Need (Y)Our Help : Fyzo

Need (Y)Our Help : Fyzo
Anak baru?


__ADS_3

Hari ke hari yang kujalani sepertinya sama saja, tidak ada yang lebih menarik selain mendengar kabar para pengganggu yang sakit sehingga tidak bisa hadir ke sekolah. Aku sebenarnya terlahir sebagai anak yang sempurna, namun karena ulahku sendiri semua kesempurnaan itu hilang. Beberapa orang menyebutnya itu adalah ujian dari Tuhan, ada juga yang menyebutkan sebagai karma karena dulu juga aku anak yang nakal.


Berkat kekuranganku ini, setidaknya aku tidak perlu mengerjakan pekerjaan kasar yang mengandalkan otot, aku masih punya otak. Banyak hal pekerjaan ringan yang lebih mengandalkan kecerdasan, dan mungkin hanya ini kesempatanku. Dengan menggunakan akal, aku tak perlu berkeringat, tak perlu mengerahkan semua raga, cukup dengan mengandalkan otak, dan aku pun mendapatkan apa yang pantas kudapatkan.


Namun, aku hidup di dunia yang setiap halnya selalu netral, sesuatu yang positif selalu datang dengan hal negatif. Memang di luar dugaanku tapi mungkin ini adalah batasan agar aku tidak menjadi sombong. Beberapa pengganggu selalu mengerjaiku, dan saat itu pula aku jadi ingat tentang siapa aku. Hanya anak cacat akibat ulahnya sendiri.


Hari ini kelasku kedatangan murid baru, seperti adegan murid baru pada umumnya dia memperkenalkan dirinya di depan kelas, beberapa buaya sudah mulai beraksi, beberapa anak perempuan sudah saling memberikan tatapan tajam satu sama lain. Mengingat bahwa siswi di kelasku memiliki beberapa kubu yang setiap jam istirahat memiliki kelompok tersendiri.


Keberuntungan tak sering terjadi, ini bukanlah film romantis, atau sejenisnya. Meskipun aku duduk di bangku paling belakang, dan sendirian, guru tidak menyuruh si anak baru untuk duduk denganku. Memang bukan hal aneh maupun mengecewakan. Sudah terbayangkan jika hal itu terjadi, jumlah penggangguku akan lebih banyak lagi. Aku sudah cukup nyaman dengan pengganggu yang sudah ada.


Waktu istirahat sudah tiba, beberapa siswa-siswi meninggalkan kelas untuk makan siang, beberapa di antaranya ada yang langsung bermain di lapangan sekolah, ada juga yang tetap di kelas untuk menyantap bekal buatan mereka sendiri. Aku? Tentu saja aku juga membuat bekal sendiri, sederhana saja sampai setidaknya dapat menahan lapar untuk beberapa jam ke depan.


Waktu istirahat masih tersisa 5 menit lagi, aku biasanya menghabiskan waktuku untuk menggambar, menulis naskah bodoh, atau memainkan alat musik jika aku membawanya, tapi terkadang beberapa siswa selalu memaksaku untuk meminjamkannya pada mereka sehingga hasilnya sama saja dengan aku tidak membawa alat musik ke sekolah.


Jam pulang telah tiba, siswa-siswi meninggalkan kelas seperti domba yang baru keluar dari kandangnya untuk mengunjungi lapangan hijau. Aku biasanya menunggu beberapa saat sampai mereka semua pulang, dan menenangkan diri untuk beberapa saat. 30 menit berlalu, saatnya aku pulang.


Pak satpam sudah memaklumi kebiasaanku yang suka menyendiri di kelas, andai saja dia menyelesaikan perkuliahannya, mungkin sekarang ia bisa menjadi psikiater, atau guru BK. Hal itu pun masih ia sesali sampai sekarang, karena tanpa ijazah, tak ada satu pun orang yang percaya sebuah bakat tanpa bukti, meskipun terkadang adanya bukti masih kurang bagi mereka untuk percaya.


“Apa rumahmu melewati blok M?” tanya seseorang yang bahkan aku tak kenal siapa dia, dan saat aku menoleh ternyata si anak baru.


“Rumahku memang ada di blok M, ingin pulang bersama?” Jawabku, memang perumahan blok M cukup jauh jika kita menggunakan jalan normal ataupun dengan bantuan GPS, namun orang yang dibesarkan di sana sepertiku sudah pasti hafal jalan pintasnya, jadi aku menawarkan bantuan padanya.


“Apakah seseorang akan menjemputmu?”


“Aku biasanya mengendarai 2 benda untuk sampai ke rumahku.”


“Menaiki 2 angkot yang berbeda?”


“Bukan, dua benda itu sepatuku.” Ya ampun, lawakanku aneh sekali. Lagi pula untuk apa aku melawak?


“Kau pasti bukan manusia.. perumahan sangat jauh dari sini bahkan blok A!” dengan wajah ketakutan dia menuduhku bukan manusia, dan telunjuknya mengarah padaku. Bukan hal yang aneh bagiku, aku memang sering dituduh bukan manusia hanya karena aku berbeda.


“Aku lahir, dan dibesarkan di sana, jalan tikus menuju ke sana sudah menjadi pengetahuan umum bagiku. Memang agak berbelit tapi setidaknya hemat uang.” Setelah dituduh bukan manusia, kini mungkin aku akan dicap sebagai orang kikir. Namun setelah mendengar jawabanku, dia perlahan mendekat padaku, dan mengangguk.


“Maaf, tadi aku asal bicara. Namaku Sina, namamu Fayzul kan?”

__ADS_1


“Ya, sebenarnya aku tak peduli siapa kau, aku hanya menawarkan bantuan selama itu masih bisa dilakukan.” Kami pun pulang bersama melewati beberapa gang kecil, selokan bau, dan beberapa jalan tikus lainnya.


Selama dalam perjalanan menuju rumah, kami tidak saling berbicara, hanya berjalan terus selama 15 menit tanpa henti. Meskipun perjalanan pulang kali ini lebih lama dari biasanya karena dia perempuan ditambah lagi ada kemungkinan yang cukup besar kalau biasanya dia diantar ke mana pun dengan kendaraan.


Setelah melewati gang, aku berencana untuk menaiki angkot saja untuk hari ini. Aku mengajaknya untuk duduk sejenak, dan menunggu bis angkot yang lewat. Beruntungnya, tidak sampai 2 menit bis yang melewati tempat tinggal kami sudah tiba.


“Pembohong! Kau bilang kau selalu berjalan menuju rumah!? Buktinya sekarang menaiki kendaraan!” Dengan nafas terengah dia berkata demikian padaku.


“Lihatlah diriku, dan dirimu. Aku sebenarnya masih sanggup berjalan, dan tidak tega meninggalkan anak baru di tengah perjalanan. Jadi aku memutuskan untuk hari ini saja kita menaiki kendaraan umum.” Jawabku. Setelah mendengarkan ucapanku, dia hanya termenung, dan mengangguk. Kini aku punya 2 pilihan, jika dia bernasib sama sepertiku, aku besok harus pulang dengan kendaraan umum sambil mengajari anak baru ini. Jika dia tidak senasib denganku, mungkin aku akan memintanya untuk tidak mengikutiku lagi.


“Perjalanan kita hari ini jadi lebih panjang dari menaiki kendaraan umum sejak awal, bukan salahmu sepenuhnya, tapi.. Memangnya tidak ada orang yang akan mencarimu? Hari pertama sekolah biasanya akan diperhatikan mulai dari keberangkatannya sampai pulang.”


“Sebenarnya.. Aku pindah sekolah bukan karena keinginanku atau mengikuti orang tua, ini karena aku yang tidak pernah bisa dewasa, dan orang tuaku mengusirku dari rumah, dan membelikanku rumah di sebuah perumahan yang sangat jauh dari rumahku.” Mendengar jawabannya aku tidak terlalu terkejut karena dari tampang dia memang seperti anak manja. Jujur, aku iri padanya, andai saja aku menjadi dirinya, aku akan menikmatinya dengan senang hati.


“Kenapa hanya diam!? Jangan-jangan kau aka-“


“Ssst!! Aku tidak akan berbuah jahat padamu atau memanfaatkanmu karena kau anak konglomerat, sejujurnya aku hanya iri padamu. Andai saja jika aku jadi kau..” aku mengatakannya sambil memalingkan wajah menuju jalanan. Dan kami sudah hampir sampai di tujuan kami, aku tidak terlalu banyak bicara lagi padanya sampai kami turun dari kendaraan umum.


“Ya... Di sinilah kau harus berhenti jika memakai kendaraan umum, mulai besok aku akan menunjukkan padamu dari kau harus menaiki kendaraan umum.” Ucapku sambil membayar ongkos, rasanya tidak pantas jika sekarang aku menagih uang padanya, jadi mau tak mau aku harus membayar ongkos untuk dua orang.


“Terlalu banyak, untuk per/seorangnya dengan jarak tadi hanya membutuhkan 5% dari uangmu itu. Lagi pula aku sedang berbaik hati. Jadi, tak usah dipikirkan.” Bahkan anak ini memiliki daya pikir yang lambat, Kendaraan umum yang tadi sudah berangkat setengah menit yang lalu.


“Alasanmu berjalan kaki adalah menghemat uangmu, kan? Itu berarti untuk ongkosmu sendiri saja sudah sangat berharga bagimu!! Aku juga tidak akan merasa nyaman jika aku berhutang pada seseorang.”


“Santai saja, karena tadi kita hanya menaiki untuk setengah jarak dari sekolah, ongkosnya juga hanya setengahnya. Jadi, untuk dua orang tadi tidak ada bedanya dengan jika aku menaikinya dengan jarak dari sekolah menuju tempat ini.” Pikirannya cukup dewasa, dia juga menghargai orang lain. Mungkin orang tuanya ingin dia menjadi orang yang bisa hidup mandiri.


“Bagaimana jika lain kali aku saja yang membayar ongkosnya?”


“Boleh, tapi hanya untuk sehari saja. Jika lebih dari itu, aku yang berhutang padamu.” Kami berjalan beberapa meter, dan telah sampai ke area perumahan. Wajahnya cukup senang karena ini kali pertamanya dia mengeluarkan tenaganya hanya untuk pulang ke tempat peristirahatannya meskipun bukan rumahnya.


“Rumahku ada di sebelah sini, mau mampir sebentar?”


“Tidak, lagi pula perumahan itu isinya sama saja mulai dari lokasi, ruang, dan ukurannya.”


“Kemarin aku membeli jus! Aku akan memberikannya padamu, kau terlihat lemas, dan nada bicaramu juga seperti orang yang sedang sakit. Jadi, aku harap aku bisa membantumu meski sedikit.” Sekarang aku menemukan masalah kenapa orang tuanya mengusir anak ini. Selain manja nada bicaranya cukup arogan.

__ADS_1


“Tidak, terima kasih.. Aku menolongmu tanpa pamrih, dan rumahku juga tidak jauh dari sini. Lihatlah, dari lampu jalanan itu, kau hanya perlu belok ke kiri, dan cari saja rumah yang memiliki nomor 21.”


“Bukankah itu terlihat cukup jauh!? Ayolah.. Aku memaksa!”


“Tidak, sampai jumpa...” Aku meninggalkannya, dan berjalan menuju rumahku.


Sesampainya di rumah, seperti biasa tak ada sambutan lain selain pertanyaan dari mana saja aku?, apalagi hari ini aku pulang agak telat dari biasanya. Mari kita undi nasib, jika dugaanku benar aku akan bermain game sampai malam, jika aku salah, aku akan mengerjakan PR terlebih dahulu lalu menggambar.


“Dari mana saja? Ada tugas sekolah?” Tanya kakakku, sudah kuduga.


“Ada sedikit macet di jalan, mungkin kecelakaan lalu lintas. Jadi bisnya berhenti untuk beberapa menit.” Aku selalu berbohong bahwa aku melakukan aktivitasku seperti dugaan mereka. Uang jajan yang diberikan padaku juga sudah hasil pemikiran mereka untuk apa saja uang itu.


Keluargaku tidak kaya, tidak miskin juga. Keluargaku hanya keluarga yang terlalu berencana, aku pun cukup enggan untuk meminta uang jajan tambahan jika aku menginginkan sesuatu atau ada proyek sekolah sehingga aku sendiri yang harus mengatur keuanganku. Keluargaku cukup teliti untuk hal yang kurang penting sehingga mereka melupakan satu hal yang terpenting, yaitu keadaan darurat.


Untuk uangku sendiri, aku menyimpan uang dengan nominal kecil di saku dompet paling luar, nominal sedang di tengah, dan uang darurat dengan nominal cukup besar di belakang. Untungnya keluargaku juga tidak terlalu peduli dengan keadaan pangan di rumah sehingga aku bebas membawa bekal kapan pun aku mau untuk menghemat uang jajan.


Baiklah, karena dugaanku tadi benar saatnya aku bermain game. Namun belum sempat aku menyalakan komputer, namaku sudah dipanggil. Itu berarti saatnya perbandingan, saat di mana ketika orang tuaku melihat anak yang lain lebih dariku atau punya sesuatu yang tak aku miliki, dan saat itu juga aku akan diadili.


Tak jarang orang tuaku menyebutku “tidak normal” karena mereka membandingkan pola hidup remaja di zaman mereka, dan zaman sekarang. Sering kali juga aku dituntut untuk menunjukkan pada mereka kalau aku juga bisa menjadi seperti yang mereka inginkan sampai-sampai aku lupa siapa diriku ini. Mungkin aku yang sekarang sudah sangat berbeda dari diriku yang dulu di masa tidak pernah mengalami masa perbandingan ini.


Terakhir aku ingat saat aku kehilangan diriku sendiri saat mulai memasuki bangku SMP. Saat itu aku masih beradaptasi dengan pola hidup baru, dan merasa lelah setelah pulang sekolah, dan kehujanan. Aku bahkan tidak tahu bahwa jemuran masih belum diangkat sehingga semua baju menjadi basah kuyup, dan aku dipanggil untuk ditampar.


Mereka bilang itu salahku karena tidak peka terhadap lingkungan, dan terlalu monoton pada satu hal, yaitu game. Lalu saat itu pula mereka menyita semua barangku, dan menuntutku untuk lebih peka terhadap rumah, mulai dari mengerjakan pekerjaan rumah sampai melatih kepekaan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Lagi pula rumah ini tidak sebesar vila yang diharuskan untuk memiliki pembantu.


Dan hal yang menguatkan mereka untuk lebih menekan diriku daripada kakak, dan adikku, karena aku satu-satunya anak laki-laki di rumah ini, mulai dari urusan dapur hingga pakaian harus aku yang mengurus. Mereka juga terkadang membuat kakakku yang laki-laki sebagai patokan perbandingan utama yang di mana dia selalu diceritakan sebagai anak emas yang berbakti, dan tidak pernah melawan, kini dia sudah bekerja jauh dari rumah.


Pembelaanku sendiri tidak ada artinya jika sudah memasuki waktu perbandingan ini. Jika aku melawan, aku akan dihukum, jika aku meminta simpati terhadap kondisi kedua lenganku, aku akan dihina. Orang tua macam apa yang menghina anaknya sendiri? Terkadang aku berharap ketika aku diberikan perintah semacam mengangkat beban yang cukup berat, lenganku patah di hadapan mereka, dan dokter berkata bahwa lenganku harus diamputasi.


Aku sendiri tak bisa menikmati hidupku atau masa mudaku. Pernah sekali aku membela diri saat masa perbandingan dengan membalikkan fakta bahwa waktuku dihabiskan untuk mengurus urusan rumah, mereka malah menuntut hidupku yang kurang fleksibel, dan bahkan menyebutku idiot karena mereka pikir pemikiranku hanya sebatas game, dan rumah.


Mereka tak pernah berpikiran bahwa aku belajar karena aku memang jarang mendapatkan prestasi yang bagus seperti kakak-kakakku, dan adikku yang selalu mendapatkan juara 1 berturut-turut. Mungkin benar, aku hanya ampas yang tidak pantas memiliki kehidupan, dan egoku, atau mungkin kehidupanku berakhir setelah aku menduduki bangku sekolah menengah pertama.


Setelah otakku tercuci seperti ini, mungkin ada benarnya semua salahku. Sejak saat itulah aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Dan malam ini tidak ada game, maupun belajar. Aku sudah lelah untuk hari ini.


. . . .

__ADS_1


__ADS_2