My Uwu Boyfriend

My Uwu Boyfriend
Jadi Apa?


__ADS_3

“ Daraa... Dara. Tunggu!” , teriak Bima.


Aku memelankan langkahku, supaya dia bisa mengejarku.


“Ada apa Bim?”, tanyaku.


“Barengan dong ke lapangan basketnya.”, katanya sambil ngos-ngosan.


“Yaudah ayo.”, ajakku.


Akhirnya aku dan Bima barengan menuju ke lapangan yang disana udah ditunggu Kak Putri dan kakak OSIS lainnya.


~sesampainya di lapangan basket~


“Ayo lebih cepat. Sudah jam 1. Belajarlah disiplin terhadap waktu! Lari!”, teriak kak Putri di tengan lapangan.


“Ayo jalannya cepat! Jangan santai-santai begitu!”, teriak salah satu kakak OSIS lainnya.


Aku melirik jam tanganku. Udah mau jam 1 aja. Kurang 2 menit sih, batinku.


“Eh ayo Bim, kita haru cepet. Tuh, udah diteriakin sama kak Putri.”, kataku sembari berlari ke lapangan.


“Hah, iya iya Ra. Tungguin akuu.”, kata Bima mengejarku.


Ketika aku masih mau masuk area lapangan, aku berhenti sejenak karena ngos-ngosan. Tiba-tiba kak Rendra menghampiriku.


“Gapapa, dek?” , tanya kak Rendra sambil menatapku.


Aku yang tadinya membungguk menjadi mendongak ke atas, dan wahhhh pemandangan apa ini, kak Rendra?


“Eh, gapapa kak, hehe.”, jawabku. Wih kalo dari deket makin keren aja ih.


“Yaudah, cepat berkumpul di tengah lapangan.”, katanya sambil berlalu.


“ I-iya kak,” kata ku.


Aku langsung kembali berlari ke tengah lapangan. Akhirnya aku sampai juga. Langsung aku mengatur nafasku yang gak beruturan ini. Kemudian ada tangan yang menepuk pundakku dari belakang. Aku seketika terkejut.


“Huh huh, kamu malah ninggal aku sih Ra.”, kata Bima sambil ngos-ngosan.


“Eh ya maaf hehe. Abis kamu lama sih. Aku juga takut tuh tadi udah diteriakin.”, kataku.


“Cepat dek, cepat!”.


Aku dan Bima langsung berbaris dengan anak lainnya yang udah nyampe di tengah lapangan. Terlihat kak Putri melirik jam di tangannya. Aku pun reflek ikut melirik jam tanganku. Masih ada anak yang berlarian dri kelasnya masing-masing. Setelah semua siswa berkumpul, kami semua di absen.


“Bagus. Semuanya lengkap. Tapi tolong ya adik-adik, kalian harus bisa displin dengan waktu. Kalau kakak minta kumpul jam 1 disini ya jam 1 pas sudah ada disini. Jangan seperti tadi, masih ada yang santai-santai jalannya. Karena anak OSIS itu juga sebagai cerminan bagi siswa-siswi disini. Jadi berusahalah bersikap baik,”, kata kak Putri sambil menasehati.


“Ya adik-adik, disini kalian dikumpulkan karena kita akan membicarakan tentang persiapan kalian sebagai calon pengurus OSIS baru. Sebelumnya kakak mau tanya, apa kalian benar-benar sudah yakin mau ikut OSIS?”, tanya kak Rendra pada semua.


Kami serentak menjawab.


“Siap, yakin.”


“Menjadi OSIS itu kerjanya juga berat, dek. Ikutan OSIS nggak buat ajang biar bisa populer. Memikul tanggungjawab. Kita punya program kerja yang harus dilaksanakan tiap tahunnya, dan kita berharap juga buat adek-adek disini bisa meningkatkan program kerja OSIS sebelumnya.”, tambah kak Sasa, OSIS senior juga.


“ Dan kakak harap kalian tidak akan putus di tengah jalan dan lari dari tanggungjawab. Jadi tolong pikirkan matang-matang untuk bergabung di OSIS.”


“Tugas kita memang besar tanggungjawabnya. Setiap organisasi pasti ada suka dan dukanya, begitu pun di OSIS. Jika kalian merasa keberatan dan tidak mampu, kalian beoleh mengundurkan diri. Oh iya, total siswa yang mencalonkan diri menjadi pengurus OSIS ada 42 anak.”, kata kakak OSIS lainnya.

__ADS_1


“Bagi kalian yang mau mengundurkan diri, silahkan nanti setelah kumpul ini menemui saya di ruang OSIS.”, kata kak Putri.


“Untuk beberapa hari kedepan kita akan banyak melakukan pertemuan perihal pemantapan kalian nanti. Sepertinmya pertemuan kali ini cukup sampai disini. Besok kita berkumpul lagi disini jam 2.30 tepat di aula sekolah. Ini ada formulir tolong diisi dan juga surat pernyataan izin dari orang tua atau wali kalian. Untuk bukti bahwa kalian benar-benar siap menjadi pengurus OSIS dan yang pasti tidak bertabrakan dengan masalah internal dengan orang tua dirumah.”, kata kak Sasa sambil membagikan formulir.


“Baik, salam buat orang tua dirumah dan sampaikan mita maaf kami karena kalian pulang telat. Selamat siang.” Pamit kak Putri.


Setelah selesai membagikan formulir, kak Putri dan OSIS lainnya meninggalkan lapangan.


“Gimana, Bim? Kamu yakin ikut OSIS?”, tanyaku pada Bima.


“Yakin dong Ra. Kamu sendiri yakin gak?”, tanya Bima Balik.


“Yakin ajalah.”, jawabku.


“Yaudah yuk pulang.”, ajak Bima


Aku menganggukkan kepala dan kami berpiah di pintu depan, karena Bima harus ngambil potornya di parkiran dan aku ke gerbang depan buat nungguin kendaraan pribadiku, angkot haha.


“Kamu naik apa Ra?, mau bareng?”, kata Bima.


“Ah gausah. Aku naik angkot aja,”, jawabku.


“Besok bareng lagi ya waktu kumpul di aula.”


“Gampang deh.”


“Aku duluan, Ra.”


“ Iya.”


Bima udah berlalu dengan motornya. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 13.45. Lalu aku mengeluarkan ponsel dari dalam tasku.


Aku melihat dari arah kiri ada angkot dan aku melambaikan tangan sama angkotnya. Hehe, biar berhenti.


~sesampainya di rumah~


“Assalamuaikum.”, kataku sambil masuk rumah.


“Waalaikumsalam.”, jawab ibu.


Aku mencium tangan ibu dan langsung bergegas ke kamar. Di kamar aku langsung meletakkan tas dan membaringkan tubuhku ke atas kasur yang empuk.


“Ah, capek juga hari ini.”


Menatap langit-langit kamar. Sambil flashback rentetan kejadian hari ini.


“Kalau aku ikut OSIS, bakal lebih sering ketemu sama kak Rendra, dong.”, kataku sambil senyum-senyum.


“Aduh mikirin apasih aku ini. Aku kan ikut OSIS biar makin aktif aja di sekolah. Udahlah.”, kataku sambil bangkit dari tempat tidur. Aku langsung mengambil handuk, dan pengen mandi biar badan lebih fresh lagi.


“Bu, bentar lagi temenku ada yang kerumah mau ngerjain tugas bareng. Aku mau mandi dulu”, kataku sambil menuju ke kamar mandi.


“Iya Dara, nanti sehabiis mandi makan dulu. Ibu juga mau nyiapin makanan buat temenmu nanti.”


“ iya bu.”


Tak berapa lama terdengar pintu diketuk.


“Assalamualaikum.”

__ADS_1


Ibu langsung menghampiri dan membukakan pintu.


“Waalaikumsalam, temennya Dara ya?”, tanya Ibu.


“Iya tante.”


“Ayo silahkan masuk, Dara lagi mandi. Ditunggu ya.”


“Oh iya, tante.”


Selesai mandi aku ke kamar dan langsung menemui mereka di ruang tamu.


“Udah lama ya?”, tanyaku.


“Enggak juga sih.”, jawab Devi.


Tak berapa lama, Ibuku datang membawakan minuman dan cemilan.


“Ini cemilannya sama minumannya.”, kata ibuku.


“Eh, makasih tante. Jadi ngerepotin.”, kata Elisa.


“Enggak kok nak, dimakan ya.”, kata Ibu kemudian kembali lagi ke dalam.


Sambil makan cemilan yang dibuatin ibu, dan segelas es jeruk yang segar. Kami bertiga langsung ke tujuan utamanya, ngerjain PR Bahasa Indonesia. Hampir 30 menit kami baru nyelesaiin tugas Bahasa Indonesia karena yah begitulah cewek-cewek juga banyak ngomongnya.


“Tadi ngumpul OSIS ngapain aja Ra?”, tanya Elisa.


“Ah iya, baru keinget. Tadi aku dikasih formulir sama disuruh buat surat pernyataan gitu.”, kataku sambil mengeluarkan kertas formulir dari dalam tasku.


“Mana liat?”, ucap Devi.


Aku menyodorkan kertas formulisnya ke Devi.


“Disini disuruh ngisi jabatan juga, kamu mau jadi apa, Ra?”


“Nah itu. Aku enaknya apa ya?”


“Asal jangan wakil aja Ra, ntar saingan lagi tuh sama si Jessi.”, kata Devi.


“Lah emang kenapa? Biarin aja. Malah tuh buktiin Ra kalau kamu bisa kalahin si Jessi yang sok itu. Dia kan tadi di kelas yakin banget tuh mau jadi wakil.”, kata Elisa.


“Ehm, iya juga sih.”, kataku.


“Nah, btw nih buatan Ibumu enak juga ya.”, kata Devi sambil ngunyah.


“Hahaha, makanan mulu sih.”


“Eh Ra, kita pulang dulu ya. Udah sore juga. Ketemu lagi besok di sekolah. Ibumu mana? Mau pamit.”, kata Elisa,


“Oh iya, Ibu di belakang nanti aja aku salamin.”


“Okedeh, kita balik dulu ya.”


“Iya.”


Setelah kepulangan Elisa dan Devi, aku langsung membereskan makanan dan minuman. Setelah itu masuk ke kamar, mengambil formulir Osis, dan melihatnya.


Hmm, kayaknya boleh nyalonin diri jadi wakil.

__ADS_1


__ADS_2