My Uwu Boyfriend

My Uwu Boyfriend
Masalah Baru


__ADS_3

“Tuh seragamku jadi basah semua tuh. Semuanya gara-gara kamu. Emang dasar jail,”


“Yee, lu juga nyiram gue kali,”


Aku gak menghiraukan Rafa lagi. Aku menutup Lab dan menguncinya, lalu pergi gitu aja ke kelas langsung. Aku gak peduli teriakan dia, karena aku jadi kesel lagi sama dia.


“Woy tungguin gue napa.”, teriak Rafa.


“Hm, emang bener manis Dara,”kata Rafa sambil tersenyum dan ikut kembali ke kelas.


~sesampainya di kelas~


“Loh kalian kenapa basah-basah begini?” tanya bu Indah


“Itu, Bu. Tadi Rafa masa nyiram saya duluan,” kataku.


“Kok jadi gue,sih. Ya lo juga nyiram gue.” sahut Rafa.


“Ya itu karena kamu nyiram duluan, kali.”


“Lo!”


“Kamu!”


“Lo!”


“Kamu,”


Akhirnya aku dan Rafa malah bertengkar di depan Bu Indah dan temen-temen lainnya.


“Wah, tontonan seru nih,” kata salah satu anak, dibarengi dengan ketawa anak-anak lain.


“Hei. Sudah-sudah! Kenapa kalian malah ribut. Anak-anak diam!” kata Bu Indah dengan geram.


“Maafin kita, Bu.” kataku sambil memberikan kunci Lab kepada Bu Indah.


Aku dan Rafa sempat bertatap-tatapan. Bukan apa-apa. Ini tatapan sinis yang kuberikan, setelah apa terjadi tadi. Kemudian Bu Indah menyuruh kami untuk duduk dan melanjutkan pelajaran.


“Eh, Ra. Kok bisa gini sih?” tanya Elisa.


“Udah nanti aja aku ceritain. Daripada dimarahin Bu Indah lagi,” kataku.


Setelah lama mengikuti pelajaran waktu bel istirahat tiba. Aku memutuskan di kelas saja karena tadi pagi Ibu membawakanku bekal. Elisa dan Devi pergi ke kantin untuk membeli makan dan memutuskan untuk makan bersamaku di kelas.


“Ra, kita ke kantin dulu. Mau titip gak?” kata Devi.


“Nggak deh,” kataku.


“Jangan lupa abis ini cerita, Ok?” kata Elisa sembari berlalu meninggalkanku.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk dan membereskan buku di bangku untuk nanti tempat makan. Setelah 10 menit berlalu, Devi dan Elisa akhirnya datang juga. Mereka datang sambil membicarakan sesuatu.


“Ih gila si, dia berani bilang gitu sama tuh cewek,” kata Devi.


“Ya ceweknya juga berani nembak dia. Tapi kasian juga ya ceweknya,” jawab Elisa.


Sesampainya mereka di bangkuku, aku langsung menanyakan apa yang terjadi di kantin. Aku mendengar anak-anak lain yang abis dari kantin sedang membicarakan sesuatu juga.


“Ada apa sih di kantin? Kayaknya rame banget anak-anak bicarain,” tanyaku.


“Eh nyesel deh Ra kamu tadi gak ikut kita ke kantin. Ada kejadian heboh!” kata Devi antusias.


“Emang ada apa?”


“Iya, Ra. Tadi di kantin ada cewek dari anak IPS datengin meja Rafa pas dia lagi makan. Ternyata cewek itu nyamperin Rafa buat nyatain cinta! Sontak mereka jadi pusat perhatian, lah” jelas Elisa.


“Terus, Rafa nolak mentah-mentah itu cewek. Padahal ceweknya ini cantik banget. Dia bilang, dia udah punya orang yang dia suka, dan cewek itu gak ada apa-apanya di banding cewek yang Rafa suka,” tambah Devi.


“Gimana ya perasaan tuh cewek,” kata Elisa.


“Astaga. Harus gitu banget ya nolaknya. Gak mikir perasaan orang lain emang tu cowok. Sok kecakepan banget,” komentarku.


“Emang cakep kok, Ra. Hehe,”


Cakep sih cakep, tapi udak ketutup aura cakepnya sama sikap ngeselinnya dia tuh, batinku.


“Ah yaudah lah. Itu urusan mereka. Yuk makan aja, keburu bel masuk,” ajakku.


Hmm, jadi si Jail itu udah ada cewek ya. Wajar sih kalo banyak yang suka, emang cakep orangnya. Aku memutuskan kembali makan masakan Ibu yang spesial ini, makanan favorit. Gak ada yang lebih bahagia dari makan masakan Ibu. Karena cuma Ibu yang sekarang aku punya, dan segalanya buatku.


~bel masuk berbunyi~


Bel masuk berbunyi. Anak-anak yang diluar kelas semua masuk ke dalam. Devi dan Elisa keluar untuk membuang bungkus makanan yang tadi di makan. Tak berapa lama, Guru masuk ke kelas.


“Ada yang tidak masuk hari ini?” tanya Pak Roni.


“ NIHIL, Pak,”


Pak Roni melihat anak-anak dan mendapati ada dua bangku yang kosong namun ada tasnya. Yang tak lain tak bukan itu adalah bangku Rafa dan teman sebangkunya Dion.


“Dua anak itu kemana?” tanya Pak Roni.


“Gatau Pak,”


“Yaudah Bapak tulis mereka absen,”


Saat Pak Roni ingin menulis di buku jurnal, kedua anak itu datang.


“Eh Pak Pak, tunggu. Kami hadir kok,” kata Dion.

__ADS_1


“Darimana saja kalian? Apa tidak dengar bel masuknya?” tanya Pak Roni.


“Denger kok, Pak. Cuma kami tadi dari kamar mandi. Kebelet, Pak.” Jawab Dion.


“Ke kamar mandi aja pake berdua. Yasudah cepat duduk. Bapak mau mulai pembelajarannya.”


Dion dan Rafa kemudian duduk di bangkunya masing-masing. Semua anak di kelas pada ngeliatin ke arah Rafa. Rafa yang yang menyadari itu cuek saja dan berkata “Gausah liat-liat deh.”Langsung semua anak yang melihatnya tadi memalingkan wajah dan kembali melihat Pak Roni yang menjelaskan di depan kelas. Pak Roni yang mendengar Rafa berbicara hanya menengok dan kembali menulis di papan tulis.


Sudah 3 jam pelajaran berlalu. Pak Roni mengakhiri pembelajaran dan langsung keluar kelas. Anak-anak yang sedari tadi diam mengikuti pelajaran sekarang menunjukkan rasa keponya atas apa yang terjadi di kantin tadi. Salah satu anak tiba-tiba mengatakan hal yang seolah menyindir kejadian tersebut


“ Wah primadona kita abis nolak cewe. Sayang banget ya. Cantik padahal”, kata salah satu cowo di kelas, yaitu Yodi.


Semua yang mendengar langsung tertuju kepada Yodi. Berani juga dia buat masalah sama Si Jail itu. Tiba-tiba Rafa menghampiri cowo itu dengan tatapan sinis, kejam, seperti seorang penjahat yang siap mengerek leher korbannya.


“Ternyata disini ada yang iri sama gue. Mungkin karena gapernah dinyatain cinta sama cewek cantik kali ya Yon.”


“Ah? I-iya kali” kata Dion kaget


“Maksud lo apa? Sok cakep banget. Cih”


“Oh. Gue gaada maksud apa-apa. Cuma nanggepin orang yang sirik sama gue.”


“Berani banget loh ya.” Katanya sambil mendaratkan pukulan ke muka sang primadona.


Seketika kelas jadi ricuh dan anak-anak yang lain takut buat melerai mereka berdua. Mereka malah seolah menikmati tontonan yang terjadi.


“ Eh eh. Gimana nih. Kok malah pada pukulan gitu. Apa kita panggil guru aja ya?” kata Elisa.


“Duh gue juga takut kali.” Timpal Devi.


Aku sebenernya juga ngeri sih liat perkelahian itu. Tapi daaripada makin jadi. Aku menyuruh salah satu anak cowo buat ngelerai mereka berdua dan aku langsung keluar kelas.


“Eh mau kemana, Ra? Tanya Elisa


“Bentar” jawabku sambil berjalan keluar kelas.


Aku memang berniat melaporkan perkelahian itu ke kantor guru. Selama diperjalanan menuju kantor, aku merasa sangat kesal. Mengapa maslah seperti itu saja mengundang keributan di kelas. Pasti nama kelas juga bakal jadi omongan yang lainnya. Bener-bener gak bisa dewasa. Tak lama aku kembali dengan membawa salah satu guru, yaitu Pak Roni yang tadi baru saja mengajar di kelas.


“Kenapa ini? Buat ribut saja! Kalian itu mengganggu pelajaran kelas lainnya, mengerti!” kata Pak Roni tegas.


Seketika saja anak-anak yang lain langsung duduk di bangkunya masing-masing, begitupun Rafa dan Yodi.


“Kalian berdua, ikut Bapak sekarang! Dan yang lain siapkan untuk pelajaran berikutnya. Tidak usah rame. Mengerti?”


“Mengerti, Pak” sahut anak-anak.


~ keduanya ternyata menuju ruang BK~


Rafa dan Yodi sekarang sudah menghadap kepada Ms. Ratna, guru BK. Ms. Ratna termasuk salah satu guru yang sangat ditakuti siswa disini karena perawakannya yang berbadan bulat dan memakai make up dengan lipstik merah merona dengan tatapan yang sangat tajam. Seolah siapapun yang melihatnya akan langsung ingin memalingkan wajah.

__ADS_1



__ADS_2