
Acara di sekolah pun dimulai, sejak pagi buta semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing, begitu pun aku. Tugasku adalah sebagai pelayan di shift pertama. Pakaianku biasa saja, hanya mengenakan seragam sekolah hanya saja memakai jas hitam, dasi hitam, dan celana hitam.
“Fayzul!! Ya ampun kau terlihat tampan hari ini. Boleh aku berfoto bersamamu?” Yap, siapa lagi kalau buka Sina? Hidupku sebenarnya tidak berubah drastis seperti film pada umumnya, nyatanya tak banyak orang yang peduli pada kami ketika bersama.
“Berhentilah menggodaku dan uruslah urusanmu.”
“Eeh..? Urusanku bahkan belum dimulai, aku menjadi kasir untuk shift pertama.”
“Kalau begitu mohon kerja samanya dan tetaplah profesional meskipun dengan teman sendiri. Ketika memasuki dunia kerja dan bisnis, urusan perasaanmu tidaklah berguna, mungkin justru malah membuatmu bangkrut sendiri.”
“Aku tahu itu, seperti harga teman atau diskon khusus karena wajah memelasnya kan? Huh! Aku paham itu sejak dulu, tak perlu kau beritahu.” Dengan nada sombongnya dia memalingkan wajah ke atas.
Sina dipanggil seseorang dan dia pun menghampiri sumber suara, aku hanya ingin memastikan kalau semuanya sudah siap. Aku menghampiri panggung kecil dan melihat susunan kabelnya, memberikan selotip pada kabelnya agar tidak semrawut dan tidak membahayakan siapa pun.
Dari semua alat musik yang ada, aku mencoba memainkan gitar. Aku memainkan lagu acak yang bahkan aku tak tahu lagu apa itu. Hanya menerapkan teori kunci lagu seperti “running chord” hanya saja kumainkan dengan cara dipetik mengikuti alur nada.
Seseorang memuji permainan gitarku, dan dia mulai memintaku memainkan lagu yang bahkan aku tak tahu lagu apa itu, meskipun aku berkata bahwa aku tak bisa memainkan lagu yang dia minta, dia tetap menganggapku sebagai pembohong. Lagi pula, siapa yang peduli akan hal itu?
“Baiklah semuanya, mari berkumpul dulu. Acara akan dimulai setengah jam lagi, kita berusaha bersama semaksimal mungkin untuk memuaskan pelanggan dan memenangkan lomba kelas terbaik!” Ketua kelas pun membubarkan siswa-siswi dan keluar dari ruang kelas dengan tergesa-gesa, perempuan yang unik.
Aku membawa buku kecil sebagai catatan pesanan pelanggan, dan dua buah pena, yang satunya lagi pena darurat. Selalu pikirkan kemungkinan terburuk dalam berbagai aspek agar kita tidak kewalahan.
Pelanggan pertama datang dan langsung duduk, dia memesan produk termurah. Setelah mencatat pesanannya, aku masih bingung apa fungsiku di sini, bukankah lebih simpel jika dia datang langsung menuju kasir dan membayar di sana?
Berbagai macam pelanggan telah kulayani mulai dari pasangan romantis hingga berbagai kubu siswa. Shift pertama pun terlewati, aku bisa beristirahat atau bahkan tidak perlu bekerja lagi sampai acara selesai.
“Melelahkan ya? Mau beli minuman dulu?” Sina menghampiriku.
“Aku hanya ingin duduk untuk sejenak.”
“Haruskah aku memanggilmu unta? Kenapa kau sangat jarang terlihat minum?”
“Aku tidak haus, aku hanya lelah.”
“Baiklah, mau jalan-jalan melihat kelas lain?”
“Sina.”
“Ya?”
“Aku lelah, biarkan aku istirahat, bukan mengajakku jalan-jalan.”
“Maaf, hihi..”
Aku menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk duduk dan menjernihkan pikiranku, lalu aku mengikuti Sina dan menghabiskan waktu bersamanya sampai acara selesai. Setelah melewati berjam-jam bersama, kini kami mengemas kembali semua barang dan mengembalikan kelas ke bentuk semula.
Setelah itu aku pulang sendiri seperti biasa dan Sina menggunakan alat transportasi umum, meskipun sudah sering seperti ini, dia masih terheran-heran mengapa aku yang berjalan kaki bisa tetap bertemu di perumahan.
Jawabannya sederhana, jika kita lihat di aplikasi peta dunia, jalan yang masih bisa dilalui manusia sebenarnya cukup lurus, tidak seperti jalan raya yang kesannya mengelilingi banyak daerah terlebih dahulu. Meskipun jalannya cukup ekstrem, tapi lumayan juga untuk berlagak seolah sang petualang, lompat sana, lompat sini, dan masih banyak lagi.
Hari ini tidak ada siapa pun di rumah, meskipun begitu aku harus tetap mengerjakan pekerjaan rumah agar aku bisa santai dengan tenang. Aku membereskan tiap sudut rumah dan mandi, lalu aku makan siang dan berbaring di kasur.
__ADS_1
Untuk persiapan besok sebaiknya aku menjadwal buku dari sekarang, dan mengerjakan PR jika ada, dan aku menemukan buku asing. Di sini tertulis “Sheena” apa ini miliknya? Sejak kapan ada padaku? Ternyata selama ini aku salah eja. Lagian siapa peduli?
Aku menyalin beberapa materi rangkuman dari buku catatannya, aku penasaran seperti apa tampak belakang buku ini, siapa tahu ada gambar-gambar iseng. Tapi ternyata semuanya bersih, hanya tulisan dan mungkin inilah perbedaan antara buku siswa dan siswi.
Setelah itu aku mengerjakan semua PR bahkan yang tenggat waktunya masih lama sekali, karena hari ini jadwalku kosong. Setelah itu aku bersantai, ternyata memiliki teman itu cukup membuat kehidupanku semakin rumit, meskipun terkadang memberikan dukungan.
Aku ingin mi instan, mungkin aku akan memasak menggunakan sayur yang ada sebagai hiasan. Meskipun pada dasarnya sama-sama dicerna dan menjadi feses, bagiku tak ada salahnya jika aku menuangkan sisi estetika yang bisa dirasakan mata dan lidah.
Setelah menyantap mi instan, aku rasa aku akan mengembalikan buku Sheena secepatnya karena sudah kusalin dan mungkin dia juga memerlukan buku itu. Aku mengambil bukunya dan mengunci pintu rumah, setelah sampai di persimpangan, aku melihat ada mobil yang cukup mewah.
Sebenarnya aku terlalu malas untuk masuk ke kerumunan, mendapatkan masalah baru, dan sebagainya. Mungkin aku akan menunggu mobil itu pergi dan pulang untuk memainkan sesuatu di komputerku.
Setiap kali aku pulang ke rumah memori kelam selalu muncul, orang tua macam apa yang menghina anaknya sendiri? Mengapa mereka tak sedikit pun mau mengerti ucapan anak mereka? Apa hanya karena mereka merasa lebih bijak karena hidup lebih lama?
Baiklah, perasaanku sedang tidak bagus. Mungkin aku akan melampiaskannya dengan memainkan permainan gulat. Meskipun aku tidak terlalu pandai dalam bermain sampai mendapatkan label “profesional” tapi setidaknya aku menikmati waktuku ketika memainkannya.
Satu jam telah berlalu, mungkin aku akan mengembalikan buku ini dulu lalu melanjutkan permainanku. Tapi agar tidak memakan banyak daya listrik, sebaiknya aku matikan saja dulu komputerku. Membawa tas selempang dan pergi.
Setelah sampai di persimpangan ternyata benar, mobil itu sudah pergi. Saatnya aku mengembalikan buku ini dan pulang.
“Ini milikmu?” Aku meletakkan buku itu di meja.
“Sudah kau salin? Baiklah, senang bisa membantumu. Mau mencoba teh?”
“Tidak. Kalau boleh bertanya, apa hari ini kau kedatangan tamu?”
“Itu hanya ayahku, dia tak habis-habisnya membuatku kesal, berkata bahwa semua ini demi kebaikanku.”
“Dan aku pun sudah memiliki tujuan hidup sendiri, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan pendidikan untuk mendapatkan keahlian yang mumpuni. Setelah itu aku akan memiliki bisnis sendiri dan menggulingkan bisnis ayahku untuk membuktikan siapa yang tidak memahami apa itu kehidupan?”
“Pembalasan yang manis, mmmm.. aku suka itu.”
“Ngomong-ngomong, kau bilang kalau kau dibesarkan di sini kan? Bisakah jika besok kita berkeliling kota?”
“Besok hari Sabtu, aku tidak memiliki acara apa pun. Kemungkinan kita bisa mulai dari jam 9 pagi setelah aku selesai dengan kewajibanku di rumah, daripada kau yang datang ke rumahku lebih baik sebaliknya, aku tak tahan dengan pertanyaan adikku.”
“...... Okey?? Aku akan menunggumu di sini besok. Kau bisa menelepon atau mengirim pesan padaku jika kau sudah siap.”
“Kurasa itu bisa membuat waktu semakin efisien, baiklah.”
Kami melanjutkan perbincangan kami mengenai hal-hal yang dasar, hal yang paling sering menjadi topik pembicaraan untuk orang yang baru kenal, dan jujur... ini melelahkan. Ketika aku sudah tak sanggup lagi, aku berpura-pura kalau masih ada urusan lain yang harus kukerjakan.
Saat berbincang kami sempat bertukar informasi akun agar kami dapat mengirimkan pesan satu sama lain, setelah itu aku dimasukkan kembali ke pesan grup kelasku, padahal aku sudah sengaja mengganti nomor ponselku agar terhindar dari hal ini.
Sejak saat itu aku mendapatkan banyak sekali pesan masuk mengenai Sheena, mulai dari apa hubunganku dengannya, sampai berupa ancaman yang merepotkan seperti menemui mereka di suatu tempat. Lebih baik aku limpahkan masalah ini pada sumbernya.
Setelah kukirimkan tangkapan layar, dia hanya tertawa dan membuatnya semakin arogan, aku bahkan bisa melihat cerita yang dia buat. Tak seperti anak remaja perempuan pada umumnya yang selalu berkeluh kesah, Sheena ini bisa terbilang jarang daripada yang lain.
Aku menjalani rutinitas malamku sampai tidur dan bangun lagi untuk rutinitas di hari yang baru. Mungkin aku bisa mengerjakan kewajibanku sebelum saudari-saudariku, sebagai awal mula balas dendam di mana mereka hanya membersihkan daerah yang sudah menjadi bagian mereka dengan meninggalkan debu dan kotoran di ruangan lain.
Aku cukup terinspirasi dari motif pembalasan dendam Sheena pada ayahnya. Mungkin aku juga bisa melakukannya suatu saat nanti meskipun tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk balas dendam. Sejak dulu aku hanya percaya bahwa karma akan selalu datang tanpa salah alamat, dan jika aku beruntung, Tuhan akan memperlihatkannya padaku. Sayangnya aku bukan tipe yang beruntung, aku bahkan tidak pernah melihatnya.
__ADS_1
Kewajibanku sudah selesai, sebaiknya aku mengabari Sheena lalu mandi. Setelah mandi aku menggunakan baju yang... semua bajuku biasa saja, lagi pula ini bukanlah kencan. Tapi setidaknya kali ini aku menggunakan parfum agar tidak memalukan, atau mungkin menyisir sedikit rambutku agar lebih rapi dan juga memilih celana hitam saja.
Baiklah sepertinya sudah semuanya, aku membawa tas selempangku dan bergegas pergi. Syukurlah aku tidak terlihat adikku, kakakku, atau orang tuaku, aku hanya harus cepat-cepat keluar dari sini.
Sesampainya di tempat Sheena, aku tidak melihat dia di depan rumahnya, aku bukan tipe orang yang suka mengetuk pintu rumah orang dan berteriak permisi, terlebih lagi jika memang tidak ada siapa pun di rumah itu.
Hmm?? Ponselnya berdering, apa mungkin dia masih mandi? Butuh berapa lama seorang perempuan untuk mandi? Kalau tahu begini lebih baik aku kabari dia sejak bangun tidur.
“Paket!!” Biasanya jika kurir yang datang selalu cepat tanggap, kita tunggu reaksinya.
Tidak ada tanda-tanda, mungkin aku akan menyenggol pintu dan berlagak seolah tidak sengaja. Dan kini aku mencium bau asap, aku berlari ke dalam dan menemukan masakan gosong. Aku tak tahu apa yang dimasak, rupanya sudah hitam legam dan keras seperti arang, di mana Sheena?
“Sheena!!! Masakanmu gosong!!” Serius? Dia tak di rumah? Lalu kenapa dibiarkan tidak terkunci? Benar-benar teledor.
Aku terpeleset karena kubangan minyak di lantai, dan aku melihat Sheena sedang terkapar dan masih mengenakan piama. Bahkan mandi saja belum sudah pingsan, merepotkan. Aku memindahkannya ke sofa dan membereskan kekacauan yang ada.
Dahinya cukup panas, aku rasa kemarin dia sehat-sehat saja, sejak kapan dia demam tinggi? Mungkin beberapa kali dikompres juga sembuh. Jika ditinjau dari fakta yang ada, ada beberapa kemungkinan; mungkin dia masuk angin, terpeleset minyak, syok karena makanan meledak di kuali, gigitan nyamuk demam berdarah, terlalu banyak kemungkinan.
Kemungkinan pola B; dia sedang memasak dan melihat pesanku, lalu dia terburu-buru hingga menumpahkan minyak dan terpeleset. Mungkin dahi pada umumnya memang panas. Atau mungkin dia memiliki penyakit khusus yang menyusahkan, bisa saja.
Sheena mulai bersuara, mungkin dia akan segera sadar.
“Sheena! Bangun!! Ada oppa korea di sana!” Hmm, sepertinya dia bukan penggemar.
“Sheena! Bangun!! Kita ada di Isekai!!” Mungkin juga bukan, kira-kira apa ya?
“Sheena, kalau kau tidak bangun, kau tidur.” Apa yang barusan kukatakan?
“Hahahaha!” Dia langsung tertawa? Se-receh itukah selera humornya? “Maaf, aku hanya mengerjaimu. Dari sini aku tahu kau orangnya memiliki jiwa yang lembut meskipun wajahmu tidak begitu meyakinkan.” Orang ini menyebalkan juga, aku menamparnya dengan kain handuk basah yang harusnya kusimpan di dahinya.
“Tidak lucu!”
“Aku hanya memberikanmu tes, dan tesnya memuaskan. Kau bukan orang jahat dan aku bisa percaya padamu sepenuhnya.”
“Memang apa yang bisa membuat hasilnya tidak memuaskan?”
“Kau tahu... seperti mencari kesempatan dalam kesempitan, atau malah keluar dan berteriak seperti gadis, atau yang lain.. aku tak tahu lagi.”
Aku berdiri dan menamparnya lagi dengan handuk, lalu mencucinya. Memangnya dia siapa? Dan memangnya aku akan dijadikan apa? Mengapa harus ada tes? Untuk apa tes? Tes kepribadian? Tes tes tes tes tes tes tes tes tes..
“Selamat, kau lulus tesnya, untuk selanjutnya mohon bantuannya..” dia membisikkan kalimat yang cukup ambigu. Dari apa yang sudah terjadi mungkin dia sedang mengujiku apakah dia bisa bergantung padaku atau tidak, bisa mempercayaiku atau tidak, sepertinya akan menyusahkan. Kalau aku tahu semuanya hanya pura-pura aku sudah menamparnya sejak awal. Aku terlalu tenggelam dalam keadaan, bisa-bisanya aku lengah.
Sheena mulai mandi dan aku menunggu di sofa, memainkan ponselku dan menunggu hingga akhirnya dia selesai mandi, lalu menunggunya mengganti baju dan berdandan, dia tipe orang yang berisik karena ke mana pun dia melangkah dia selalu bernyanyi.
“Mengapa kau tidak menjadi musisi saja?”
“Suaraku bagus ya?!” Wajahnya terlihat dengan penuh harap, sayang sekali akan kujatuhkan sebagai pembalasan karena membohongiku.
“Tidak, aku hanya memberikan usulan secara asal, mungkin saja kau berminat untuk menjadi seorang penyanyi sampai ada orang yang berkata padamu bahwa suaramu benar-benar jelek sehingga kau tidak perlu bernyanyi seperti ini lagi.”
Sebuah bantal melayang ke arahku, aku tahu betul hal ini akan terjadi.
__ADS_1
. . . .