tuh tadi gaya ngomongnya,”, tambah Devi.


“Ah masa sih. Kalian aja kali yang berlebihan nilainya.”, kataku. Meskipun sebenernya aku juga ngerasa sepertinya Jessi mau bersaing denganku.


“Yee, kamu aja Ra kepolosan nilainya.”, kata Devi.


“Polos. Haha, kertas HVS tuh polos.”, jawabku.


“Hahahaha.”


Tak terasa setelah lama mengobrol, bel pulang sekolah berbunyi.


“Trrrrrrrrrrttttttttt”


“ Yaudah Ra, kita pulang duluan ya. Kabarin aja kalau kamu udah bubar kumpulnya. Nanti aku sama Elisa langsung cuss ke rumah kamu.”, kata Devi.


“ Ok, hati-hati kalian.”


Kami berpisah di depan kelas. Aku langsung menuju ke lapangan basket. Tiba- tiba ada yang memanggilku, ternyata Bima.


Bima Saputra, dia juga temenku di kelas. Aku sebenernya udah kenal dia dari masa MOS karena memang dulu kita satu ruangan. Oranganya ukup keren, Cuma kerennya tertutup sama kacamata besar yang dia pakai. Haha. Orangnya baik, lucu, dan....Kagetan. Hahaha. Prnah dulu waktu MOS dia diisengin sama temen satu ruangan juga, pake tali pramuka. Talinya dilempar ke Bima sambil teriak “Uler uler!”. Langsung deh tuh si Bima teriak sambil loncat-loncat. Semua anak di ruangan itu pada mengetawain dia, aku juga sih. Abisnya kocak hehe. Yang paling risih dilihatnya dari penampilan Bima itu, dia suka benerin kacamata besarnya itu karena suka mlorot. Ngapain gak di lem aja sih bim biar ga mlorot lagi. Haha.


“ Daraa... Dara. Tunggu!” , teriak Bima.


Aku memelankan langkahku, supaya dia bisa mengejarku.


“Ada apa Bim?”, tanyaku.


“Barengan dong ke lapangan basketnya.”, katanya sambil ngos-ngosan.

__ADS_1


“Yaudah ayo.”, ajakku.


Akhirnya aku dan Bima barengan menuju ke lapangan yang disana udah ditunggu Kak Putri dan kakak OSIS lainnya.


__ADS_2