
"Kau harus menulis, kau harus menulis lagi. Hanya itu yang bisa kau lakukan. Tidak ada yang lain. Kau harus menulis. Harus menulis...
Ah, untuk sekian kali suara itu kembali menggangguku. Suara yang sudah lama kubungkam. Sejak aku dituduh sebagai...
Dasar kucing kurap! Aku benci tuduhan itu! Benci! Benci! Karena satu tuduhan itu aku tidak lagi punya kemampuan untuk...
Aku benar-benar tidak berdaya.
Sekarang aku benar-benar, sangat-sangat tidak berdaya. Aku sudah tidak ada bedanya dengan seorang kakek jompo yang sedang menunggu ajal!
Ghost writer!
Aku dituduh menggunakan jasa seorang ghost writer!?
Itu tuduhan yang semena-mena! Sungguh semena-mena!
Apa salahku kalau aku menjadi seorang yang produktif!? Dalam sebulan bisa menulis dan menerbitkan tiga novel sekaligus. Di usia yang hampir menginjak kepala tujuh, gak mungkin?!
Gak mungkin bagaimana!?
Padahal aku sudah mengajak si penuduh itu untuk main ke rumah. Melihat bagaimana aku menjalankan pekerjaanku sebagai seorang penulis novel. Tetapi dia malah menolak dan dengan sengitnya makin-makin pula ia menuduh. Bukan cuma menggunakan jasa seorang ghost writer, sekarang, tuduhannya bertambah satu lagi, katanya, aku ini seorang plagiator!
Tuduhan apa lagi ini!? Plagiator!? Sejenis makanan apa pula itu!? Kalau pun ada kesamaan cerita barangkali itu...
Demi Tuhan aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penjiplak! Tidak dulu, sekarang, atau pun nanti!
Karena semua tuduhan itu... Semestinya aku abaikan saja, begitu seseorang pernah mengingatkan. Aku ingin, sungguh ingin sekali mengabaikan tapi aku tidak, bagaimana juga dia sudah menyentuh hal yang paling mendasar dari kehidupanku.
Bagaimana juga aku sudah mencita-citakan hal ini sedari kecil. Sedari aku bisa melek baca! Iya, sedari aku melek huruf, aku sudah mencita-citakan diriku sebagai seorang pengarang cerita.
__ADS_1
Aku tidak punya cita-cita lain, cuma ingin menjadi seorang pengarang cerita, tidak lebih tidak kurang!
Dan sial buatku, baru bisa merealisasikan cita-cita itu ketika usiaku sudah menginjak kepala lima, lebih tepatnya pas di umurku yang ke lima puluh lima tahun!
Bayangkan baru bisa mewujudkan impian masa kecilku ketika aku mencapai usia tersebut. Usia yang sangat-sangat riskan untuk menjalani aktivitas yang amat sangat melelahkan seperti ini.
Dan ketika aku berhasil, dengan seenak udelnya seseorang datang menuduhku. Menuduhku menggunakan jasa seorang ghost writer sekaligus menuduhku sebagai seorang plagiator.
Orang yang sama telah menuduhku dengan tuduhan yang sangat keji dan semenjijikan seperti itu!?
Oleh seseorang pengagum, aku pun diminta untuk melaporkan si penuduh itu ke pihak yang berwenang. Iya, Tuhan apa si penganggum itu pikir orang-orang di kantor itu akan menindaklanjuti..
Bagaimana juga, selain hal tersebut tidak ada uangnya, lagi pula tuduhan tersebut tidak menyinggung kekuasaan, jadi mana mau mereka bersusah-susah.
Jangan kata untuk menindaklanjuti tuduhan yang kayak begitu itu. Lah soal urusan bajak membajak buku saja mereka malah balik kanan. Terus dengan santainya mereka berucap, kalau semua itu sudah seperti lingkaran setan.
Yang setan siapa? Si pembajak? Atau mereka!? Aku jawab, dua-duanya! Sudahlah gak usah ditarik-tarik sampai ke sana, rugi waktu dan rugi uang!
Iya, sekarang-sekarang ini aku hanya bisa dan cuma punya kemampuan sekaligus kekuatan hanya untuk menyahuti dan membalas semua perkataan dan pertanyaan dari para pengagum saja, lain dari itu, tidak!
Selama ini aku kemana saja!?
Selain diriku, adakah yang bisa menjawab pertanyaan ini. Atau haruskah pertanyaan ini ditanyakan.
Kemana saja aku selama ini!? Aku hidup dan menjalani impian orang lain, kalau bisa aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang seperti itu, tapi apakah si pengagum akan cukup puas!?Jujur, aku tak mau kalau ia menjadi kecewa dan sakit hati.
Bagaimanapun juga, dengan pertanyaan ini, sesungguhnya dia telah memberikan effort cukup besar, baik kepada dirinya, pun juga kepada diriku. Sungguh berani ia mengajukan pertanyaan se-pribadi ini kepadaku, itu bukan sesuatu yang biasa. Buatku, ini sesuatu yang luar biasa!
Benar, aku hidup dan menjalani impian orang lain. Bertahun-tahun lamanya. Siapa saja yang bisa membayangkan pastilah ia pernah atau barangkali masih dan sedang berjibaku dalam situasi dan kondisi yang kurang lebih sama denganku.
__ADS_1
Aku seorang... Lebih tepatnya, dulu aku adalah seorang akuntan. Iya, itu adalah profesi yang kugeluti bertahun-tahun lamanya. Berjibaku dengan angka-angka adalah makananku sehari-hari. Aku membencinya? Tidak! Tapi aku juga tidak menyukainya. Aku melakukan semua itu atas dasar satu kesepahaman saja kalau aku harus bertanggungjawab terhadap apa yang telah kita sepakati. Kita?! Iya, aku dan kakakku yang tertua.
Kakak tertuaku membanting tulang, tak kenal waktu, hanya agar aku bisa sekolah tanpa harus pusing memikirkan biaya pendidikan, dengan kesepakatan aku bisa masuk STAN. Ujung-ujungnya ia jadi Pegawai Negri Sipil alias PNS di departemen keuangan. Karena disitu masuk kuliahnya bisa gratis. Gak apa-apa bersusah-susah sekarang yang paling penting kelak kau bisa kuliah gratis dan bukan cuma gratis tapi juga digaji, begitu kakak mengingatkan. Apakah aku adalah sosok yang bertanggungjawab?! Setidaknya waktu telah membuktikan!
Sampai seseorang membaca tulisanku pada sebuah blog yang sejujurnya itu cuma proyek iseng-isengku saja. Proyek pelepas suntuk, begitu nama akunku. Si pembaca itu kemudian menyarankan aku agar segera mengirimkan tulisan itu ke penerbit, katanya cerita yang kutulis itu bagus, kupikir itu sebagai bentuk basa-basi saja. Iseng, aku malah balik menantang, bagaimana kalau ia saja yang mengirimkan tulisan tersebut.
Tak dinaya ia malah menerima tantangan tersebut, ia pun meminta aku untuk segera mengirimkan copy tulisan tersebut, ke satu alamat surat.
Copy tulisan tersebut aku kirimkan, tiga bulan berselang aku pun kedatangan sebuah tamu tak diundang, sebuah buku. Lebih tepatnya, buku novel. Novel dengan sampul depan bertuliskan namaku, selain judul dari cerita novel itu tentunya.
Aku kaget? Orang bego mana yang tidak kaget wong novel tersebut muncul di depan mataku bersama dengan satu surat panggilan khusus. Surat panggilan yang mewajibkan aku untuk segera menghadiri satu acara pameran buku akbar di salahsatu gedung kesenian di ibukota Jakarta sana.
Saat pameran tersebut dihelat ternyata aku diminta untuk naik ke atas panggung. Di atas panggung aku didudukkan di satu kursi. Di situ aku diwawancarai satu setengah jam kurang lebih, menceritakan ide dibalik seputar penulisan novel tersebut. Jelas itu membuat aku kaget.
Dan yang lebih membuat aku kaget lagi, ternyata aku juga diminta untuk menandatangani setiap buku yang telah dan dibeli oleh mereka yang menyukai kisah yang telah kutulis itu, yang mana antriannya sudah jauh mengular.
Aku menjadi seorang novelis tanpa sepengetahuanku, bagaimana bisa!? Jalan hidup tak ada yang bisa menduga, hah!
Benar, jalan hidup tak ada yang bisa menduga, lah buktinya... aku bisa menjadi orang tertuduh seperti sekarang!!!
Terus sekarang bagaimana? Suara di dalam hati memaksa untuk menulis lagi setelah tiga tahun lebih kurang memilih menjauh dengan dunia itu-- sepulangku dari rumah sakit-- tak bisa dipungkiri usia yang terus bertambah kian menggerus kekuatan tubuh meski pikiran menolak tua.
Jika memang harus kembali menulis aku harus menulis tentang apa!? Iseng pertanyaan tersebut kuajukan pada diriku. Dengan tangkas suara hati ini menjawab, cerita romantis--jelas ia bercanda!
Si penulis cerita-cerita horor, ia yang sering dijuluki sebagai Edgar Allan Poe-nya abad ini, diminta untuk menulis cerita romantis?! Dituduh sebagai pengguna jasa ghost writer plus sebagai plagiator itu saja sudah menjungkirbalikkan duniaku sekarang aku... Tidak, tidak mungkin!
Kenapa tidak mungkin?! Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin! Bukankah seseorang pernah berkata, 'Agar jangan pernah sekali pun terucap dari bibir Anda untuk mengucapkan kalimat, kalau sesuatu itu tidak mungkin untuk dilakukan, karena itu sama saja Anda sedang melakukan penghinaan terhadap akal dan pikiran Anda sendiri!'
Siapa yang pernah berkata seperti itu?! Sekonyong-sekonyong suara hatiku menunjuk ke mukaku! Lagi-lagi aku tertuduh! Iya, Tuhan aku benar-benar jadi orang yang tertuduh!
__ADS_1
Satu-satunya cerita romantis yang ada di dalam otakku, sampai sesepuh ini, iya cuma satu, Romeo dan Juliet, lain tidak!
Terus aku diminta untuk menuliskan cerita yang seperti itu!? Bah...! Apa kata puluhan cerita-cerita horor yang telah menjadi best seller itu!? Menggelikan! Benar-benar menggelikan!