
Rabu yang kelabu. Suasana ruang kelas tiga SD Budhi Pekerti terdengar saat hening--siswa-siswi masuk ke dalam kelas tanpa terdengar suara berisik sama sekali, tidak seperti biasanya.
Di satu meja, seorang anak dara terduduk sendiri, teman satu bangku tak kunjung menampakkan batang hidung, padahal lonceng sekolah telah berbunyi. Dia pun melirikkan matanya ke dalam laci yang ada di bawah meja tersebut, jangan kata hidung, tas sekolahnya saja tidak ada. Seseorang dari luar masuk ke dalam kelas. Berperawakan tinggi dan anggun. Dia, ibu wali kelas. Tak berselang lama ada seseorang anak dara yang menyusul, memanggil. Si ibu wali kelas berbalik badan. Si anak dara mengucapkan satu dua kalimat sambil menyerahkan sepucuk surat. Si ibu wali kelas menerima surat tersebut. Si anak dara pun bergegas berlalu tapi sebelumnya tak lupa ia mengucapkan terimakasih sambil menundukkan kepala.
Ibu wali kelas membuka amplop surat tersebut. Lipatan surat dibuka. Surat pun dibaca. Si ibu wali kelas terlihat menganggukan kepala. Sebentar saja surat telah selesai dibaca. Surat pun kembali dilipat. Kemudian diselipkan di dalam buku absensi kelas.
Di satu meja yang bangku sebelahnya kosong si anak dara terlihat seperti orang yang menduga-duga, sambil bagian bawah bibirnya yang tipis berwarna merah delima itu ia cubit-cubit kecil. Surat tersebut barangkali adalah surat dari teman sebangku, pikirnya begitu, tapi kenapa anak perempuan itu yang membawa, kenapa bukan Kak Shanty.
"Sebelum kita memulai pelajaran ibu mau mengabarkan kalau salah seorang teman kita sedang sakit, Ipet." Bola mata si ibu wali kelas tertuju ke bangku kosong, ke satu-satunya bangku yang kosong yang ada di ruangan tersebut. "Jadi mari kita mendoakan agar ia segera sembuh dan besok bisa bersekolah lagi. Jadi, hari ini giliran siapa yang memimpin doa pagi."
Murid-murid pun serentak menyebutkan satu nama, kecuali si anak dara yang sepertinya sudah tahu alasan dari ketidak hadiran tersebut, alasan sesungguhnya. "Ipet, Bu..."
"Naomi tolong gantikan," Si ibu wali kelas menyebut satu nama. Seorang siswa perempuan bangkit berdiri. Tak lain adalah teman sebangku dari siswa yang tidak hadir tersebut. Dia, si anak dara.
Naomi, namanya. Kalau di rumah, ia dipanggil, Omi. Di sekolah, terkadang ia dipanggil Nana, terkadang dipanggil Mimi. Nama panjangnya, Naomiiii.....
Tapi khusus teman sebangku itu punya panggilan sendiri buat dia, Nom-nom, begitu ia dipanggil.
Di depan kelas, Nom-nom pun berucap lantang, mengajak."Mari kita bersatu di dalam doa.." Nom-nom menutup mata dan melipat kedua tangannya. Adapun SD. Budhi Pekerti adalah sekolah swasta Nasrani, jadi kebiasaan yang ada di sekolah itu, sehari-harinya, akan memulai pelajaran dengan doa, doa secara Nasrani, begitu pula kelak mengakhirinya. Tapi begitupun, khusus di ruang kelas itu, ada tiga orang siswa yang beragama berbeda, satu laki-laki dan dua orang perempuan. Tentulah mereka berdoa dengan cara mereka, tak ada paksaan.
***
Sejam sebelumnya. Di satu kamar--seorang anak lelaki tidur dengan tubuh yang berselimut serta memakai jaket berukuran tebal. Dari balik selimut yang menutupi seluruh badan terdengar gigi yang menggemeretak, terlebih saat seorang lelaki paruh baya berjalan masuk menghampiri, gigi tersebut terdengar lebih menggemeretak.
"Gimana kamu mau berobat nggak?" Suara berat si lelaki paruh baya berkata sambil tangannya bergerak membuka selimut yang menutupi badan si anak. Kemudian sebelah tangannya ia tempelkan ke kening si anak lelaki.
Si lelaki paruh baya terlihat mengernyit bingung "Tidak panas."
Si anak lelaki sekonyong-sekonyong menggigil. "Dingin bukan demam!"
Si lelaki paruh baya mengangguk. "Ohhh..."
Seperti kesetrum si anak lelaki pun ikutan mengangguk.
"Kak, tolong bawa air yang baru mendidih itu kemari!" Suara si lelaki paruh baya terdengar melengking, ia meminta kepada seseorang yang berada di dapur, yang lagi asyik meneguk segelas susu coklat yang baru saja diseduh oleh si lelaki paruh baya. "Buat apa!?" tanya suara yang ada di dapur.
"Buat mengguyur si tukang bohong satu ini!" Seru si lelaki paruh baya menuding geram ke si anak yang rebah di atas ranjang. Mendengar hal tersebut si anak sekonyong-sekonyong bangkit berdiri, ia bergegas berlari ke kamar mandi, ketakutan dia. Si lelaki paruh baya menggeleng geli.
Aksi tipu-tipu tidak berhasil. Dengan langkah berat ia berjalan ke luar rumah, telah berseragam lengkap tentunya. Di pertigaan jalan ia berhenti sejenak, ia tampak berpikir keras, tak ubahnya seperti seorang ilmuwan nuklir. Sampai matanya tertuju ke seorang anak dara yang terlihat berjalan dengan langkah yang bergegas. Eureka...!
"Tiara... Tiara..." Dia berteriak memanggil. Yang dipanggil melirik. Dia melambaikan tangan. Yang dipanggil menghampiri. "Ada apa?" Kemudian bertanya.
Sekonyong-sekonyong sekeping uang seratus rupiah benggol keluar dari saku celana, uang tersebut bergegas ia serahkan ke tangan si anak dara. "Ini buat apa?" Tanya si anak dara, pura-pura bingung, padahal ia sudah tahu maksud dan tujuan.
"Buat jajan," si anak lelaki nyengir tak karuan. "Pasti ada udang dibalik bakwan, iyakan." Si anak dara menuding geli. Si anak lelaki kembali mengeluarkan sesuatu dari kantungnya, kalau tadi kantung celana, sekali ini kantung baju.
Sesuatu tersebut lagi-lagi ia serahkan ke tangan si anak dara. "Tolong kasih kan surat ini ke wali kelasku." Pinta si anak lelaki berlagak memohon.
"Kurang!" Si anak dara mendelik beserta tangan terbuka yang ia tudingkan ke muka. Si anak lelaki karuan bingung, ia tampak berpikir, tapi tidak sekeras diawal.
"Begini saja kalau pekerjaan itu berhasil aku kerjakan, aku bakal ngajak kamu nonton di bioskop. Di bioskop lagi ada film bagus. Jet Lee yang terbaru." Lagi-lagi sebuah ide melintas cepat ke otak kecilnya.
Tapi kalau dilihat dari mimik wajah si anak dara, sepertinya ide tersebut tak bersambut, karuan ia cemas.
"Itu sih maunya kamu. Gimana kalau... Kita nonton film Ateng dan Iskak yang terbaru... Judulnya Ateng Pendekar Aneh, gimana?" Ucap si anak dara menawarkan film yang berbeda.
Dengan serta-merta si anak lelaki menganggukkan kepala, yang penting masih nonton ini, pikirnya. Singkat cerita akhirnya mereka pun bersepakat. "Ntar, malam." Si anak dara menuding. Si anak lelaki mengangguk mantap.
Si anak dara buru-buru balik kanan dan kembali berjalan, sekali ini ia setengah berlari. Si anak lelaki nyengir sinis, sepertinya sebuah ide nakal terbersit di konaknya.
Sampai si anak dara berbalik badan, dengan telunjuk yang tertuding ia pun berteriak mengancam. "Kalau kamu berbohong lagi bakal aku laporin ke bapakmu!"
Si anak lelaki pucat pasi jadinya. Dia pun mengangguk lemas. Si anak dara balik berlari.
***
Selepas doa pulang selesai dihaturkan salah seorang siswi, di depan pintu kelas tiga, kala para siswa bersiap-siap untuk segera keluar kelas, terdengar suara seseorang yang menegur seorang anak dara. "Naomi kamu kok buru-buru amat, memangnya kamu mau kemana, kamu lupa apa kalau hari ini kita itu bertugas sebagai pembersih ruangan."
__ADS_1
Naomi, si anak dara, menepuk jidatnya.
Si penegur tertawa sambil menyerahkan sebatang sapu ijuk ke tangan Naomi. Iya, siang ini, Naomi beserta ketiga orang temannya, yang terdiri dari dua orang lelaki dan satu orang perempuan bertugas untuk membersihkan seluruh ruangan kelas tiga.
Piket kebersihan, begitu istilah mereka.
Tugas itu digilir setiap harinya, bukan cuma pada saat pulang, tapi juga pada saat masuk. Dan hari ini, Naomi dan ketiga temannya itu kebagian giliran pada saat jam pulang sekolah. Maka mau tak mau, Naomi harus menyelesaikan tugas tersebut.
Yang mana tugas tersebut mereka selesaikan dalam waktu kurang lebih empat puluh lima menit, yang diakhiri dengan kursi-kursi yang didorong masuk ke dalam kolong meja.
Sebelum pintu dikunci, dengan bergegas Naomi menyambar tas ransel, bukan cuma pada saat itu saja ia terlihat terburu-buru, bahkan setelahnya pun, ia berlari pulang lebih dulu, tak seperti biasanya, sambil berlari tak lupa ia mengucapkan salam perpisahan, seraya tas ransel ia sandangkan ke bahu. "Begitu itu kalau perut sudah keroncongan," keluh seorang kawan sambil menepuk perutnya yang buntal.
Dua yang lainnya cuma menggeleng lucu. Sementara yang satu menimpali dengan ledekan. "Kamu apa dia yang keroncongan."
***
Naomi terus berlari ke satu arah, arah yang bukan biasanya ia tuju, arah yang dituju mengarah ke pasar besar. Sesungguhnya ini bukanlah jalan pulang menuju ke rumah. Jadi, kalau sudah begini hendak kemana si anak dara sesungguhnya?! Dia terus berlari dan berhenti berlari ketika dia sampai di salahsatu toko sembako. Disitu ia celingukan kanan-kiri, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Sampai seorang menegur sembari menepuk bahunya. "Cari si Abang!?"
Naomi mengangguk. Yang menegur menunjuk ke satu arah. Naomi kembali mengangguk. Dengan mengendap-endap, ia pun berjalan ke arah yang ditunjuk. Diantara tumpukan karung-karung beras seseorang terlihat lagi rebahan sambil menempelkan telinga ke sebuah radio kecil, ia sedang mendengarkan sebuah sandiwara radio, Tutur Tinular, begitu judul sandiwara radio tersebut.
Naomi menghitung dalam hati, tepat di hitungan yang ketiga ia pun beraksi, orang yang lagi rebahan itu ia kagetkan. Dan yang dibuat kaget benaran kaget.
Naomi menatap dengan tatapan mata yang sengaja ia besarkan. Yang dibuat kaget sekonyong-sekonyong merundukkan kepala. "Besok kamu bakal aku laporin ke ibu wali kelas," ancam Naomi dengan berkacak pinggang.
Yang diancam garuk-garuk kepala.
"Pasti si Tiara kamu bayarin kan," Naomi menatap dengan penuh selidik. Yang diselidik menggeleng takut. "Jangan bohong!" Gertak Naomi. Yang digertak sekonyong-sekonyong berkata dengan terbatah-batah. "Cuma aku janjiin nonton di bioskop kok."
"Kok!? Oh, kamu sudah jadi orang kaya sekarang!? Sudah banyak duit, begitu!?" Naomi mengernyit galak.
"Upah dari bacain komik," yang digertak berucap lirih. Naomi mendengus galak. "Oh, mentang-mentang iya kamu, sudah bisa baca terus kamu seenak-enaknya... Kamu lupa apa sama pesanku kemarin, hah!"
"Aku gak minta, mereka yang kasih." kata yang digertak sedikit mengangkat kepalanya.
"Kembalikan," seru Naomi.
"APA!? Kamu itu..." Terdengar satu suara, berasal dari arah belakang Naomi. Jelas kalau si pemilik suara itu, dengan apa yang baru saja didengar oleh telinganya sendiri, dibuat terkaget. "Kamu selama ini, tiga tahun bersekolah, kok bisa naik kelas!?" Si pemilik suara kebingungan. "Bapak kamu nyogok iya!?"
Sekonyong-sekonyong ada sekepalan tangan yang mendarat tepat ke muka si penuduh. Setelah lebih dahulu tubuh Naomi ia dorong ke kiri. Dan bukan cuma sekali, pukulan tersebut menghujam tepat ke hidungnya yang berukuran besar, tak pelak dari lubang hidung tersebut darah tumpah ke luar.
Bukannya menyudahi, si tertuduh malah menghambur melompat ke tubuh si penuduh, hingga mereka pun jatuh berguling. Naomi pun merespon hal tersebut dengan teriakan.
Orang-orang dibuat berhamburan. Si tertuduh tengah menghajar dengan pukulan yang menghajar lambung.
***
Dua setengah jam lebih meringkuk di kantor pengamanan pasar sampai seorang datang menghampiri. Dia yang tak lain adalah si lelaki paruh baya, bapak. Bapak mendatangi kantor pengamanan pasar setelah mendapatkan kabar dari seorang yang merupakan pekerja di pasar tersebut, petugas kebersihan. Bapak mendapati si anak sehabis pulang jam kerja.
Sambil mengerjakan tugas-tugas sekolah, di dekatnya Naomi setia mendampingi. Padahal si anak lelaki sudah memintanya untuk pulang. Akan tetapi Naomi menolak. Naomi berasalan,merasa bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa tersebut.
"Dia cowok kamu?!" tanya si petugas keamanan yang bernama Burhan, dengan tudingan mata. Burhanuddin begitu nama itu tertera di kanan atas baju dinasnya yang berseragam putih biru itu. Oleh atasan Burhan diperintahkan untuk menjaga si anak lelaki.
Naomi mendelik kesal. "Kalau bukan kenapa ditungguin, emang gak dicari kamu?!" tanya si petugas keamanan.
Naomi mendengus kejam. "Bukan urusan bapak!"
"Boleh juga cewek kau, Bang." kikik Burhan menggeleng geli. "Sok kejam gitu!"
"Bukan cewek aku," keluh si anak lelaki.
"Banyak kali cerita kau!" Burhan menuding geli. "Ternyata playboy juga kau rupanya iya."
"Playboy maksudnya!?" Tanya Naomi mengangkat bahu. "Gini-gini banyak ceweknya ini. Barangkali kau itu yang ke..." Burhan berhitung dengan jarinya. "Kesembilanlah..."
"Siapa aja?!" Naomi penasaran.
"Si Vera, si Donna, si Priska, si Magda, si Lia, si Evi, si Rita..." Burhan mengabsensi. Pada saat nama Rita disebut tak ayal si anak lelaki ngakak geli. Naomi mendelik bingung. "Terus si Dessy, si Kiky, si Tiara." Lanjut Burhan.
__ADS_1
"Itu aja sudah sepuluh." Tuding Naomi.
"Lah apalagi itu berarti kau yang kesebelas.." Burhan balik menuding sambil cekikikan. "Kok bapak tahu!?" Naomi penasaran.
"Dia ini teman anakku si Nanno." kata Burhan.
Naomi mengangguk. "Kamu kenal sama si Nanno?" tanya Burhan. Naomi menggeleng. "Kata si Nanno, si Abang ini pernah dicium sama si Kiky. Di bibir iyakan, Bang." kata Burhan. Naomi mendelik marah.
"Siapa yang mencium kamu!?" Sekonyong-sekonyong suara berat bapak terdengar di ruangan tersebut.
Si anak lelaki mengkerut.
Naomi agak melipir.
Burhan garuk-garuk kepala agak takut juga dia. Gimana nggak, tubuh bapak dua kali lebih besar dari tubuhnya. "Tulang," sapa Burhan pun bangkit berdiri sambil menjulurkan tangan.
Bapak cuma mengangguk. "Kenapa dia?!" Tanya bapak menarik kursi yang ada di dekatnya.
"Berantem sama anak si Akong." kata Burhan.
"Udah jadi preman kamu sekarang?" Dengus Bapak melirik tajam. Si anak lelaki diam tak menyahut. Sekonyong-sekonyong bapak berseru dan menampar meja. "Jawab!"
Ketiga orang tersebut serentak ketakutan.
Si anak lelaki buru-buru menggeleng takut terlebih ketika dilihatnya bapak bangkit berdiri sambil menarik tali pinggang berbahan kulit. "Kamu disekolahkan bukan buat jadi berandalan," Geram bapak.
Burhan melipir ke sudut.
Bapak hendak mendaratkan tali pinggang yang tersebut ke badan si anak lelaki, tetapi Naomi bergerak lebih cepat, tubuh si anak lelaki didekapnya. "Saya yang salah. Semua gara-gara saya." ucap Naomi meringis takut.
"Siapa kamu!?" tanya Bapak menarik mundur tangannya. "Gara-gara saya Abang jadi berantem, kalau mau cambuk, cambuk saya saja." Naomi berbalik badan menatap bapak.
"Emang kamu bikin apa!?" tanya Bapak.
"Saya..." Naomi melirik ke si anak lelaki. "Saya bilang kalau dia bisa baca karena saya yang ajari."
"Apa!? Maksud kamu!?" Bapak mendelik. "Terus selama ini..."
"Waktu itu guru menyuruh Abang membaca cerita dongeng Pak Belalang yang malang, tapi Abang gak bisa baca." Naomi menjelaskan.
"Terus hubungannya apa sama anak si Akong?!" Tanya Bapak terlihat kesal. "Dia mendengar pertengkaran saya dengan Abang. Lalu dia mengejek Abang. Abang marah terus menumbuk hidung anak itu." kata Naomi.
"Kenapa kalian bisa bertengkar." tanya Bapak.
"Abang mentang-mentang sudah bisa baca, kepada teman-temannya yang belum bisa baca malah seenaknya menarik uang di setiap komik yang selesai dibacanya. Bilangnya, uang itu buat ngajak Tiara nonton bioskop. Karena..."
Gak ada angin gak ada hujan Burhan menyela. "Dia cemburu, Tulang."
Bapak gak memberi respon omongan Burhan. Yang ada Burhan keki dibuatnya. "Karena apa?" Bapak malah penasaran dengan omongan yang tersela tadi.
"Karena Tiara mengantarkan surat sakit ke kelas." Naomi merendahkan suara. "Maksud kamu, dia..." Bapak menuding kesal. Naomi mengangguk. Sekali lagi bapak menampar meja. Ketiganya serentak kaget.
"Kenapa kamu bolos," Hardik bapak. Tapi Naomi yang menyahut. "Karena dia gak percaya Tuhan."
Sekali ini Burhan dan bapak yang kaget.
"Katanya, dia gak percaya adanya Tuhan. Karena itu dia menolak untuk memimpin doa pagi. Hari ini semestinya menjadi giliran dia untuk memimpin doa pagi di kelas." kata Naomi.
"Kok bisa kok gak percaya Tuhan, Bang? Tanya Burhan kebingungan. Lagi-lagi Naomi yang menjawab. "Bapakku aja gak percaya sama Tuhan terus kenapa juga aku harus percaya sama Tuhan. Begitu katanya." Naomi menuding.
Burhan mendelik ke arah lelaki paruh baya.
"Katanya, bapakku gak mau diajak ke gereja. Itukan buktinya bapakku gak percaya sama Tuhan." Naomi menuturkan ulang." Katanya, bapak lebih percaya sama Porkas."
Burhan sekonyong-sekonyong tergelak. Porkas tak lain dan tak bukan adalah SDSB alias Togel alias kode buntut.
Bapak terdiam terpaku. Selang kemudian bapak pun berbalik badan. Dengan langkah yang gontai bapak berjalan ke luar ruangan. Bapak meninggalkan ketiga orang yang ada di dalam ruangan tersebut yang saling beradu tatap satu dengan yang lain.
__ADS_1
***