Need (Y)Our Help : Fyzo

Need (Y)Our Help : Fyzo
Rahasia


__ADS_3

Tak lama kemudian kami memulai perjalanan mengelilingi daerah perumahan, aku hanya akan menunjukkan beberapa tempat yang mungkin akan sering ia kunjungi; seperti taman, beberapa jalur masuk menuju kawasan perumahan, dan beberapa jalan tikus untuk mempersingkat waktu menuju suatu tempat.


“Mungkin hanya itu saja yang bisa dibilang cukup penting untuk kau ingat, tanyakan saja padaku jika ada sesuatu yang masih janggal.”


“Cukup menyenangkan menghabiskan waktu bersamamu, terima kasih karena telah mau meluangkan waktumu.”


“Tak perlu sungkan untuk meminta bantuanku, selama itu untuk kebutuhanmu, bukan keinginanmu.”


“Jadi, sekarang kau akan pulang? Sekarang masih tengah hari, dan mungkin aku juga akan terpikirkan beberapa pertanyaan nanti. Aku bukan tipe orang yang suka mengobrol lewat pesan teks.”


“Rencananya begitu, untuk kali ini aku akan memandumu sampai petang.” Kami pun pergi menuju tempat Sheena, sesampainya di sana dia membawakan minuman dingin dan kue.


“Mungkin hanya ini yang aku punya, tapi jika kau ingin yang lain kau bisa minta padaku.”


“Yang lain?”


“Aku bisa memesan makanan yang lain jika kau mau.”


“Tidak perlu, simpan uangmu baik-baik. Terlebih lagi kau sekarang memulai hidup yang lebih mandiri, dan uang adalah komponen yang paling sensitif.”


“Mungkin pertanyaanku sekarang tidak ada kaitannya dengan kegiatan kita hari ini, bolehkah aku menanyakan hal yang lain?”


“Selama aku bisa menjawab, tentu.”


“Bagaimana perasaanmu jika berada di posisiku?”


“Tentu saja aku akan menikmatinya, aku bahkan berharap bisa meninggalkan tempat ini.”


“Kenapa? Bukankah setia orang memiliki naluri untuk merindukan sesuatu?”


“Aku tak ingin menjadi katak dalam sumur, selain itu ada beberapa alasan pribadi yang membuatku merasa tidak betah di tempat di mana aku dibesarkan, bukankah itu ironis?”


“Jika saja kau berhasil meninggalkan tempat ini, apa kau akan bahagia? Maksudku, akankah kau menjadi lebih sering tersenyum?”


“Entah, aku tidak pernah membayangkan seperti apa masa depanku nanti, namun aku selalu merencanakan dan menyiapkan segala sesuatu agar bisa dengan mudah melewati rintangan.”


“Kau bercanda? Jika kau sudah menyiapkan beberapa barang, itu berarti kau tahu jalan seperti apa yang akan kau tempuh, seperti pergi ke luar kota maka kau menabung banyak uang untuk bisa hidup.”


“Mungkin menjadi tarzan dan hidup di alam liar sendirian tanpa ada yang menggangguku. Jika nenek moyang hidup di hutan dan kebutuhannya terpenuhi dari alam, maka aku pun bisa.”


“Tidakkah kau takut pada hewan liar?” Sheena tiba-tiba memegang lenganku, sejak kapan tangannya sebasah ini?


“Sebenarnya aku sudah tak peduli apakah aku akan mati cepat atau lambat. Ini seperti kau sudah tak sanggup lagi menjalani hari-harimu sehingga hanya kebebasan yang tersimpan di benakmu.”


Sheena terdiam dan suasana pun menjadi jingga


“Sudah saatnya aku pergi, terima kasih untuk biskuit dan minumannya.” Aku pun pulang sambil meregangkan tubuhku sampai punggungku berbunyi. Aku rasa aku tidak setua itu, mungkin karena aku memang jarang berolahraga karna memang malas melakukannya.


Sesampainya di rumah ternyata aku dimata-matai saudariku, dan tentu saja persidangan kembali terjadi. Mereka berkata jika aku ingin berpacaran, maka harus cari uang sendiri karena uang yang mereka berikan hanya sebagai penunjang pendidikan sampai akhirnya pendidikanku selesai. Aku benar-benar lelah, aku hanya akan mengganti bajuku dan tidur, mungkin mandi besok saja.


Kini aku berangkat seperti biasa, saat aku berjalan tiba-tiba saja terjadi gempa. Beberapa orang baru saja mengingat Tuhan setelah bumi diguncang memangnya selama ini mereka ke mana?

__ADS_1


Jalan yang kutempuh tiba-tiba saja terbelah dan aku pun berlari ke arah yang berlawanan, berlari sekuat tenaga dan terpeleset ke sebuah hutan. Hutan ini cukup lebat dan penuh dengan cahaya, terasa begitu damai dan rasanya aku ingin berbaring sejenak.


Saat aku membuka mataku, sayang sekali itu semua hanya mimpi. Meskipun hanya beberapa jam, aku merasa sudah berminggu-minggu berada di mimpi itu. Mungkin aku akan membeli beberapa alat berkemah untuk rencana pelarianku.


Aku bergegas melakukan rutinitas dan segera berangkat ke sekolah, dan seperti kemarin, Sheena tetap datang dan mengobrol dengan keluargaku, dia terdengar cukup bisa diandalkan karena dia bukan tipe pemalu yang justru akan membuat urusanku semakin kacau.


“Orang tuamu sangat penyayang, mereka bahkan mempercayakanmu padaku untuk dijaga. Bahkan kau lebih tinggi dariku, hahaha!” Penyayang? Mungkin iya, berkat kelakuan mereka yang membuat begitu banyak tekanan padaku sehingga aku mengerti kebebasan yang sebenarnya setelah mereka menekanku selama ini.


“Terkadang sesuatu yang kau lihat memang begitu adanya, tergantung pandangan seseorang...”


“Hmm?? Kau ini bicara apa? Kau sudah sarapan?”


“....”


“Hey!!” Sheena menepuk pundakku, dan aku spontan melihat ke arahnya.


“Apa?”


“Jangan terlalu dipikirkan, selama mereka tidak mengusirmu dari rumah itu artinya mereka sayang kepadamu!”


“Mungkin kau ada benarnya juga, namun nanti ada kalanya aku menjadi sangat tidak diinginkan, lihat saja.”


“Caranya? Kau tidak akan berbuat sesuatu yang tidak terpuji kan?”


“Tentu tidak, yang perlu kau lakukan ialah sering-seringlah main ke rumahku, dan kau akan tahu.”


Setelah banyak perbincangan, kami berhenti berbicara satu sama lain setelah sampai di sekolah dan fokus pada urusan kami masing-masing, setidaknya sampai pulang sekolah. Seperti biasa, aku menghabiskan waktuku di sekolah untuk beberapa saat setidaknya sampai suasana sekolah menjadi hening dan menikmati kesunyian, hal ini bisa menjernihkan pikiranku untuk merencanakan sesuatu.


“Kau memang suka menyendiri ya?” Sheena menghampiriku, memang belum lama dia berada di kehidupanku, tetapi karena sifatnya yang memang mudah bergaul, rasanya kami sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama. “Zippo, tambang 20 meter, belati, pisau, golok, kain terpal, hmm... inikah barang-barang yang kau perlukan?”


“Masih dalam tahap perencanaan, mungkin aku juga harus melakukan observasiku mengenai tempat yang akan kutuju. Mungkin aku akan pergi ke arah selatan, di perbatasan jalan tol yang lahannya masih hijau dan lurus.”


“Apa wilayah itu sudah pernah kau kunjungi sebelumnya?”


“Tentu, namun sudah cukup lama aku tidak pernah ke sana lagi. Seingatku tempat itu pernah diadakan...”


“Diadakan apa..?”


“Aku tidak bisa mengingatnya, selama itukah sampai aku lupa apa yang terjadi!?”


“Boleh aku ikut? Memang terdengar cukup berbahaya tapi aku ingin mengetahui lebih dalam tentang dirimu. Kau ini  bisa dibilang unik.”


“Ini bukan novel romantis, atau film murahan di televisi. Akan menjadi masalah besar ketika seseorang melihat siswa dan siswi berduaan di tempat terbengkalai, dan kau juga tidak tahan berjalan terlalu jauh.”


Suasana menjadi hening, aku membuka ponselku dan membeli beberapa barang yang sudah kucatat. Setelah itu aku pergi meninggalkan kelas, cukup di luar dugaanku karena Sheena tidak mengikutiku seperti alur cerita romantis, ini tentang kehidupan bukan percintaan.


Aku mengambil jalan tercepat menuju lokasi dan tetap melihat ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutiku, selagi mengingat hal apa yang membuatku tidak kembali lagi ke tempat itu, aku mengingat masa-masa di mana aku masih kecil.


Aku yang dulu belum pernah merasakan tekanan sehingga aku tidak terlalu memahami apa itu kebahagiaan, mungkin uang yang banyak, bisa memainkan permainan terbaru di komputer, bisa tampil di panggung dan dikenal banyak orang, itulah kebahagiaan menurutku dulu.


Tapi sekarang kebahagiaan menurutku ialah melakukan sesuatu sesuai kehendak sendiri, hidup tanpa aturan maupun kekangan, dengan semua kemampuanku, aku bisa menghadapi semua itu.

__ADS_1


Baiklah, kini aku sudah sampai di lokasi, kini aku ingat semuanya. Ada pabrik besar yang merebut tempat merenungku, dulunya itu lapangan hijau dan banyak pohon di sekelilingnya, ada sungai di bawah jalan tol baru ini.


Rasanya sudah cukup lama sejak terakhir aku kemari, mungkin aku akan pulang untuk hari ini, di hari libur aku akan kemari pagi-pagi. Sekarang aku hanya harus pulang dan melakukan rutinitas seperti biasa sampai libur akhir pekan tiba.


Beberapa barang yang sudah kubeli sudah sampai, saatnya menyimpan mereka ke peralatanku yang bisa dengan mudah dibawa. Tas selempang ini cukup murah, anehnya diskon dari tas ini seperti tidak ada batas waktu, diskon 95% seperti ini jika terus menerus bukannya malah membuat rugi penjual?


Selagi menunggu beberapa barang yang belum sampai, hari ini aku akan melakukan ekspedisi saja. Aku sengaja membersihkan bagianku saja lebih awal, selain bentuk pembalasan, aku hanya ingin berangkat dengan tenang. Sekarang jam 6 pagi, mungkin aku terlalu bersemangat untuk mengunjungi tempat itu.


Cukup banyak kenangan yang kupunya di sana sebelum sebuah bangunan dibangun di tempat itu, mengingatkanku pada teman lamaku, Ayu. Dia anak blasteran Indonesia dan India, Ayu Rashi. Tak peduli apa artinya yang pasti itu hal yang baik, orang tua mana yang memberikan nama jelek pada anaknya?


Jika dipikir-pikir lagi, jaman memang sudah berubah. Dulu aku bermain dengan perempuan dan tidak ada yang mempermasalahkan itu, zaman sekarang jika ada yang begitu pasti menjadi masalah. Dari sana aku belajar bahwa sebuah masalah tidak akan menjadi masalah apabila tidak ada yang mempermasalahkannya, begitu pun hal yang bahkan bukan masalah, jika ada yang mempermasalahkannya bisa saja menjadi masalah, orang menyebut hal itu dengan sebutan “masalah sepele.”


Akhirnya aku sampai, “Dereli???” apa ini nama pabriknya? Apa yang diproduksi pabrik kecil ini? Bangunan ini lebih terlihat seperti gudang penyimpanan produk yang akan didistribusikan, atau sengaja ditimbun. Aku melihat beberapa tong besi dan memukulnya untuk mengecek kondisi isinya, dan ternyata masih penuh.


Aku memakai belatiku untuk membuka penutup lubang tong besi ini, dan baunya seperti bensin. Aku ingat pernah ada kasus penyelundupan bahan bakar, mungkin ini salah satunya karena kudengar banyak cabangnya, dan banyak tempat yang ditutup.


Daripada “ditutup” bangunan ini lebih terlihat seperti terbengkalai, ya mungkin orang yang mengelola bangunan ini sudah tertangkap. Lagi pula tempat ini memang bukan tempat yang terkenal, tidak mudah dilihat dari jalan, dan cukup tersembunyi.


Aku mengelilingi wilayah itu untuk mengingat memori indahku, tapi aku tidak ingat ada tumpukan pohon di sebelah timur ini. Aku juga tidak pernah membaca informasi diadakannya reboisasi, apalagi di tempat ini. Untuk saat ini aku ingin menyelidiki bangunan ini saja.


Bangunan ini memiliki lantai dasar dan lantai 1, di sudut bangunan aku menemukan ruang bawah tanah yang justru isinya seperti kamar, ada 4 kasur disertai fasilitas perseorangan, dan semuanya berantakan. Aku menemukan buku catatan keuangan dan beberapa berkas arsip seperti foto dokumentasi sebuah perusahaan, akan kusimpan di salah satu peti di ruangan ini.


Bau ruangan ini cukup menyengat ditambah tidak adanya ventilasi udara karena ini ruang bawah tanah, jika dilihat secara keseluruhan, bangunan ini lumayan juga untuk aku tinggali, sebagai markas rahasiaku tentunya. Kini aku akan membuat rencana untuk beberapa hari ke depan.


Aku perlu membersihkan sampah, mencuci semua seprei dan selimut, menjemur kasur dan bantal, mengepel, menyapu, membersihkan bangunan ini secara keseluruhan, serta menyusun tong berisi bahan bakar ini. Cukup melelahkan jika hanya aku sendiri, tapi jika meminta bantuan orang lain, orang lain akan tahu tempat ini dan bukan lagi rahasia namanya.


Setelah semua rencana tercatat, aku menempelkan kertas ini ke dinding salah satu sisi dan aku baru sadar kalau bangunan ini tidak dikunci sama sekali, bisa-bisanya. Aku akan menggunakan beberapa tali yang ada di sini, memastikan tidak akan ada orang yang masuk meskipun hanya bermodalkan tali.


“Hai! mungkin kau perlu ini.” Aku menoleh ke belakang dan ternyata hanya Sheena.


“Hmm? Apa yang ada di map ini?” Jika dipikir-pikir, kenapa bisa Sheena ada di sini, bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini? Mengapa dia ada di sini!!??


“Kau tidak terkejut dengan kedatanganku? Tidak bertanya kenapa bisa aku tahu tempat ini? Sikapmu tetap dingin seperti biasanya.”


“Kau hanya manusia sepertiku, bukan hantu. Lagi pula jika saja kau hantu pun aku tidak takut.” Sebenarnya aku sangat terkejut, kenapa aku dipertemukan dengan orang seperti ini? Tunggu, surat ini adalah akta tanah dan kepemilikan bangunan, dilengkapi nomor wajib pajak dan beberapa sertifikat lainnya. “Dari mana kau dapat ini?”


“Informasinya tidak gratis, kira-kira apa yang bisa kau berikan untukku?”


“Mau permen? Aku ada banyak.” Aku membuka salah satu saku dari tas selempang berisi permen yang aku terlalu malah menghitung jumlahnya, yang pastinya masih banyak.


“Ayolah Fayzul, aku hanya bercanda! Aku sejak awal mengikutimu saat kau mengatakan tempat rahasiamu, di sebelah selatan perbatasan jalan tol. Aku tidak sebodoh yang kau kira.”


“Aku bertanya bagaimana kau mendapatkan surat ini, bukan bagaimana kau bisa ke tempat ini.”


“Ceritanya cukup panjang, tidakkah kita perlu masuk ke bangunan ini dan berbincang di dalam? Aku sendiri baru sampai kesini, aku masih cape.”


“Di dalam tidak apa-apa selain tong besi berisi bahan bakar, di lantai satu terdapat banyak perlatan kantor, lantai bawah tanah berisi kamar tapi aku yakin kau tak akan menyukainya, tempatnya bau dan tidak memiliki ventilasi. Aku berencana untuk membuatnya setelah ini.”


“Bagaimana jika kita berbincang di lantai 1? Pasti ada kursi di sana, aku tidak bisa berbincang dengan nyaman jika harus berdiri.”


“Baiklah, ikuti aku.” Aku memandu Sheena ke lantai 1 dan akhirnya kami berdua duduk, dengan nuansa kantor membuat perbincangan ini terasa seperti rapat. Sheena duduk di kursi dan meja bos, sedangkan aku merasa seperti bawahannya sekarang. “Jadi, bagaimana bisa kau punya berkas ini?”

__ADS_1


. . . .


__ADS_2