Naomi: Kenapa Harus Ada Cinta Diantara Kita!

Naomi: Kenapa Harus Ada Cinta Diantara Kita!
Bagian 2: Rumah jiwaku.


__ADS_3

Jam di dinding menunjuk ke pukul setengah sebelas malam. Malam telah selarut ini, dari arah luar terdengar suara ketukan di pintu. Ketukan yang terdengar keras dan tergesa-gesa. Tak pelak hal tersebut mengagetkan seseorang yang rebah di sofa, ia pun terlonjak. Dia yang terkaget itu hendak bangkit berdiri tapi seseorang telah mendahului lebih dulu. Berjalan dengan langkah kaki yang panjang, hingga terkesan bergerak lebih cepat.


Pintu pun di buka seperempat, ada muka melongok ke arah luar, tak sampai sedetik segaris senyum mengembang di bibirnya. Sayang senyum itu tak bersambut, yang di luar mendesis kesal. Pintu pun dibuka lebar. Yang di luar menyelonong masuk, berjalan dengan bergegas, dua koper ia tinggalkan begitu saja di depan pintu, ia terus berjalan, berbelok ke kanan lalu masuk ke kamar kecil. Pintu ditutup dengan suara hentakan yang cukup keras.Selang beberapa menit kemudian ia pun keluar dengan perasaan lega.


Orang yang rebah di sofa merespon dengan gelengkan kepala. "Kayaknya aku salah makan deh, Om." ucapnya sambil mengusap-usap perutnya yang bulat besar.


"Kenapa gak ngabarin," tanya orang yang dipanggil Om tadi. "Niatnya sih pengen bikin surprise." Kata si Perut buncit mendelikkan mata. "Kang, koper udah dimasukin belum," Si Perut buncit mengalihkan pandangannya kepada orang yang duduk tak jauh dari dirinya.


"Itu isinya apaan sih!? Pakaian apa batu bata!? Kok iya berat amat!" Tukas orang yang dipanggil Kang kesal, gimana nggak ia harus menyeret masuk kedua koper tersebut.


"Sembarangan aja tuh mulut, tuh buku pesanannya Om." sergah si Perut buncit.


"Lah koper segede itu isinya buku semua!?" Si Akang melongo bego. "Pengennya apa!? Buah tangan!? Nih buah tangan!" Si Perut buncit mengepalkan tinju. "Lagian si Om..."


"Apa urusannya sama saya," gelak orang yang dipanggil Om mengangkat tubuhnya.


"Mau kemana?" Tanya si Perut buncit.


"Kalau jam segini mau kemana lagi, iya ngaso!" Orang yang dipanggil Om memutar tubuhnya hendak berjalan masuk ke kamar sampai Si Perut Buncit mengucapkan satu kalimat pamungkas yang tak pelak perkataan tersebut menahan laju si Om. "Gak ngucapin selamat tidur dulu sama Naomi.."


"Apa!?" Si Om mengernyitkan dahi.


"Biasanya kan teleponan dulu terus ngucapin selamat tidur mimpi yang indah, kan biasanya begitu," Kata Si Perut Buncit santai.


"Kamu tahu dari mana cerita itu?" Si Om balik menghampiri. "Tante Shanty yang cerita." Kata si Perut Buncit. Terdengar helaan nafas. "Kok gak dibuat jadi novel, Om. Bagus loh, Om. " ucap Si Perut Buncit.


"Apa!!? Novel!?" Si Om terperanjat kaget. "Kok begitu amat reaksinya? Lebay...!" Canda si Perut Buncit bangkit berdiri. Si Akang nimbrung. "Naomi itu siapa?"


"Cinta pertama dan terakhirnya si Om!" ucap Si Perut Buncit berjalan masuk ke satu kamar, kamar yang diperuntukan tamu. Di depan pintu ia berbalik badan. "Kalau itu Om jadiin novel bakal banyak cewek-cewek yang baper, Om."


"Baper?! Baper itu apaan!?" Tanya si Om.


"Bawa perasaan." Si Akang yang menjawab. Si Perut Buncit mengangguk dan menuding. "Yang cowok-cowok bakal... Terus terang dari cerita itu gue baru menyadari kalau ternyata perempuan itu berarti banget ya buat kita. Saya jadi merasa bersalah karena mutusin Manda."


"Mutusin?! Loe kali yang diputusin!" Tuding si Akang ngakak. "Cewek secantik itu dari mana ceritanya... Ngaca loe!"


Si Perut buncit kadung sewot. Berjalan dengan langkah panjang sekonyong-sekonyong ia hampiri si Akang lalu ia piting. Sambil berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu si Om hanya tersipu lucu. Di luar si Akang minta-minta ampun.


***


'*Gak, aku gak akan pernah bisa menulis tentang kamu! Gak akan pernah bisa!'


'Kenapa?'


'Aku gak tahu!'Tapi aku yakin aku gak akan...'


'Karena kamu belum mencobanya,'


'Buat apa aku mencoba sesuatu yang aku yakin aku gak akan pernah bi...'


"Hmmm ternyata kamu gak pernah berubah ya. Aku pikir waktu akan...'


'Dari dulu aku memang gak pernah berubah, Nom. Gak akan pernah mau berubah, terlebih buat kamu!'


'Sudahlah hentikan semua kebiasaanmu yang satu itu, aku sudah khatam dengan gombalanmu itu. Sepertinya kamu sengaja untuk melupakan aku, iyakan.'


'Melupakanmu!? Setelah sekian waktu aku memilih untuk... Itu juga karena aku... Hanya kamu yang aku cintai. Dari dulu sampai nanti aku bersama-sama kembali dengan dirimu. Hanya kamu! Cuma kamu, Nom.'


'Coba kau ingat-ingat lagi dulu kamu pernah berjanji apa padaku. Di malam ulang tahunku yang ke tujuh belas.'


'Aku akan me...'


'Sekarang aku ingin menagih janji itu.'


'Buat apa, Nom?'


'Janji adalah hutang! Kayaknya seseorang pernah berkata seperti itu deh kepadaku!'


'Jangan memandang aku seperti itu,'


'Pokoknya malam ini aku menagih janji itu, titik! Ingat, aku itu gak pernah menuntutmu melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa kamu lakukan! Aku percaya kamu bisa!'


'Maksudmu kamu...'


'Iya, aku menuntutmu, titik!'


'Naomi, please...'


'Aku menuntutmu!'


'Tapi aku punya permintaan.'

__ADS_1


'Permintaan? Hey, aku yang hendak menagih janji kok jadi malah kamu yang...'


'Kamu jangan pernah meninggalkan aku lagi, please, Nom.'


'Aku gak pernah meninggalkanmu, Bang. Gak pernah! Kamu yang pernah... Ingat, Navy...!'


'Hahaha... Ternyata kamu masih mengingat peristiwa itu, Nom.'


'Bukan cuma Navy, Kiki, Kristin, Floren, bahkan ...'


'Aku cuma manusia biasa, Nom...'


'Apa aku bukan manusia!?'


'Gak! Kamu bukan manusia! Kamu itu malaikat! Malaikat kecilku!'


'Malaikat!? Kamu lihat gak ada sayap di pundak ku!?'


'Emang kamu burung emprit, hahaha...'


'Iya, aku memang bukan burung emprit tapi kamu juga bukan seekor elang!'


'Kamu masih ingat lagu itu, Nom?"


'Selalu...'


'aku ingin terbang tinggi seperti elang. melewati siang malam menembus awan. ini tanganku untuk kau genggam. ini bibirku untuk kau peluk. tapi tak bisa kau miliki aku...'


'Kok jadi kebalik ya,'


'Maksud kamu?'


'Iya, aku yang terbang tinggi sementara kamu masih aja bertengger disini.'


'Berarti aku dong yang burung emprit,'


'Aku gak ngomong loh,'


'Nom, janji iya jangan pernah meninggal...'


'Bang, aku gak pernah ninggalin kamu,'


'Kasih aku waktu, Nom.'


'Yang pasti gak setahun. Karena aku sudah kangen ingin bermanja-manja dengan kamu.'


'Kamu gak boleh pulang sebelum kamu menyelesaikan kisah itu. Titik!'


'Pulang?'


'Iya, pulang. Bukannya kamu pernah bilang kalau aku ini adalah rumahmu?"


'Iya, rumah adalah tempat kita pulang setelah seharian penuh kita lelah bekerja.'


'Rumah adalah tempat dimana kita menjadi diri kita yang sebenar-benarnya kita. Aku selalu mengingat kata-kata itu.'


'Iya, di hadapanmu, aku menjadi sebenar-benarnya aku. Nom, terimakasih iya, sudah mau menjadi rumah bagi jiwaku.'


'Hmmm...'


'Aku rindu pulang,'


'Belum. Belum saatnya...'


***


Pukul tujuh lebih seperampat. Di salahsatu kamar terdengar bunyi suara yang sudah tak asing lagi bagi penghuni rumah. Mendengar suara tersebut tak ayal membuat seseorang berlari dan menghampiri. Seseorang yang berlari itu berhenti di depan pintu. Di situ ia menemukan sebuah tulisan yang menggantung di pintu. Sengaja digantung lebih tepatnya. Seseorang yang lain berjalan sambil membawa nampan yang berisi roti bakar dan telur mata sapi.


"Kang, si Om sedari kapan..."


"Dari jam empat sudah ketak-ketuk.'


"Jam empat?!"


"Kurang malah..."


"Bro, sarapan, bro." seru si Akang dari muka pintu. Terdengar sahutan dari dalam. "Masuk!"


Si Akang menjengkitkan mata, kawan di sebelah merespon lalu bergegas menurunkan grendel pintu. Pintu pun didorong ke dalam. Si Akang masuk lebih dulu disusul orang satunya lagi, yang tak ada lain si perut buncit.


"Om nulis..." Si Perut buncit menghampiri.

__ADS_1


"Main gitar!" Si Om menyahut dengan mimik muka yang kesal.


Si Akang terkikik lucu.


"Iya Allah segitu sewotnya."


"Ternyata menulis kisah menyemenye itu susah iya, Tom." Si Om menggeleng frustasi.


"Menyemenye itu apaan?" Si Akang bertanya. Si Perut buncit yang dipanggil Tom itu menyahut dengan gelengan kepala. Si Om mendesah panjang, berucap kemudian." Seperti Romeo dan Juliet itu..."


"Oh cerita romantis,' ucap si Akang. Si Om mengangguk resah. Giliran si Tom yang terkikik lucu.


"Kenapa ketawa?" Si Om kesal.


"Iya lucu." Ujar si Tom. "Emang lucunya dimana?" Si Akang merespon bingung. Si Om manggut-manggut. "Lah gimana gak lucu biasanya tuh nulis cerita yang horor-horor, yang serem-serem gimana gitu, lah sekarang..."ujar Tom menjelaskan.


"Ini juga serem," tukas si Akang menuding ke mesin ketik. Si Tom dan Si Om membelalak berbarengan. "Lah buktinya itu kertas putih semua. Gimana gak serem coba..." Ujar si Akang. Si Tom ngakak sekeras-kerasnya.


"Padahal saya sudah dengar itu mesin ketik sudah ketak-ketuk sedari jam empat kurang tapi..." Si Akang melanjutkan dengan lagak seperti orang yang mencari-cari. Si Om karuan menggeleng kesal lalu telunjuknya ia tudingkan ke arah tong sampah di sebelah kanan kakinya. "Tuh hasilnya..."


Si Akang melirik kemudian manggut-manggut. "Iya semua itu kan ada prosesnya, Bro." respon Si Akang. "Proses gundulmu!" tukas si Om bermalas-malasan.


"Yang penting jangan menyerah," ujar Si Tom. Si Akang mengimbuhi. "Maju tak gentar..."


"Kalau bukan karena dia gak mau aku nulis kisah ini!" seru Si Om. Si Tom mendelik. "Dia siapa!?"


"Naomi." sahut si Om.


"Oh... Om lagi nulis kisah cinta Om iya..." Si Tom menuding geli. Si Om merespon dengan gelengengan kepala. "Bukan. Aku lebih ingin bercerita tentang dia."


"Iya, tetap aja pasti ada Om kan disitu." tuding si Tom. Si Om mendesah. "Sedikit. Setelah aku pikir-pikir..."


"Maksudnya apa sih, Bro?" Si Akang malah terlihat bingung pun si Tom juga ikutan bingung. "Setelah aku mencoba ternyata aku gak bisa. Jadi aku pikir-pikir ada baiknya kalau aku menulis tentang dia saja. Aku mencoba untuk mengutarakan kegundahannya dia..." ujar Si Om.


"Kegundahan apa Om?" tanya si Tom. Si Akang manggut. "Tentang hidup!" Sahut si Om lugas. "Iya namanya hidup kan luas, Om. Yang spesifik gitu loh." ujar Si Tom.


"Gimana ya dia itu tipe cewek yang..." ujar si Om. Sekonyong-sekonyong si Akang memotong. "Pemikir."


Si Om mengangguk girang. "Sementara situ males mikir," niat si Akang cuma bercanda. Si Om merespon dengan telunjuk yang dituding-tudingkan dengan girang. "


Iya tutup ketemu botol dong," timpal si Akang lagi bertepuk tangan. "Itu yang gak bisa membuat aku jauh dari dia. Dia itu beda dengan cewek yang pernah singgah di dalam kehidupan aku." ucap Si Om dengan raut muka yang terkesan membanggakan hubungannya tersebut.


"Ciuelleh... Singgah, Bro...!" ledek si Akang.


"Kemarin dia mendatangi setelah sekian lama.. Iya, Tuhan aku rindu berat..." Si Om mendekatkan kedua tangan ke dadanya.


"Sebentar, sebentar. Maksud Om..." Si Tom melirik bingung. "Iya, dia datang ke mimpiku." Ujar Si Om. Si Tom karuan bernafas lega. "Saya pikir..."


"Tapi aku kok merasa kalau itu bukan mimpi ya," Si Om terlihat ragu-ragu. Si Tom balik bingung matanya menjelajah ke seluruh ruangan. Si Akang ikut-ikutan. "Cari apa emang?"


"Takut aja kalau ada di belakang kita," ucap Si Tom berlagak seperti orang yang ketakutan.


"Saya kira apaan, ya, kalau datang disapa, namanya juga orang namu, bukan begitu, Bro." ujar Si Akang. Si Om menuding girang.


"Alah yang ada sampeyan lari duluan." Si Tom sewot*.


"Sudah, sudah pada keluar sana. Ganggu konsentrasi saja." Si Om melambaikan tangan meminta kedua orang tersebut untuk segera berlalu dari ruangan.


"Sebelum kita pergi, saya ada usul buat Om, biar Om bisa nulisnya lancar kayak dulu lagi." Ujar Tom dengan wajah yang berseri-seri, terbersit secercah ide yang sekonyong-sekonyong muncul ke otak yang diakuinya sebagai otak Einstein itu. Si Akang menunggu dengan harap-harap cemas.


"Ide apaan?" Tanya si Om penasaran.


"Dengerin lagu kesukaannya si Tante Naomi. Kalau gak salah menurut Tante Shanty, mbak Naomi itu punya lagu kesukaan kan?" Ucap Tom.


"Emang Shanty udah cerita sebanyak apa ke kamu?" Selidik Om. Si Akang manggut-manggut.


"Yang pasti Om dan Tante Naomi itu satu dari sekian banyak penggemarnya grup band Dewa 19 iyakan?" Tom menudingkan telunjuk.


"Pasti lagu Kangen!" tebak si Akang. Tom bersemu girang. "Lah itu lagu sejuta umat semua pasti sukalah!" seru si Akang. "Emang situ tahu?" Selidik Tom. Si Akang pun mendehem. "Hmmm...Hmmm...Hmmm..." Kayaknya bersiap-siap untuk bernyanyi, Tom menunggu, penasaran ia. Si Tom cuma geleng-geleng kepala. "Ku..Ku..Ku..." Si Akang mengambil suara. Tom mendecis.


"Ku terima surat mu dan ku baca dan aku mengert..." Karena mengambil suaranya ketinggian tak urung lagaknya pas kayak Anang Hermansyah yang kecentit biji kedondong.


Si Om buru-buru menghentikan takut kecekik nantinya. "Ingat umur. Ingat umur..." seru si Om.


Si Akang megap-megap.


"Baru segitu aja udah kayak ikan mas kokinya," ledek Si Tom tertawa.


Sambil tersipu-sipu lucu si Om bangkit berdiri hendak mengusir kedua makhluk pengganggu tersebut dari kamar kerjanya. Pundak kedua makhluk itu didorongnya. "Buruan!"


Si Tom melangkah ke luar sambil menggeleng. Si Akang masih juga megap-megapan. "Kapok asmanya kambuh..." ejek si Tom mengernyit. "Padahal saya udah berguru dengan Ari Lasso kok masih salah aja ya." ucap Si Akang tak habis pikir. Si Om hanya bisa menggelengkan kepala hingga kedua makhluk tersebut berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


"Surat. Akhirnya aku menemukan sebuah ide. Iya, surat. Aku akan memulai kisah ini dari situ. Bukankah semua bermula dari situ..." Si Om berucap dalam hati.


__ADS_2