
Setelah kepulangan Elisa dan Devi, aku langsung membereskan makanan dan minuman. Setelah itu masuk ke kamar, mengambil formulir Osis, dan melihatnya.
Hmm, kayaknya boleh nyalonin diri jadi wakil.
~malam harinya~
Sehabis makan malam. Aku cerita ke Ibu kalau aku mencalonkan diri jadi pengurus OSIS.
“Bu, Dara di sekolah daftar ikut OSIS. Ehm , boleh kan bu?”, tanyaku.
“Boleh aja, sayang. Asal kamu emang niat ikut OSIS dan kamu bertanggung jawab atas tugasmu nanti.” kata Ibu.
“Iya bu, Dara udah mikirin ini matang-matang. Dara mau minta izin aja sama ibu. Tadi, Dara dikasih formulirnya trus disuruh buat surat pernyataan perizinan dari orang tua. Ibu mau kan buatin?”
“Iya sayang, nanti ibu buatkan. Ngomong-ngomong kamu mau ambil jabatan apa nanti di OSIS?”
“Dara rencana mau jadi wakil ketua, gimana menurut ibu?”
“Bagus sayang. Ibu akan dukung Dara sepenuhnya. Kamu sudah mikirin visi misi kamu apa nanti?”
“Belum sih bu, nanti Dara pikirin.”
“Yaudah, habis ini Ibu buatkan suratnya pernyataannya."
“Makasih, Bu.” kataku sambil memeluk Ibu yang duduk disampingku.
“Besok mau dimasakin apa buat bekal?” tanya Ibu.
“Sayur kangkung ya, Bu. Dara paling suka, hehe.”
“Iya besok ibu masakin. Yaudah kamu pergi belajar gih.”
“Siap Bu.” kataku.
Aku lalu pergi ke kamar untuk belajar pelajaran besok. Aku cuma baca-baca dan kemudian tertidur.
~keesokan pagi~
“KRRRRNNNGGG”, bunyi alarm.
Aku mendengar bunyi alarm tapi rasanya males buat bangun. Aku masih tiduran di kasur. Lalu aku melirik jam yang ternyata pukul 06.20. Aku langsung bangkit dari tempat tidur.
“Astagaaaa”
Aku bergegas mandi, memakai seragam dan meyiapkan buku. Ah, aku benar-benar kesiangan. Kemudian aku keluar kamar untuk meminta surat pernyataan dari Ibu.
“Ibu, Ibu mana surat pernyataannya?” panggilku.
“Itu Ibu sudah siapkan di atas meja makan sekalian bekal kamu.”
Aku langsung ke meja makan memasukkan surat itu dan bekalku ke dalam tas. Ibu menghampiri.
“Kamu gak makan dulu Dara?” tanya Ibu.
“Udah kesiangan Bu. Dara langsung berangkat aja ya.”
“Eh minum dulu susunya, ini.” kata Ibu
Aku langsung meneguk susunya yang Cuma habis setengah gelas. Kemudian aku langsung pamit.
“Bu, Dara berangkat dulu. Assalamualaikum.” kataku sambil mencium tangan ibu.
“Waalaikumsalam, hati-hati Dara.”
Aku berjalan cepat ke jalan dan menunggu angkot yang lewat. Sesekali aku melihat jam tanganku yang udah menunjukkan pukul 06.45.
“Duh masa sih angkotnya, bisa telat nih.”
Tak berapa lama terlihat angkot juga. Kemudian aku naik angkot itu. Uh, untung masih ada angkot.
__ADS_1
Sesampainnya di depan sekolah aku langsung turun dari angkot dan membayar ongkosnya. Terlihat Pak Satpam mau menutup gerbang depan sekolah.
“Pak pak pak, berhenti.”, kataku. Tapi ada suara lain juga yang berteriak seperti itu. Dan ternyata orang itu Rafa. Dia kemudian menghampiri aku sama pak satpam. Aku gak terlalu perduli dan kembali memohon ke Pak Satpam untuk membukakan gerbang.
“Pak, tolong biarin saya masuk.” kataku
“Iya pak biarin kami berdua masuk.” kata Rafa.
“Kalian anak kelas 10 kan? Udah telat aja!” marah Pak satpam.
“Saya bangun kesiangan.” kataku bersamaan dengan Rafa. Eh. Langsung aku dan rafa saling bertatapan, kemudian langsung berpaling dan kembali memohon untuk diizinkan masuk.
“Baiklah. Awas kalau kalian besok terlambat lagi!” kata Pak satpam.
“Makasih, Pak.”
Akhirnya kami diizinkan masuk. Saat setelah pinu gerbang dibuka sedikit oleh Pak satpam, aku langsung berlari masuk ke dalam, tetapi saat di pintu gerbang aku dan Rafa berebut untuk duluan masuk.
“Ih, apasih. Gabisa masuk nih.” kataku.
“Ya gue duluan, badan lo tuh lebar.” kata Rafa.
“Eh mana bisa. Orang aku duluan yang nyampe. Lagian kamu tuh ngalah kek sama cewek,” ketusku.
“Gabisa! Gue duluan! “ ngototnya.
“Hei hei. Kalian ini ya malah ribut sendiri.” Marah Pak satpam
“Dia nih pak,” kataku.
“Enggak, lo tuh.”
“Sudah-sudah. Cepat masuk!” kata Pak satpam.
Karena aku semakin jengkel, dan dia gamau mengalah, aku tanpa pikir menginjak kaki Rafa dan langsung berlari duluan ke dalam.
“Aww, dasar tuh cewek.”
Aku cepat berlari ke menuju kelas dan melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 07.10.
“Tuhkan, makin telat deh. Gara-gara dia sih ngajak ribut segala. Semoga gurunya belum masuk kelas , deh.” kataku ngomel sendirian.
Saat aku sudah sampai di depan kelas, aku melirik dari jendela. Ah, gurunya udah ada di kelas lagi. Mampus nih, batinku. Akhirnya aku mau tak mau memberanikan diri.
“Toktoktok” pintu diketuk.
“ Maaf , Bu. Saya terlambat.” kataku sedikit takut.
“Kalian, masuk sini!” kata bu Indah, guru Bahasa Indonesia.
Kalian? Perasaan aku sendiri. Masa iya aku diikutin setan, batinku. Langsung aku inisiatif melihat ke belakang. Ah, dasar beneran diikutin setan. Ternyata di belakangku ada Rafa. Aku lupa tadi kalau telat bareng sama dia.
“Kalian kenapa bisa terlambat?” tanya bu Indah.
“Kesiangan Bu,” jawabku lagi-lagi barengan sama Rafa.
“Lah, kalian tinggal serumah? Hahaha.” tanya salah satu anak. Kemudian anak yang lain malah ikutan ketawa.
Aku makin kesel aja sama hari ini. Mimpi apa aku semalem. Aku melihat Devi dan Elisa seperti bertanya padaku, tapi karena aku gatau mereka ngomong apa karena gak bersuara aku cuma diem aja.
“Kalian masih beberapa hari masuk saja, sudah terlambat. Kali ini ibu mau menghukum kalian berdua.” Kata Bu Indah.
“Yah, Bu. Jangan di hukum suruh lari lapangan ya bu. Saya belum sarapan tadi pagi.” kata Rafa
Wah, jangan sampe lah suruh lari lapangan. Kan aku juga belum sarapan, huhu.
“Tidak kok. Ibu Cuma meminta kalian membersihkan Lab. Bahasa Indonesia sekalian bersihkan taman yang ada di depannya. Kalau kalian terlambat saat mata pelajaran Bahasa Indonesia lagi, ibu akan hukum lebih berat lagi. Kalian mengerti? Ini juga berlaku buat semuanya ya.”
“Iya Bu,”
__ADS_1
“Sekarang kalian berdua cepat ke Lab. Bahasa Indonesia. Nanti bel jam kedua kalian boleh kembali kesini.”
Aku hanya mengangguk dan langsung keluar kelas menuju ke Lab. Sesampainya di Lab, terlihat memang tamannya agak berantakan dan terlihat Lab terkunci.
“Lab.nya dikunci nih.” kataku.
“Ya artinya kita gaperlu repot-repot bersihinnya.” Jawab Rafa dengan santai.
“Yang ada kita kena masalah lagi. Mending kita minta kuncinya ke Bu Indah.”, kataku.
“Lo aja sana, gue tunggu disini.”
“Ih.” Kataku greget banget sama dia.
Akhirnya aku sendiri yang harus minta kuncinya ke Bu Indah. Kenapa hari ini ngeselin banget sih. Gara-gara bangun kesiangan nih, padahal semalem juga tidunya cepet, dan lebih ngeselinnya lagi ternyata itu si Rafa. Perasaan dulu awalnya dia baik- baik aja tuh (flashback saat Rafa minta maaf di kantin). Eh taunya serigala berbulu karung goni, tuh.
~sampai di kelas~
“Permisi Bu Indah, Lab.nya dikunci bu.” Kataku.
“Oh iya Ibu lupa. Ini kuncinya.” Sambil meyerahkan kunci.
“Saya permisi dulu ya Bu.”
Aku kembali lagi ke Lab, dan melihat Rafa masih berdiri aja disana. Bukannya bersihin tamannya dulu, kek. Biar cepet selesai. Aku langsung membuka Lab, karena kondisi ruangan yang gelap dan pengap aku membuka semua tirai di Lab itu. Setelah itu aku mengambil sapu.
“Nih, sapunya. Jangan cuma berdiri aja.” sambil menyodorkan sapu.
Rafa langsung masuk ke dalam Lab dan aku mengikutinya. Kami langsung menyapu lantai aku sesekali memarahinya karena dia nyapunya gak bener.
“Yang bener dong nyapunya. Tuh masih ketinggalan, tuh. Nyapu kok brewok. Emang mau nanti punya istri brewokan. Haha .” kataku.
“Emang lo mau brewokan,” kata Rafa sedikit bergumam.
“Ha?”
“Eh, gak. Sana lo nyapu juga yang bener.”
Entah apa yang dibilang Rafa tadi tidak begitu jelas, dan aku juga gak peduli. Akhirnya aku melanjutkan menyapu. Setelah Lab beres, tinggal membersihkan taman. Aku bagian menyapu taman, dan Rafa bagian menyiram tanaman.
“Eh, basah nih.”kataku karena terkena siraman air dari Rafa.
“Sorry, gak sengaja.”katanya sambil nahan senyum.
Aku masih melanjutkan menyapu dan melihat jam tangan masih kurang 15 menit lagi sebelum bel mapel kedua. Lagi-lagi Rafa menyiram tanaman dan mengenai seragamku. Entah apa dia sengaja atau tidak, aku sangat jengkel.
“Niat nyiram tanaman apa nyiram aku? Sengaja kan? Liat nih basah tu seragamku.” kataku menunjukkan ekspresi kesel.
“Sorry, galiat.”
“Galiat galiat, mata tuh dipake. Pasti ini sengaja kan nyiram,”
“Hahaha.”
“Dasar ya, nyebelin. Jail banget, sih.”
Aku udah geram banget sama Rafa. Aku lempar sapunya ke dia, tapi malah gakena. Trus aku ambil gayung dan balik nyiram dia pake air. Dia nyiram aku lagi saat aku mau nyiram balik dia malah lari. Kita jadi main basah-basah kaya anak kecil, dan malah ketawa-ketawa seakan aku udah lupa kekesalanku sama Rafa. Perang air pun masih berlanjut sampai bel mapel kedua berbunyi. Kami seketika berhenti berlarian.
“Eh udah-udah. Udah bel nih.”kataku.
“Yah, gak seru lagi nih.”
“Tuh seragamku jadi basah semua tuh. Semuanya gara-gara kamu. Emang dasar jail.”
“Yee, lo juga nyiram gue kali.”
Aku gak menghiraukan Rafa lagi. Aku menutup Lab dan menguncinya, lalu pergi gitu aja ke kelas langsung. Aku gak peduli teriakan dia, karena aku jadi kesel lagi sama dia.
“Woy tungguin gue napa.”, teriak Rafa.
__ADS_1
“Hm, emang bener Dara manis banget, apalagi kalo marah haha,” kata Rafa sambil tersenyum dan ikut kembali ke kelas.