Naomi: Kenapa Harus Ada Cinta Diantara Kita!

Naomi: Kenapa Harus Ada Cinta Diantara Kita!
Bagian 4: Belajar membaca.


__ADS_3

Seminggu sebelumnya. Pukul dua belas lebih seperempat. Bertempat di ruang kelas tiga. Pelajaran Bahasa Indonesia. Ibu guru sedang menggilir anak-anak untuk membaca. Naomi baru saja menyelesaikan tugas membacanya. Kisah dongeng Pak Belalang yang malang adalah judul cerita yang sedang mereka baca.


Adapun cara ibu guru menggilir anak-anak disesuaikan dengan posisi duduk mereka. Maka seusai Naomi yang mendapat giliran tentu saja...


Ruang seketika hening.


Padahal ibu guru telah berkali memanggil, meminta si anak untuk melanjutkan tugas membaca. Yang dipanggil hanya tertunduk dan diam mematung. Naomi menyikut. Si anak diam tak bergeming.


Ibu guru bangkit berdiri. Si anak terkesiap. Berkali matanya mengedip. Kesal, Naomi pun merespon dengan cubitan yang diarahkan ke pinggang si anak. Biasanya, si anak akan memberi respon dengan mengaduh kesakitan, tapi sekali ini, tidak.


Sekarang, Ibu guru telah berdiri di depan si anak. "Kamu belum bisa baca?" tanya Ibu guru.


Sekali ini si anak tidak diam meski tidak bersuara ia lebih memilih untuk merespon pertanyaan tersebut dengan sebuah anggukan kepala yang pelan.


Jelas kalau ia sedang merasa malu.


Ibu guru menghela nafas. Naomi membelalak kaget. Beberapa anak-anak murid tertawa. Si anak celingukan kanan-kiri, kikuk, perasaan malunya kian tergambar jelas.


Naomi pun bangkit berdiri sambil berkacak pinggang, menatap galak, ia menuding ke salahsatu anak yang tertawa paling keras. "Emang apa salahnya kalau dia gak bisa baca!? Apa itu dosa!?"


"Dosa sih nggak tapi bego," sindir si anak cekikikan. Naomi memberengut hendak melawan. Tapi ibu guru menahan.


"Gak apa-apa kalau hari ini belum bisa. Kamu bisa belajar, yang penting kamu sediakan sedikit waktu, pasti kamu bisa." Ibu guru menepuk lembut lengan si anak, menenangkan. "Naomi mau ngajarin kan," Ibu guru melirik Naomi. Naomi, tanpa pikir panjang, langsung merespon dengan kepala yang terangguk.


"Yang lain ada yang belum bisa baca?" Ibu guru bertanya kepada anak-anak murid. Tak satu anak pun yang merespon, tapi beberapa anak terlihat melirik gelisah.


"Gak perlu malu, kalian itu gak lebih bodoh dari mereka yang sudah bisa membaca, kalian itu hanya perlu memberikan sedikit waktu kalian. Iya, seperti kurangi waktu bermainlah. Sedikit saja kok. Pasti bisa. Ayo, siapa yang belum bisa baca!?" Dan sepertinya Ibu guru bisa memahami kegelisahan tersebut.


Tak berselang kemudian beberapa anak terlihat mengangkat telunjuknya. Ibu guru pun menghitung. Ternyata lebih dari sepuluh anak yang mengacungkan jari tangannya. Ibu guru pun mengangguk-anggukkan kepala.


"Begini saja ibu ada ide, sama seperti Naomi yang ibu minta untuk mengajarkan Ipet membaca. Hal yang sama juga ibu mintakan pada teman sebangku yang temannya belum bisa membaca, bagaimana mau?" Ibu guru memberi sebuah solusi.


"Belajarnya di mana, Bu?" Salah seorang siswi bertanya. "Di sekolah bisa, di rumah bisa." Kata ibu guru. Terlihat anak itu mengangguk. "Gimana? Kalian bersedia kan?" Ibu guru mengulang pertanyaan. Anak-anak terlihat menganggukkan kepalanya.


"Iya sudah seminggu dari sekarang ibu harap semuanya sudah bisa membaca iya." Ibu guru menepuk tangannya.


Bersamaan dengan tepukan tangan tersebut lonceng sekolah berbunyi. Jam pelajaran sekolah pun berakhir. Anak-anak mulai merapikan bukunya. Ibu guru berbalik badan, kembali ke meja, merapikan perlengkapan mengajarnya. Salah seorang anak murid pun maju ke depan kelas, hari ini gilirannya untuk memimpin doa pulang.


Tapi sebelum ia melaksanakan tugasnya, ibu guru menegurnya, "Andre orang bodoh itu tidak ada. Mereka hanya kurang memberi waktu untuk belajar lebih rajin. Paham?!"


Ternyata dia adalah anak yang tertawanya paling keras tadi. Andreas, nama lengkapnya. Oleh teman-temannya ia sering dipanggil, Andre. Dia pun mengangguk-anggukkan kepala.


***


"B-a... Ba! R-u... Ru! Dibaca, Baru. S-a... Sa! J-a... Ja! Dibaca, Saja. Baru saja!" Dengan terbata-bata gerak bibir itu mengeja beberapa rangkaian huruf yang tertulis di papan tulis berukuran sedang yang disandarkan ke tembok.


Si pengeja itu tak lain adalah si anak lelaki, Ipet. Di sisi kanan si anak lelaki, Naomi, yang bertugas sebagai guru, duduk bersila, dengan sebelah tangan menggenggam penggaris yang ia tuding-tudingkan ke papan tulis, hingga menghasilkan suara, tek-tek-tek...


Si anak lelaki berhasil menyelesaikan hafalan tersebut. Sang guru, Naomi, tampak tersenyum puas. Semenit berselang, seorang wanita paruh baya, dari dalam rumah, datang bersama sepiring goreng pisang serta seteko kecil teh manis hangat.


Gorengan dan teko kecil tersebut ia letakkan pada sebuah meja kayu yang biasanya diposisikan di tempat dimana papan tulis tersebut diletakkan tapi oleh Naomi meja kayu tersebut sengaja ia geser lebih mendekat ke arah pintu, selain untuk meletakkan papan tulis tentunya agar lebih luas, begitu pikirnya.


Si anak lelaki dengan serta-merta melirikkan pandangannya ke arah meja kayu tersebut seraya menelan liur tentunya. Tak ayal si wanita paruh baya tersipu lucu.


Terlebih, dengan lototan mata sang guru yang menatap galak ke si anak lelaki yang sebelumnya tak juga lepas pandang dari piring tersebut.


Si anak dara mendehem. Si anak lelaki melirik menciut sekonyong-sekonyong, senyum rikuh tergurat di bibirnya.


"Kamu selesaikan semuanya dahulu setelah itu baru kamu bisa makan." perintah si anak dara, Naomi, masih dengan mata yang melotot dan penggaris yang ditudingkan ke muka si anak lelaki.


Ada sebuah kepala yang mengangguk lesuh.

__ADS_1


Padahal belum dua jam yang lalu ia diajak makan siang bersama. Kok iya bisa-bisanya... Barangkali inilah yang dinamakan masih dalam masa pertumbuhan itu ya.


Tak mau ikut campur si wanita paruh baya memilih balik ke dalam rumah. "Harus lancar! Gak boleh terbata-bata kayak tadi!" Lagi-lagi bahasa yang keluar dari bibir si anak dara adalah sebuah perintah. "Paham...!"


Disahut dengan anggukan kepala.


"Baca..." Tuding Naomi dengan penggaris yang dihentakkan ke papan tulis.


"B-u... Bu! D-i... Di! Dibaca Budi!" Si anak lelaki balik mengeja kata yang tertera di papan tulis.


Sementara itu di lain tempat.


Jam di dinding telah menunjuk ke pukul empat lebih seperempat. Ini entah kali ke berapa bapak menolehkan pandangnya ke arah jam dinding tersebut. Sampai seorang lelaki muda berjalan masuk ke dalam rumah. Dia melangkah dengan kelelahan. Lelaki muda itu bernama, Putera. Dia anak kedua. Bapak memanggil, bertanya. "Sudah ke temu!?"


Putera menggelengkan kepala.


"Apa jangan-jangan..." Gurat wajah bapak berubah cemas. Putera paham maksud dari perubahan mimik wajah tersebut. Putera pun mendengus kesal. "Nanti kalau dia pulang dimarahi saja! Aku sudah capek mencari kemana-mana!"


"Tadi kata teman sekolahnya ia pulang sama si Naomi. Katanya, belajar bersama." Seorang anak dara masuk. Oleh bapak si anak dara ini juga ditugaskan untuk mencari. Dia bernama, Shanty, anak keempat.


"Naomi siapa!?" Tanya Bapak.


"Iya, teman sekelasnya." dengus Shanty.


"Maksud bapak, anak siapa!?" ralat Bapak .


"Iya, anak bapak-mamaknya lah." Putera menimpali seenak jidatnya. Shanty terkikik lucu. Bapak menggeleng.


"Rumahnya di mana!?" Tanya seorang perempuan paruh baya yang muncul dari arah kamar utama. Dia adalah ibu. Tapi bukan ibu kandung. Dia adalah ibu sambung. Ketika menikah dengan bapak, ia berusia dua puluh satu tahun. Usianya terpaut dua belas tahun dengan anak pertama bapak.


"Yang pasti masih di bumi." kata Shanty.


Bapak membelalak. "Membaca!? Memangnya dia belum..."


"Belum! Tadi waktu mata pelajaran bahasa Indonesia, sama ibu guru, dia itu diminta untuk membaca. Tapi ternyata dia belum bisa membaca. Kata temannya itu, selain dia, ternyata ada sepuluh anak yang belum bisa membaca. Terus ibu guru meminta kepada teman-teman sebangku dari setiap anak yang belum bisa membaca untuk diajar membaca. Nah, si Naomi itu teman sebangkunya dia. Si Naomi itu anaknya pintar, cantik, dan juga selalu juara kelas, walaupun juara dua." Shanty menjelaskan panjang lebar.


"Lah, gak bisa baca tapi rangking di raportnya kok gak jelek-jelek amat, bisa rangking sepuluh lagi. " Ibu kadung penasaran.


"Berarti dia anak jenius!" kekeh Shanty mengacungkan jempol. Bapak tertawa ngakak.


"Kerjaan main sepedaan melulu, jenius dari Hongkong!" sindir Putera.


"Lah dari pada situ pernah tinggal kelas!" balas Shanty. "Emangnya situ gak pernah tinggal kelas!" Kesal Putera balik membalas, sambil lidahnya melet keluar.


"Aku tinggal kelas karena gak cukup umur bukan karena bego!" dengus Shanty.


Putera bangkit berdiri sepertinya ini orang gak terima dikatai bego. Bapak melerai. "Sudah! Sudah! Kok jadi pada ngawur! Sudah jemput tuh anak, ini udah jam berapa!?"


Seorang anak dara yang lain berlari bergegas ke dalam rumah sambil berteriak memanggil nama si anak kedua. Dia bernama, Anna, anak ketiga.


"Apa!!!" Putera berteriak kesal.


"Tuh si Ipet berantem itu!" Anna menuding-nuding keluar rumah. Yang di dalam rumah serentak kaget. "Berantem!?"


"Iya, dia ngamuk dikatai gak bisa baca!" dengus Anna dengan dada yang naik turun. Bapak bangkit berdiri.


***


Ada yang lagi kena hukum! Gak dibolehin keluar rumah sampai batas waktu yang belum ditentukan! Padahal ini kan sudah akhir pekan. Biasanya kalau sudah akhir pekan begini ini, si anak tuh bakal main seharian dengan temannya. Tapi berhubung lagi kena hukuman iya bisanya si anak cuma rebahan deh di kamar. Hitung-hitung mengistirahatkan badan juga, karena sore kemarin dia tuh lumayan pol-polan juga mengolahragakan tubuhnya (--hajar bleh seenak jidatnya!)


Seorang mengetuk pintu, seraya memanggil. Yang di dalam menyahut malas. "Ada teman kamu, dek."

__ADS_1


"Gak dibolehin main, bapak." seru yang di dalam. "Main gimana, lah, katanya mau belajar bersama."


"Ini kan hari Sabtu!" seru yang di dalam masih bersikukuh rebahan di atas ranjang. "Yang bilang hari Rabu siapa!?"


"Siapa sih!?" seru yang di dalam.


"Naomi! Namanya Naomi! Pacar kamu iya!?" Yang di luar sengaja bersuara lantang. Karuan bapak yang juga lagi rebahan di kamar sebelah bereaksi, dia pun buru-buru beranjak, sampai melompat juga malah, bergegas keluar kamar. Begitu juga dengan orang yang dituduh sedang menjalin rasa itu, ia pun melompat, menarik daun pintu. "Kok dia tahu kemari!?"


"Emang aku dukun bisa baca pikiran orang!" seru yang memanggil tadi. "Tuh orangnya sudah nunggu di teras."


"Siapa Kak!?" Tanya bapak dari pintu kamar. Kak, yang dimaksud adalah Tina; Dia, si anak sulung; Sekarang ia duduk di bangku sekolah menengah pertama, kelas tiga. Setahun lagi bakal melanjut ke sekolah menengah lanjutan atas. "Teman sekolah si Tyson," ucap Tina. Itu nama Tyson merujuk ke si anak lelaki tapi bapak gak mudeng. "Tyson siapa!?"


"Lah ini," Kakak menuding ke tokoh yang dimaksud. "Mukulin anak orang apa bukan Tyson namanya."


Bapak mengangguk paham. "Buruan tuh orangnya sudah nunggu di luar." Kata Kakak menuding ke arah teras. Bapak celingak-celinguk gak ketentuan. "Calon mantu ya, Pak." ada suara yang meningkahi. Bapak kaget bukan kepalang.


Ternyata si Putera. Dia muncul dari arah belakang sambil membawa piring makan. "Calon mantu gundulmu!" Kakak yang merespon galak seraya berjalan ke arah teras depan. Ternyata di teras depan Naomi tengah berbincang dengan Shanty. "Naomi mau minum apa?" Kakak bersopan-sopan. Tapi Shanty yang ngejeplak. "Emangnya di dapur ada sirup!?"


"Ada!?" Kakak menyahut seenak jidatnya. "Boleh dong satu!" Shanty malah percaya aja lagi. "Kalau berani minta tuh sama bapak. " Kakak menuding geli. Shanty menciut. "Kak, kemarin Abang berantem iya," Naomi malah bertanya yang lain. Shanty dan Tina kaget barengan, tapi bukan karena Naomi tahu peristiwa tersebut, melainkan karena penyebutan kata 'Abang' itu yang sekonyong-sekonyong membuat mereka kaget barengan. Sejak kapan tuh setan gundul dikata 'Abang' yang manggil cewek cantik kayak begini lagi!?


"Iya, si Abang, tadi kata Shanty..." Belum Naomi menyelesaikan omongan dari dalam orang yang dimaksud sudah nongol. "Jangan dengar omongan dia! Pembohong dia itu!" Menukas galak ke Shanty.


"Emang kau berantem," Shanty menyapu rancang. "Tuh banyak tuh saksinya!" Shanty menuding luar pagar, ke teman-teman yang ternyata menunggu di luar. "Pet, cewek kau iya," Seseorang berteriak dari luar pagar.


"Kalo iya, kenapa!?" Yang dituduh malah songong tapi cuma sebentar karena dari arah belakang telinganya keburu kena jewer. "Aduh, aduh, sakit, Pak!"


"Kalau enak, roti donat namanya." Kata Shanty terkikik. "Oh iya aku bawain donat buat kamu. Buatan mama, kata mama, bagi ke kamu." Ucap Naomi menarik sebuah bungkusan yang sedari tadi ia geletakkan di atas meja. Yang girang malah Shanty. Begitu juga dengan teman-teman yang menunggu di luar pagar; mereka pun bercie-cie-an ria.


Yang diberi bekal sok belagak dengan kepala yang terangguk-angguk, sok berwibawa gitu. "Bilang apa!?" Respon bapak. "Ini hadiah karena kamu sudah ngajarin aku naik sepeda." kata Naomi girang. Yang dikasih hadiah malah membelalak bingung, kapan aku ngajarin naik sepeda bukannya kemarin...


Shanty malah mendahului, "bukannya kemarin kamu ngajarin dia baca?! Kan dia belum bisa..."


"Siapa bilang aku belum bisa baca!? Nih lihat nih..." Si anak berlagak, koran di atas meja dia sambar, lalu dia baca dengan lantang. Tuh, anak-anak pada kebingungan. "Benar gak!?"


"Lah bisa baca, kemarin katanya..." Shanty menuding bingung. Naomi tersipu lucu. Si anak lelaki membusung dada. Tina, si kakak sulung mengangguk bangga. Bapak mengelus dada, ternyata anak lelakinya tak sebodoh yang dituduhkan orang-orang, masak udah kelas tiga belum bisa baca, apa kata dunia!?


"Tapi kemarin kata si Noel," Shanty masih kebingungan. "Si Noel kau dengar, tuh, orang mulutnya gak bisa dipercaya! Iya, nggak, Nom." Si anak kian berlagak. Naomi mengangguk tapi agak ragu.


"Abang aku juga bawain ini buat kamu," Naomi membuka tas ranselnya dan hendak menarik ke luar sesuatu tapi Shanty keburu menahan. "Abang!? Kamu panggil dia, Abang!? Abang apaan!? Abang becak!" ledek Shanty. Teman-teman di luar pagar terkakak girang. "Abang tukang bakso..." malah ada juga yang bernyanyi kayak orang kesurupan.


"Katanya di rumah dia di panggil Abang," Naomi menuding bingung. "Abang, Abang apaan..." Putera yang datang dari arah belakang berlagak sekonyong-sekonyong, sepertinya gak terima dia.


"Eh, bocah tengil jangan berlagak Abang kau... Akunya Abang! Putera menepuk dada. "Iya, Abang keong!" Ejek Shanty. Naomi kembali menarik sesuatu dari dalam tas ranselnya. "Nih, kamu pasti suka..." Kata Naomi menyerahkan sesuatu tersebut.


Setumpukan buku, lebih tepatnya setumpukan buku cerita bergambar, judulnya Mahabarata, karya R. A. Kosasih. "Lah ini kan filmnya lagi main di tivi." Kata Shanty menuding.


Naomi mengangguk mengiyakan. Shanty penasaran. "Sampai tamat iya,"


"Ini belum tapi di rumah ada," Naomi berucap. Shanty mengangguk-angguk. "Buat Abang apa pinjam!?" Tina merespon. "Yang ini saya kasih buat Abang soalnya saya punya kembarannya." Sahut Naomi.


Yang diberi mengulurkan tangannya. Naomi menyerahkan beberapa jilid. Kurang lebih ada lima jilid. Dari edisi awal hingga edisi no lima. "Nanti aku pinjam ya, Dek." Shanty berujar.


"Enak aja pinjam, sewa." kata yang diberi hadiah. Shanty mendengus kesal. Naomi tersenyum tipis.


Bapak menggangguk kecil kemudian berbalik badan masuk ke rumah. Pun Tina. "Sebentar iya Kakak ambilkan minum."


Putera mendekat melirik ke komik yang ada di tangan, memuji sampul komik. "Gambarnya keren." Yang diberi hadiah mengangguk mengiyakan. Tak berselang lama komik itu pun sudah berpindah; dari satu tangan ke tangan yang lainnya; termasuk ke teman-teman yang sedari tadi menunggu di luar pagar.


Mereka terlihat terkagum-kagum bukan pada ceritanya tapi juga kepada gambar-gambar yang terlukis di dalam halaman kertas tersebut. Hingga hari mendekat sore, Naomi pun izin untuk balik pulang. Naomi pun pulang. Bapak minta supaya Naomi ditemani. Yang menemani bukan cuma Ipet teman sebangkunya itu tapi juga ditemani Putera, dan Shanty serta teman-teman yang lain. Kata mereka, ingin melihat seri-seri lanjutan dari buku komik tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2