Naomi: Kenapa Harus Ada Cinta Diantara Kita!

Naomi: Kenapa Harus Ada Cinta Diantara Kita!
Bagian 5 Jalan Buntu


__ADS_3

Pukul setengah lima pagi. Hari Sabtu, ketika udara masih terasa segar-segarnya berpadu dengan kicau suara burung di atas pohon mangga yang mulai belajar berbuah. Seseorang lelaki paruh baya berjalan keluar pekarangan rumah, berjalan sambil menuntun sepedanya. Sudah berada di luar pagar sampai dari arah depan pintu, terdengar suara orang yang berteriak memanggil.


"Om, mau kemana..." Orang yang memanggil lelaki muda berperawakan gembul. Dia pun berlari menyusul.


"Emang gue ada potongan mau konser apa!?" Ujar si lelaki paruh baya melirik ke dirinya dari bawah sampai ke bahu.


"Tumben keluar," Si lelaki gembul yang tak lain adalah Tom mendesis geli ia. "Udah gak marah lagi sama orang-orang!?"


"Gue mau olahraga!" Seru si lelaki paruh baya. "Yang bilang mau tamasya siapa," delik Tom terkekeh.


Si lelaki paruh baya menggeleng geli lalu kembali berjalan. Tom mengiringi di sebelah. "Om gue mau curhat nih,"


"Pasti soal cewek iyakan," tebak si lelaki paruh baya sambil berjalan. Yang ditebak nggak mengangguk nggak juga menggeleng yang ada dia hanya bisa tarik nafas saja.


"Makanya jadi orang jangan serakah bingung kan milih siapa!?" ujar si lelaki paruh baya cengar-cengir.


"Om, Om, kayak situ nggak aja," dengus Tom. Si lelaki paruh baya mengangguk geli. Jelas ia mengiyakan seruan tersebut.


"Lebih-lebih waktu si Kiki cium bibir gue. Dia tuh marahnya setengah mampus, Tom. Ngomong-ngomong kapan kamu pertama kali dicium sama cewek!?" Ujar si lelaki paruh baya.


"Iya udah lupa lah, Om." Tom tampak berpikir kemudian menggeleng. "Lupa? Bilang aja kalau yang nyosor pertama kali itu kamu! Bukan itu cewek! Iyakan!?" Tebak lelaki paruh baya lagi. "Emang Om nggak!" Tom sewot.


"Nggak! Tuh cewek yang nyosor duluan!" seru si lelaki paruh baya. Tom meledek, "Masak sih,"


"Bener! Tuh cewek yang nyosor duluan! Nggak ada angin nggak ada hujan! Ketiban rezeki gue!" Si lelaki paruh baya terkikik geli. "Tapi setelah itu sama yang disebelah gue dicuekin seharian."


"Naomi!?" Tanya Tom. "Siapa lagi," ujar si lelaki paruh baya. Tom kaget. "Emang dia lihat!?"


"Lah dia duduk di sebelah gue," kata si lelaki paruh baya. Tom menggeleng-geleng geli. "Edan! Benar-benar edan loe, Om."


"Tuh, cewek namanya Kiki. Teman sekelas gue juga. Anaknya lucu. Gue itu suka iseng ke dia." ucap si lelaki paruh baya. "Karakternya tuh beda banget dengan Naomi. Ini anak agak manjaan gitu."


"Lucunya dimana!?" tanya Tom.


"Lucunya... Iya, tiap masuk sekolah rambutnya selalu diikat ke atas. Pas seperti pohon kelapa gitu. Jadi gue suka iseng aja main-mainin itu rambut." Ujar si lelaki paruh baya.

__ADS_1


"Kejadiannya waktu SD dong berarti?" Tanya Tom. "Kelas tiga SD." ujar si lelaki paruh baya, menudingkan ketiga jemarinya. "Ajib jadi Om pertama kali dicium cewek itu waktu kelas tiga SD gitu?!" Tom geleng-geleng kepala. Si lelaki paruh baya mengangguk.


Tom kaget. "Gak percaya gue!" Setelah dia mendengus.


"Lah itu mah gak seberapa, Tom. Gue itu udah naksir cewek sedari gue pertama kali masuk sekolah. Gara-gara tuh cewek gue rajin sekolah. Awalnya gue malasnya setengah mampus tahu nggak loe!" ujar si lelaki paruh baya.


"Ini berarti yang lain lagi dong," duga Tom.


Si lelaki paruh baya mengangguk. "Namanya, Isabella."


"Isabella!? Kayak judul lagu aja." Tom terkikik. "Iya gue suka dia karena terinspirasi lagu itu." si lelaki paruh baya menuding geli.


"Tapi Isabella nggak nyium loe kan," tanya Tom. "Iya nggak keburu. Lah naik kelas dua dia sudah pindah sekolah." ujar si lelaki paruh baya.


"Patah hati dong loe," tebak Tom seraya tersenyum tipis. "Banget!" si lelaki paruh baya menuding dadanya. "Gue sampai ogah masuk sekolah seminggu lebih. Sampai..."


"Sampai apa...!?" Tom penasaran.


"Sampai gue kangen sekolah." ucap si lelaki paruh baya tergelak. Tom geleng-geleng kepala. "Gak mungkin! Gak mungkin! Orang kayak loe kangen sekolah!? Omong kosong!"


"Gue bosan main sendiri," si lelaki paruh baya pun jujur mengakui. "Udah gue tebak!" Tuding Tom terkikik. Si lelaki paruh baya hanya bisa manggut-manggut.


"Sehari, dua hari, sampai gue kesal terus gue lari dari rumah. Iya bapak gue memilih untuk..." Belum lagi si lelaki paruh baya menyelesaikan omongan, sekonyong-sekonyong Tom menyela. "Loe, lari dari rumah, gimana ceritanya!?"


"Iya, karena gue kesal dimarahi, dodol!" si lelaki paruh menyahut ketus.


"Seminggu, sebulan, setahun, berapa lama loe lari dari rumah!?" Tanya Tom. "Setengah hari doang." Sahut si lelaki paruh baya. "Beuhhh... Gue kirain,"


"Tapi itu saja sudah membuat bapak gue cemas bukan kepalang. Soalnya, waktu itu orang-orang lagi dihebohkan dengan banyaknya kasus anak hilang." Ujar si lelaki paruh baya. Tom menyipitkan sebelah matanya. "Benar! Maksud gue, bapak gue benar-benar cemas. Kalau perkara anak hilang itu gue gak tahu kebenarannya lagian itu bukan urusan gue. Gue cuma memanfaatkan situasi itu."


"Loe pulang sendiri atau..." Tom hendak menduga-duga tapi lelaki paruh baya lebih dulu menyahut. "Bapak gue nemuin gue lagi tertidur pulas pada sebuah tangga di pasar. Waktu itu jam tujuh sore." Tom menggangguk. "Bangun-bangun gue sudah berada di kamar gue, keesokan paginya." Lanjut si lelaki paruh baya.


"Terus setelah loe kangen sekolah...." Tom memilih untuk melompati kisah anak dan bapak itu, karena sepikiran Tom kisah itu tidak menarik. Padahal sesungguhnya kisah itu menarik, setidaknya buat si lelaki paruh baya. Gimana tidak, ketika menuturkan peristiwa itu saja terlihat perubahan mimik di wajahnya, terlihat lebih senduh, jadi pasti ada sesuatu yang menarik dari peristiwa tersebut. "Iya, gue sekolah seperti biasa," sahut si lelaki paruh baya memilih untuk melangkahkan kakinya, sementara sepeda yang ia tuntun tadi, ia sandarkan begitu saja di bawah pohon mangga.


Mereka pun berjalan, berjalan menjauhi pekarangan rumah, terus melangkah, hingga puluhan langkah jauhnya, perlahan wujud dari rumah tinggal tersebut pun lenyap dari balik punggung mereka.

__ADS_1


Tom yang berjalan di sebelah, kembali mengajukan pertanyaan. "Seminggu gak ketemu si Naomi gak kangen gitu!?"


"Dia cuma nanya gimana liburan di kampungnya." Si lelaki paruh nyengir geli. Tom bingung. "Karena kakak gue bilang kalau gue liburan di kampung." terang si lelaki paruh baya.


"Bukannya tadi Om bilang, kalau Om itu sempet sekolah. Terus setelah Om tahu kalau si Isabella gak sekolah lagi di sekolah itu Om memilih untuk..." Tom mengilas balik. "Liburan yang tertunda, begitu kata kakak gue." kikik si lelaki paruh baya.


"Ngomong-ngomong Om sama si Naomi itu sudah..."


"Sedari kelas satu SD sampai kelas enam, kecuali di kelas lima, kita itu duduk sebangku. Tapi di kelas lima itu pun, posisi gue dan Naomi itu duduknya gak berjauhan. Gue itu berada di depannya. Pada saat itu kita terpisah karena sesuatu dan lain hal." terang si lelaki paruh baya.


"Sesuatu dan lain hal!? Maksudnya!?" tanya Tom. "Iya, sebelumnya kita sudah ditandemkan sampai... Namanya, Monang, anak baru, dia meminta kepada ibunya untuk duduk di sebelah Naomi. Gue tahu, kalau dia..." terang si lelaki paruh baya.


"Dia naksir si Naomi," tebak Tom. Si lelaki paruh baya mengangguk. "Loe gak cemburu!?"


"Cemburu!? Gak! Gue merasa kalau si Monang itu pembebas gue! Loe bayangin bertahun-tahun duduk di sebelah tuh cewek judes!" si lelaki paruh baya menuding-nuding dengan begitu bersemangat.


"Kayaknya kita udah terlalu jauh nih loncatnya, gimana kalau kita balik dulu deh ke soal ******* tadi. Gimana reaksi loe saat loe dicipok begitu!?" Kekeh Tom. "Siapa tadi tuh nama tuh cewek?"


"Kiki," Ucap si lelaki paruh baya. Tom mengangguk. "Iya gimana reaksi loe!?"


"Iya, muka gue merah jambu-lah." ucap si lelaki paruh baya. Tom ngakak. "Mestinya loe tanya kenapa tuh cewek nyipok gue!?" ujar si lelaki paruh baya.


"Kenapa emang!?" Tanya Tom.


"Iya, karena dia dipanas-panasi teman sebangkunya namanya Frangky. Dia bilang kalau gue bakal berhenti gangguin si Kiki kalau si Kiki berani bertindak lebih ke gue." kata si lelaki paruh baya.


"Kok mesti nyipok!?" Tom terbelalak.


"Karena cubitan dan pukulannya gak mempan ke gue. Jadi dia kesal aja gitu, terus gue dicipok deh!" ujar si lelaki paruh baya, terkekeh.


"Bukan karena dia naksir elo, Om." Tom menggeleng bingung. "Naksir gimana, wong, naik kelas tiga dia juga pindah sekolah," sahut si lelaki paruh baya.


"Iya dia pindah gara-gara sering loe isengi kali," ledek Tom. "Bukan bapaknya pindah tugas ke Jakarta." terang si lelaki paruh baya.


"Reaksi si Naomi bagaimana!?" Tanya Tom.

__ADS_1


"Seharian dia diami gue," sahut si lelaki paruh baya, yang sedetik setelahnya, terlihat seperti orang kebingungan. "Lah ini kan jalan buntu."


***


__ADS_2