Need (Y)Our Help : Fyzo

Need (Y)Our Help : Fyzo
Kenangan


__ADS_3

“Jadi, bagaimana kau bisa mendapatkan berkas ini?”


Sheena menikmati suasana kantor ini dan dia menaikkan satu kakinya ke atas meja layaknya seorang bos. “Ceritanya sudah lama, dan tak disangka ternyata berkas ini masih berguna. Bangunan ini adalah salah satu saingan perusahaan ayahku, tanpa melakukan perlawanan apa pun ternyata perusahaan ini memiliki pemimpin yang sangat curang sehingga pihak berwajiblah yang menutup perusahaan ini, dengan menjual semua aset seperti cabang-cabangnya dengan harapan dapat mengumpulkan dana untuk membeli hukum, ternyata beberapa di antara cabang yang dibangun itu sebenarnya tidak memiliki izin sama sekali untuk membangun di tempat itu. Mungkin salah satunya bangunan ini, tapi karena bangunan ini sudah dibeli oleh perusahaan ayahku, jadi bangunan ini milik ayahku dengan nama kepemilikan yang sah secara hukum, itulah kena adi sana juga terdapat surat hak milik tanahnya juga. Bagaimana? Terkesan?” Dengan melambaikan rambutnya, dia terlihat seperti ingin dipuji.


Tanpa bersikap seperti itu sebenarnya aku akan memujinya, tapi.... “Ternyata kau lebih dari yang kubayangkan. Jadi, sekarang bangunan ini mi-“


“Kuberikan untukmu, kenanganmu dulu ada di sini kan? Siapa tahu kau bisa tersenyum seperti dulu lagi. Aku senang bisa membantu seseorang, itulah yang ibuku ajarkan. Dia mengajarkan betapa indahnya melihat senyuman orang lain ketika menerima bantuan... Fayzul? Kau menangis dengan wajah datar? Ini, ambil saja.” Sheena memberikanku tisu, dan sejak kapan aku bisa menangis lagi?


“Mungkin hanya debu, tempat ini terbengkalai ditambah kau mengepakkan rambutmu ke arahku. Kau sendiri menangis, ini ambil saja tidak perlu sungkan-sungkan.” Aku mengembalikan tisunya.


“Ini memang punyaku! Bisa-bisanya kau bercanda dengan kondisi campur aduk seperti ini.”


“Kau merindukan ibumu, ya? Cukup sulit dengan kondisimu sekarang.”


“Meskipun aku pulang ke rumah, aku tak akan pernah bisa bertemu ibuku lagi, dia sudah tenang di alam sana.”


“Aku turut simpati, kau mau membantuku membersihkan bangunan ini? Kita bisa jadikan tempat ini sebagai markas rahasia kita. Aku sudah menyusun beberapa hal yang harus dilakukan.”


“Bukankah orang dengan tipe Introvert sepertimu lebih nyaman sendirian? Tanpa seorang pun.”


“Sebenarnya kami para Introvert cukup nyaman dengan orang, namun hanya yang benar-benar dekat saja, bukan orang asing atau yang hanya sekedar kenal. Dan tidak hanya aku saja, semua orang ada kalanya membutuhkan waktu untuk sendiri.”


“Baiklah, biar kulihat daftar kerjanya.” Aku pun memberikan daftar semua pekerjaan yang sudah kucatat padanya. Dia sesekali tersenyum, dan mengedipkan matanya dengan cepat.


“Tulisanku masih bisa dibaca, kan?” aku curiga dia menertawakan tulisanku, aku pun mengambil kertas itu.


“Hey! Aku belum selesai membacanya!”


“Kau sudah memandangi kertas ini lebih dari satu menit, lagi pula aku hanya menulis beberapa kata, bukan paragraf!” Aku kembali ke lantai dasar dan bergegas pulang untuk mengambil barang-barang yang sekiranya bisa kugunakan


Sheena tidak langsung mengikutiku, mungkin dia mempunyai urusan yang lain. Aku mulai mengumpulkan sampah-sampah yang ada dan menggali tanah cukup dalam untuk sampah-sampah ini, termasuk kain yang sudah usang.


“Jadi, setelah bangunan ini menjadi milikmu, apa rencanamu selanjutnya? Membuang semua barang di sini?”


“Dari debunya kurasa ini sudah lama terbengkalai, banyak sekali serangga bahkan kutu yang mungkin saja berkembang biak di sini.” Jawabku tanpa menoleh sedikit pun padanya, memang terkesan tidak sopan atau tak tahu terima kasih, tapi seperti inilah aku ketika sibuk dan fokus pada pekerjaan.


“Serangga? Seperti makhluk kecil ini?” Sheena menunjukkan kecoak padaku, aku langsung bereaksi secara spontan dan tanganku bergerak sendiri. “Kau.. takut pada kecoak?” Dia mulai tersenyum mencurigakan.


“Aku hanya terkejut, jika kau ingin membantu maka bantulah. Aku akan menyingkirkan barang-barang yang memang sudah tak layak dipakai, kain usang, sampah plastik, atau bahkan kasurnya keluarkan saja.”


“Tapi aku ini perempuan, mana mungkin aku mengangkat kasur sendirian?”


“Kau wanita yang hebat dan kuat, aku tahu itu.”


“Sayang sekali sanjungan tak berpengaruh padaku, beri saja perintah yang lebih ringan.”


“Aku ingin kau menyingkirkan semua sampah dan benda yang sudah tak bisa dipakai, di seluruh ruangan.”


Dia bergegas kembali ke atas dan aku membawa kasurnya keluar dari ruang bawah tanah. Kasurnya cukup berat karena basah, ini kasur kapuk, model kasur lama dan dari jahitannya ini masih jahitan manual. Mungkin aku bisa mendaur ulangnya.


Aku membawa keluar kasur-kasur itu dan menjemurnya. Sepertinya Sheena sudah selesai dengan pekerjaannya, dia menghampiriku dengan nafas yang berat.


“Kau berencana memakai kasur ini?”


“Lebih tepatnya mendaur ulangnya, ini kasur kapuk dan jika dicuci kapuknya masih bisa digunakan menjadi kasur baru.”


“Serahkan padaku, aku akan meminta seseorang untuk mengantarkannya ke jasa pencucian terdekat.”


“Lebih baik aku bawa pulang saja dengan mesin cuci di rumah untuk menghemat pengeluaran, karena setelah ini aku membutuhkan kain, jarum besar, dan benang kasur.”

__ADS_1


“Kau bisa menjahit? Bukankah itu pekerjaan yang membutuhkan ketekunan? Kau bisa menjahit ulang semua ini?”


“Tentu, kau pikir aku ini pria macam apa?”


“....”


“Ini, gunakan gunting itu untuk membongkar isi kasurnya, aku akan menggunakan pisau saja. Jika kau sudah selesai, kumpulkan saja di pojok sana.”


Kami membongkar kasur dan mengambil isinya lalu dikumpulkan di sudut ruangan, tanpa kami sadari kami malah berlomba siapa yang cepat ia yang menang. Namun berakhir seri dan Sheena kembali ke lantai atas.


Aku penasaran di mana letak toilet bangunan ini, mungkin ada air mengalir yang bisa kugunakan untuk mencuci. Aku bahkan tak sadar kalau rak yang ada di kamar bawah tanah tadi bukan rak sepenuhnya, ada satu pintu rak yang digeser dan itu menuju toilet, cukup keren, toilet rahasia.


Toilet rahasia lainnya menyamar menjadi kulkas di lantai dasar dan menjadi rak buku di lantai atas. Sheena menertawakanku karena lantai model seperti ini dari dulu memang sudah ada, salah satu seni desain interior yang multifungsi dan privasi tetap terjaga. Setelah aku periksa dan melakukan beberapa tes ternyata airnya sudah tak mengalir.


“Bukankah di dekat bangunan ini ada sungai?”


Aku berlari ke luar dan melihat sungainya, syukurlah masih ada namun terlihat lebih keruh dari yang dulu, mungkin akan berbahaya jika menggunakannya.


“Bagaimana?”


“Lebih baik membuat sumur sendiri, aku akan mencari daerah yang pas untuk membuat sumur. Mungkin kali ini aku membutuhkan bantuanmu untuk membuat sumur.”


“Serahkan saja padaku. Di mana ada uang, di sana ada kekuatan. Tapi bukankah ada baiknya jika kita membersihkan dulu bangunan ini agar tidak memalukan? Kita bisa memakai air sungai terlebih dahulu untuk menyapu debunya dengan kain yang kau singkirkan tadi.”


“Ide bagus, kalau begitu aku akan membongkar satu tong besi yang kosong untuk dijadikan bak air darurat.” Aku memukul-mukul satu persatu tong besi untuk mencari mana yang kosong dan akhirnya aku menemukannya.


Dengan pisau rasanya tidak mungkin, aku membutuhkan yang lebih dari ini, mungkin pembersihan darurat dilakukan lain kali saja. “Sheena, kita lanjutkan lain kali saja, lagi pula hari sudah cukup sore.”


“Baiklah, kali ini aku ingin pulang bersamamu.”


“Kau yakin? Terakhir kita berjalan jauh bersama kau mengeluh kalau kakimu mati rasa.”


Karena Sheena memiliki firasat yang buruk, sebaiknya aku berjalan santai saja dan tetap waspada terhadap sekitar. Agar suasana menjadi hangat, Sheena mengajakku membicarakan hal-hal yang cukup menarik, mungkin dia berharap banyak pada bangunan tadi.


Sudah setengah jalan, Sheena masih belum mengeluh kakinya lelah, mungkin efek karena dia membicarakan hal yang dia sukai. Cepat atau lambat dia akan merasakan sakit di kakinya, biasanya di malam hari.


Sheena tiba-tiba membisu dan badannya jatuh. Mungkin dia terlalu memaksakan diri, padahal tinggal seperempat jalan lagi. Untungnya dia tidak pingsan, aku memberinya minum dan membiarkannya bersandar terlebih dahulu. Keringatnya seketika keluar setelah dia minum, mungkin dia kekurangan cairan.


Hari mulai gelap, dan kami masih belum sampai ke perumahan, masih di antara kebun dan perhutanan di perbatasan perumahan. Mungkin beberapa tahun ke depan hutan ini akan dijadikan perumahan juga.


“Kau sudah bisa berdiri? Kita sudah cukup lama beristirahat.”


“Kakiku kesemutan, sulit untuk digerakkan. Kau bisa menggendongku?”


“Naik.” Dia tidak bergerak sama sekali.” Hey, ayolah!” Dia tetap kesulitan untuk bangkit dan malah terguling ke samping.


Aku menggendongnya seperti tuan putri dan dia cukup ringan. Mungkin hanya pipinya yang cukup berisi sehingga kukira dia berat. Karena hari semakin gelap, aku sesekali berlari jika jalannya memang datar, hingga akhirnya kami sampai ke kediaman Sheena.


“Kuncinya? Di balik keset?”


“Kalungku.”


“Bisakah kau membukanya sendiri, tanganku hanya ada dua.”


“Tidak.” Aku pun terpaksa menarik kalungnya dan tak sengaja mencekiknya beberapa detik. Anehnya dia tidak marah sedikit pun. “Simpan saja aku di sofa, aku tak ingin mengotori tempat tidurku dengan keringat.”


“Baiklah, kalau begitu aku permisi. Ini kuncimu.”


“Fayzul...”

__ADS_1


“Hmm?”


“Kunci saja dari luar, aku benar-benar tidak bisa bangun. Besok pagi kau datang saja kemari.”


“Kau yakin?”


“Sangat yakin.”


Aku mengunci rumahnya dan meninggalkannya. Dalam perjalanan aku memikirkan apa saja yang dia lakukan, sepertinya tak ada yang aneh semisal supranatural. Aku sampai ke rumah dan tak ada siapa pun di rumah. Aku menemukan secarik kertas semua keluarga sedang pergi, karena aku tak ada jadi mereka meninggalkanku, mereka akan pulang larut malam. Baiklah, lebih nyaman untukku.


Aku membuka kulkas dan baru sadar kalau Sheena tidak makan siang, dan tadi aku menguncinya dari luar karena dia tak bisa berjalan. Saat sore setelah dia minum keringatnya langsung keluar. Mungkin sebaiknya aku mengantarkan dia makanan untuk makan malamnya.


Aku memasak sayur sop sederhana yang tidak memakan waktu banyak untuk membuatnya. Aku membungkusnya di kotak makan dan kuahnya di plastik. Aku membawa dua porsi untuk berjaga-jaga. Aku mengunci rumah dan kembali ke rumah Sheena, dia masih terbaring dan tertidur.


“Pssst... hey.. Sheena.” Dia terbangun dan air matanya mengalir. “Mari, kubantu kau duduk.” Aku membuatnya duduk dan kakinya kubuat tetap lurus, lalu membawa mangkuk dan piring lalu menyajikan sayur sop buatanku. “Makanlah, tanganmu masih bisa dipakai kan?”


“Tidak, aku sudah mencobanya, kalau tak percaya lihatlah ponselku, banyak panggilan tak terjawab karena aku tak bisa menggerakkannya.” Dan baru saja dia menyelesaikan kalimatnya, ponselnya berbunyi lagi. Aku mengangkatnya dan menempelkannya ke telinga Sheena.


“Ayah? Aku baik-baik saja, aku hanya tertidur. Sekolah itu melelahkan... Sudah kubilang yang perlu kau lakukan hanya mengirimiku uang saku, kau memang sudah tak peduli padaku...” Sheena menggerakan bibirnya tanpa suara memintaku untuk menutup panggilannya, aku pun menurutinya.


“Kenapa?”


“Tidak ada, dia hanya pura-pura baik dan mencemaskanku agar aku terkena home sick, agar aku mengemis kembali ke rumah, aku tak akan pernah mau kembali apalagi setelah dia mengina ibuku.”


“Maksudku kenapa kau berbohong? Riwayat panggilannya sudah dari tadi siang, sejak kita berada di pabrik itu.”


“Aku tak suka padanya, dia bukan ayah kandungku. Memang dia baik padaku namun terkadang kelakuannya tak masuk akal dengan alasan agar aku tumbuh dewasa secara mental.”


“Kau dari tadi siang tidak memakan apa pun, aku kelaparan dan kekurangan cairan, makanlah sop ini. Aku yang membuatnya tadi. Haruskan aku menyuapimu?”


“Dengan senang hati, hihii..” Aku pun menyuapinya sampai habis, setelah itu perutnya bersuara lagi, wajahnya memerah. “Mungkin perutku hanya terlambat mendapatkan informasi bahwa sudah ada makanan yang masuk.”


“Aku membawa dua porsi khusus untukmu, satu untuk makan siang dan satu untuk makan malam.”


“E-ee-eeehh!!? Aku berhutang banyak padamu, lain kali akan kubayar.”


“Sepertinya hutangku sendiri masih belum lunas, kau memberikanku sebuah bangunan meskipun itu tua tapi secara nominal dari sertifikat tanahnya itu cukup mahal, jika dibandingkan dengan dua porsi sayur sop ini mungkin tak seberapa.” Sheena kembali menangis. “Hey, jangan membuat sayur sopku menjadi asin.”


“Jahat!”


“Buka mulutmu, dan kunyah.”


“Aku masih ingin menangis!!” dia menangis dengan kencang.


“Apa kata tetangga jika mereka menemukan kita berdua di malam hari dan kau menangis!?” Dia mulai menangis tersendat dan berusaha menahan. Lalu membuka mulut dan mengeluarkan suara yang konyol. Aku pun menertawakannya, dan kini Sheena menangis sambil tertawa.


21:15 mereka sudah hampir pulang, aku harus segera pulang ke rumah sebelum mereka menanyakan banyak hal.


“Sheena, aku permisi dulu, sudah terlalu malam.“


“Baiklah.. terima kasih untuk makanannya, sangat enak. Mungkin kau bisa membuka restoran suatu saat.” Aku membantu Sheena kembali berbaring dan meninggalkannya.


“Akan aku kunci dari luar, besok pagi-pagi aku akan kemari membukakannya untukmu.”


“Baiklah, Jangan sampai kesiangan.”


Aku pulang ke rumah dan menghilangkan semua jejak seolah-olah tak terjadi apa-apa, tidak mengunci pintu dan bermain dengan ponselku di ruang tamu. Sampai akhirnya mereka pulang dan aku pindah ke kamarku.


Aku tak mengerti, mengapa Sheena begitu baik padaku, memberikan sertifikat tanah itu secara cuma-cuma dan mengapa dia memaksakan diri untuk berjalan denganku? Mungkin jawabannya akan kutemukan lain kali. Saatnya tidur, untungnya besok hari minggu jadi jika terjadi sesuatu padanya setidaknya tak akan mengganggu absensi sekolah.

__ADS_1


....


__ADS_2